3 November 2013

Kamu Memilihku


Ada lebih dari 6 Milyar penduduk di muka Bumi ini, dan kamu memilihku.


Rohani Syawaliah, 27 tahun, masih ngunyah makanan menu resepsi kemarin.

Sella & Hani


Putra & Hani


Resep Bahagia

Menjadi orang yang cuek sebenarnya lebih menyenangkan. Tak begitu ambil pusing dengan pendapat orang lain. Tak peduli orang mau bilang apa tentangnya. Sebab itu lebih membahagiakan. Orang yang tidak bahagia itu adalah orang yang terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang apa yang dia lakukan. 

Ada Semur Lezat di Resepsiku


Biasanya orang akan lebih sering menemukan rendang daging dibandingkan semur daging pada pesta pernikahan. Saya sendiri tidak begitu paham mengapa orang banyak sekali yang menyediakan makanan yang satu ini untuk pesta pernikahannya. Apakah karena memesan makanan dari luar tanpa perlu memasak sendiri? Saya kurang tahu. Bukan cerita baru kalau rendang daging yang ada di pesta pernikahan orang kadang kala dagingnya keras tak terkira.

Jadi sejak awal sudah diwanti-wanti oleh Putra di rumah orang tuanya. Jangan sampai ada rendang daging yang keras saat pesta pernikahan kami. Saya sendiri sebenarnya akan jauh lebih suka jika tidak perlu menyediakan rendang. Akan lebih baik jika disediakan semur saja. Namun karena saya tak mau banyak permintaan saya tidak pula mengharuskan ibu mertua saya memasak semur. Saya hanya mengatakan betapa lezatnya semur yang dia buat. Memang lezat dan saya memuji dengan benar. Bukan berarti dia harus memasak semur gara-gara saya puji.

Menu pagi untuk akad nikah memang saya meminta adanya semur. Tak perlu banyak. Saya pikir hanya keluarga dekat yang akan hadir untuk memberikan doa dan restu. Lalu ternyata, dengan cantiknya semur daging sapi dan ayam tersedia di dapur. Tak ada rendang daging. Apalagi rendang daging yang keras tak terkira. Menyulitkan orang untuk memakannya. Lebih memalukan lagi jika ada yang membahas makanan yang disajikan dengan tidak memuaskan.


Sudah saya bayangkan. Semur daging masakan ibu mertua adalah yang terlezat yang pernah saya makan. Masakan nenek saya yang biasanya saya puji setengah mati kalah telak. Bumbunya yang kental di dalam kuah yang gurih. Memang menggugah selera, sampai-sampai seorang teman meminta untuk disisakan agar bisa dimakan di rumah. Jadi buat yang tak datang kemarin sayang sekali tak bisa menyantap semur lezat buatan mertua saya.

Finally: Fyuuuhhhh (3)

Dua gelas kopi untuk pengantin wanita. Masuk angin biasanya bisa saya hadapi dengan meminum segelas kopi kalau memang sudah tidak tahan lagi dan biasanya untuk kasus-kasus khusus. Seperti tidak bisa merebahkan badan dan minum obat untuk menghilangkan sakit kepalanya. Jadinya saya duduk di pelaminan sibuk meminta keponakan suami saya untuk menyiapkan segelas kopi.

Awalnya memang segelas. Setelah itu tambah lagi satu gelas. Kepala saya pusing sekali. Tetapi saya tidak bisa meninggalkan pelaminan karena memang resepsi sudah berjalan dan hari kemarin itu adalah hari pernikahan kami. Undangan sudah datang. Pagar ayu sudah sibuk di meja yang dijaganya masing-masing. Kemudian makanan juga tersaji di sana.

Ngomong-ngomong soal makanan nih ya. Sebenarnya makanan yang kami siapkan sejak awal hanya dua dalam perencanaan. Lalu menjadi tiga ketika dirembukkan kembali. Awalnya hanya nasi lengkap dan bakso. Kemudian bertambah satu menu lagi. Bubor Paddas. Makanan khas Kabupaten Sambas yang juga di luar Kalimantan Barat terkenal sebagai makanan khas Pontianak. Maklum Sambas bukanlah ibukota Kalimantan Barat. Wajar jika Bubor Paddas lebih dikenal sebagai makanan khas Pontianak. Namun di Kalimantan Barat sendiri orang akan menyebutnya sebagai makanan khas Sambas.

Bubor Paddas dipilih karena memang menu yang satu ini lebih mudah dibuat. Setelah bumbu rahasianya dimasak. Tinggal masukan sayuran. Tambahannya hanya ikan teri dan kacang goreng. Lalu karena takut makanan kurang, ditambah satu menu lagi. Korket dan sop kikil. Padahal awalnya hanya dua menu untuk tamu undangan. Malah berubah menjadi empat macam saat hari H. Buah sendiri awalnya hanya akan disiapkan jeruk. Tetapi karena lagi-lagi takut buahnya kurang, pihak suami membuat sate buah. Sedangkan jeruk didatangkan langsung dari kampung.


Terdengar sangat melelahkan? Jangan tanya lagi.

Kadang Cinta Saja Tidak Cukup


Perempuan juga butuh dinikahi.


Rohani Syawaliah, 27 tahun, akhirnya menemukan orang yang siap menikahinya beberapa minggu yang lalu.

Finally: Fyuuuhhhh (2)



Pagi itu saya menemukan ekspresi yang sangat aneh di wajah Putra, suami saya. Sehari sebelumnya dia demam panas. Wajahnya sedikit pucat. Sebab memang hari Jumat itu, tanggal 31 Oktober, Abah saya akan datang untuk melancarkan proses pernikahan kami. Tentunya kami membutuhkannya sebagai wali. Putra dilanda cemas. Dia bingung karena sebelumnya belum pernah berhadapan dengan situasi yang seperti ini. Ya ini memang pernikahan kami untuk pertama kalinya. Semoga untuk yang terakhir juga.

Dia demam dan terbaring begitu saja di tempat tidur. Sehari sebelumnya lagi saya yang masuk angin dan muntah-muntah. Tetapi sepertinya karena memang saya telat makan sehingga membuat perut saya kosong dan diisi angin. Kepala pusing dan migrain melanda saya berjam-jam. Sampai malam. Malamnya lebih aneh lagi. Saya bertemu dengan 'Dia yang Cantik'. Pukul 2 dini hari. Suasana yang cukup menyeramkan dan banyak yang mengatakan barangkali itu adalah roh Putri Junjung Buih.

Wajar saja semua orang mengatakan demikian sebab kami berdua memiliki darah Banjar yang mengalir di dalam tubuh kami. Jadi darah Banjar yang saya dapatkan dari Abah akan terus mengalir ke anak cucu kami nantinya.

Putra pagi itu sudah mandi pagi-pagi. Setelah saya mandi dia juga segera mandi. Wajahnya masih aneh meskipun dia tak lagi demam sebab sudah bertemu dengan Abah dan melihat betapa ramahnya orang tua saya. Dia lumayan tenang setelah bertemu dan berkenalan dengan Abah. Cukup siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya. Akad nikah. Mengucapkan ijab kabul. Meresmikan hubungan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Suami istri.


Dia mengenakan setelan berwarna biru. Sedangkan saya mengenakan kebaya Melayu kreasi dengan banyak sekali pernak-perniknya. Termasuk Jamang. Sakit sekali rasanya kepala saya yang memang beberapa hari yang lalu sempat terserang migrain. Saat menuliskan ini saya sudah lebih tenang dan kepala saya tidak sepusing kemarin. Apalagi sekarang saya makannya lebih teratur tidak seperti kemarin yang sempat telat makan dikarenakan sibuk akad nikah dan berdandan. Sampai lupa makan pagi. Jadinya masuk angin juga. Beruntung tubuh saya cukup kuat menahan beban menerima tamu resepsi hingga selesai. 

Ngeblog Tetap Jalan


Sesuai dengan tantangan yang sudah saya buat sendiri. Khusus bulan November ini saya harus menuliskan 11 postingan dalam sehari. Untungnya kemarin sebelum dihias menjadi pengantin masih sempat mengunggah gambar ke blog dan menjadikannya postingan terjadwal sampai 11 buah untuk hari tersebut saja. Hari ini setelah beristirahat sangat banyak. Walaupun pantat masih terasa sangat ngilu, saya masih menyempatkan untuk duduk dan menulis. Tak begitu panjang, tetapi semoga 11 tulisan hari ini bisa terselesaikan.


Ternyata banyak cara untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah kita rencanakan. Memang itulah pentingnya membuat jadwal untuk ngeblog kita sendiri. Supaya kita bisa lebih fokus dan tidak membuat berbagai alasan untuk tidak menuliskan satu postingan pun setiap hari. Walaupun masih menyandang status 'pengantin baru'. Baru dua hari menjadi istri seseorang. Masih merasa banyak yang aneh dengan semua hal yang sekarang harus kami hadapi berdua. Ngeblog rasanya adalah sesuatu yang tetap harus saya kerjakan. Seperti mandi, semalas apa pun. Mau telat bagaimana pun memang lebih nyaman bisa mandi setiap hari.

Finally: Fyuuuhhhh (1)


Setelah mengikuti berbagai tradisi yang lumayan melelahkan. Sebenarnya sangat melelahkan. Terutama hari akad nikah dan resepsi yang memang dijadikan satu hari. Jadi akad nikahnya dilaksanakan pukul 8.30 pagi. Tepat pukul 8.33 lewat beberapa detik para saksi mengatakan sah. Alhamdulillah.

Pagi itu saya bangun pukul 4.30 pagi. Sebab setelah salat subuh saya pikir para penghias pengantin akan datang untuk mendandani saya. Termasuk membantu mengenakan pakaian pengantin yang beragam pernak-perniknya. Sebenarnya sanngat mengantuk sebab malamnya saya tidur larut sekali. Selain karena teman-temannya, suami saya, duh menuliskan kata 'suami saya' saja rasanya masih cukup aneh, banyak yang datang dan memberikan ucapan selamat sebelum akad nikah dilaksanakan.

Malam sebelum akad nikah saya memang menginap di rumah sang calon suami. Bahkan beberapa malam sebelumnya. Sebab saya dipingit di rumahnya. Tidak memungkinkan bagi kami untuk dipingit di rumah masing-masing yang memang jaraknya berjauhan. Ratusan kilo meter dan terpisah oleh bentangan lautan sebelum akhirnya bisa tiba di kampung saya.

Jadinya semuanya dilaksanakan di rumah sang calon mempelai pria untuk memudahkan semua perkara. Lagipula keluarga saya yang datang tidak begitu ramai sehingga lebih baik memang dilaksakan di pihak laki-laki saja. Sehingga lebih memudahkan keluarga pihak laki-laki untuk datang dan membantu acara dari pranikah, akad nikah, dan resepsi.


Beruntung pihak laki-laki memiliki sebuah keluarga besar yang bisa diandalkan. Kami tidak membutuhkan orang luar untuk membantu semua acara kecuali untuk memasang pelaminan dan mendandani pengantin. Sebab itu akan sangat membutuhkan keahlian seorang perias pengantin supaya hasilnya maksimal. Namanya juga sekali seumur hidup. Pasti kepengen pernikahannya sempurna. Walaupun saya bukan orang yang terobsesi untuk mendapatkan segala sesuatunya yang 'sempurna'. Namun bagi saya semuanya sudah sempurna, sesuai dengan yang saya harapkan. 

Jamang


Saya mengetahui istilah ini beberapa minggu sebelum pernikahan kami dilangsungkan. Saat kami membicarakan soal baju pengantin. Jadi ditanyakan apakah saya akan mengenakan 'Jamang'. Saya bingung. Sebab sebelumnya tak pernah mendengar istilah Jamang. Sama sekali tak tahu apa maksud dari kata tersebut.

Ternyata di Kalimantan Barat, terutama Melayu Pontianak, menggunakan istilah Jamang untuk menyebut mahkota pengantin yang selalu digunakan di masa lampau. Jamang ini hanya dikenakan oleh mempelai wanita. Bentuknya seperti yang saya kenakan di gambar di postingan ini. Karena memang sudah tradisi, saya juga mengenakan Jamang ini kemarin saat acara akad nikah dilangsungkan.


Lumayan berat dan sedikit mengganggu karena bagian bawahnya menekan kepala saya. Ingin sekali segera melepaskan Jamang ini dari kepala. Takut ada kulit yang terluka dibuatnya. Untunglah kepala saya tidak apa-apa.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design