5 November 2013

Yes, I Do!


Ini Lagi Ngomongin Apa Ya?


Jadi sebenarnya setelah melihat semua foto pernikahan kemarin. Khusus yang diambil sama si Bambang, fotografer berbayar yang kita sewa untuk menjepret dari pagi hingga acara selesai, banyak sekali foto yang kami sendiri lupa itu sedang ngapain dan membicarakan soal apa. Contohnya foto seperti dalam postingan ini. Padahal yang jelas sekali dalam ingatatan saya adalah betapa capeknya kami dari pagi hingga malam itu. But enjoy the pic :)

Sandaran Hati


Ngopi di Pelaminan



Jangan tanya seberapa tinggi kadar mengantuk yang mengganggu saya selama duduk di kursi pelaminan. Menunggu. Selain membosankan juga mengantuk sekali rasanya. Bangun pagi setelah tidur yang sangat larut, biasanya saya bisa membantu menghilangkannya dengan tidur siang. Setelah curi-curi tidur siang di pelaminan yang tak banyak membantu mau tidak mau harus mencari kopi untuk menambah terang mata ini.



Selain itu kepala yang sakit karena banyaknya perhiasan yang harus dikenakan di atas sanggul di kepala juga saya harap bisa hilang dengan minum kopi. Jadilah saya ngopi di pelaminan bersama suami.

True Love


He is my true love. 

Berbisik


Di ruangan yang dijadikan untuk pelaminan kami banyak sekali orang. Orang yang memang berada di sana dan orang yang lalu-lalang. Ada hal-hal yang memang hanya ingin kami bagi berdua setelah resmi menjadi sepasang suami istri dan tak ingin didengar oleh orang lain. Apalagi tak ada orang yang bisa mengatakan bahwa kami tak boleh melakukannya. Termasuk melakukannya dengan mesra. Hahahaha...


Namun jangan tanya apa yang dia bisikan di telinga saya. Itu rahasia.

Capek Senyum


Ternyata begini rasanya menjadi pengantin dan mengadakan pesta resepsi. Tak boleh berhenti tersenyum dan dengan ramah mengatakan terima kasih pada tamu yang mengucapkan selamat. Tetapi ada saatnya memang saya rasanya sudah sangat capek senyum. Mau tak mau saya mengurut kedua pipi saya yang terlalu banyak dipaksa untuk tersenyum supaya lemas dan tidak kaku.


Pengantin Kelaparan


Bangun pukul 4.30 pagi, tanggal 2 November 2013. Mata masih mengantuk. Tetapi sudah ada jadwal yang menunggu di depan mata. Mau tidak mau segera salat dan langsung mandi. Sebab antrian mandi berikutnya akan jauh lebih panjang dibandingkan saat masih dekat dengan waktu subuh.

Sayangnya malah melupakan satu hal yang jauh lebih penting. Sarapan. Padahal saya akan mengikuti prosesi akad nikah dan sebelum itu akan didandani. Butuh waktu paling tidak satu dua jam hanya untuk berdandan dan mengenakan pakaian pengantin. Apalagi pagi itu saya harus mengenakan jamang selama acara akad nikah dan setelah akad nikah itu sendiri. Sebelum berganti pakaian dengan gaun resepsi. Khusus pagi memang mengenakan pakaian adat Melayu kreasi dan perhiasan yang harus dikenakan juga tak nanggung-nanggung. Belum gaunnya yang menyentuh lantai dan menbuat saya tak bisa ke kamar kecil hanya untuk buang air kecil.

Saat acara jamuan pagi saya sangat kelaparan dan memang perias pengantin mengatakan kami harus segera makan sebelum didandani untuk acara selanjutnya. Saya yang tak bisa bergerak dari ruang tamu mau tidak mau berharap pada orang lain membawakan makan siang yang terlalu awal dan sarapan yang sudah sangat terlambat. Saya pikir saya memang harus makan kalau tidak ingin masuk angin dan tumbang di acara berikutnya.


Jadinya saat saya makan terlihat sekali saya lahap dan lapar. Ah pengantin juga manusia.

Melepas Masa Alay


Selain melepas masa lajang sebenarnya kami, saya dan Putra, juga sedang melepas masa-masa alay. Secara tulisan dan bahasa sebenarnya kami memang bukan termasuk anak alay. Tetapi kalau sudah berfoto ria biasanya ada sisi alay yang menguasai kami berdua yang membuat kami menampilkan foto-foto yang ajaib. Selain foto ini sebenarnya masih banyak lagi foto alay kami berdua setelah akad nikah dan selama resepsi. Namun tak perlu banyak ditunjukkan di sini. Satu pun cukuplah ya! Foto yang ini saja sudah cukup alay.


Melepas masa alay artinya, kami berdua mesti belajar untuk menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dan jauh dari alay. Hahaha... sayangnya kadang memang menyenangkan bisa berfoto dengan pose seperti ini.

Menunggu


Menunggu adalah sesuatu yang akan diakui sedemikian banyak orang sebagai hal yang paling membosankan. Apalagi jika menunggu tanpa adanya kepastian. Bicara soal menunggu saya rasanya adalah satu di antara banyak perempuan yang menunggu 'seseorang' yang disebut sebagai 'takdir' menghampiri kehidupannya. Beberapa orang muncul dan ternyata tak pernah memberikan kepastian tentang penantiannya yang sudah sedemikian lama berlangsung.

Lalu menunggu juga terjadi seharian kemarin, beberapa hari yang lalu. Saat duduk di pelaminan dan menunggu para tamu berdatangan. Satu demi satu datang dan memberikan ucapan selamat. Rasanya itu adalah hari terpanjang yang harus saya hadapi dengan segudang senyuman yang tak boleh habis. Demikian pula dengan suara yang hanya punya satu kata: 'makasih, makasih, makasih'. Pola seperti itu berulang tanpa henti sampai akhirnya menunggu itu berakhir sekitar pukul 7 malam.

Menunggu waktu berputar dan kami bisa melepas pakaian pengantin yang tidak begitu nyaman dikenakan sedemikian lama. Terutama bagi saya sendiri yang harus mengenakan sanggul, mahkota, dan beberapa perhiasan yang membuat kepala saya sedemikian beratnya. Pernah sekali saya membaca mengenai menahan beban yang bisa jadi buat sebagian orang tak begitu berat, namun sebenarnya berat tidaknya sesuatu hal itu bukan diukur hanya dari berat awalnya sendiri.

Menggunakan timbangan dan mengukur berat hiasan kepala yang harus saya kenakan sebenarnya akan disebut banyak orang sebagai benda yang ringan. Tetapi masalahnya saya harus mengenakannya sedemikian lama sampai malam dari pagi. Sangat berat jadinya dan kepala saya rasanya sakit. Padahal saya sudah meminta perias pengantin untuk memberikan mahkota yang tak begitu berat sehingga saya tak perlu menahan beban yang menyakitkan. Sayangnya lamanya waktu untuk menahan beban itu semua membuat saya letih. Sangat letih.

Beberapa puluh menit sekali kami harus melihat waktu dan akhirnya menemukan jarum jam yang menunjukkan pukul 7 malam. Saatnya melepaskan semua pakaian dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman. Paling tidak nyaman memang bagian sanggul. Sebab rambut panjang saya diikat dengan karet gelang. Seketat mungkin. Lalu dicepol. Kemudian ditambahan jepit rambut yang hitam dan juga tak lupa segumpal rambut tambahan yang berbentuk sanggul lebih besar. Baru kemudian mengenakan kerudung. Setelah itu mahkota baru bisa dipasang karena sudah ada pondasinya.


Migrain saya menghilang dengan segera setelah rambut tersebut dilepaskan dari kepala. Termasuk ikatannya yang sangat ketat. Lega. Penantian kami berdua berakhir.

Nikah Itu Ibadah


Barangkali akan ada orang yang berpikir: 'apakah tak akan menyesal menikah dengan orang yang barukita kenal?'. Atau akan ada yang berpendapat bahwa butuh lama untuk mengenali sifat seseorang. Setiap orang punya pendapat masing-masing mengenai hal tersebut. Pun demikian diri kita. Mau apa pun pendapat kita tak akan ada yang bisa meminta kita untuk mengubah pendapat tersebut dan memaksa kita untuk mempercayai pendapatnya.

Setiap orang punya caranya sendiri pula untuk menjalani kehidupannya yang cuma ada satu. Setelah itu kematian telah menantinya beserta kehidupan abadi yang akan diberikan untuk selamanya. Saat pertama kali memutuskan untuk menikah, saya hanya punya satu hal yang ingin saya lakukan. Yaitu beribadah.

Jika bicara soal ibadah, perempuan butuh mukena dan sajadah. Itu saat beribadah salat bentuknya. Apakah kita harus mengenakan mukena favorit kita dan sajadah paling indah untuk melakukannya? Atau kita mengenakan mukena yang mana saja yang ada di kamar, sajadah yang tidak sedang digunakan orang lain untuk melaksanakan salat tersebut? Kalau memang ingin salat kita tidak tepat waktu, lakukanlah dengan mengenakan mukena favorit kita dan tunggu sajadah paling indah yang kita punya di rumah sedang tidak digunakan siapa pun.

Tetapi kita tahu waktu salat tak akan menunggu kita selamanya. Waktunya hanya sementara dan akan berganti dengan waktu salat yang lain. Begitu pun dengan menikah. Tak perlu mencari orang yang akan membuat kita cinta mati sejak pandangan pertama. Bukankah cinta bisa tumbuh dengan sendirinya saat kita selalu bersama orang tersebut setiap waktu. Sejak dulu, saya selalu mengatakan bahwa saya bisa belajar untuk mencintai seseorang. Siapa pun dia.


Cinta pandangan pertama ternyata tak berlaku di dalam kehidupan saya. Sebab cinta butuh proses. Cinta tersebut akan lebih indah saat dipelajari di dalam pernikahan yang sudah menawarkan kehalalan. Ah sulit menjelaskannya mengenai jalan kehidupan masing-masing. Sebab setiap orang berbeda dan setiap orang punya caranya. Dan ini cara saya dalam memulai pernikahan. Sebab menikah adalah ibadah terbesar bagi saya. Tak peduli dengan siapa, selama dia juga siap untuk menikah dan melaksanakan ibadahnya, menggenapkan setengah dari agamanya. Itu saja.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design