30 November 2013

Kisah Seorang Gadis Kecil (9)


Honeylizious.com – Tidak terlintas pula di dalam kepalanya untuk memiliki laptop pribadi. Dia memikirkan sesuatu yang lebih terjangkau dengan kemampuannya. Mesin tik adalah sesuatu yang tak mustahil. Demikian pikiran anak kecil itu. Dia rasa dia akan mampu memilikinya setelah menabung sekian lama. Padahal dia menabung di dalam tabungan manggis tanah liat lebih sering mengorek isinya dibandingkan mengisinya kembali.

Gadis kecil itu tak pernah mengira beberapa belas tahun kemudian impian mesin tiknya dibayarkan Allah dengan sebuah laptop dan printer. Sejak itu dia mulai menulis secara digital. Soal blog dia belum punya. Internet kala itu masih menjadi sesuatu yang mewah. Sosial media juga belum booming. Smartphone juga belum menjadi kebutuhan banyak orang. Semuanya masih barang mewah yang membuat semua orang akan berdecak kagum saat melihat kita memilikinya.

Impian gadis kecil itu sebenarnya tak muluk-muluk. Bahwa suatu hari karyanya akan diterbitkan. Dimuat di majalah-majalah. Dia tak yakin dengan dirinya sendiri tapi dia menginginkannya. Lalu latihan menulisnya dia tingkatkan lagi setiap kali impian itu menyala di kepalanya. Gadis itu masih sangat kecil. Tak tahu bagaimana dunia sana akan memperlakukannya. Dia masih terlalu kecil untuk memahami seisi dunia yang akan dia hadapi nanti.

Kisah Seorang Gadis Kecil (8)


Honeylizious.com – Anak kecil, masih duduk di sekolah dasar, dipuji oleh kakak pembina yang dia sukai. Tentu saja dia akan selalu mengingat pujian itu. Dia menjadi merasa bahwa dirinya punya bakat dalam tulis-menulis. Walaupun sebenarnya itu semua hasil kerja kerasnya. Latihan dengan keras setiap hari untuk menulis.

Di bangku SMP juga dia menemukan orang-orang yang ternyata menyukai tulisannya. Dia juga mulai berani menulis cerita seperti 'teenlit' tetapi lebih ke versi 'manga-tulisan'. Waktu itu dia keranjingan membaca komik. Tak sulit baginya untuk menyelesaikan membaca komik favoritnya. Apalagi kisah cinta yang ada adegan kissnya. Baginya hal seperti itu masih misteri yang ingin dia ketahui.

Cita-citanya sejak kecil hanyalah membeli sebuah mesin tik. Kalau dia punya uang dia akan membelikannya mesin tik. Mesin yang bisa membuat dirinya menulis lebih mudah lagi. Tak pernah terpikirkan baginya mengenai komputer sebab waktu dulu, di kampungnya sendiri listrik masih susah. Berapa tahun dia harus menunggu PLN memasang sambungan listrik di kampungnya.


Kisah Seorang Gadis Kecil (7)


Honeylizious.com – Gadis kecil itu pertama kali menunjukkan karangannya pada orang yang dewasa, waktu itu kakak pembinanya saat dirinya masih sekolah dasar dan rajin ikut pramuka. Maklum kegiatan sampingan di sekolah hanya pramuka. Ketika pulang dari kegiatan pramuka mereka mendapatkan tugas untuk menuliskan cerita selama mereka pramuka tersebut dari kakak pembina.

Kakak pembina yang pernah mencuri hatinya waktu sekolah dasar dulu. Rasanya itu alasan yang lebih tepat saat seorang anak perempuan kecil yang gila menulis berbalik tergila-gila ikut pramuka. Padahal dia tak suka kegiatan lapangan. Meksipun bukan cinta pertama, gadis kecil itu selalu ingat dengan kakak pembinanya ini. Sebab orang pertama yang memuji tulisannya adalah kakak pembinanya.

Tugas menulis mengenai kegiatan pramuka dia selesaikan dalam waktu singkat dan hati senang. Rasanya saat itulah dia baru merasakan betapa pentingnya latihan menulis setiap hari. Tak kesulitan sama sekali menyusun kata-kata dalam karangan itu.


Tulisanmu bagus, kamu berbakat, kembangkan.”

Kisah Seorang Gadis Kecil (6)




Honeylizious.com – Beranjak SMP dia mulai cerdas memanfaatkan barang-barang yang sudah tak berguna lagi sebagai media menulisnya. Dia mengumpulkan banyak sekali kertas lembar jawaban ulangan milik murid-murid Mak Ciknya yang memang dibawa pulang ke rumah. Saat semua jawaban tersebut sudah dinilai dia akan menjilidnya menjadi buku. Kalau soal pena dia juga lebih senang menggunakan pensil. Selain lebih awet dan tak akan macet, kertasnya juga menjadi tanpa coretan. Sebab dia tinggal menghapus semua kesalahannya dengan karet penghapus lalu menulis kembali.

Saat duduk di bangku SMP dia juga mengenal beberapa orang yang sempat menjadi sahabat terdekatnya. Mereka berbagi cerita bersama. Bahkan gadis kecil ini menginspirasi teman-temannya yang juga punya hobi yang sama. Mereka menulis lalu saling menukar buku cerita mereka. Mengomentari tulisan masing-masing. Ada pula yang hanya menjadi pembaca setia. Saat cerita selesai beberapa halaman mereka akan mulai membacanya dan menunggu lanjutannya saat selesai membaca.

Karena sibuk berlatih menulis, menghabiskan banyak sekali waktu luangnya untuk membuat cerita baru, gadis kecil ini tak punya banyak waktu untuk belajar. Beberapa kali angka merah tertulis di rapornya. Walaupun nilainya selalu gemilang untuk mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia.

Kisah Seorang Gadis Kecil (5)


Honeylizious.com – Gadis kecil yang menulis setiap hari sepulang sekolah itu selain bingung memikirkan buku yang mana lagi yang bisa dia gunakan untuk menulis juga harus memikirkan bagaimana caranya agar dia tak dimarahi oleh Akinya. Kakeknya memang selalu marah melihatnya menulis seperti itu. Awalnya dia hanya berpikir cucunya sedang belajar. Tapi lama-lama akhirnya dia tahu juga cucunya sedang menulis cerita fiksi.

Mau jadi apa kamu nanti?”

Gadis kecil itu selalu ingat omelan Akinya. Dia memang tidak balas mengomel atau menghardik pada laki-laki tua yang telah membesarkannya itu. Dia hanya diam. Sebab dia ingin tetap bisa menulis seperti itu setiap hari. Beruntungnya Umak dan Abahnya tidak melarangnya untuk menulis. Mereka membiarkan saja anak perempuan keduanya itu dengan hobinya.


Terlihat seperti belajar sebenarnya sebab dia menulis menggunakan buku tulis dan pena. Tapi ternyata yang dia lakukan adalah bermain dengan imajinasinya sendiri dan melupakan sekitarnya. Kalau sudah liar imajinasinya bekerja dia akan lupa segalanya. Tak ada lagi yang bisa mengganggunya.

Kisah Seorang Gadis Kecil (4)


Honeylizious.com - Dongeng-dongeng di majalah Sahabat Pena itu membuat seorang gadis kecil berusia 8 tahun memutuskan untuk menjadi penulis saat dia besar nanti. Dia harus berlatih menulis. Dia mengambil buku tulisnya dan mulai mengarang ceritanya sendiri. Dia membaca dongeng di majalah dan membuat dongeng yang sama tetapi dengan versi yang berbeda. Dengan ending yang jauh lebih dia sukai. Sebab dia yakin cerita itu masih butuh perbaikan lagi di sana-sini. Dia kurang suka dengan akhir cerita tersebut.

Lama-lama dia akhirnya menemukan jalan menulisnya sendiri. Sekolah dasar dia habiskan hanya untuk menulis setiap hari. Dibandingkan belajar yang lain dia lebih suka menulis. Menghabiskan semua waktu luangnya hanya untuk mengarang cerita. Tanpa henti. Tapi dia tak pernah memikirkan 10-20 tahun ke depan apa yang akan terjadi dengan semua tulisannya. Dia hanya suka menulis. Itu sudah cukup bagi seorang gadis kecil berusia 8 tahun yang duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Tak perlu alasan yang lain.


Namun menulis saat belia seperti itu bukan tanpa tantangan. Selain dia tak punya uang yang banyak untuk membeli buku dan pulpen yang baru. Apalagi dia juga belum punya penghasilan sendiri. Jadi banyak buku yang seharusnya dia gunakan untuk mencatat habis hanya untuk menulis cerita khayalannya.

Kisah Seorang Gadis Kecil (3)


Honeylizious.com – Hari-hari gadis kecil itu sebenarnya biasa saja. Tak banyak hal yang istimewa. Dia hanya suka duduk di dekat jendela rumahnya yang menghadap ke rumah sahabat baiknya dari kecil. Jendela itu sudah tak ada lagi sekarang sejak rumah Uwannya di renovasi. Jendela itu berhiaskan daun sirih yang merayap hingga atap rumahnya.

Dulu banyak sekali orang yang suka datang ke rumah Uwannya untuk meminta sirih. Di kampung memang kebanyakan orang saat membutuhkan sesuatu akan meminta pada tetangganya. Walaupun tak jarang ada yang memberikan beberapa uang logam sebagai bayaran telah mengambil daun sirih dan gadis kecil itu dengan senang hati membeli balon yang berhadiah mainan.


Duduk di kelas tiga sekolah dasar akhirnya dia menemukan sebuah majalah di rumahnya. Dia lupa majalah itu milik siapa. Tapi dari majalah itulah dia akhirnya menemukan jalan hidupnya sendiri. Dia membaca dongeng banyak sekali di majalah Sahabat Pena itu. Dulunya majalah itu dijual di kantor pos. Banyak yang membelinya. Di majalah itu pula kita bisa menemukan teman-teman baru yang mau berkirim-kirim surat dengan kita. Tetapi si gadis kecil lebih tertarik dengan dongeng-dongeng di dalam majalah itu dibandingkan mencari sahabat untuk berkorespondensi.

Kisah Seorang Gadis Kecil (2)


Honeylizious.com – Gadis kecil itu tak suka mengepang rambutnya. Sebab rambutnya sangat sedikit jumlahnya. Itu pun warnanya kurang hitam. Dia tak perlu susah-susah mengepangnya, karena rambutnya sangat pendek. Dia sudah lancar membaca saat kelas 1 sekolah dasar. Tetapi sekali lagi saya katakan, gadis itu tak pintar mengeja. Dia jauh lebih baik membaca tanpa mengeja. Dia naik kelas dua tanpa masalah. Tanpa prestasi juga.

Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Selalu mendapatkan ranking di kelasnya. Tapi gadis kecil itu tenang saja menjalani sekolahnya. Dia berangkat setiap pagi dengan jalan kaki lalu pulangnya juga demikian. Kalau Akinya telat bangun pagi untuk ke sawah dia akan beruntung karena bisa menumpang sebab Akinya harus melewati sekolahnya untuk ke sawah. Naik sepeda 'Sipor' warna hijau yang tak ada remnya.


Si gadis kecil dengan senang hatu duduk di belakang dan menjauhkan kakinya dari roda sepeda. Sebab tak ingin kakinya tersangkut di sana. Dulu kakak sulungnya pernah terluka kakinya gara-gara masuk ke roda sepeda. Hingga sekarang bekas luka di kaki kakaknya masih ada. Dia tak ingin melihat darah seperti itu makanya dia selalu berhati-hati saat menumpang sepeda. Kalau Aki mengikat kakinya di besi sepeda bagian tengah dia senang sekali. Sebab kaki yang terikat menyilang di bawah dudukan sepeda akan sangat aman.

Kisah Seorang Gadis Kecil (1)


Honeylizious.com – Dia baru bisa membaca waktu itu. Pertama kalinya bisa membaca. Dia bisa membaca tapi cara mengejanya berbeda dari yang diajarkan di sekolah-sekolah. Dia selalu kesulitan mengeja dengan cara yang diberikan gurunya. Mengeja yang pada umumnya adalah 'i-en-i-ni = ini'. Dia tak bisa mengeja seperti itu. Rambutnya masih belum lebat seperti sekarang. Tapi mata dan alisnya sudah indah sejak kecil.

Senyuman yang dia miliki selalu menjadi pemanis wajahnya. Kulitnya sawo matang. Buku yang pertama dia baca setelah bisa melafalkan huruf-huruf latin adalah sebuah buku komik tentang jin di rumah neneknya. Berulang kali dia membaca buku itu tanpa bosan. Selain tak ada buku lain yang bisa dia baca, dia merasa cerita di dalam buku tersebut sangat menarik. Ditambah dengan gambar-gambar di dalamnya.

Semua orang di rumahnya suka membaca. Abahnya. Umaknya. Uwannya. Akinya. Mereka membaca buku apa saja. Akinya paling suka membaca koran. Sayangnya koran yang mereka baca adalah koran yang terbitnya entah kapan. Sebab koran tersebut didapatkan dari toko-toko yang membeli koran bekas dalam jumlah banyak di kota. Koran tersebut sejatinya akan dijadikan pembungkus barang dagangan. Tapi ada yang memang suka membeli koran kiloan tersebut sebagai bahan bacaan.


November Hampir Berakhir


Honeylizious.com – Beberapa jam lagi November 2013 akan selesai. Tandanya kita akan berpisah dengan November 2013 ini. Besok sudah tanggal yang baru. Bulan yang baru. Hari yang baru. Semoga menjadi awal yang lebih baik lagi buat kita semua. Banyak hal yang tak kita dapatkan barangkali memang bukan ditakdirkan menjadi milik kita. Ada kalanya kesempatan lain sudah menunggu di depan.

Dengan berakhirnya bulan November 2013 ini tandanya pula saya akan menulis 12 postingan setiap harinya untuk bulan Desember 2013. Satu bulan lagi dan saat saya menyelesaikan tantangannya hingga akhir barulah saya akan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya sudah memenangkan lomba yang saya buat sendiri dan pesertanya hanya saya seorang.

Hadiahnya? Memang tak saya khususnya hadiah untuk diri saya sendiri. Sebab bisa menulis setiap hari sebanyak yang saya bisa jauh melebihi semua hadiah yang pernah ada di muka Bumi ini. Bisa menulis artinya saya masih terkoneksi dengan jaringan internet. Bisa menulis artinya jemari saya masih cukup baik untuk menyelesaikan tulisan-tulisan yang memang ingin saya selesaikan. Bisa menulis artinya Tuhan masih memberikan kenikmatan berupa umur yang bisa saya nikmati hari itu.


November hampir berakhir. Semoga kita masih bertemu dengan hari esok dan melakukan lebih banyak lagi kebaikan.

INSPIRATOR, MEREKA YANG PERNAH DEKAT DI HATI




Inspirasi bisa datang dari mana dan siapa saja.  Orang tua tentu bisa menjadi salah satu inspirator utama, namun bagi saya hal itu lumrah saja.  Lalu bagaimana halnya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita, meskipun sekarang mungkin statusnya sudah bukan 'orang dekat' lagi?

Sekarang mari simak apa saja kira-kira yang bisa menjadi inspirasi bagi seorang Badai dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.  Catatan: 'dekat' bagi saya tidak melulu artinya pacaran lho ya ;)

Sebut saja inisialnya A.
A adalah orang yang sangat royal sekaligus tegas dalam masalah keuangan.  Dalam artian, seberapapun dekat suatu hubungan, sebaiknya memisahkan diri dari masalah hutang piutang. No, bukan berarti tak boleh tak ada urusan keuangan di antara dua karib/sejoli, namun intinya, pisahkan hal ini dalam dunia yang berbeda.
A memberi saya contoh nyata karena sewaktu hubungan kami dekat, di antara kami saat itu memang sedang ada keperluan masing-masing.  A pernah meminjami saya sejumlah uang, demikian juga sebaliknya.  Semua tertera hitam di atas putih.
Keuntungan dari 'pemisahan masalah' ini adalah ketika terjadi pertengkaran di antara kami karena masalah umum, tak ada satupun di antara kami yang mengungkit-ungkit soal hutang piutang.  Karena memang sudah beda dunianya.  Kalau kau bertengkar karena ia gemar memakai rok mini bukan berarti kau harus mengungkit hutangnya yang tidak mini.

Andai saja tidak ada 'pemisahan masalah' seperti trik dari A tentu di antara kami akan lebih mudah terpicu emosi olehnya daripada menikmati rezeki bersama.  Rezeki berupa hubungan baik.  Money is a sensitive case, dan jangan sampai urusan keuangan malah merusak rezeki.

Dan terbukti setelah hitungan tahun kami tak lagi 'bersama' namun hubungan kami masih terjalin baik sampai sekarang.

A, inspirator saya untuk tetap menjaga hubungan baik di luar masalah keuangan.  Salam super! ^^

Sebut saja inisialnya B.
B adalah pemuja cinta.  Ia begitu mengagungkan saya (atau mungkin juga ia lakukan kepada semua orang yang pernah mengisi hatinya).  Saya adalah mataharinya, saya adalah mimpi indahnya, saya adalah segalanya.  Saya adalah patung David yang begitu sempurna pahatannya sehingga harus dijaga dengan segenap jiwa raga.

Semula saya hanya menyangka ia begitu mensyukuri hubungan kami sehingga saya pun akhirnya tak berusaha menyangkal perlakuannya yang istimewa (meskipun terkadang ada rasa sungkan).  Terkadang ia malah terlalu jauh 'menyanjung' saya sehingga timbul kesan bahwa saya adalah raja yang tak bisa disentuh sementara ia cuma hamba sahaya.
Pada akhirnya B terperangkap oleh sikapnya sendiri.

Ada satu masa kala ia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.  Beberapa hari tanpa kontak dan tak bisa dihubungi.  Orang tua B hingga menelepon saya menanyakan kemana gerangan si anak karena sudah beberapa hari tak berkabar.  Saya sampai bingung dan tak enak hati.

Pada akhirnya muncul pesan pendek dari B.  Cuma bilang kalau ia baik-baik saja. Ketika saya tanya kemana saja dirinya selama beberapa hari menghilang, tiba-tiba ia meradang:
Aku memang bukan malaikat yang suci dan tak pernah berbuat salah!

Disusul kalimat penuh emosi lainnya.  Saya terkejut mendapat jawaban di luar kebiasaan.  Kami berdebat untuk satu hal yang bagi saya masih samar, kenapa dan kemana ia menghilang.  Tapi saya tak pernah mendapat jawaban, bahkan hingga kini. Namun saya tahu pasti bahwa ia terjebak dalam mindset-nya sendiri, bahwa saya malaikat suci dan ia manusia berdosa.  Bahwa saya baginda raja dan ia cuma budak belian.  Sejak itu hubungan kami pun retak. 

B, memang punya banyak sifat baik yang lain.  Tapi uniknya satu sikap buruknya malah menjadi pelajaran utama bagi saya.  B, inspirator saya untuk tidak berlebih-lebihan.

Sebut saja inisialnya C.
C adalah seorang yang resik dan higienis, dalam arti sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan.  Ia tidak anti bermain kotor-kotoran seperti turun ke sawah atau main di sungai, asalkan mandi sehat sesudahnya.  Dan hal ini sama sekali berbeda dengan artikel ringan yang pernah kami baca tentang pasangan remaja yang hobi 'pick up the nose' dari pasangan masing-masing.  Bagi kami, apalagi bagi C, hal itu tidak melambangkan kemesraan, tapi justru menjijikkan.

Suatu ketika sepulang dari trip ke Sukabumi, saya terkena gejala flu parah, dimana tiba-tiba hidung tersumbat hingga saya harus bernafas lewat mulut.  Saya sudah kepayahan, tubuh demam dan tergolek tanpa daya dengan mata terpejam.

Tanpa diduga, C memberi saya pertolongan pertama.  Pucuk hidung saya terasa hangat oleh sentuhan lembut bibirnya.  Ya, ia menghisap keluar lendir yang menyumbat hidung saya dengan mulutnya.

Saya langsung terperanjat.
Sama sekali di luar dugaan.  Nafas saya kembali lancar, namun tanpa bisa ditahan, air mata saya tiba-tiba mengalir begitu saja.  Deras.  Tanpa isak.

Tahukah sayang, kamu telah menyentuh bagian hatiku yang paling dalam?
Segera saya palingkan muka, dan mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar.  Ia tak berkata apa-apa, tapi ia tahu.

Kami tak pernah membicarakan lagi tentang kejadian ini.  Tapi masing-masing kami tahu.

C, inspirator saya tentang cinta yang sederhana, that you would do anything for your beloved one.

Catatan:
Penulis #SwapBlog kali ini adalah Badai, yang sehari-hari bisa ditemui di dua blognya:

Terima kasih Hani sudah menjadi swap partner saya bulan ini!

^^
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design