18 November 2013

Mengapa Traveling Ke Sana?


Pernahkah kita ngotot ingin mendatangi sebuah tempat yang ada di dunia ini. Satu tempat itu saja yang dalam kamus kita, kita tandai dengan kata 'wajib untuk dikunjungi'? Share dong alasan teman-teman ngotot mendatangi sebuah tempat. Traveling ke sana alasannya apa? Sebab pastinya semua orang di dunia ini suka sekali bepergian ke tempat yang baru. Bertemu dengan orang asing. Mengenali makanan yang belum pernah dicicipi sebelumnya.


Mengapa traveling ke sana?

Membuat Onion Ring di Rumah dengan Mudah


Kemarin beberapa resep membuat onion ring di internet saya baca. Tapi tak sepenuhnya saya contek dan dicoba di rumah. Saya hanya mengambil bagian menggunakan air es untuk tepung onion ringnya. Sebab saya menemukan tepung yang lebih gampang untuk membuat onion ring. Saya menggunakan tepung Golden Crispy dari Sajiku. Bukan iklan kok ini. Memang saya menggunakan tepung tersebut untuk membuat onion ring pertama saya.

Awalnya saya menggunakan telur supaya tepungnya menempel dan tepungnya tetap dalam keadaan kering. Tapi kemudian onion ringnya malah menjadi lembek. Jadi alih-alih mengikuti resep atau mencoba resep yang ada di belakang bungkus tepung Sajiku Golden Crispy saya memangkas resepnya menjadi lebih sederhana. Maklum saya memang cukup malas direpotkan dengan cara memasak yang terlalu banyak langkahnya. Jadi kalau teman-teman ingin memangkas langkah-langkah membuat onion ring yang teman-teman temukan di berbagai blog yang sudah memberikan banyak resep, resep dari saya adalah yang paling sederhana.

Satu hal yang harus diingat. Tepungnya jangan diganti. Tetap menggunakan tepung dari Sajiku yang Golden Crispy. Sebab tepungnya memang sudah mengandung bahan-bahan yang bisa membuat gorengan menjadi crispy. Walaupun di kemasannya tertulis tepung ini untuk ayam goreng, bukan masalah kok. Memasak itu seperti seni. Tak ada yang menyalahkan kita untuk lebih kreatif menggunakan bahan yang tersedia di dapur. Saya hanya lupa harganya berapa.

Kalau di resepnya kita diminta membuat dua bagian tepung. Satu kering, satunya lagi basah, itu memang buat ayam goreng. Karena yang ingin kita buat adalah onion ring yang harus kita siapkan hanya tepung basah. Adonannya jangan terlalu encer supaya tepungnya bisa menutupi semua bagian dari bawang bombay yang sudah berbentuk ring tersebut. Sebab jika bawangnya ada yang tidak tertutup tepung akan membuat bawangnya menjadi lembek dan tidak crispy. Pastinya kita ingin onion ring yang kita buat crispy bukan?

Untuk membuat adonan tepungnya gunakan air es. Sama seperti yang saya temukan di resep-resep di blog yang saya baca. Ini fungsinya untuk mengurangi penyerapan minyak. Itu kata orang yang menulis resepnya sih. Saya sendiri tak bisa membedakannya. Sebab beberapa kali saya membuat onion ring ada yang menggunakan air es ada yang tidak menggunakan air es. Kok terlihatnya sama saja ya? Hahahaaha..


Celupkan bawang bombay yang sudah berbentuk ring tersebut ke dalam adonan tepung. Kemudian goreng dengan api yang sedang. Pastikan minyaknya sudah panas. Angkat kalau sudah agak kecoklatan. Sajikan dengan saus sambal selagi panas dan renyah. Selamat mencoba.

Jadi Seorang Istri


Sekarang masak-memasak merupakan pembelajaran kehidupan yang panjang. Sebab tak semua perempuan lahir sebagai koki yang handal. Namun buat perempuan yang mau belajar semua hal tersebut bukan hal yang menyulitkan. Bukankah di dunia ini kita memang harus belajar untuk menguasai sesuatu. Ada yang belajar lebih keras dibandingkan orang lain dan menjadi orang yang ahli di dalam hal yang dia pelajari tersebut. Sama juga dengan menulis. Siapa yang berlatih lebih banyak dibandingkan orang lain tentunya akan lebih banyak mengalami peningkatan pula.

Kali ini ingin berbagi dengan teman-teman yang baru memulai akan menguasai dapur sebagai seorang istri. Tentunya buat istri pemula yang belum menjadi koki yang handal, apalagi yang sudah terlalu lama menjadi anak kos seperti saya, kadang kebingungan pula memilih menu makanan buat suami. Selain ingin selalu memberikan makanan favoritnya di meja makan. Bagaimana kalau makanan favoritnya bukanlah makanan yang gampang dibuat? Itu juga masalah lainnya yang harus dihadai selain menyesuaikan diri untuk membereskan rumah setiap pagi, ngeblog, menghibur diri, istirahat, dan menyiapkan pakaian bersih di lemari.

Kalau tidak berpikir bahwa semua ini adalah ibadah terbesar untuk setiap perempuan di muka bumi, saya rasa saya lebih memilih untuk mencari asisten rumah tangga, setidaknya untuk membereskan rumah dan mencuci pakaian. Termasuk melipatnya. Untungnya saat kelelahan menjalani segalanya sekaligus dalam sehari saya selalu berhasil menghibur diri untuk tersenyum kembali dengan mengatakan ini ibadah yang bisa saya lalukan disamping ibadah wajib lainnya.

Sebenarnya saya siap melepaskan pekerjaan di luar rumah kalau memang suami menginginkan saya berada di rumah 24 jam. Saya sendiri juga memang perempuan yang sangat menikmati bisa berada di rumah. Menghadapi komputer dengan layanan internet yang mumpuni. Bagi saya mencari rezeki tak perlu kok harus menghabiskan banyak waktu produktif sebagai seorang istri di luar rumah. Sayang sekali bukan jika kita melalaikan tugas sebagai seorang istri yang banyak sekali manfaatnya buat kelangsungan rumah tangga hanya untuk mendapatkan uang yang sebenarnya masih bisa kita dapatkan dengan cara yang lain di dalam rumah.


Inilah rasanya menjadi istri. Melelahkan tapi menyenangkan.

Tahu Singkawang


Sebenarnya ini sebutan untuk sebuah jenis tahu yang halus sekali teksturnya. Berbeda dengan tahu yang biasanya dijadikan tahu isi. Walaupun demikian, tahu dengan tekstur tersebut tidak hanya ada di Singkawang. Di Jawai Selatan dekat rumah orang tua saya juga ada. Di sebuah warung kopi yang di belakangnya adalah tempat potong rambut ada sebuah kuali alias wajan yang ukurannya tak begitu besar tapi juga tak begitu kecil. Isi minyak gorengnya sekitar satu liter.

Di bagian belakang sekali ruko tersebut ada pabrik tahu kecil milik mereka. Ayahnya pembuat tahu sejak puluhan tahun yang lalu. Entah sudah berapa banyak tahu yang mereka buat di rumah tersebut untuk dipasarkan di Matang Suri dan sekitarnya.

Tak banyak orang yang membuat tahu di Jawai kala itu. Jadi bisa makan tahu di Matang Suri, sudah digoreng dan dipotong-potong, lalu dimasukkan ke kantong putih transparan lalu diberi air cabai dan kecap manis juga asin. Rasanya enak sekali waktu itu. Saya selalu ingat bagaimana enaknya tahu yang dijual di sana. Tahunya yang ukurannya memang tak begitu besar tapi isinya tidak kosong seperti tahu sumedang.

Saat ke pasar juga tahu yang saya cari adalah tahu yang ini. Tahu Singkawang kalau di Pontianak disebutnya. Terakhir harganya Rp800/biji. Memang kenaikannya jauh sekali dibanding waktu saya kecil dulu. Hahahah...

Harga tahu goreng di warung dekat rumah orang tua saya dulunya sih yang sudah siap makan hanya Rp100. Tapi waktu itu harga beras memang masih sangat murah, sekitar Rp800-Rp900/kilogramnya. Murah sekali bukan? Tapi Rp100 dulunya itu adalah jatah saya makan di kantin sekolah. Sudah lama sekali tidak makan tahu goreng di warung itu. Sebab memang sekarang bisa menemukan tahu yang serupa di mana pun yang saya mau. Hanya air cabainya yang tidak akan saya temukan di tempat yang lain. Air cabai yang khas dan wanginya masih bisa saya rasakan hingga sekarang. Begitu juga pedasnya.


Kamu suka juga tahu Singkawang?

Bun Tahu di Abang Kepiting


Masih bicara soal menu yang saya makan beberapa hari yang lalu di Abang Kepiting. Kebetulan makannya banyak sekali waktu itu. Nah sayurnya selain cah kailan juga memesan bun tahu. Biasanya sebenarnya saya memesan sapo tahu yang dimasak dengan makanan laut. Seperti udang dan bakso.

Ternyata ada tahu yang lain yang belum pernah saya coba. Yaitu bun tahu. Karena bun tahunya hanya satu pilihan, bun tahu spesial, jadilah memesan menu tersebut yang satu porsinya dihargai Rp22.000/porsi. Memang satu porsinya tak sebanyak sapo tahu yang biasanya saya makan di warung makan di depan pasar Flamboyan lama, Jl Gajahmada. Teman-teman barangkali sudah lupa dengan warung makanan laut favorit saya tersebut. Miliknya Aa' Heri yang memang dinamai sesuai dengan nama beliau. Warung Aa' Heri, namanya.

Bun tahu spesial milik Abang Kepiting sesuai dengan menu yang lainnya, rasanya enak banget. Walaupun tidak ada unsur pedasnya, tetap saja lezat. Apalagi kepiting yang kami pesan waktu itu sudah pedas. Belum lagi kerang rebus yang disajikan dengan semangkuk kecil sambal hijau yang dicampur dengan jeruk. Jadi bau amis kerangnya tak begitu terasa karena terkena asam jeruk tersebut. Walaupun sebenarnya saya tak begitu masalah dengan bau amis kerang segarnya.

Bun tahunya tak begitu berbeda sebenarnya dengan sapo tahu. Cuma bun tahu itu seperti sudah digoreng, jadi bagian luarnya kecoklatan sedangkan sapo tahu putih bersih mirip dengan puding susu. Kalau ditanya tahu yang mana yang lebih saya suka? Sebenarnya saya suka segala jenis tahu. Paling favorit waktu kecil sih tahu yang dibikin oleh orang tua teman saya yang tinggal di Desa Matang Suri, Jawai Selatan. Dulunya tahu di warung tersebut sangat terkenal. Selain menjual dalam bentuk mentahnya kita juga bisa membeli tahu yang sudah digoreng. Satu tahu dipotong menjadi 9 potongan kecil seperti dadu. Mirip dengan tahu Singkawang. Warga Kalimantan Barat pasti tahu benar tahu yang saya maksud.


Mau tahu tentang tahu Singkawang? Nanti saya buatkan di tulisan berikutnya!

Bagaimana Kalau Kalimantan Barat Jadi Milik Malaysia Saja?


Lagi-lagi bicara soal Kalimantan Barat yang tak kunjung dibenahi oleh pemerintah. Jalanan adalah masalah yang paling utama. Sebab jalanan akan digunakan oleh banyak orang. Tanpa adanya jalanan yang memadai tentu akan membuat masalah yang besar buat banyak orang. Dengan jalanan yang kondisinya seburuk yang sekarang tentu banyak orang yang setengah terisolasi di wilayah timur Kalimantan Barat sendiri. Terisolasi tanpa mereka sadari.

Pembangunan yang paling utama memang membangun jalan. Sebab dengan memberikan akses terbaik untuk warga akan membuat masyarakat bisa membangun wilayah mereka sendiri. Jangankan mau memberikan akses bagi kesehatan dan pendidikan yang baik bagi masyarakat wilayah timur Kalimantan Barat. Memberikan jalanan yang memadai untuk masyarakat saja pemerintah tidak becus.

Seorang pejabat dengan santainya mengatakan betapa lebaynya masyarakat menanggapi isu ini. Sampai membuat Gerakan Rp1.000 untuk Jalan Sanggau. Lebay buat dia. Padahal itu sudah menandakan masyarakat sudah tak sanggup lagi membiarkan jalanan di tempat mereka semakin hancur. Sebab kondisi yang sekarang saja sudah cukup menyulitkan. Apabila dibiarkan terlalu lama tentunya akan menambah rentetan masalah yang sudah ada.

Apakah saat masyarakat sudah tak bisa ke mana-mana, setidaknya harus naik pesawat hanya untuk ke kabupaten yang lain, pemerintah baru akan membenahi jalanan untuk mereka?

Sering terpikir oleh saya, kalau memang pemerintah tidak sanggup membenahi Kalimantan Barat mengapa tak dilepaskan saja. Bagaimana kalau dialihkan menjadi negara bagian untuk Malaysia? Sebab pemerintah negara Malaysia jauh lebih dekat dibandingkan pemerintah negara Indonesia. Indonesia terlalu besar untuk Indonesia sendiri. Terlalu banyak pulau yang harus diurus. Mengurus masalah jalanan saja Indonesia tidak sanggup. Belum lagi proyek pembangunan yang banyak mengalami khitanan sehingga kualitas jalan yang buruk hanya diperbaiki seadanya. Makin banyak yang mengeruk keuntungan untuk pribadinya sendiri.


Ini hanya keluh-kesah, bukan berarti saya kehilangan rasa cinta pada negara saya sendiri. Tapi bagaimana bisa terus mencintai kalau Indonesia rasanya 'menyakiti' kekasihnya sendiri di Kalimantan Barat?

Ini Dia Jalan yang Menghubungkan Indonesia dan Malaysia


Sudah pernah ke Malaysia sebelumnya? Lewat mana? Kalau menggunakan pesawat sih tak akan sadar dengan jalan raya yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia di wilayah timur Kalimantan Barat. Ini adalah postingan kesekian yang kalinya yang akan membahas soal jalanan di Indonesia pada umumnya. Khususnya di Kalimantan Barat yang semakin hancur. Sebenarnya bukan jalan di kabupaten saja yang hancur begini. Jalan di Kota Pontianak juga masih banyak yang perlu dibenahi.

Wilayah timur Kalimantan Barat sekarang menjadi medan yang sangat berbahaya untuk dilalui oleh kendaraan. Apalagi kendaraan seperti truk yang membawa banyak muatan. Ironisnya jalanan yang menuju ke negara tetangga juga tak kalah hebat kerusakannya. Pernahkah kita berdiri di tanah air kita Indonesia sambil memandang ke depan yang merupakan negara Malaysia? Bagaimana keadaannya? Bagaimana perbedaannya?

Tentu saja kita akan berdiri di antara kubangan air dan jalanan yang penuh lubang sambil memandang jalanan yang mulus di seberang sana. Tempat yang kita seberangi dan bernama Malaysia. Berada di bumi yang sama tapi jalannya sangat berbeda. Daratan yang sama. Kita membutuhkan pejabat yang mau bekerja dan memperbaiki negara kita. Bukan orang-orang yang sibuk mengeruk keuntungan atas negaranya sendiri.

Apakah harus berkali-kali mengingatkan bahwa kita hanya tinggal di satu bumi. Tak ada tempat yang lain. Seberapa banyak lagi kehancuran yang harus kita buat di muka bumi ini untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita butuh tanah, air, dan udara untuk hidup? Tak peduli sebanyak apa pun uang yang kita miliki tak akan pernah ada gunanya ketika bumi ini sudah hancur.


Baru jalan yang kita biarkan semakin hancur. Hutan-hutan sudah kita babat dan menjadi perkebunan kelapa sawit. Tanah-tanah sudah kita tambang dan jadikan tempat yang tandus dan gersang. Polusi udara sudah di mana-mana. Apalagi kehancuran yang belum kita buat?

Masalah di Pontianak


Tadi pagi ada berita mengenai Jalan 28 Oktober yang merupakan persimpangan untuk menuju Kabupaten Sambas dilaporkan tergenang air yang cukup dalam. Membuat banyak kendaraan susah melewatinya karena lubangnya menjadi tak terlihat lagi. Pengendara bisa saja celaka jika melewati jalan tersebut gara-gara masuk ke lubang yang menganga dan tertutup oleh air yang berasal dari curah hujan tadi malam.

Pontianak memang intensitas hujannya sedang tinggi minggu ini. Beberapa hari terakhir hujan terus turun. Beberapa kali lumayan deras dan membuat jalanan tergenang air karena banyak jalanan yang tak memiliki saluran untuk membuang air hujan. Got-got yang dulunya ada di pinggiran jalan sekarang sudah banyak yang tertutup karena pelebaran jalan dan pembangunan. Menyebalkan sih memang. Daerah resapan air juga semakin berkurang karena banyak orang memilih untuk menyemen halamannya. Jadinya serba salah. Kalau sedang hujan deras bisa banjir atau setidaknye tergenang air, selain ini juga disebabkan oleh drainase banyak yang tersumbat sampah. Kalau panas terasa sekali gersang dan tandusnya.

Bumi cuma satu. Apabila ini berlangsung terus kita sendiri yang akan menuai akibatnya. Kebanjiran hanya satu dari banyak masalah yang harus kita hadapi bersama. Lebih menyebalkannya lagi orang yang sudah menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarang juga terkena imbasnya jika wilayah yang dia huni masih banyak masyarakat yang membuat saluran pembuangan air tidak lancar karena dipenuhi oleh sampah.


Jalanan yang tergenang air hanya akibat kecil dari kelalaian kita di muka bumi ini. Banjir lain cerita lagi. Tak pernah ada habisnya. Tak akan ada yang berubah di muka bumi ini jika kita sendiri tak mau mengubah sifat buruk kita. 

Ganti Paket WIGO 4G


Setelah 5 bulan menggunakan paket internet bulanan WIGO 4G yang biaya bulanannya Rp223.000/bulan dengan kuota normal 4GB/bulannya dan akhirnya merasa bahwa kuota normalnya masih kurang. Meskipun saat kuota sudah mencapai angka nol, paket internetnya tetap bisa digunakan sampai tanggal terakhir pada bulan tersebut dan masih mendingan dibandingkan paket internet lain yang sudah kehabisan kuota normalnya. Cuma kadang-kadang kalau sedang bad mood dan harus memosting cepat atau mendownload sesuatu dengan kecepatan yang diturunkan menjadi 128Kbps lumayan mengganggu. Sebab kecepatan sebelumnya up to 1Mbps.

Jauh kan perbandingannya.

Nah mulai bulan depan akan mendapatkan kuota 6GB setiap bulannya selama 3 bulan dengan biaya 663.000/3bulan. Jadi biaya perbulannya Rp221.000. Sebenarnya ada lagi paket 8GB/bulan dengan pembayaran setiap 6 bulan sebesar Rp1.323.000. Sekarang mau mencoba dulu apakah 6GB sudah mencukupi kebutuhan ngeblog saya. Putra sendiri hanya mengaktifkan androidnya untuk membuka sosial media. Jadi tak begitu berpengaruh ditambah dengan pemakaian suami.

Selain mengganti paket bulanan menjadi tiga bulanan ada juga yang diubah yaitu tiang penyangga antenanya. Sebelumnya tiang penyangganya adalah kayu yang disambung-sambung agar menjadi panjang. Sekitar 5 meter panjangnya. Tadi sore habis membeli bambu yang panjangnya lebih dari 10 meter. Supaya lebih tinggi lagi posisi antenanya. Siapa tahu bisa mendapatkan sinyal yang lebih baik. Kali ini juga bambunya tidak putus dan perlu disambung sebab memang sebatang bambunya sepanjang lebih dari 10 meter yang kami beli seharga Rp10.000 di komplek sebelah.

Sambil mengganti bambu untuk menyangga antena tambahan dari WIGO 4G, suami juga membeli sebatang bambu yang lebih pendek dari bambu pertama untuk mengganti tiang penyangga antena televisi. Sebab bisa jadi antena tersebut yang akan jatuh lagi ditiup angin dan tiangnya bisa saja patah. Tadi saja sudah agak miring.


Semoga paket internetnya cukup dan bambunya tidak patah saat ditiup angin.

Pelanggar Lampu Merah Lempar Tai Saja!


Sebel sebenarnya dengan orang yang suka menabrak lampu merah. Biasanya terjadi kalau lampu rambu-rambu lalu lintas sudah berubah menjadi kuning, kemudian pengendara yang masih jauh memecut kendaraannya supaya bisa lewat jalan tersebut. Sayangnya belum sempat menyeberangi jalan simpang, lampu sudah berubah warna menjadi merah. Pengendara seperti inilah yang akhirnya melanggar lampu merah.

Lebih menyebalkan lagi selain melanggar lampu merah mereka juga kehilangan kepedulian dengan pengendara lain yang sudah gilirannya untuk menyeberang atau berbelok karena lampu rambu-rambu yang lain sudah berubah menjadi hijau. Padahal kalau terjebak lampu merah pun hanya satu dua menit waktu yang kita luangkan untuk menunggu lampu berubah menjadi hijau. Mengapa banyak orang yang merasa sayang sekali kehilangan satu dua menit dalam hidupnya kemudian membahayakan nyawanya dengan menabrak lampu merah? Bukan hanya membahayakan dirinya sebenarnya. Tapi juga membahayakan nyawa orang lain.

Sering saya membayangkan nih ya, seandainya di setiap persimpangan yang ada lampu merahnya ada alat untuk menghukum orang yang melanggar lampu merah. Berupa pelempar tai. Terserahlah mau tai dari hewan atau manusia. Jadi setiap orang yang melanggar lampu merah akan langsung dilempari oleh pelempar tai tersebut. Barangkali dengan cara seperti itu akan ada efek jeranya buat orang yang melanggar lampu rambu-rambu lalu lintas. Itu hanya bayangan saya. Kemungkinan untuk diadakan tentunya kecil.

Membangun kesadaran masyarakat memang tidak mudah tetapi membangun kesadaran diri kita sendiri untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas, bukan hanya lampu lalu lintas tapi semua rambu-rambu yang ada di pinggir jalan. Sebab semua rambu-rambu yang dibuat memang ada fungsinya.


Hari gini masih melanggar rambu-rambu lalu lintas?

Pesta Durian


Sebenarnya tak banyak juga sih membeli duriannya. Hanya 3 biji durian berukuran lumayan besar yang malam kemarin kami beli. Seharga 50.000IDR. Tapi karena tak ada saingan untuk makan semua durian tersebut terasa sedang berpesta. Sebab banyak sekali jumlahnya buat dimakan sendiri. Suami suka durian tapi bukan penggila durian seperti saya. Malam itu berpesta durian sampai akhirnya setengah dari tiga biji durian tersebut dimasukkan dalam freezer untuk menjaga keawetannya.

Buah durian memang enak sekali dimakan dalam keadaan segar. Walaupun sebenarnya tidak baik jika dimakan terlalu banyak. Selain membuat badan panas dan gerah bisa juga membuat kepala pusing. Alias mabuk durian. Saya sendiri selama ini pernah mabuk durian satu kali. Memang buah durian bisa membuat kepala pusing karena tekanan darah menjadi tinggi. Hipertensi sementara.

Berbeda kalau makan durian yang sudah diolah menjadi panganan yang lain. Seperti bubur kacang hijau durian. Uwan saya dulunya selalu membuat bubur yang dicampur dengan durian. Entah itu bubur kacang hijau, kolak pisang, atau kolak peranggi. Tahu peranggi kan? Orang yang suka sekali dengan acara Halloween tahu betul tumbuhan yang satu ini. Menjadi ikon Halloween entah sejak kapan. Peranggi itu labu kuning.

Dengan memasukkan durian dalam bubur yang kita buat memang menambahkan cita rasa sendiri. Selain itu buat penyuka durian tentunya ini akan menjadi bubur yang enak untuk dinikmati. Beda cerita kalau ada yang tidak suka dengan durian. Akan menjadi masalah saat membuat panganan yang dicampur dengan durian. Selain dicampur seperti itu sebenarnya durian juga bisa dibuat dodol durian. Di Pontianak terkenal dengan lempok durian.

Nah kalau duriannya tidak banyak tapi penghuni rumah ramai sekali, membuat durian yang dicampur dengan makanan yang lain membuat duriannya bisa dibagi ke banyak orang. Uwan sendiri kadang hanya punya dua tiga biji durian sedangkan satu rumah suka sekali dengan durian. Jadinya duriannya diolah menjadi panganan yang lain supaya bisa dibagi rata. Maklum dulunya Aki hanya bekerja sebagai petani yang luas sawahnya tak seberapa.


Durian yang dicampurkan dengan bubur atau diubah menjadi dodol durian kalau dimakan tidak membuat panas. Entah apa penyebabnya. Barangkali memang ada zat tertentu yang menghilang dari durian tersebut saaat dimasak. Mari berpesta durian!
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design