15 November 2013

Jadi Juri dan Sponsor


Ternyata pendaftaran untuk lomba menulis blog Pontianak 242 sudah ditutup. Sekarang saatnya beraksi menjadi juri untuk tulisan tersebut. Sebenarnya kalau bukan gara-gara Bang Dwi sih tak ada cerita saya akan menjadi juri. Paling saya siap menjadi sponsor saja. Sisanya biarkan orang lain yang mengurusnya. Namun karena memang blogger Pontianak jumlahnya tak banyak dan tak memungkinkan mencari orang yang berbeda untuk ikut terlibat sebagai sponsor dan juri, jadinya juri dan sponsor adalah orang yang sama.

Untung yang ikut hanya 19 orang. Tak terbayangkan jika yang ikut sekitar 100 orang dan membuat tulisan 2-3 buah setiap pesertanya. Dapat dibayangkan juri akan menjadi kelimpungan. Ternyata begini ya rasanya menjadi juri. Semoga saja saya akan memenukan tulisan yang menurut saya menarik dan pantas untuk menang.


Daftar pesertanya bisa dilihat di sini.

Ngeblog Terjadwal


Sebenarnya memang lebih menyenangkan membuat tulisan di pagi hari atau beberapa hari sebelumnya untuk blog. Lalu membuat postingan terjadwal untuk semua tulisan tersebut. Sebab memosting tulisan terlalu banyak pada waktu yang berdekatan membuat jeda kosong di blog menjadi lebih panjang. Beda cerita kalau kita menulis dan menjadwalkan jam dan tanggal terbitnya. Sehingga jam terbit menjadi lebih teratur dan buat yang memosting banyak tulisan dalam sehari tak akan membuat jeda kosong terlalu lama.

Di blog ini sendiri kadang jarang antara tulisan yang satu dengan yang lainnya sekitar 1-1,5jam. Kalau memang memungkinkan jaraknya sama antara tulisan 1 ke 2, 2 ke 3, dan seterusnya hingga habis. Paling tidak sampai tengah malam tetap ada tulisan yang terbit. Untungnya sekarang bisa menghubungkan blog ke twitter. Sehingga setiap link tulisan baru akan langsung terupdate ke twitter. Sehingga bisa langsung dipromosikan ke media sosial. Demikian juga dengan facebook.


Saya sekarang lebih sering membuat postingan terjadwal, bagaimana denganmu?

Kegiatan Pagi Hari


Sekarang sudah punya rutinitas pagi yang akan saya jalani hingga tua nanti. InsyaAllah, semoga Allah memberikan kami usia yang panjang dan bisa menjalani kehidupan sebagai suami istri lebih lama. Sekarang setiap bangun pagi yang dilakukan sebelum suami berangkat kerja tentu saja adalah membuatkan secangkir teh untuknya. Sepiring sarapan juga. Setelah itu mencuci piring. Sambil beres-beres rumah. Saya pikir saya butuh pembantu untuk melakukan itu semua. Ternyata tidak juga.

Saat dijalani dengan tenang semuanya menjadi hal yang biasa saja. Tak ada yang memberatkan. Kalau suami sudah berangkat kerja barulah saya ngeblog sambil memasak nasi. Nanti siang baru menyiapkan lauk dan sayurnya. Sebab saya ingin masakan saya tetap hangat saat suami pulang. Dulunya saya suka menunda untuk mandi pagi. Sekarang sepertinya menyenangkan bisa mandi lebih pagi dan menulis, jadinya lebih segar dan inspirasi lebih banyak masuk ke kepala. Bisa dituliskan lagi ke dalam blog.

Kekhawatiran nenek terlalu berlebihan mengenai kemampuan saya menjadi seorang istri. Dia terlalu berpatokan pada diri saya yang dulu duduk di bangku SD dan SMP. Memang waktu duduk di bangku sekolah dasar dan menengah pertama dulu saya bukanlah perempuan yang bisa diandalkan untuk menjadi istri. Tetapi saat saya duduk di bangku SMA dan kuliah saya sudah belajar banyak bagaimana caranya hidup mandiri sebagai anak rantau yang jauh dari orang tua.

Awalnya memang saya tak bisa masak. Tapi lama-lama bisa juga karena terbiasa memasak di rumah. Kalau ada yang berpikir saya tidak akan mampu membereskan rumah karena saya jarang beres-beres saat berada di kontrakan atau kos. Itu kan dulu. Setiap orang saya rasa bisa berubah. Jangan menilai seseorang akan selamanya sama seperti yang kita kenal bertahun-tahun di belakang. Bisa jadi dia sudah berubah menjadi seseorang yang tak pernah kita sangka sebelumnya.


Kalau memang bisa berada di rumah lebih lama saya senang sekali bisa mengerjakan pekerjaan rumah sambil menyelesaikan tulisan-tulisan saya. Ini kegiatan pagi hari saya. Bagaimana dengan kegiatan pagi harimu?

Pengen Kamera DSLR


Untuk kegiatan ngeblog sebenarnya kamera yang saya miliki sekarang sudah lebih dari cukup hanya untuk mengabadikan hal-hal sekitar. Namun tentu saja kualitasnya jauh dari indah. Hanya sekadar mengabadikan. Setidaknya masih bisa dilihat oleh teman-teman yang berkunjung ke blog ini.

Kalau memang ada rezeki lebih nantinya ada keinginan untuk membeli sebuah kamera DSLR yang bisa mendukung kegiatan ngeblog saya. Setidaknya berfungsi pula nantinya untuk menjepret dagangan sehingga lebih jelas dan tentunya jauh lebih menarik dibandingkan dengan hasil jepretan yang sekarang. Walaupun sebenarnya dibutuhkan keterampilan untuk menghasilkan foto yang bagus. Sambil belajarlah ya.

Saya sendiri tak begitu paham mengenai kamera. Saat melihat orang menggunakan kamera besar yang berwarna hitam bagi saya itu sudah cukup menggiurkan. Walaupun kalau ditanya apakah saya memiliki impian untuk menjadi fotografer? Sebenarnya tidak. Sebab memang saya menyukai fotografi karena menurut saya itu menyenangkan. Bukan ingin menjadikannya profesi. Saya hanya ingin mendapatkan foto yang lebih indah dibandingkan yang sekarang dengan kamera yang lebih baik.

Sekarang memang saya hanya bisa menuliskannya di blog ini dan berharap nantinya memang akan ada rezeki lebih untuk membeli sebuah kamera DSLR. Buat pecinta fotografi dan ingin menjadi fotografer barangkali tak akan sayang menghabiskan semua tabungannya untuk membeli sebuah kamera profesional. Sedangkan ibu rumah tangga seperti saya. Memang kadang suka mikir mendingan uangnya ditabung buat biaya melahirkan, insyaAllah jika Allah berkehendak memberikan kami rezeki berupa anak.


Pengen sih kamera DSLR.

Berburu Resep Masakan


Sekarang menjadi koki utama di rumah mau tidak mau harus dijalani. Tentunya harus tahu banyak mengenai resep masakan. Untungnya sekarang ini tak sulit menemukan resep yang kita inginkan di internet. Bahkan berbentuk video juga sudah banyak sekali di Youtube.

Dulu waktu melihat Umak di rumah yang suka mencatat resep masakan yang dia temukan di koran atau majalah ke sebuah buku tulis yang hingga sekarang masih dia gunakan sebagai catatan resep masakan, saya ingin tertawa. Saya pikir ngapain repot-repot begitu. Kadang Umak juga menggunting resep masakan tersebut dari koran atau majalah. Ternyata sekarang saya orang yang akan menjadi 'orang yang pernah saya tertawakan tersebut'. Saya akan berada di posisi yang sama.

Mencari resep. Mencetaknya ke lembaran kertas. Menyimpannya di folder kertas yang sudah saya siapkan. Hingga nantinya akan menjadi sebuah buku resep masakan yang akan saya kuasai semuanya. Jadi kuliner yang akan menghiasi blog ini pada akhirnya adalah masakan saya sendiri. Mulai dari yang baru saya pelajari hingga yang sudah mahir saya kuasai.

Tadi malam untuk pertama kalinya saya benar-benar memasak sebagai seorang istri. Selama ini saya hanya memasak nasi lalu membeli sayur dan lauknya di warung dekat rumah. Bahkan sempat juga hanya memasak indomie kuah buat suami. Maklum baru pulang dari Sintang dna kami belum sempat berbelanja banyak. Kemarin sore akhirnya berbelanja lauk-pauk dan sayuran. Sekarang sudah diisi ke dalam kulkas.


Jadinya akan ada masakan coba-coba yang akan saya sajikan. Sambil berburu resep masakan di blog orang. Punya resep yang ingin dicobakan ke dapur saya? Tinggalkan komentar di bawah postingan ini.

Menunggu Mesin Jahit


Kemarin saya baru saja menuliskan impian saya. Hari ini ternyata saya menuliskan tentang sebentar lagi mewujudkannya. Barangkali tak semua orang membaca apa yang saya tuliskan kemarin. Saya menuliskan tentang keinginan saya untuk memiliki sebuah mesin jahit. Pengen sih beli langsung tapi mengingat rumah masih banyak sekali kekosongannya, bahkan lemari besar untuk menyimpan baju baru kami beli kemarin. Tentunya harus menahan diri untuk tidak membuat pengeluaran besar secara tiba-tiba. Apalagi habis jalan-jalan keliling Sintang.

Eh Tuhan memang selalu punya jawaban buat umat-Nya yang mau bersabar dan menunggu. Ternyata Mak Ngah (bibinya Putra) punya mesin jahit yang saya impikan tersebut dan tidak digunakan di rumah. Ya ampun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebentar lagi saya akan berkreasi membuat pakaian buat diri sendiri dan tentunya dipersiapkan buat anak-anak saya nanti yang lucu-lucu.

Sudah tak sabar rasanya ingin segera menggunakan mesin jahit tersebut. Namun harus menyelesaikan pekerjaan di rumah dulu. Bahkan masih banyak barang yang tertinggal di Radio Volare yang belum saya bawa ke rumah baru. Tak mengapalah, sebab yang paling penting sekarang, mesin jahitnya sudah ada.


Kamu pengen apa?

Ini (Bukan) Tentang Traveling


Pernikahan kami memang baru seumur jagung. Masih sibuk mencocokkan diri satu sama lain. Kadang bersilang pendapat mengenai sesuatu. Tentu ada yang harus mengalah. Kalau memang memungkinkan saya lebih suka menjadi pihak yang mengalah saja dan membuat pasangan senang.

Baru-baru ini kami habis keliling Kota Sintang. Selain hasilnya saya menjadi lebih gemuk dan kulit menjadi lebih gelap, kebetulan di Sintang memang lebih panas dibandingkan di Pontianak, saya akhirnya mengerti satu hal. Satu hal mengenai esensi traveling. Dulu saya pikir saya akan senang bisa keliling dunia, bisa mengunjungi negara-negara yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Melihat benda-benda yang asing. Bertemu orang-orang yang baru.

Sekarang ternyata ada satu hal yang juah lebih penting dibandingkan itu semua. Bahkan di mana pun, kapan pun, traveling itu, paling penting bukan tempatnya, bukan makanannya, bukan orang-orang asingnya, tetapi seseorang yang menemani kita ke sana. Sintang menjadi tempat pertama yang rasanya sangat indah untuk dikunjungi. Walaupun harus menggadaikan nyawa selama belasan jam saat melewati jalanan wilayah timur Kalimantan Barat yang hancur lebur. Meskipun selama di sana panasnya gila-gilaan. Namun saat melihat orang selalu mendampingi saya saat berada di sana, itu jauh lebih dari cukup untuk sebuah liburan.


Jadi tulisan ini bukan tentang traveling sebenarnya. Tapi tentang dengan siapa kamu akan melakukan travelingmu berikutnya.

Di Pontianak Enaknya Ngapain Ya?


Sudah pernah ke Pontianak? Sedang merencanakan akan ke sini? Kalau memang memungkinkan datanglah ketika di sini terjadi kulminasi. Saat terjadi kulminasi teman-teman akan menyaksikan fenomena alam yang jarang terjadi di tempat lain. Hanya beberapa tempat di dunia yang bisa mengalami kulminasi. Selengkapnya tentang kulminasi bisa baca di sini.

Tapi kalau memang sekarang sedang di Pontianak dan bingung harus ngapain, sebenarnya sih tak perlu terlalu pusing. Sebab di Pontianak banyak sekali yang bisa dilakukan. Kalau siang hari dan ingin mampir di Tugu Khatulistiwa, bisa. Kalau malam hari dan ingin ngopi bisa mampir ke warung kopi yang berada di sepanjang Jalan Gajahmada. Memang Kota Pontianak identik dengan 1.000 warung kopi. Saking banyaknya warung kopi yang ada di sini. Bahkan sampai ada lagu Kopi Pancong-nya segala.

Wisata kuliner juga banyak sekali. Pengen makan nasi dan merasakan masakan khas Pontianak atau Kalimantan Barat. Rumah Makan Rio di Jalan Merdeka bisa jadi pilihan hemat. Harganya memang sangat bersahabat. Ingin yang lebih nyaman dan pilihan menunya tak biasa? Bisa datang ke Pondok Ale-Ale di Jalan Podomoro alias Jalan Putri Candramidi. Di sana banyak sekali makanan khas Pontianak dan juga Ketapang.

Sukanya Mie Tiaw? Bisa datang ke Mie Apollo di Jalan Gajahmada yang berada di simpang empat lampu merah Gajahmada. Semua orang Pontianak tahu bangetlah tempat makan yang satu ini. Pilihan makanan tak halal juga banyak di sepanjang Jalan Gajahmada ini. Jadi buat yang muslim jangan sembarangan masuk ke tempat makan ya? Baca baik-baik dulu menunya dari jauh.

Alun-alun Kapuas bisa juga dikunjungi jika teman-teman sedang berada di Pontianak. Di sana kita bisa menumpang di cafe terapung yang akan membawa kita berkeliling Sungai Kapuas. Sebelum pulang mampir dulu ke Jalan Pattimura, di tempat pusat oleh-oleh Pontianak yang menyediakan banyak sekali makanan dan minuman khas Kalimantan Barat.


Buat yang baru tiba di sini, selamat datang di Pontianak ya!

Akhirnya Wigo 4G Ada Sinyalnya


Setelah beberapa hari yang lalu memindahkan modem termasuk antena WIGO 4G dari Radio Volare ke rumah baru, baru tadi malam modem tersebut mendapatkan sinyal yang stabil. Walaupun hanya satu bar tapi tak mengapa. Paling penting sinyalnya masih bisa ditangkap dan digunakan untuk berinternet ria. Jadi saya tetap akan menggunakan WIGO 4G untuk kelancaran berinternet di rumah. Semua orang yang ada di rumah juga pasti langsung menghubungkan smartphonenya dengan sinyal wifi tersebut.

Pemindahan antena yang menjadi dekat dengan antena televisi ternyata adalah posisi terbaik untuk antena tersebut. Padahal sebelumnya tak ada sinyal yang bisa ditangkap dari sana. Oh iya sebelumnya, rumah saya berada di Jl. Ujung Pandang. Lebih dikenal orang sih dengan sebutan Sepakat. Karena di Jl. Dr. Wahidin banyak sekali komplek perumahan sepakat. Kalau tidak salah sampai Sepakat 8.

sebelumnya mengetes sinyal dari rumah mertua di Jalan Iamm Bonjol Komp. Untan, sinyalnya memang melimpah. Sampai tiga bar. Penuh. Tapi karena memang akan tinggal di Jl. Ujung Pandang ya mau tak mau harus berburu sinyal WIGO 4G di sini. Sebenarnya kalau tidak menemukan sinyal di rumah baru ini akan meminta bantuan dengan petugas dari WIGO 4G untuk mencarikannya. Itu pun dengan harap-harap cemas. Takut sinyalnya tak ditemukan dan mau tak mau harus mengganti provider internet yang lain untuk ngeblog. Padahal kan ceritanya tak mau berpindah ke lain hati.


Sekarang sudah tenang, karena WIGO 4G sudah ada sinyalnya.

Mencari Emak-Emak Blogger Pontianak


Saya baru sadar ternyata di Pontianak akan sulit sekali menemukan blogger perempuan yang sudah punya anak. Sebutan kerennya tentu saja adalah emak-emak blogger. Walaupun belum punya anak bukan berarti nggak bisa disebut sebagai emak-emak blogger di sebuah komunitas yang menyebut dirinya sebagai emak-emak blogger. Sebab yang bergabung di sana, dulunya termasuk saya, ada banyak sekali yang belum menikah.

Sayang sekali kalau ada emak-emak yang punya cerita yang bisa memberikan inspirasi untuk emak-emak lain tetapi tak dituliskan di blog. Kalau Umak saya sih memang punya blog tetapi dia masih belum bisa menggunakan blognya dengan maksimal. Bahkan untuk memasukkan tulisan masih meminta bantuan saya. Sebenarnya ingin mengajari Umak saya lebih banyak mengenai blog sehingga dia bisa ngeblog sendiri. Namun karena dia punya kesibukan sendiri dan jauh dari Pontianak dan saya, ya mau tak mau proses belajarnya harus ditunda.


Sekarang sudah menemukan satu emak-emak blogger Pontianak yang memang sudah memiliki satu anak. Mbak Lenny namanya. Bisa cek rumah mayanya di sini.

Hari Ini Butuh Keajaiban


Hari ini adalah hari terakhir pengiriman karya berupa novel buat lomba dan novelnya baru 20% rampung. Tadi malam saya ternyata jatuh tertidur di depan komputer dan tak sanggup melanjutkan halaman berikutnya. Tinggal belasan jam lagi. Entah akan benar-benar bisa menyelesaikannya atau tidak. Saya hanya bisa berdoa dan memohon keajaiban.


Yakin saja kalau benar-benar akan selesai. Kalau sudah begini tak perduli lagi dengan novelnya bagus atau tidak. Yang penting selesai. Itu saja yang ada dipikiran saya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design