16 November 2013

Masih Liburan


Cuti sebulan sekarang saatnya untuk benar-benar dinikmati. Memang ada baiknya mengambil cuti panjang setelah menikah. Sebab dengan mengambil cuti kita bisa menyelesaikan banyak hal. Misalnya pindahan dan bulan madu. Jadinya kita tidak merasa dikejar-kejar deadline pekerjaan atau yang lainnya saat selesai resepsi. Walaupun saya sempat dikejar-kejar deadline lomba menulis.

Jadinya sekarang saya lumayan lebih santai ya. Selalu berada di rumah kalau suami sedang kerja, hanya keluar rumah kalau bersama beliau. Menyenangkan sih. Sebab selama ini saya memang suka sekali berada di dalam rumah sambil menulis atau memasak. Tidak perlu keluar rumah hanya untuk mencari kesibukan. Tak banyak sih yang berubah dari keseharian selain sekarang lebih banyak masak di rumah dibandingkan sebelumnya yang selalu makan di luar.

Satu hal yang paling penting bagi saya yang malas jauh-jauh berbelanja untuk keperluan dapur, tukang sayur harus lewat depan rumah. Walaupun sebenarnya masih banyak bahan makanan di dalam kulkas tetap saja perlu memberikan variasi dari makanan yang sudah saya siapkan untuk dimasak. Tentu saja makanan yang tinggal goreng atau rebus. Tak pakai ribet. Seperti telur asin, telur ayam, nugget, kentang beku, dan sayurannya pun yang bisa disimpan agak lama di dalam kulkas. Sayurnya wortel, buncis, baby corn, dan kentang. Oiya kentang tidak di dalam kulkas sih.


Cuma ingin berbagi aja sih dengan teman-teman, sekarang Hani masih liburan. :)

Honeymoon Episode 2 Ditunda


Ini susahnya kerja di tempat yang tak ada liburnya seperti suami saya. Saya sendiri pun sebenarnya kerja di tempat yang serupa. Sama-sama tak mengenal hari libur atau tanggal merah. Mau tanggal merah, hari Minggu, hari besar, atau apa pun yang terjadi di luar sana tetap saja radio mengudara. Tetapi memang menyenangkannya kerja seperti saya, saya bisa meminta cuti lebih panjang dibandingkan suami.

Jadinya bulan madunya hanya sekitar semingguan. Sisanya saya sekarang menghabiskan cuti di rumah menyiapkan kebutuhan suami. Padahal sebenarnya sudah merencanakan tiga tempat yang ingin kami kunjungi. Sebenarnya dua sih dari saya. Sebab Bali bukan menjadi tempat utama buat liburan atau bulan madu bagi saya. Saya malah lebih ingin keliling Kalimantan Barat dan menghabiskan waktu menyelam di pinggir pulau.

Dua tempat tersebut yang rencananya akan kami kunjungi setelah Sintang adalah Banjarmasin dan Lombok. Mengapa Banjarmasin? Sepertinya selalu saya ceritakan bahwa Abah saya memang lahir dan dewasa di Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Berdarah Banjar. Keluarga besar Abah saya juga di sana. Jadi ingin bulan madu di sana sambil mengunjungi kerabat yang tentunya ingin mengenal lebih dekat suami saya. Apalagi saya anak yang pertama menikah di keluarga besar kami.

Lombok juga ingin saya kunjungi karena banyak sekali tempat-tempat yang dipamerkan teman-teman yang sudah mampir ke sana dan terlihat indah. Walaupun saya tahu pulau-pulau kecil di Kalimantan Barat, seperti Lemukutan, Penibung, Randayan, juga memiliki keindahan tersendiri dan saya juga belum pernah ke sana sama sekali.


Eh ternyata ujung-ujungnya, jangankan Bali yang diinginkan suami, Banjarmasin saja belum sempat dikunjungi karena jadwal kerjanya yang padat sekali.

Cara Membuat Es Durian


Penyuka durian seperti saya? Tapi tiap hari makan durian dengan cara yang biasa tentunya cukup membosankan walaupun kita pecinta durian yang termasuk orang yang fanatik dengan durian. Begitu juga dengan saya. Kalau tiga hari berturut-turut makan durian sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat saya menolak durian pada hari keempat. Makanya ketika durian divariasikan bisa membuat durian jadi tak bisa ditolak.

Ingin membuat variasi durian sendiri di rumah tapi tidak ingin direpotkan dan menunggu lama? Tenang, kali ini kita bisa membuat es durian dalam waktu 5 menit saja. Cukup lima menit kita sudah bisa menikmati es durian yang nikmat rasanya. Saatnya menyiapkan bahan-bahannya.
  1. Durian secukupnya
  2. Susu kental manis atau krimer
  3. es batu
  4. Kacang tanah goreng atau oseng yang sudah dikisar kasar secukupnya

Satu porsi sebenarnya cukup dua atau tiga biji daging durian. Susu kental manisnya cukup tiga sampai empat sendok makan. Sesuaikan manisnya. Es batu sesuaikan dengan wadah. Kalau ingin es batunya diparut atau diblender juga silakan. Tak ada yang namanya harus sesuai dengan resep di sini. Kacang tanah yang sudah dikisar kasar cukup satu atau dua sendok makan. Kita bukan ingin membuat es kacang tanah bukan? Tak perlu terlalu banyak. Daging duriannya boleh dibanyakin kalau memang suka sekali dengan buah durian. Tidak suka dengan kacang? Jangan ditambahkan ke dalamnya.

Cara membuat es durian:
  1. Larutkan susu kental manis atau krimer dengan air.
  2. Campurkan es ke dalam larutan susu.
  3. Tambahkan durian.
  4. Taburi kacang tanah di atasnya.

Siap disajikan. Mudah bukan cara membuat es duriannya? Daripada membeli es durian di tempat minum dengan porsi yang sama bisa 10.000IDR permangkoknya mendingan bikin sendiri dan bisa menambahkan durian lebih banyak lagi seperti yang kita mau. Selamat mencoba.


Mengawetkan Durian


Kalau harga durian sedang miring-miringnya tentunya keinginan untuk membeli dalam jumlah banyak tak terhindarkan lagi. Kadang saya beranggapan bisa menghabiskan dua atau tiga buah durian sekaligus. Jadi membeli 4-6 biji durian rasanya pas untuk persediaan dua hari. Ternyata saat di depan mata yang terjadi adalah saya hanya menghabiskan sebiji durian.

Bagaimana cerita selanjutnya dengan 5 biji durian yang tersisa?

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa buah durian itu lama kelamaan akan merekah kulitnya. Kemudian dagingnya yang terkena udara karena udara bisa masuk ke kulit yang merekah tersebut akan mulai mengering. Kalau sudah mengering tentu saja dagingnya akan menjadi tawar dan tidak enak lagi. Durian yang enak yang dagingnya lembut dan lunak. Basah.

Apabila memang memungkinkan, mengawetkan durian bisa dilakukan dengan mengambil dagingnya dari bijinya, kemudian dijemur hingga benar-benar mengering di bawah sinar matahari yang butuh waktu beberapa hari. Tapi kalau ingin mengawetkan daging durian dalam waktu yang singkat dan ingin menikmatinya tetap seperti durian pada awalnya bisa menggunakan freezer kulkas.

Jadi daging durian dimasukkan dalam wadah dan langsung dibekukan saat masih basah dan lunak. Saat akan menikmatinya kembali keluarkan wadah dan angin-anginkan sampai dagingnya melunak. Rasanya dan manisnya tetap terasa. Persis seperti durian sebelum dimasukkan ke dalam mesin pembeku. Apabila suka memakannya ketika dingin, durianya menjadi seperti es krim.


Sekarang sudah bisa dong mengawetkan durian?

Kerang Rebus di Abang Kepiting


Sudah lama sekali tak makan kerang yang satu ini. Sebab memang kerang ini tak setiap hari ada. Beruntung bisa menemukannya di Abang Kepiting, Pontianak, Kalimantan Barat. Kami memesan satu kilogram. Sebab kerang memang berat di kulitnya. Kalau memesan setengah kilogram takut tidak mencukupi.

Kerangnya direbus saja tanpa bumbu. Kemudian kita bisa memakannya dengan mencocolkannya ke sambal jeruk yang pedas dan asem. Rasa kerang yang gurih menjadi lebih enak lagi dengan sambal tersebut. Dari semua menu yang kami pesan, kerang rebus ini adalah makanan yang paling banyak saya makan. Memang makan kepiting juga menjadi hal yang pertama saya lakukan. Tapi penutupnya adalah setengah (jangan-jangan dua pertiga) dari semua kerang rebus yang ada di meja.


Suasana di Abang Kepiting ini seru. Sebab kita bisa mendengarkan masakan yang sedang disiapkan di dapur. Meskipun jaraknya sebenarnya tidak begitu dekat, tapi bunyi masakannya lumayan nyaring. Belum lagi di sekitar kita akan banyak pengunjung lain yang juga menunggu makanannya disajikan sibuk berfoto-foto.

Durian Murah di Pontianak


Sejak dulu sampai sekarang rasanya saya berbahagia sekali karena lahir dan membesar di Kalimantan Barat. Sebab di sini harga makanan yang saya sukai tidak mahal. Ramah di kantong. Seperti makanan laut dan juga buah durian lalu buah jeruk. Walaupun saya selalu suka dengan jeruk madu yang ada di Tebas dan Jawai, buah durian tetap juga menjadi pilihan yang sangat tak bisa ditolak. Selalu saja ada alasan untuk mendapatkan buah durian ini dan menikmatinya.

Durian harganya lumayan murah di Pontianak. Sekarang belum terlalu tumpah ruah tapi sudah banyak juga yang membanting harganya. Padahal banyak durian yang didatangkan dari wilayah timur Kalimantan Barat yang jalannya hancur lebur itu. Untuk datang ke Pontianak dengan muatan yang sangat banyak. Satu mobil durian tentu bukan hal yang mudah. Risiko ruginya sangat besar. Kalau truk yang membawa sembako tumbang tetapi barangnya tidak ikut tumpah ke jalanan tentu saja masalahnya hanya bagaimana membuat truk tersebut berdiri kembali. Namun akan beda cerita kalau yang tumbang adalah truk atau pick up yang membawa durian.

Kalau kendaraan yang mereka gunakan untuk mengangkut durian tersebut tumbang lalu butuh waktu untuk membuat kendaraannya tegak kembali, berapa banyak durian yang bisa diselamatkan. Sebab durian yang sudah merekah kulitnya, kalau sudah matang sekali memang durian akan mulai merekah, kelamaan dibiarkan daging buahnya akan mengering dan tidak enak lagi untuk dimakan. Tapi tetap saja ada yang bisa menjual durian yang didatangkan dari wilayah timur Kalimantan Barat dengan harga yang miring.


Harganya cukup murah untuk durian yang kualitasnya baik dan ukurannya lumayan besar ini. Satu bijinya dibanderol dengan harga 20.000IDR. Tawar-menawar adalah hal yang biasa antara penjual dan pembeli durian. Didapatkan harga yang disepakati yaitu tiga biji durian cuma 50.000IDR. Murah bukan?

Review Kuliner: Kepiting Saus Padang di Abang Kepiting


Berburu makanan laut, istilah kerennya sea food memang menjadi hal yang sangat menyenangkan. Apalagi membayangkan lezatnya hewan laut yang sudah dimasak dengan berbagai bumbu yang memberikan cita rasa lebih enak lagi pada bahan makanan tersebut. Paling mengundang selera buat saya sih memang kepiting dan udang. Tapi kali ini udang tidak dipesan karena banyak sekali makanan laut yang sudah terhidang di depan kami.

Sejak kecil makan makanan laut memang hal yang biasa buat saya. Setiap hari saya akan menemukan beragam makanan laut yang dimasak nenek. Kadang udang, kadang ikan, kadang kepiting. Kalau kepiting paling sering cuma direbus dengan bawang dan sedikit bumbu. Lalu dicocol ke kecap yang sudah diberi cabai dan jeruk sambal. Itu rasanya sudah sedap sekali.

Dapat dibayangkan jika kepiting yang masih segar. Dagingnya masih manis. Bahkan sebelum dimasak kepitingnya masih bergerak dengan lincah yang menandakan dia masih sehat walafiat. Kepiting seperti ini memang paling enak untuk dijadikan santapan makan malam. Apalagi kalau kepitingnya banyak telurnya. Itu jauh lebih nikmat.

Tadi malam kami singgah ke sebuah tempat makan yang terkenal di Pontianak. Letaknya di belakang jalan yang menuju ke Hotel Aston. Tepat di persimpangan. Kalau ke kiri kita akan ke Hotel Transera. Nah Abang Kepiting ini belok ke kanan. Jadi buat yang sedang berada di Jalan Gajahmada dan bingung ingin makan apa dan di mana bisa mampir ke Abang Kepiting.

Di sini pengunjungnya ramai sekali. Beruntung jika bisa menemukan meja yang masih kosong. Jangan takut makanan yang kita pesan akan lama baru siap. Sebab tadi malam tak sampai 15 menit, sekitar 12-13 menit semua makanan yang kami pesan terhidang di meja. Selain kepiting saus padang kami juga memesan kerang, cah kailan spesial, bun tahu spesial, ikan bawal bakar, dan beberapa minuman hangat.


Menu sebanyak itu dan mereka bisa menyiapkannya hanya dalam waktu kurang dari 15 menit. Cepat sekali bukan? Jangan heran saat datang ke sini kita akan melihat halaman depannya yang sudah serupa dengan pasar ikan. Sebab banyak sekali jenis makanan laut yang dipamerkan di depan untuk dipilih pengunjung. Siap dengan timbangan, abang-abang yang berada di depan akan melayani kita. Pilih, timbang, catat, dan silakan pilih mau dimasak seperti apa makanan lautnya. 

Hari Ini Masak Apa?


Karena saya bukanlah koki handal dan pengennya cepat selesai memasak saya selalu memasak makanan yang sederhana. Seperti tumis atau gorengan. Walaupun tetap harus ada masakan yang berkuah karena suami tak bisa makan tanpa kuah. Sayangnya saya lupa mengambil alu dan lesung yang saya tinggalkan di Radio Volare. Barang-barang saya memang belum habis saya ambil di sana. Padahal sudah pindah rumah. Sebab saya belum meluangkan waktu untuk benar-benar membereskannya hingga tuntas.

Jadi hari ini saya masak apa?

Saya tadi sudah beli sayur dan tempe. Di kulkas sebenarnya masih ada nugget dan kentang beku. Tapi saya ingin memasak sayur tumis wortel, buncis, dan baby corn. Sedangkan tempenya mau digoreng dengan tepung bumbu saja. Beberapa hari yang lalu saat singgah ke rumah mertua saya melihat Putra makan tempenya lahap sekali. Tapi tempe yang ada tepung bumbunya. Untung saya sudah menyediakan banyak tepung bumbu di rumah. Jadi bisa masak banyak lauk menggunakan tepung bumbu tersebut. Kemarin saya menggunakannya untuk menggoreng onion ring. Ternyata berhasil. Sayangnya saya lupa menjepretnya.


Lalu saya masak bakso untuk kuahnya. Atau sayurannya jangan ditumis ya? Mendingan dijadikan sop dengan bakso kepiting yang sempat saya beli beberapa hari yang lalu? Masih bingung sih nih. Nanti deh saya bagikan hasil masakannya ya! Pengennya praktis dan cepat sih masaknya. Hahahaha...

Lupa Menjepret Hasil Masakan


Padahal sudah banyak sekali masakan yang saya buat beberapa hari terakhir ini. Semenjak sudah pindah rumah memang saya sekarang menjadi orang yang akan bertanggung jawab penuh untuk semua masakan yang ada di sini. Ternyata saya lupa sekali untuk menjepret semua hasil masakan yang sudah saya buat. Mulai dari ayam goreng, sop ayam, sayur sop, ring onion, dan telur dadar.

Saya jadi ingat komentar seorang teman saat saya memasukkan tempe ke instagram saya. Mengunggahnya dan membagikannya di facebook, twitter, tumblr, dan flickr. Dia bilang saya satu-satunya orang yang membagikan tempe di instagram. Saya pikir itu cukup berlebihan. Tapi bisa jadi memang saya orang yang merasa bahwa tempe memang harus diunggah ke instagram. Sebab selama ini saya memang senang sekali memasukkan gambar makanan ke sana. Dengan mengunggahnya ke instagram saya jadi ingat untuk menjadikannya postingan di blog.


Setelah menulis ini saya memang akan membuat masakan untuk makan siang suami dan saya. Semoga saya tidak lupa lagi untuk menjepretnya. Sebab kali ini tidak dikejar-kejar deadline untuk menyelesaikan novel yang ingin diikutkan lomba yang pada akhirnya saya banting setir ikutan menulis cerpen sebab ternyata saya hanya mampu mengetik 30 halaman novel dengan spasi tunggal dalam waktu dua hari. Tak terkejar untuk 100 halaman. Saya malah jatuh tertidur di depan televisi

Ngeblog Sambilan


Sekarang kegiatan ngeblognya tak bisa dimulai dari bangun tidur dan sarapan. Sebab ternyata menjadi seorang istri banyak hal yang kita sendiri ingin menyelesaikannya. Pengennya saat suami pulang kerja rumah sudah rapi. Makan siang sudah siap. Tempat tidur juga sudah dirapikan. Pokoknya suami pulang tinggal makan dan menyalakan televisi.

Jadi sekarang ngeblognya disambil dengan kegiatan yang lain. Saat menuliskan ini saya sendiri sedang memasak nasi dan menunggu cucian kering. Tapi setelah menyelesaikan beberapa tulisan dan menjadwalkannya harus segera memasak sayuran dan juga menggoreng lauk buat suami. Tiba-tiba saja saya menjadi tukang masak yang sangat mahir sekarang ini.

Saat pertama menyelesaikan masakan dan ada dua orang yang akan mencicipinya saya ternyata berdebar. Deguban jantung ini sangat kencang. Sebab saya tak pernah menunggu ada orang yang mengomentari masakan saya. Masak ya masak. Terus makan. Tak ada cerita menunggu komentar orang yang memakannya. Beruntung masakan saya ternyata dinilai enak oleh dua orang yang mencicipinya.

Padahal selama ini saya hanya menjadi koki untuk diri sendiri di kosan. Kalau ditanya soal masakan yang enak bin lazis rasanya bukan saya orangnya. Saya hanya bisa menjawab pertanyaan bagaimana memasak yang irit ala anak kos. Maklum selama ini ya pengennya irit. Sebab uang bulanan terbatas. Nah sekarang yang jadi masalah tentu saja rasa. Tentu kita sebagai istri tak ingin mengecewakan suami yang sudah susah payah memberikan nafkah.


Ngeblog sambilan begini ternyata bisa dijalani juga. Kamu ngeblog sambilan dengan apa?

Pindah Rumah


Setelah lebih dari setahun tinggal di Radio Volare di kamar yang berdekatan dengan dapur yang digunakan Bi Ramnah akhirnya saya pindah rumah. Tak banyak sih sebenarnya barang yang saya bawa sebab lemari-lemari lama saya biarkan saja di sana. Kasur busa yang tipis itu pun saya tinggalkan. Sebab saya pikir kasur tersebut akan berguna buat karyawan Volare Network yang barangkali akan seperti saya. Diizinkan tinggal di kantor tanpa dipungut biaya.

Sekarang saya menempati rumah baru bersama suami. Tak begitu besar tapi cukuplah untuk berdua. Terletak di kawasan Sepakat Dr. Wahidin di sebuah komplek perumahan yang jalannya luas dan mobil bisa masuk ke dalamnya. Merampungkan banyak sekali hal dan taman belum juga saya buat. Memang ada rencana akan menanam bunga-bunga di depan rumah dan menjadikannya lebih indah.

Rasanya bagai mimpi saya sekarang berada di rumah yang menjadi tempat kami melanjutkan kehidupan yang baru sebagai pasangan. Baru kemarin rasanya saya berkenalan dengan Putra. Begitu cepat. Resepsi pernikahan yang dipersiapkan dalam waktu yang singkat pun sudah usai. Lega sekali rasanya. Karena selain menguras energi, hal tersebut juga menguras pikiran. Sibuk memikirkan sebaiknya seperti apa resepsi pernikahan tersebut akan digelar.

Awalnya sama-sama berpikir untuk tidak mengadakan resepsi. Sama-sama sepakat menikah di KUA saja. Selain tidak merepotkan juga tak menghabiskan banyak tenaga dan materi. Orang tua saya sendiri berpikir uang untuk resepsi lebih baik digunakan untuk kehidupan kami selanjutnya. Saya setuju sekali dengan pendapat yang itu. Putra apalagi. Karena memang pernikahan yang tiba-tiba, tabungan seadanya, beda wilayah yang tentu saja menambah cerita baru untuk diselesaikan.

But hey, sekarang saya bisa mengatakan semuanya sudah rampung. Saya sekarang sudah menjadi istri. Putra sudah menjadi suami saya yang sah. Bahkan kami tetap bisa menggelar resepsi yang melebihi bayangan saya selama ini tentang pernikahan saya nantinya.


Alhamdulillah.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design