14 November 2013

Lembur


Hari ini dan besok sepertinya akan menjadi hari saya dan komputer tak bisa diganggu sampai deadline selesai. Sebab ada lomba yang ingin saya ikuti dan ingin mengikuti yang novel saja dan karena sibuk menyiapkan acara pernikahan hingga hari ini, hingga tulisan ini diterbitkan saya hanya menyelesaikan 12 halaman. Itu pun dengan bantuan android dan olive office yang memungkinan untuk mengetik file word. Sekarang saya harus berjuang dengan sekuat tenaga dan fokus untuk menulis secepat mungkin sebelum lomba tersebut ditutup.

Selain lomba menulis novel sih sebenarnya ada lomba menulis cerpen juga yang tentunya akan saya ikuti juga. Jadi kalau novelnya tidak selesai sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan panitia masih ada kesempatan untuk mengikuti jalur yang lain. Cerpen. Hadiahnya juga lumayan. Kalau cerpen sih tak begitu panjang ya jadi bisa dengan mudah untuk diselesaikannya.

Sekarang berpacu dengan waktu dan jemari tak boleh kaku hingga malam dan esok hari karena saya harus menyelesaikannya besok kalau memang ingin menjadi peserta. Hanya bisa memohon doanya kepada teman-teman yang membaca tulisan ini agar saya bisa menyelesaikaan tulisan saya. Mau menang atau tidak bukan jadi soal. Paling penting saya menulis novel lagi. Kalau memang memungkinkan menulis 1 novel dalam waktu kurang dari 1 minggu, itu artinya 5-6 novel dalam satu bulan bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.

Semangat.

Fokus!

Pengen Mesin Jahit


Sejak kecil sebenarnya sudah paham dengan cara menggunakan mesin jahit dan keinginan untuk menjadi penjahit untuk diri sendiri sudah menjadi keinginan yang lama sekali terpendam. Sekarang saat sudah menikah dan punya rumah sendiri kepikiran lagi soal menjahit sendiri model baju yang diinginkan. Belajar lagi cara membuat pola. Sebab sejak dulu saya belum pernah membuat pola. Saat membuat pakaian untuk mainan barbie, ya tanpa pola. Langsung jahit saja.

Hitung-hitung tabungan yang terkuras habis buat pernikahan dan honeymoon kemarin ternyata sayang rasanya menghabiskan lebih dari 2 juta untuk sebuah mesin jahit listrik. Walaupun mupeng sekali saat melihat Mami di Sintang menggunakan mesin jahit di rumahnya. Ah mesin jahit listrik lagi. Gampang sekali lagi penggunaannya.

Inginnya sih membuat dress dan rok sederhana untuk digunakan sehari-hari. Maklumlah biaya menjahit ke tukang jahit kadang lebih dari harga semeter bahan yang digunakan untuk pakaian tersebut. Walaupun kadang ujung-ujungnya ya tetap ke penjahit sih. Sebab tak ada mesin jahit di rumah. Belum lagi ingin membuat jilbab sendiri dengan bahan yang diinginkan. Kan banyak sekali tuh sekarang yang berkreasi dengan hijab-hijab satin atau katun. Beragam kreasinya. Ingin punya hijab yang tak dimiliki orang lain dengan panjang yang saya inginkan. Sebab kadang di Pontianak sulit menemukan hijab yang panjangnya sesuai dengan tutorial mengenakannya seperti yang saya temukan di internet.


Nah untuk membuat hijab yang lurus kayak pashmina kan tidak rumit. Tinggal jahit pinggirannya saja. Namun gimana ceritanya kalau tak punya mesin jahit? Ah pengen mesin jahit.

Hidup adalah Pembelajaran


Barangkali jika kita mendapatkan kesempatan untuk bertemu lagi. Aku hanya akan menatapmu dalam diam. Berbeda dengan saat pertama kali bertemu denganmu. Melihat alismu yang menaungi mata sipitmu. Tinggi tubuhmu. Masih kuingat hingga sekarang. Kalau ditanya apakah kemudian aku terluka dengan keadaan yang ternyata membuat kita tak mungkin menyatu lagi. Kamu kecewa lantaran aku memilih jalan yang lebih dekat?

Ah hidup hanya proses pembelajaran yang panjang. Kita sama-sama belajar. Belajar untuk melepaskan sesuatu yang kita inginkan untuk sesuatu yang ternyata lebih kita butuhkan. Aku pikir kamu dan aku juga sudah cukup dewasa untuk mengambil langkah masing-masing tanpa menanyakan lebih dulu. Seperti kita berjalan di jalan yang sama untuk beberapa saat. Kemudian kita bertemu di jalan yang penuh dengan persimpangan. Kamu tak perlu bertanya padaku simpang jalan mana yang akan kamu pilih sebagai langkahmu selanjutnya sebab kemudian aku juga tak akan bertanya padamu bolehkah aku melanjutkan jalanku di simpang yang sekarang aku jalani.

Kita punya pilihan masing-masing. Selalu ada pilihan untuk kesempatan yang datang. Lalu aku memilih untuk mendapatkan apa yang aku butuhkan di diri orang lain. Pada lengan yang lain. Pada bahu yang berbeda. Kamu harus percaya bahwa suatu hari kamu akan menemukan bidadari yang membuatmu mau belajar untuk mencinta. Kemudian siap untuk sesuatu yang lebih 'settle down'. Membangun kehidupan rumah tangga.

Kita bisa salah melangkah kadang di dalam hidup ini. Tapi pembelajaran tak akan membawa kita pada kebenaran jika kita tak pernah tahu bagian mana yang membuatnya disebut sebagai kesalahan. Untuk kamu yang sekarang entah memikirkanku atau tidak. Untuk kamu yang pernah singgah di dalam kehidupanku dalam sekejap mata. Untuk kamu yang membuat aku pernah berbicara dengan tembok dan hampir memeluk tembok bisu itu hanya karena kamu membalas pesanku.


Kamu pernah membuatku terlihat sebagai orang gila untuk sesaat. Aku tak menyebutnya sebagai cinta karena rasanya aku akan mencintai orang yang aku miliki. Sedangkan untuk orang yang tak pernah menjadi milikku, aku hanya akan menyebutnya sebagai sebuah kenanga. Iya kamu yang kemudian menjadi bait-bait kenangan dalam setiap doa yang aku panjatkan. Buat kamu yang ada di sana. Akankah kita bertemu lagi. Bercanda. Mengingat masa lalu sambil menggendong anak kita masing-masing?

Pantai Sekayam Sanggau Kapuas


Selama ini saya sering membagikan pemandangan pantai yang ada di Singkawang dan Jawai. Singkawang memang terkenal sekali tempat wisata Pantai Pasir Panjangnya. Saat kita datang ke sana malam hari tak jauh bedanya dengan mendatangi Pantai Kuta pada malam hari yang gelap. Bunyi ombaknya serupa. Baunya pun kurang lebih sama. Sama-sama bau pantai, if-you-know-what-I-mean.

Di Sanggau Kapuas ada Pantai Sekayam. Pemandangannya tentu saja akan disebut indah oleh orang yang suka sekali dengan pantai. Terutama saya. Selalu saja suka berada di pantai. Entah mengapa. Bukan hanya saya sih sebenarnya. Masih banyak orang lain yang lebih suka berwisata ke tepi pantai. Menikmati deburan ombak dan angin yang meniup-niup jilbab yang dikenakan.

Apalagi kalau sudah bicara soal matahari terbit atau terbenam, pantai akan menjadi lokasi yang tepat untuk mengabadikan fenomena alam ini. Tak pernah ada bosan-bosannya menjepret matahari terbit atau terbenam di tepian pantai. Bahkan saya masih ingat saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika diminta menggambar pemandangan biasanya saya akan menggambar pantai dengan matahari dengan burung elang yang beterbangan di atas langit sana dengan gumpalan awan putih yang seperti rambut anjing pudel.

Pantai Sekayam bisa kita datangi jika memang kebetulan memang sedang berada di Sanggau Kapuas. Tetapi seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, jalan menuju Sanggau adalah jalan yang sangat berbahaya. Banyak truk yang tumbang dan melintang di jalan raya. Belum lagi saat musim penghujan seperti ini. Jalanan yang berlubang menjadi licin. Kondisi jalannya juga turun naik dan banyak sekali tikungannya. Salah jalan bisa celaka.


Buat yang memang akan berkunjung ke sana, hati-hati saat berkendara.

Bukit Penyeladi Sanggau Kapuas

Foto oleh  Iwan

Setelah keluhan panjang mengenai jalanan yang ada di wilayah timur Kalimantan Barat dan juga ajakan kepada teman-teman untuk mendukung Gerakan Rp1.000 untuk jalan Sanggau sekarang saatnya untuk membagikan tempat-tempat yang indah yang ada di Kalimantan Barat. Khususnya yang ada di Sanggau Kapuas. Sanggau yang sama yang jalannya hancur lebur macam bubur kalau sudah dilanda hujan yang deras. Sebab jalanannya penuh dengan lumpur dan membuat jalanan tersebut sangat licin untuk dilewati.

Di Sanggau Kapuas kita bisa mendatangi sebuah bukit yang pemandangannya sangat indah. Kita bisa melihat langit yang jernih dengan awan-awan putih menghiasinya. Sungai yang membentang juga membuat kita ingin berenang di dalamnya. Belum lagi pohon-pohon dengan daunnya yang menghijau. Menyejukkan suasana. Buat orang yang sudah penat dengan kebisingan ibu kota dan polusi kendaraan yang tak terkendali tentunya tempat-tempat seperti ini akan sangat menyenangkan untuk dikunjungi.

Saya membayangkan saya mendatangi tempat ini sambil membawa sebuah pancing. Memancing ikan di sungai yang dalam tersebut. Siapa yang mengira ikan apa saja yang akan saya dapatkan. Memancing ikan berjam-jam sambil menikmati pemandangan. Jangan lupa pula untuk membawa makan siang. Kalau perlu sih menyiapkan alat untuk memasak ikan yang berhasil dipancing.

Daerah wilayah timur Kalimantan Barat memang terkenal dengan hasil ikan air tawarnya. Makanya banyak sekali makanan di sini yang terbuat dari ikan. Seperti kerupuk basah dan kerupuk keringnya.


Keindahan alamnya kontras sekali dengan keadaan jalanan yang harus kita lewati di sepanjang wilayah timur Kalimantan Barat ini. Padahal dengan jalanan yang lebih mulus tentunya banyak tempat wisata bisa dieksplore dan membuat banyak wisatawan untuk datang dan menikmatinya. Sayang sekali jika pemandangan seindah ini hanya disaksikan oleh masyarakat sekitar. Tanpa ada yang tahu bahwa di Sanggau Kapuas Kalimantan Barat ada bukit yang dinamai Bukit Penyeladi.

Stop Konsumsi Orang Utan


Beberapa waktu lalu memang ada berita yang cukup mengenaskan. Miris membacanya. Waktu baca di facebook kurang begitu jelas bagaimana ceritanya. Tapi saat baca di koran yang diterbitkan di Pontianak rasanya saya kehabisan kata-kata untuk memahami bagaimana kejadian seperti ini bisa terjadi. Sebab rasanya sudah sangat keterlaluan yang dilakukan manusia.

Orang Utan yang ada di Kalimantan Barat semakin terdesak. Setelah hutan yang menjadi hunian mereka semakin berkurang karena terus ditebang dan lahan dibuka untuk kebutuhan manusia, keberadaan mereka juga terancam punah, sebab ada yang memburunya. Paling baru ya berita tentang orang yang memakan orang utan yang sebenarnya masih hidup tersebut. Padahal kalau mereka mau membawa orang utan tersebut ke tempat untuk merawatnya hingga sembuh bisa jadi orang utan itu masih bisa diselamatnya.

Toh sejak awal orang utannya memang masih hidup. Hanya terluka. Kalaupun tak bisa diselamatkan setidaknya kita sebagai manusia sudah berusaha untuk menyelamatkan spesis yang satu ini. Bukan malah membunuh hewan yang keberadaannya semakin sedikit lantas menjadikannya bahan makanan. Apakah manusia sudah kekurangan makanan sehingga harus memakan orang utan?

Ini kasus yang menguak ke permukaan. Tapi di luar sana kita tak pernah tahu seberapa banyak orang yang sudah pernah memakan orang utan. Memburunya lalu membunuhnya. Kemudian menjadikannya bahan pangan. Masih banyak hewan lain yang bisa dimakan untuk kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Tak terbayangkan jika suatu hari nanti orang utan punah dan anak cucu kita nantinya hanya bisa melihatnya melalui video atau foto saja tanpa pernah bisa melihatnya secara langsung di hutan.

Tolonglah, berikan hak hidup bagi orang utan yang ada di dunia ini. Jangan makan mereka.

Senja di Singkawang


Sebenarnya kalau kita mau membuka mata lebih lebar mengenai keindahan alam sekitar kita, kita akan menemukan bahwa tempat yang sekarang menjadi tempat tinggal kita tak kalah dengan tempat-tempat yang ada di luar negeri. Jangan hanya memandang ke tempat-tempat lain yang jauh dari lokasi kita sekarang. Sebab tempat wisata yang ada di Kalimantan Barat sendiri masih belum banyak dieksplore oleh banyak orang.

Satu hal yang dibutuhkan adalah rasa bangga karena memiliki tempat wisata tersebut. Kalau bukan kita yang bangga siapa lagi? Di blog ini sendiri teman-teman akan menemukan banyak sekali tulisan mengenai tempat wisata yang ada di Kalimantan Barat dan juga kulinernya. Memang dua hal itu bisa menjadi daya tarik untuk orang yang ingin datang ke sini. Walaupun banyak makanan khas Kalimantan Barat yang belum diketahui banyak orang.

Pasti berbeda sekali dengan tempat wisata di Bali atau Lombok yang banyak sekali orang yang memajangnya dalam bentuk tulisan, foto, bahkan video.

Kali ini hanya ingin berbagi keindahan senja di Singkawang yang diabadikan oleh seorang teman facebook. Kak Heni. Beruntung bergabung dengan klub fotografi yang tak pelit membagikan foto-foto sekitar Kalimantan Barat yang bisa dipajang di blog. Supaya lebih banyak orang yang melihat Kalimantan Barat dari sisi indahnya. Tidak hanya pendapat orang-orang yang menganggap bahwa Kalimantan Barat masih berupa hutan dan masyarakatnya tinggal di pohon.


Senjanya indah bukan?

Finally


Akhirnya sekarang sudah berada di rumah yang akan kami tempati untuk bertahun-tahun ke depan sebagai suami istri. Menemukan kembali komputer tercinta yang setia menemani setiap kegiatan menulis saya. Lalu kembali lagi menggunakan jaringan internet yang lancar. Selama berada di Sintang harus bersabar dengan itu semua. Belum lagi jaringan internet yang kadang bermasalah kalau Sintang sedang dilanda hujan yang deras. Mengetik dengan android sudah satu masalah juga.

Saat duduk di depan PC ini rasanya ini adalah sebuah kenikmatan yang tak dapat diragukan lagi bahagianya. Ternyata saya sangat merindukan papan ketik ini dan saat berada di Sintang dan menggunakan papan ketik yang lain dapat dipastikan betapa banyaknya typo yang terjadi dan saya kesulitan untuk mengetik lebih cepat sebab memang papan ketik yang saya gunakan lebih mudah ditekan dibandingkan papan ketik yang saya gunakan di Sintang. Itu sebabnya saya lebih memilih mengetik menggunakan android saja saat ngeblog.

Bisa mendengarkan semua lagu koleksi yang saya simpan di komputer dan menggunakan layar yang terbesar yang ada di rumah untuk mengetik. Ah sangat nikmat. Sangat menyenangkan. Tubuh yang lelah pun rasanya hilang saat saya menyentuh papan ketik yang sekarang saya gunakan untuk menulis. Tak ada yang bisa menghalangi kecepatan mengetik saya yang sudah lumayan cepat sekarang ini.

Tak ada lagi postingan yang tak rapi karena ngeblog menggunakan blogger for android. Sekarang memosting semua tulisan melalui chrome dan sangat memuaskan hasilnya. Tantangan selanjutnya adalah menyelesaikan novel dengan jumlah halaman sekitar 100 dan baru saja ditulis 12 halaman. Belum diedit dan deadlinenya adalah tengah malam besok.


Finally! Perjuangan lain sudah menanti.

Mereka Tak Protes Premium Rp12.000/liter


Kadang lucu melihat banyaknya orang di perkotaan yang protes tentang naiknya harga BBM. Subsidi mau dicabut saja sudah kalang-kabut. Padahal bertahun-tahun wilayah timur Kalimantan Barat harus menikmati harga BBM yang sangat tinggi. Di judul tulisan ini saya memang menuliskan harga Rp12.000/liter tetapi sebenarnya banyak masyarakat yang pernah merasakan harga yang lebih tinggi lagi. Tetapi harga Rp12.000/liter adalah harga premium yang normal bagi mereka. Harga yang umum mereka temukan di kios-kios pinggir jalan.

Sementara ini harga Rp8.000 masih bisa ditemukan di Sintang sewaktu kami liburan kemarin. Namun saat premium sulit ditemukan di SPBU dapat dipastikan harga Rp8.000 akan berubah menjadi harga yang lebih tinggi. Tapi pernahkah kita melihat di televisi masyarakat wilayah timur Kalimantan Barat mendemo pemerintah karena harga BBM yang naik?

Paling sering saya mendengar teman-teman yang tinggal di Putussibau mengeluhkan susahnya mendapatkan BBM. Harga yang sudah melambung tinggi saat tiba di tempat mereka bukan menjadi masalah besar selama mereka masih bisa menemukan BBM yang mereka butuhkan untuk mengisi kendaraan mereka. Kadang sering SPBU di wilayah timur Kalimantan Barat ingin menambah pasokan BBM di tempat mereka dengan BBM tanpa subsidi. Hanya untuk mempermudah warganya mendapatkan BBM. Sayangnya jangankan untuk mendapatkan BBM bersubsidi, yang bersubsidi saja jarang dikirim ke wilayah mereka.


Ah kalau masih ada yang suka mendemo harga BBM yang naik harus pindah ke wilayah timur Kalimantan Barat dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat di sana hanya melihat isu BBM. Jalannya yang hancur lebur lain cerita lagi. Mereka tak mengeluh dengan harga BBM yang naik tak tentu rudu. Mereka lebih mengeluh saat kesulitan menemukan BBM meskipun harganya sudah Rp12.000/liternya untuk jenis premium.

Jalan Menuju Bukit Kelam


Beberapa tahun yang lalu saya sudah lupa bagaimana keadaan jalan yang harus saya lewati untuk menuju ke Bukit Kelam. Entah mengapa banyak sekali yang saya lupakan mengenai perjalanan saya ke Sintang untuk pertama kalinya. Kali ini supaya tidak lupa saya banyak sekali mengambil foto perjalanan yang menurut saya bisa dijadikan kenangan untuk dilihat kapan-kapan. Ternyata jalan menuju ke Bukit Kelam itu serupa dengan jalan menuju Riam Merasap di Sanggau Ledo. Barangkali memang struktur tanah yang sama. Membuat jalanan naik turun dengna semena-mena.

Kalau yang di Riam Merasap ditambah lagi dengan sepinya jalan raya. Sedikit berbeda dengan jalan menuju Bukit Kelam. Sebab memang jalannya merupakan jalan yang menghubungkan Sintang dengan Putussibau. Jadi banyak sekali kendaraan yang melintas. Baik yang roda dua atau yang roda empat bahkan roda enam.


Sepanjang perjalanan saya ngeri sebenarnya sebab jalanannya yang naik turun kadang berlubang. Belum lagi saat bertemu kendaraan yang berlawanan arah. Sempit pula jalannya. Kalau salah-salah bisa tersasar ke tanah kuning yang berada di pinggir jalan yang sangat licin. Tapi saat tiba di Bukit Kelam semua kengerian itu terbayar sebab pemandangan yang indah membuat kita lupa bahwa jalan yang sebelumnya kita lewati sedemikian 'indahnya'.

Botok Ikan


 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design