8 November 2013

Tentang Syifa




Semoga penulisannya benar, Syifa. Usianya 1 tahun 8 bulan. Masih sangat kecil untuk memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Tapi dia adalah satu dari sekian banyak sepupu tambahan yang saya dapatkan setelah menikah dengan Putra. Setelah belasan keponakan akhirnya saya bertemu dengan banyak sepupu baru. Padahal keponakan rasanya terlalu cepat bagi saya yang memang belum punya keponakan sama sekali dari keluarga saya.

Usianya memang baru 18 bulan tetapi dia sudah lancar sekali berbicara dan sepanjang pagi saya akan mendengar suaranya memanggil-manggil abang sepupunya: ‘Bang Put’. Dia sibuk menemukan sepupunya yang sekarang menjadi suami saya. Syifa tinggal di Sintang bersama ayah, ibu, dan dua saudaranya yang lebih besar. Setiap pagi dijaga oleh seorang baby sitter. Tapi Syifa sebenarnya tak perlu dijaga dengan ketat sebab dia bisa bermain sendiri dan dia bukan tipe anak yang suka bermain sesuatu yang berbahaya. Dia biasanya berbicara sendirian sambil menggendong bonekanya. Kadang saya juga melihat dia meloncat-loncat saja di ruang tamu.

Syifa, sebenarnya dia yang jauh lebih pantas menjadi keponakan ternyata malah predikatnya sebagai sepupu. Nanti saya akan berbagi fotonya di blog ini.

Mengurus Diri Sendiri




Sepertinya ada banyak hal yang harus dibenahi dalam kehidupan kita masing-masing. Paling utama adalah mengurus kehidupan kita sendiri dibandingkan sibuk mengorek-ngorek kehidupan orang lain. Itu satu hal yang harus saya pelajari lebih dalam lagi. Karena entah mengapa masih banyak sekali orang yang sibuk dengan kehidupan orang lain dan menjadikannya bahan untuk mencerca dan memaki. Namun saat menjadi bahan cercaan saya mengerti bahwa itu adalah bagian dari kehidupan dan di sanalah Tuhan membuatkan lading bagi orang yang mau bersabar.

Bersabar dengan fitnah dan cercaan yang menerpa. Selama itu tidak benar cukuplah berlalu dari semua cercaan itu. Awalnya memang terasa sakit untuk bersabar saja. Kita manusia biasa. Kita pasti ada keinginan, walaupun sekecil debu, ingin membalas perlakukan buruk dari orang yang memaki dan mencaci kita. Namun saat kesabaran it uterus kita latih, lama-lama kita akan terbiasa untuk tidak memperdulikan apa yang orang lain katakana dan melangkah dengan kehidupan kita. Karena saat kita terlalu memperdulikan apa yang orang lain katakana kita akan lupa untuk maju. Kita akan menghentikan langkah hanya untuk mendengar apa yang dia katakana.

Tak ada satu orang pun yang benar-benar tahu tentang kehidupan kita sendiri dibandingkan orang lain kecuali kita sendiri. Tak ada yang bisa menilainya kecuali Tuhan. Berbahagialah dengan cara kita masing-masing. Sebab kita berhak untuk bahagia. Buat yang masih sibuk mengurus kehidupan orang lain, cobalah mulai sekarang untuk mengurus kehidupan sendiri. Sebab belum tentu kehidupanmu yang tak pernah kamu urus itu jauh lebih baik dari kehidupan orang yang terus kamu korek-korek.

Menulis Novel dalam Waktu Singkat




Mau ikut lomba menulis novel disela-sela kesibukan yang semakin padat dan ternyata sadar nggak sadar deadline tinggal seminggu lagi. Padahal rasanya saya belum menuliskan satu kalimat pun untuk novel tersebut. Tetapi untungnya mendatangi Sintang memberikan inspirasi tersendiri untuk saya. Membuat bab pertama menjadi terasa lebih nyata dan semuanya akan diawali dari Sintang.

Walaupun bukan penduduk asli sini. Tapi akan menyenangkan jika isinya tak hanya mengenai Pontianak melulu. Judulnya sudah ada dari kemarin. Berminggu-minggu yang lalu. Tokoh-tokohnya juga sudah ada. Bisakah saya menulis 30 halaman, setidaknya, dalam 4 hari. Sebab 1 novel diwajibkan berisi 100 halaman minimal.

Kalau memang saya akan benar-benar menyelesaikan novel ini maka novel ini akan menjadi novel tersingkat yang pernah saya tulis sebelumnya. Menulisnya menggunakan papan ketik yang belum biasa saya sentuh dan sedikit keras. Tak mengapa. Semuanya hanya masalah semangat bukan?

Jika Kita Berpikir Kita Bisa, Kita Pasti Bisa




Siapa bilang ngeblog mesti bawa netbook ke mana-mana. Kalaupun memang tidak memungkinkan menggunakan PC masih ada smartphone yang bisa digunakan untuk ngeblog. Sebab saat kita memutuskan untuk mengambil sebuah langkah dengan deadline yang sudah kita tentukan, dapat dipastikan kita akan menemukan cara untuk melakukannya. Apalagi kalau sudah kita buat sebuah tantangan di dalamnya.

Maret lalu, sudah berbulan-bulan berlalu, tantangan ngeblog setiap hari dengan jumlah postingan sesuai urutan bulan, hingga hari ini masih berlangsung hingga Desember nanti. Makanya setiap hari selalu saya cari cara supaya saya tetap bisa ngeblog setiap hari. Termasuk hari ini. Saat berada jauh dari WIGO 4G dan jauh dari PC kesayangan saya. Saya menemukan seperangkat PC pula di kamar yang saya tempati di Sintang ini. Menggunakan android sebagai modem dadakan ternyata saya tetap bisa menyelesaikan setiap tantangan yang saya buat.

Coba kalau saya senang membuat alasan-alasan kecil untuk tidak menulis di blog ini. Mengatakan pada diri sendiri bahwa ini saatnya untuk istirahat sejenak. Lama-lama akan semakin banyak hari yang kosong dan bisa-bisa blog ini menjadi kuburan maya yang tak diupdate dengan tulisan baru. Mau ada yang baca atau tidak. Tak ada bedanya lagi. Selama saya bisa menyelesaikan tantangan hingga akhir, itu paling penting.

Makanan Khas Sintang




Pastinya banyak yang ingin saya membagikan makanan khas yang ada di sini. Kalau di Kapuas Hulu sendiri sih memang ada makanan khas favorit saya. Kerupuk basah. Banyak yang bertanya-tanya, kerupuk kok basah, pada awal saya ngeblog dulu. Sebab memang tak banyak orang di luar Kalimantan Barat yang tahu tentang makanan khas Kalimantan Barat khususnya Kapuas Hulu.

Tenang saja, di blog ini memang akan membahas banyak sekali makanan khas yang ada di Kalimantan Barat. Satu di antaranya yang ada di Sintang. Sejak kemarin yang saya makan adalah ikan. Semua panganan yang terbuat dari ikan. Mulai dari ikan asam pedas sampai ikan yang dipepes. Untuk orang yang suka sekali dengan ikan tentunya ini akan menjadi wisata kuliner yang sangat menyenangkan.

Di Sintang juga terdapat banyak madu hutan yang bisa dibeli dari pemburu madu lebah hutan. Saya sendiri juga menyempatkan diri untuk memesan sekilo. Sebagai persediaan untuk diminum di rumah. Mau tahu apa saja makanan khas Sintang yang akan saya bagikan? Jangan lewatkan tulisannya di blog ini ya!
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design