21 November 2013

Membuat Agar-Agar Susu


Menjadi istri ternyata pusing bagian menyiapkan panganan buat suami. Bukan makan siang atau makan malam sih. Tetapi kudapan. Camilan. Sesuatu yang bisa dia ambil dalam kulkas saat ingin memakan sesuatu. Pertama sih banyak membeli camilan di swalayan. Tapi akhirnya memutuskan untuk membuat camilan sendiri. Lebih sehat dan lebih bermanfaat.

Kemarin saat telat bangun pagi. Bangun-bangun suami sudah berangkat kerja saya membuat agar-agar. Dengan air 1.5 liter. Dua bungkus agar-agar. Ternyata yang saya beli agar-agar coklat. Padahal rencananya waktu itu ingin beli agar-agar yang original aja. Yang bening. Sebab yang bening bisa dikasih campuran apa saja. Entah susu. Buah. Santan. Gula merah. Pokoknya gampanglah menvariasikannya. Karena sudah terlanjur punya 4 bungkus agar-agar yang rasa coklat saya putuskan untuk menjadikannya agar-agar coklat susu.

Menggunakan rantang tupperware, saya bisa mendapatkan dua tempat tupperware yang penuh dengan agar-agar susu. Setelah dibiarkan beberapa jam agar-agarnya mengeras dan bisa dinikmati. Untungnya suami suka. Baru satu tupperware yang habis. Sebab kami hanya berdua di rumah. Jadinya tak banyak yang memakannya. Paling banyak sih suami. Pagi-pagi saja buka kulkas makannya agar-agar.


Cara membuat agar-agar coklat susu gampang kok. Tinggal ikuti petunjuk yang ada di kemasan agar-agar lalu terakhir campurkan susu cair di dalamnya. Bisa menggunakan loyang apa saja. Dinginkan hingga mengeras. Selamat mencoba.

Melanjutkan Galaxy Express


Akhirnya setelah membaca 8 bagian Galaxy Express saya memutuskan untuk melanjutkannya kembali. Sayang rasanya berhenti di tengah jalan. Entah pembacanya ada yang menunggu atau tidak saya tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, saya ingin menyelesaikannya Galaxy Express dan tidak membiarkannya menggantung seperti itu.

Saya masih ingat dulu saya sering menulis beberapa cerita di satu buku dalam waktu yang bersamaan. Waktu itu saya menulis dan tiba-tiba mendapatkan ide yang lain. Jadi mau tak mau menulis cerita yang baru padahal cerita yang lama ada yang belum selesai. Ada cerita yang pada akhirnya ending. Ada pula yang tidak selesai. Banyak sebenarnya yang tak saya selesaikan.


Sekarang karena diunggah di dalam postingan tentu saja ceritanya tidak akan berceceran atau kekurangan halaman seperti waktu dulu menulis menggunakan buku. Intinya saya sekarang akan melanjutkan Galaxy Express. Satu dua episode dalam satu hari. Setidaknya saya bisa menambah jumlah postingan di blog ini yang rasanya hari ini saya kesulitan menemukan ide yang tepat. Sebab kepala saya sedang sakit berat.

Bunuh! (1)


Aku mematikan semua lampu yang ada di dalam kamarku. Membeku di sudut kamar tidur. Tersenyum dalam gelap. Menikmati semua kepekatan itu dalam diam. Tak ada yang memahami bagaimana aku menyukai kegelapan ini. Membuatku buta. Membuatku tak bisa menggunakan pancaindraku dengan sempurna. Sebuah langkah terdengar cepat mendekati pintu kamar yang kutempati. Bukan hanya kamarku. Ini kamar yang aku tempati bersama saudara sepupuku.

“Claudia!” dia berteriak nyaring.

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Sudah letih dengan semua teriakan yang dia keluarkan setiap hari. Langkahnya berhenti di dalam kamar. Pintu terbuka membuat angin dingin masuk dan menyergapku. Pasti di ruang tengah sedang menyalakan pendingin ruangan. Suhu di kamar ini terasa lebih hangat sebelumnya. Sekarang dingin.

“Nyalakan lampunya!”

Aku diam. Tak menjawab dan tak bergerak. Aku tak ingin menyerah dengan teriakannya.

“Apalagi sih kalian ini!” terdengar suara kakak sepupuku yang usianya dua tahun di atas kami terganggu.

Aku yakin dia sedang menonton sinetron favoritnya di ruang tengah. Sendirian. Sebab orang tuanya belum pulang kerja. Terdengar bunyi 'klik' kecil di dinding. Lampu yang tadinya aku matikan sekarang sudah menyala kembali.

“Tinggal nyalakan saja, tak usah teriak-teriak! Ganggu!” kakak sepupuku itu memperingatkan adiknya dengan teriakan yang lebih nyaring.

Aku tersenyum sambil menutup wajahku dengan selimut. Berusaha mencari kegelapan yang lain. Kakak sepupuku, Marsella, keluar dari kamar dan membanting pintu kamar kami. Sepupu yang seumuran denganku itu terlihat dari balik selimut tipis yang kugunakan untuk menutup wajahku. Dia bergerak menyalakan lampu di meja belajarnya. Sekarang semuanya menjadi terang kembali. Padahal aku berharap bisa menikmati suasana dalam kegelapan ini dengan lebih tenang. Tanpa teriakan.

“Rhea...” aku memanggilnya dengan suara bergetar.

“Apa?” dia menyahut dengan kasar.

Aku masih memperhatikannya dari balik selimut. Tersenyum. Tepatnya aku menyeringai.

“Kamu benci denganku?”

“Aku benci kegelapan Claudia...” suaranya entah bagaimana menjadi melunak dalam hitungan detik.

“Kegelapan itu tenang, dengan berada di dalam gelap kita akan belajar untuk menghargai cahaya. Dengan kegelapan pula kita tidak akan menilai orang dari rupanya.”

“Tapi aku tak bisa belajar dalam gelap Claudia.”

“Kamu takut dengan kegelapan.”

“Aku benci gelap...”

“Gelaplah yang menyelamatkan kita hari itu Rhea.”

Sepupu yang usianya sama denganku itu terduduk lemas di kursi. Suara-suara itu. Dia pasti masih mendengarnya.

“Bunuh!”

“Bunuh!”

“Bunuh!”

Aku pun masih mendengarnya. Tapi Rhea menyimpannya sebagai kenangan yang sangat buruk. Dia sering mengigau dalam kegelapan. Aku sendiri mengingatnya sebagai titik balik terbesar dalam kehidupanku. Saat itu aku mendengarnya dengan jelas. Suara-suara orang yang menuju kematian. Suara orang tuaku. Suara saudaraku. Suara pembantuku. Suara pembunuh itu juga masih terdengar sangat jelas. Anehnya aku tak meneteskan air mata sama sekali. Berbeda dengan Rhea yang menangis meraung-raung melihat mayat yang bergelimpangan di ruang tamu dan kamar tidur rumah kami.

Di Bawah Bukit Kelam



Masih bicara soal Sintang. Lebih tepatnya bakalan ngomongin soal Bukit Kelam yang beberapa waktu lalu saya tulis dan saya unggah gambarnya. Tetapi memang saya tidak masuk ke sana. Sebab hari itu adalah hari terakhir kami di Sintang dan untuk mendatangi tempatnya saja butuh waktu dan tenaga. Tenaga yang paling banyak terkuras. Sebab jalanannya yang hancur dan berlubang. Lagi-lagi masalah jalanan yang menjadi masalah utama tempat wisata di Kalimantan Barat minim peminat. Bahkan jarang yang tahu tentang tempat wisata di sini.

Padahal dengan banyaknya wisatawan. Baik yang dari dalam negeri maupuan luar negeri yang datang tentunya akan menambah pendapatan daerah dan membuat warga punya penghasilan tambahan. Dengan membuka penginapan atau menyediakan tempat makan yang menjual makanan khas. Termasuk toko yang menjual oleh-oleh. Coba saja kalau kita datang ke Bali. Di sana, kita dengan mudahnya menemukan toko yang menjual oleh-oleh khas mereka. Tak tanggung-tanggung ukurannya. Sudah seperti swalayan. Ada yang buka 24 jam lagi.

Sintang, menawarkan banyak sekali makanan yang terbuat dari ikan. Terutama ikan air tawar yang memang melimpah di sini. Bahkan saya mampir ke rumah keluarga suami di Sintang, saya akan menemukan ikan di meja makan. Ikan yang masih segar dan manis. Cukup digoreng dan dicocol ke kecap yang ada cabai dan air jeruknya sudah enak sekali. Bagaimana orang akan mendatangi Sintang kalau jalanannya hancur lebur seperti itu?


Lihat saja pemandangan yang ditawarkan Bukit Kelam seperti digambar yang saya masukkan ke postingan ini. Sayang sekali jika pemandangan ini hanya bisa teman-teman lihat melalui foto tanpa pernah bisa menjejakkan kaki langsung ke tanah hulu Kalimantan Barat ini. Di bawah Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.

Tanpa Cornelis Warga Kalimantan Masih Bisa Hidup?



Kalau membaca koran lokal di Kalimantan Barat pasti akan tercengang dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Gubernur Kalimantan Barat Cornelis yang menyatakan bahwa tanpa jalan yang ada di wilayah timur Kalimantan Barat pun 'kita' masih bisa hidup. Kita yang mana yang beliau maksud? Semua warga Kalimantan Barat atau kita antara dia dan keluarganya saja? Buat orang yang tidak hidup di wilayah timur Kalimantan Barat memang jalan yang rusak di sana tidak memberikan dampak apa-apa padanya.

Tapi pernahkah kita memikirkan jalanan yang rusak itu dampaknya bagi orang yang hampir setiap hari melewatinya? Saya yang hanya lewat dua kali waktu berangkat ke Sintang dan kembali lagi ke sini saja sudah sport jantung. Saya sudah ikhlas jika memang terjadi musibah seperti bus terpeleset di dalam lubang kemudian tumbang. Sudah sangat ikhlas apabila memang Tuhan menjadikan jalan tersebut untuk mencabut nyawa beberapa orang yang melewatinya.

Buat beliau, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis yang tinggal merogoh koceknya untuk membeli tiket pesawat memang jalanan yang rusak tak akan membuat dirinya terguncang-guncang di dalam bus selama menuju wilayah timur Kalimantan Barat. Tidak akan mengalami kepala pusing karena jalanan sedemikian parah rusaknya. Kita seperti naik roller coaster tanpa pengaman sama sekali. Jatuh jurang. Tumbang. Masuk lubang. Mogok di jalan. Itu semua adalah risiko yang harus dihadapi orang yang melewatinya.

Kemudian pernyataan Gubernur Kalimantan Barat itu mendapat tanggapan dari masyarakat yang menyatakan bahwa tanpa Cornelis pun 'kita' semua juga masih bisa hidup. Menarik. Karena dua pernyataan itu sangat benar. Cornelis memang benar tanpa jalan itu 'kita' bisa hidup. Kita yang bisa membeli tiket pesawat. Kita yang tak perlu melewati jalanan yang berlubang dan hancur lebur di wilayah timur Kalimantan Barat. Kita yang tidak tinggal di wilayah timur.


Lalu pernyataan lainnya yang menanggapi pernyataan Cornelis juga benar. Sebab dulu, saat masih kecil saya tidak pernah tahu siapa gubernur Kalimantan Barat dan ternyata tetap bisa hidup tanpa Cornelis. Walaupun saya tidak tahu siapa gubernur Kalimantan Barat saat saya kecil dulu, saya yakin dan pasti orangnya bukan Cornelis.

Pantai Pulau Datok


Awal tahun 2006, saya masih ingat sekali waktu itu. Saya masih mahasiswa baru. Fitjun masih ada di dunia ini. Senior-senior yang menjaga kami semua. Teman-teman sekelas yang baru saya kenal. Hal-hal yang terlalu baru. Kami menjalani PPM di Ketapang. Waktu itu masih Kabupaten Ketapang. Belum terbagi dan mekar menjadi dua kabupaten. Sekarang di sana ada Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Kalau tidak salah Pantai Pulau Datok ini masok Kabupaten Kayong Utara. Ingin sih datang ke sini lagi. Tapi letaknya sangat jauh dari Pontianak. Bisa menghabiskan belasan jam dengan naik Kelotok. Kelotok itu mirip dengan kapal bandong yang menjadi angkutan air di daerah pedalaman. Harga barang-barang di Kayong Utara dan Ketapang Kalimantan Barat ini tak jauh beda dengna wilayah timur Kalimantan Barat. Mahal.

Bahkan bisa naik dua kali lipatnya. Sebab untuk memasok barang-barang ke sini bukan hal yang mudah. Butuh waktu dan biaya yang tak sedikit. Kadang saya merasa Ketapang dan Kayong Utara itu tempat yang tak terjangkau. Butuh waktu yang lama untuk memutuskan akan ke sana. Apalagi kebetulan tak punya keluarga sama sekali di tempat tersebut.


Pantai Pulau Datok akan menjadi tujuan utama saat traveling ke sana. Keindahannya dan tempat ini masih asri. Masih di Kalimantan Barat.

Bersiap Terima Penolakan


Dari dulu mengirimkan naskah langsung ke penerbit mayor sebenarnya adalah hal yang rasanya sangat menakutkan. Belum lagi waktu yang harus dihabiskan untuk menunggu. Sia-sia. Kadang merasa lebih baik naskahnya diterbitkan ke blog saja dan mendapatkan pembacanya secara online, tetapi sekarang saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah yang sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu buat lomba dan ternyata hanya selesai 30 halaman dihari terakhir.

Saya rasa Tuhan punya janji yang lain buat saya. Bukan janji untuk mengikuti lomba. Tapi mengirimkan naskahnya langsung ke penerbit mayor. Kalau ditolak satu penerbit saya rasa bukan hal yang buruk. Sebab masih banyak penerbit lainnya yang mencari naskah untuk diterbitkan. Bisa jadi naskah tersebut cocok di penerbit yang lain jika memang ditolak oleh penerbit pertama yang menerima naskah saya.

Kalau ditanya apakah saya cukup percaya diri? Jujur saya sama sekali tidak percaya diri dengan tulisan saya akhir-akhir ini. Rasanya masih banyak yang kurang yang harus saya perbaiki. Menulis nonfiksi memang jauh lebih mudah. Tetapi impian saya selama ini adalah menerbitkan novel di penerbit mayor. Bukan hanya menerbitkan kumpulan cerita pendek di Transmedia.

Mengingat kembali buku kumpulan cerpen Cinta yang akhirnya terbit di penerbit mayor, Transmedia adalah hal yang tak pernah diduga. Sebab saya sudah melupakan karya yang saya kirimkan waktu itu. Senang pada akhirnya buku tersebut terpajang di Gramedia.


Sekarang memberanikan diri lagi untuk mengirim karya yang lebih panjang dan lebih kompleks. Novel. Sudah saatnya untuk menerima penolakan dari berbagai penerbit hingga akhirnya akan benar-benar tembus dan terpajang di toko buku besar. Mohon doanya ya. :)

Galaxy Express (Bagian 9)

Aku menarik tanganku yang sejak tadi dipegang oleh tukang cat itu. Sekarang mataku menatap gambar yang tersaji di depan mataku. Cahaya matahari pagi yang mulai terang membuat mataku silau. Tapi aku tahu betul wajah siapa yang ada di sana. Semua orang akan menganggap itu wajahku. Namun sebuah nama yang tertulis di sana bukan namaku. Jika kita mundur beberapa langkah, gambar yang tergambar di sana, sudah selesai pada akhirnya, akan lebih utuh. Semua orang akan melihat wajahku. Tentu saja itu terlihat seperti wajahnya. Sebab ada orang lain yang punya wajah yang serupa denganku.

Sisca, I love you.”

Tulisan di bawah wajah itu membuatku lemas. Rasanya ada yang menusuk jantungku. Sakit. Hingga ke bagian terdalamnya. Ternyata dia menyukai Sisca. Untuk apa sekarang dia mengajakku ke sini? Untuk menilai hasil lukisannya bagus atau tidak? Sejak kapan Sisca mengenalnya?

Bagaimana? Kamu suka?”

Kenapa tanyanya sama aku?”

Aku menahan air mataku. Aku menyukainya sejak pertama melihatnya di kereta waktu itu. Sekarang aku harus menerima kenyataan kalau dia mencintai orang lain. Lebih menyakitkannya orang lain itu Sisca. Perempuan yang lebih sempurna dariku. Hanya rupa yang tak jauh berbeda. Aku tidak heran jika dia lebih memilih Sisca. Namun tak adakah cara yang lebih menyakitkan untuk menyakitiku yang bisa dia pilih? Setidaknya jangan melukis wajah yang aku miliki dengan nama yang berbeda dengan ukuran yang sangat besar di dinding sebuah bangunan.

Tanya saja sama Sisca.”


Air mataku benar-benar jatuh saat aku berbalik dan berlari meninggalkannya. Apakah dia menatap punggungku yang semakin menjauh dari belakang? Aku tak tahu. 

Menjahitnya Ditunda


Saya pikir akan menyelesaikan rok tutu yang saya harapkan menjadi rok saya untuk selanjutnya dengan mudah dan cepat. Sebab menggunakan mesin jahit listrik memang terkesan lebih mudah dan cepat. Entah saya yang keliru memilih benang atau saya yang kurang bisa mengoperasikan mesin jahit listrik. Satu hal yang jelas. Menjahitnya ditunda dulu. Sebab saya sekarang akan membeli mesin jahit portable yang ternyata harganya terjangkau. Nggak perlu mengeluarkan uang sampai berjuta-juta.

Awalnya sih menemukan mesin jahit ini gara-gara mencari tutorial untuk menjahit dengan mesin jahit listrik yang saya pinjam kemarin. Nanti saya akan ceritakan saat sudah bisa menjahit dengan mesin jahit tersebut. Kalau bisa memilih sih sebenarnya saya lebih senang menjahit dengan mesin jahit biasa. Yang tanpa listrik. Sebab sejak awal belajar menjahit dulu memang belajar menggunakan mesin jahit tersebut.


Saya ingat sekali mesin jahit miliki Aki tersebut pijakannya sudah tak lagi sempurna. Hampir patah jadi dua. Saking seringnya digunakan untuk menjahit. Dengan bambu Aki berusaha memperbaikinya. Sekarang sepertinya mesin jahit tersebut sudah tak ada lagi. Sebab nenek sendiri juga tak bisa menjahit seperti Aki dan Umak. Semoga nantinya saya bisa menyelesaikan jahitan dengan sempurna ya!

Galaxy Express (Bagian 8)

GalaxyExpress (Bagian 6)
GalaxyExpress (Bagian 7)



Aku tercenung di depan jendela kereta Galaxy Express. Memikirkan ucapan Renno tadi malam. Bingung bagaimana akan bersikap di depan Rita yang secara jelas mengatakan tentang perasaannya padaku. Aku sendiri? Secara diam-diam bingung dengan keadaan yang menjebakku. Kalau bisa aku ingin menghilang sejenak dari bumi dan memikirkan semuanya baik-baik. Tanpa ada tekanan dari siapa pun. Napas panjangku mungkin terdengar seisi kereta. Benar-benar panjang tarikannya.

Bukumu jatuh.”

Tangan yang penuh cat terulur ke arahku. Memberikan sebuah buku kepadaku. Ragu-ragu aku menerimanya. Buku itu masih baru. Sangat baru. Rasanya buku yang asing. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan wajah tukang cat yang selalu ingin kulihat di dalam Galaxy Express ini. Kami bertatapan beberapa detik hingga akhirnya dia tersenyum dan memamerkan gigi putihnya dan sebentuk lesung pipi di kiri wajahnya. Mempesona.

Bukan bukuku.”

Aku mendorong buku itu ke arahnya.

Bukumu.”

Hari ini aku tidak membawa buku apa pun kok. Lagi pula ini memang bukan bukuku. Tidak mungkin aku lupa dengan bukuku sendiri.”

Kamu bisa bicara sepanjang itu?”

Aku terdiam sejenak setelah menyadari mengeluarkan banyak sekali kata untuk orang yang tak kutahu namanya ini.

Biasanya kamu hanya bicara sepotong-sepotong.”

Jangan mengalihkan pembicaraan. Ini bukan bukuku.”

Untukmu.”

Untukku?” Aku mengerutkan dahiku bingung.

Hadiah dariku. Kamu suka sekali membaca buku kan?”

Tapi...”

Bacalah dan tersenyumlah.”

Lagi-lagi semua orang memintaku untuk tersenyum. Salahkah memiliki wajah yang murung?

Terima kasih.”

Hari ini ikutlah denganku, ada yang ingin kutunjukkan padamu.”

Maaf, tidak bisa. Aku harus kerja.”

Sebentar saja.”

Tapi...”

Ayolah, kamu tidak akan bisa bekerja dengan wajah seperti itu.”

Tapi hanya sebentar kan?”

Sebentar kok. Kamu boleh pulang setelah melihatnya.”

Galaxy Express itu berhenti di stasiun yang kami tuju. Aku mengikuti langkahnya yang besar-besar. Jalannya lumayan cepat. Aku setengah berlari mengikutinya. Dia masih saja tersenyum dengan manisnya. Bingung harus bagaimana. Dia memang bukan orang asing sebab aku melihatnya setiap hari mampir ke toko roti tempatku bekerja. Tapi dia juga bukan orang yang aku kenal sebab namanya sama sekali belum dia sebut.

Bersemangatlah!”


Kali ini dia harus menarik tanganku. Debaran jantungku tak menentu. Dia mengajakku ke mana?

I Love Her


Perempuan yang sekarang paling aku cintai tentu saja diriku sendiri. Tapi bertahun-tahun yang lalu, barangkali ada orang yang memiliki pemikiran yang sama, diri ini adalah orang yang sangat membenci dirinya sendiri. Rasanya ada yang keliru dengan lahir menjadi dirinya. Berharap menjadi orang lain. Melihat betapa beruntungnya perempuan lain yang sepertinya lebih beruntung. Lebih bahagia. Mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan dalam kehidupannya.

Berbeda dengan dirinya yang seakan-akan sulit sekali mendapatkan apa yang dia inginkan. Begitu banyak kesulitan yang dia lewati dan belum tentu dia akan mendapatkan apa yang dia impikan tersebut. Namun baru sekarang 'perempuan' yang belasan bahkan puluhan tahun yang lalu itu menyadari dengan baik bahwa tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Tak ada 'perempuan' yang terlahir sebagai bidadari di surga.

Setiap kehidupan ada masalahnya. Bukan hanya kehidupan yang dia jalani. Kehidupan yang aku jalani terasa berat sebab aku yang menjalaninya. Aku tak menjalani kehidupan orang lain. Itu sebabnya kadang aku berpikir bahwa kehidupanku yang paling berat. Bahwa kehidupanku yang paling penuh penderitaan. Padahal setiap kehidupan ada masalahnya masing-masing. Tidak akan ada satu orang pun yang hidup di dunia ini tanpa masalah jika memang dia memiliki impian di dalam kehidupannya.

Menjadi diriku yang sekarang, menjadi orang yang sekarang menuliskan ini, akhirnya aku menyadari bahwa aku sangat mencintai diriku yang sebelumnya, sekarang, dan tentunya di masa depan. Sebab aku berjuang untuk menjadi orang yang menjalani kehidupan yang ini sebagai seorang Rohani Syawaliah. Menjadi apa pun diriku sekarang. Perjuangan belum selesai.

Membenci diri sendiri itu melelahkan dan tak akan pernah ada habisnya. Tak ada orang yang benar-benar bahagia tanpa penderitaan di dunia ini. Sebab kebahagiaan selalu diikuti oleh derita. Seperti sekeping uang logam yang memiliki dua sisi. Jika kita ingin memiliki uang tersebut, kita harus mengambil kedua sisinya. Tak akan bisa hanya satu bagian saja yang dengan egoisnya kita ambil.


Berbahagialah menjadi dirimu sendiri sebab kamu telah berhasil melewati banyak hal untuk menjadi diri yang sekarang kamu miliki.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design