31 Oktober 2013

2 November 2013: A New Beginning



Kita Hanya Bisa Berencana


Tuhan yang akan menentukan segalanya.

Keluar Angin


Ada masuk angin tentu ada juga yang namanya keluar angin. Akhirnya angin yang menelusup ke tubuh saya kemarin sekarang mulai keluar. Memang lebih nyaman sekarang. Keluarnya melalui buang air besar. Hari ini saya sudah buang air berkali-kali. Capek juga sih keluar masuk WC. Apalagi banyak orang yang ingin menggunakan WC yang sama. Mana pagi-pagi semuanya buru-buru harus mandi dan bekerja.

Saya sendiri juga butuh waktu untuk mengeluarkan semuanya dari perut saya dan masih tak habis juga hingga sekarang. Tapi angin tersebut sedikit demi sedikit keluar dari tubuh saya dan terasa lebih nyaman dibandingkan kemarin. Hari ini saya hanya masih bersin karena ada yang merokok di dalam rumah. Asap rokok yang selama ini saya hindari tak terhindarkan lagi oleh saya. Sebab tak mungkin saya meninggalkan rumah saat ada yang merokok.


Bersin yang keras keluar dan sukses setiap kali ada hawa asap rokok yang lewat. Obat yang saya minum hanya mampu menahan sebentar alergi tersebut. Daripada mengeluh lebih baik saya mandi.

The Jacatra Secret


Sebelum benar-benar dipelam saya menyempatkan untuk membawa novel yang belum selesai saya baca. The Jacatra Secret yang saya beli di sebuah toko online langganan saya yang menjual banyak sekali buku-buku yang sulit dicari. Sebenarnya saya ingin membeli novel The Jacatra Secret ini lebih banyak supaya bisa dijual kembali sebab ternyata sulit menemukan bukunya. Entah apakah karena buku ini tidak dicetak besar-besaran atau penerbitnya yang memang membatasi jumlah buku yang dicetak untuk dijual.

Sudah lama sebenarnya novel The Jacatra Secret ini saya miliki. Sudah lebih dari setahun. Sejak tinggal di Radio Volare buku itu sudah menjadi milik saya. Hanya mendapatkan satu buku saat memilih buku di toko online yang menjual novel tersebut. Ah serasa memiliki buku antik.

Buku ini menarik untuk dibaca gara-gara bukunya mirip dengan buku favorit saya. The Lost Symbol tulisan Dan Brown. Menceritakan simbol-simbol dari persaudaraan illuminati. Lebih menariknya lagi novel ini menceritakan tentang simbol yang ada di Jakarta. Tentu saja ini lebih mudah dibayangkan dibandingkan dengan novel The Lost Symbol yang banyak menyebutkan simbol yang ada di luar Indonesia. Saya yang bukan penyuka benda-benda bersejarah tentu tak begitu bisa membayangkan bentuk simbol yang diceritakan oleh Dan Brown. Meskipun demikian tetap saja saya suka dengan novel tersebut.

Sebelum menulis novel memang ada baiknya melahap sebanyak mungkin novel yang ada untuk memperkaya pilihan kata di dalam novel yang saya tuliskan nanti. Tinggal 2 minggu lagi batas lomba yang akan saya ikuti. Harus bisa menyelesaikannya setelah pesta pernikahan nanti.


Mohon doa restunya ya supaya resepsi berjalan lancar dan bisa memenangkan lomba.

Dia yang Cantik


Saya pernah baca seseorang menulis di twitter, tapi saya lupa tepatnya seperti apa. Namun intinya adalah jika kita terbangun jam 2 tengah malam alias dini hari itu artinya ada yang menatap kita. Baiklah ini cerita yang sedikit horor. Entah menurut orang lain horor atau tidak saya tidak tahu. Selama ini sih saya memang sering terbangun jam 2 malam. Setelah mengetahui mengenai 'tatapan jam 2 malam' itu saya berusaha untuk menepis pikiran-pikiran buruk yang menghantui saya.

Saya selalu meyakini diri saya memang tak bisa melihat sesuatu yang gaib. Hingga akhirnya semuanya terbantahkan. Masalah melihat sesuatu yang gaib itu kembali lagi pada mahluk gaibnya. Apakah dia ingin memperlihatkan dirinya pada kita atau tidak sama sekali. Tentu saja kalau dia ingin memperlihatkan dirinya kita yang berada di alam nyata akan mampu melihatnya.

Tadi pagi, saya terbangun jam 2 dini hari. Teng. Saya sebenarnya seperti biasa akan berusaha untuk menghilangkan pikiran buruk mengenai 'tatapan jam 2 malam' itu. Namun sayangnya kali ini saya harus melihat 'seseorang' yang menatap saya. Karena beda alam saya pikir itu memang menyeramkan. Apalagi jika kita melihat sosoknya yang sangat cantik. Rambut hitam yang lebat dan gaunnya yang putih susu. Bukan putih seperti pocong pada umumnya. Saya bisa melihat sosok itu menatap saya dengan senyumannya yang sebenarnya manis sekali. Tapi karena dia dari alam yang berbeda itu sangat menakutkan.

Berapa kuat pun saya memejamkan mata sosoknya malah semakin jelas wujudnya. Saya diam saja dan berusaha menghilangkan ketakutan dengan memeluk ibu mertua saya. Sayangnya dia malah tertarik dengan jemari saya yang sudah berinai. Dia mendekat dan ingin menyentuh jari tersebut. Hampir menangis saya menyembunyikan jari saya yang berinai. Ingin tidur lagi dan terlelap ke alam mimpi. Sayangnya mata saya tak mau juga diajak kerja sama. Mata yang tertutup rapat tapi saya masih bangun dan tak bisa tidur.


Hingga 30 menitan berlalu sosok lain muncul menyelamatkan saya. Wajah Aki yang jernih dan menenangkan itu muncul lebih dekat dengan tempat tidur yang saya tiduri. Tak berapa lama saya pun sudah tak sadar dan saat terbangun ternyata sudah subuh. Dini hari yang sangat menegangkan. Perempuan cantik itu siapa?

Janganlah Kebahagiaan Kita Menyakiti Orang Lain


Tukaran Link: Sebuah Kebocoran?





Menurutmu?

Tersenyumlah, Berbahagialah


Berinai


Kemarin akhirnya saya berinai juga. Mengingat belasan tahun yang lalu bahkan puluhan tahun yang lalu saat paman saya menikah dengan perempuan yang dicintainya saya tahu benar bagaimana cara mereka berinai. Menggunakan daun inai yang ditumbuk dengan gambir supaya warnanya lebih merah. Semakin banyak gambir yang digunakan akan semakin merah pula kuku jari pengantin.

Selain ditempelkan di kuku, inai juga akan menutupi kulit di bagian buku jari yang paling atas. Inai ditumbuk malam-malam lalu dikenakan sebelum tidur. Supaya daun inai tumbuk tersebut tidak lepas biasnaya dibungkus dengan kain atau plastik yang menggulung ujung jari. Sekarang tak perlu lagi melakukan hal seperti itu. Sebab sudah banyak inai dalam bentuk pasta yang sangat praktis. Bisa dikenakan kapan pun kita ingin dan tidak butuh 1 jam untuk membuat warnanya menempel pada jari.

Sekarang jemari tangan dan kaki saya sudah merah karena inai. Dulunya saya hanya bisa memikirkan bahwa suatu hari saya akan berinai saat akan menjadi pengantin. Saya yang masih sangat kecil waktu itu. Melihat bagaimana pengantin-pengantin itu diinai. Tidak hanya pengantin perempuan yang berinai. Pengantin pria juga mengenakan inai. Sebagai tanda bagi orang yang melihat bahwa dia baru saja melangsungkan pernikahan.

Waktu kecil dulu saya sering mengenakan inai. Ada yang dibuat dari daun inai dan gambir tapi sering pula membuat inai dari daun pacar. Kalau dari daun pacar warnanya lebih oranye. Memang di kampung mewarnai kuku dengan pacar atau inai sering dilakukan anak-anak. Lalu saling memperhatikan kuku jari teman yang juga mengenakan inai atau pacar. Seiring berjalannya waktu kuku akan memanjang dan warna kuku yang asli akan muncul dan kuku yang memanjang tersebut bagian atasnya akan dipotong. Lama kelamaan bagian yang berinai itu akan menghilang.

Dari banyak inai yang saya kenakan, inai tahun ini yang menghiasi jari saya adalah yang paling bersejarah. Karena ini adalah inai yang wajib saya kenakan sebagai calon pengantin.


Kamu sudah pernah mengenakan inai? Atau pacar?

Kamu Tidak Ikut Tes PNS?


Akhirnya pertanyaan ini muncul juga. Lagi. Dan lagi. Entah sudah berapa kali pertanyaan ini muncul di telinga saya. Sederhananya sih begini menurut saya pribadi. Mau jadi PNS atau tidak, saya masih hidup dan saya lebih senang tidak menjadi PNS. Banyak sekali alasan yang bisa saya jabarkan untuk pilihan saya ini. Saya tidak suka mengenakan seragam. Saya tidak suka terikat jam kerja yang panjang. Saya tidak suka menghabiskan waktu terlalu lama di ruang kerja di luar rumah.

Tapi kan PNS ada tabungan pensiunnya?

Saya selalu yakin Tuhan tidak akan menutup rezeki untuk orang yang mau berikhtiar untuk mencari rezekinya di dunia ini. Menjadi PNS atau tidak, masih banyak yang bisa makan. Lalu masalah pensiun sebenarnya saya pikir ini hanya soal menyiapkan masa tua masing-masing. Bukankah pensiun itu sesuatu yang sudah diketahui banyak orang. Orang sudah tahu suatu hari dia akan menua dan tak mampu bekerja lagi. Begitu juga diri saya yang sekarang.

Tabungan pensiun kan bisa disiapkan sejak sekarang? Saat masih muda? Saya lebih suka berada di rumah. Menghabiskan waktu sebanyak mungkin buat keluarga dan punya cara sendiri untuk menghasilkan uang. Memang kerjaan saya tidak terlihat nyata oleh sebagian orang yang lahir 60-70 tahun lalu. Tapi saya pikir hasilnya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa saya bisa mendapatkan penghasilan lebih dari PNS yang tamatan S1.

Sebenarnya saya bisa menjawab dengan singkat. Tetapi jawaban singkat seperti itu akan sangat menyebalkan. Saya bisa saja mengatakan bahwa saya tidak tes PNS. Titik. Tidak pakai koma sama sekali. Saya tidak suka mengorbankan waktu saya sedemikian panjang untuk berangkat kerja pagi-pagi dan pulang sore hari hanya untuk menerima sedikit uang dari manusia, bukankah jauh, jauh sekali, sebelah sana jauh, jauh lebih baik saya berada di rumah, tetap menghasilkan uang, bisa merawat suami, bisa menyelesaikan pekerjaan rumah. Bisa berada di sisi anak-anak saya setiap hari tanpa ada gangguan sama sekali? Tak ada pekerjaan kantor yang membuat saya stress dan marah-marah di rumah?

Lagi pula bukankah tugas menafkahi keluarga adalah tugas suami? Meskipun begitu saya tetap akan menghasilkan uang dari semua usaha online saya kok. Saya hanya butuh sebuah ruangan di dalam rumah, seperangkat alat yang akan membawa saya berselancar di dunia maya, dan sebuah sepeda motor untuk mengantar dagangan saya. Penghasilan saya dari satu jam bekerja mengantar barang dagangan setelah membelinya di toko itu jauh lebih besar dari guru mana pun.

Saya bisa libur kapan pun saya mau. Bahkan saya bisa mengambil cuti untuk bulan madu selama sebulan penuh. Saya sudah mengatakan saya ingin hidup dengan cara saya dan tidak ingin menyesal mengambil keputusan hanya karena pandangan orang lain. Pandangan bahwa PNS lebih menjamin kehidupan. Apakah hidup hanya soal mengejar uang? Tidak perlu menjaga hubungan dengan suami dan keluarga? Bukankah berada di rumah dan melayani suami itu jauh, jauh lebih baik dan jauh lebih berkah dari PNS mana pun? Bahkan bonusnya lagi saya bisa punya penghasilan jauh dari PNS yang sesuai dengan pendidikan saya.

Untuk apa saya mengorbankan banyak hal berharga dalam kehidupan saya hanya demi uang yang tak seberapa? Hanya karena ada tabungan pensiunnya? Hanya karena setiap bulan sudah pasti terima uang? Berapa banyak waktu yang akan habis untuk itu semua. Bagi saya pengorbanan seorang PNS tak sebanding dengan hasil yang didapatkan setiap bulannya.


Jadi saya tidak akan tes PNS, saya hanya akan menikah dalam waktu dekat ini dan menjadi istri siaga buat suami saya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design