27 Oktober 2013

Merayakan Hari Blogger Nasional




Selamat Hari Blogger Nasional. Hari ini untuk pertama kalinya saya terpampang di satu halaman koran Pontianak Post.

Jangan Malas Belajar


Pernahkah kita bertemu dengan orang yang mau enaknya saja? Ingin tahu sesuatu tapi ingin cara yang instant tidak mau melewati prosesnya. Contohnya untuk menguasai mengenai blog sendiri. Coba tanyakan pada blogger yang sudah karatan. Berapa banyak tutorial yang mereka baca untuk akhirnya menjadi blogger yang memahami sesuai dengan kebutuhan mereka? Berapa banyak penjelasan yang mereka dengar untuk memahami apa yang mereka tidak tahu sama sekali sebelumnya?

Pernah bertemu dengan orang yang mengatakan dia sudah belajar soal ngeblog tapi tidak bisa-bisa. Padahal anak kecil saja belajar berjalan butuh waktu yang lumayan panjang untuk akhirnya dia berlari. Bisakah dia dihari yang sama dengan hari lahirnya melakukan banyak hal? Butuh waktu tahunan untuk dia bisa berbicara panjang lebar dan melakukan hal-hal yang dia butuhkan sendiri.

Saya kadang heran dengan orang yang mengeluh soal tak bisa ngeblog padahal sudah belajar. Saya ragu orang tersebut benar-benar mempelajari yang dia butuhkan untuk keperluan ngeblognya. Sebab saya sendiri belajar ngeblog butuh waktu yang lumayan panjang. Menengok ke belakang saya memulai semuanya saat tahun 2007. Waktu itu saya sama sekali tidak tahu apa itu blog. Bagaimana cara menggunakannya. Bahkan saya tidak tahu cara mengubah templatenya. Saya hanya bisa mengisi tulisan di blog tersebut. Hingga pada akhirnya berhenti ngeblog karena tidak memasukkan gambar ke blog tersebut.

Salahnya saya waktu itu tidak mencari tutorial yang bisa menjelaskan bagaimana caranya memasukkan gambar ke blog hingga beberapa tahun kemudian pertemuan dengan teman-teman di Pesta Blogger membuat saya tertarik kembali buat ngeblog. Akhirnya saya bisa juga memasukkan gambar ke dalam postingan untuk pertama kalinya. Senang tak terkira. Lalu saya pun mulai aktif ngeblog lagi dan menulis banyak artikel setiap hari yang isinya curahatan colongan.

Sebab masih mereka-reka apa yang sebenarnya ingin saya tuju saat ngeblog. Apa yang ingin saya ubah dengan tulisan saya. Waktu itu masih berupa menstabilkan hati dan jiwa yang galau berat karena banyak sekali masalah yang datang hingga bertubi-tubi. Sekarang memang saya lebih fokus untuk mengeluarkan pendapat mengenai sesuatu dan membagikan soal makanan dan wisata di Pontianak.

Setiap harinya saya menemukan hal-hal baru. Belajar hal-hal baru. Semuanya adalah proses yang memang harus dijalani sebab bagi saya blog itu masih banyak menyimpan rahasia yang belum saya gali hingga dasar. Kalau memang banyak orang di luar sana yang ingin bisa ngeblog seperti saya tapi belum menghabiskan waktu 3-4 tahun untuk mempelajari blog bagi saya orang-orang tersebut orang yang malas untuk belajar. Ada orang yang bisa belajar lebih cepat dengan banyak membaca.

Jika niat belajar mantapkan hati, sisihkan waktu 1-2 jam sehari untuk membaca tentang cara ngeblog itu sendiri. Jangan membuat banyak alasan untuk memutihkan sesuatu yang pada akhirnya membuat kita sendiri enggan untuk belajar. Saya tidak yakin ada yang mengatakan dia tak sempat mempelajarinya karena sibuk ini itu. Padahal buka facebook bisa setiap hari. Balas chat juga bisa cepat. Aneh dong kalau malah tak bisa menemukan cara untuk membuat dirinya bisa ngeblog. Bukan menjaga konsistensi ngeblog itu sendiri ya.

Masih kesulitan membagi waktu? Ah saya mengurus pernikahan, jualan, sibuk antar undangan, dan masih mencoba untuk menyelesaikan tantangan di blog ini dan jawabannya ternyata saya bisa melakukannya. Itu semua karena saya merasa saya memang harus melakukan semuanya. Tak ada alasan. Itu saja.


Ah jangan malas belajarlah.

Dahlan Iskan Meninggalkan Sampah?


Sepanjang Jalan Gajah Mada sekarang penuh sekali oleh sampah yang bertaburan. Mulai dari sampah bekas minuman berupa kantong es, ada pula yang bekas minuman kemasan. Gelas dan botol bertaburan di mana-mana. Tadinya saya pikir ada demo di Jalan Gajah Mada. Saat mengingat kembali baru saya sadar bahwa tadi Dahlan Iskan datang ke Pontianak dan banyak sekali orang yang juga datang ke tempat itu.

Satu hal yang memang seharusnya tidak terjadi adalah orang membuang sampah sembarangan. Sayang sekali sampah tersebut memenuhi jalan raya dan mengganggu orang yang lewat. Padahal tinggal masukkan ke tong sampah saja mengapa jadi sulit sekali untuk dilakukan. Di jalan raya saja orang tidak takut untuk meninggalkan sampah. Apalagi di Sungai Kapuas. Semakin banyak orang yang tak peduli dengan kebersihan. Lama kelamaan nantinya Pontianak bisa-bisa isinya sampah semua.

Coba tadi Dahlan Iskan mau mengajak warga membuang sampah pada tempatnya sebelum pulang pasti banyak warga yang mau mendengarkan dan membuang sampah pada tempatnya. Membahas hal-hal yang muluk-muluk rakyat belum tentu memahaminya dengan baik. Beda cerita kalau membahas sesuatu yang sederhana. Tadinya sih saya malah berpikir bahwa di Jalan Gajah Mada baru ada demo. Sebab jalanan seperti habis diserang massa yang habis mengamuk. Ternyata bukan begitu kejadiannya.

Mengapa masih saja membuang sampah sembarangan? Itu yang kadang tidak saya pahami dari banyak orang. Masalahnya bumi kita hanya ada satu. Kalau bukan kita yang melestarikan bumi ini siapa lagi. Tak terbayangkan jika kita sudah tak punya bumi yang bisa ditinggali dengan nyaman. Bagaimana mau nyaman kalau isinya sampah semua. Jalan Gajah Mada sudah cukup padat dengan kendaraan yang terparkir sembarangan. Tambah lagi dengan sampah yang memenuhi jalanan. Tugas berat buat tukang sapu jalanan esok hari.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana keadaan orang yang menyapu jalanan setiap hari? Berapa tenaga yang akan dia butuhkan untuk menyapu seluruh sampah tersebut hingga jalanan bersih dari sampah. Entah sampai kapan Pontianak akan seperti ini keadaannya. Tak banyak yang bisa dilakukan selain menuliskannya di sini. Mencoba memberitakan pada banyak orang pentingnya menjaga kebersihan. Sayang sekali kita merusak alam kita sendiri dengan membuang sampah di tempat yang tidak tepat.

Orang-orang lebih banyak memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak dibandingkan dengan menemukan cara untuk mengatasi masalah sampah yang ada di Kota Pontianak tercinta ini supaya bebas dari sampah. Setidaknya lebih baik dari hari ini. Belum lagi tong sampah yang diletakkan di Jalan Imam Bonjol. Bau sampah yang mengganggu orang lewat di jalan tersebut tentunya bukan hal yang nyaman. Belum lagi apabila ada lalat yang beterbangan. Ditambah dengan pemulung yang suka mengaduk-aduk sampah tersebut untuk menemukan sesuatu yang bisa mereka jual kembali.

Sampah seperti inilah yang akan merusak kenyamanan kita yang berada di lingkungan tersebut, selalu ingat kita hanya punya satu bumi untuk ditinggali. Tak ada yang lain yang bisa kita datangi. Kalau semakin penuh oleh sampah kita akan meminum air dari mana. Belum lagi tempat yang penuh dengan sampah menjadi mengganggu kehidupan kita sendiri. Pada akhirnya yang menderita ya kita-kita juga. Bukan orang lain.


Nanti kalau Dahlan Iskan datang lagi ke Pontianak jangan lupa ya Pak, ajak masyarakat sekitar yang ingin minta foto bareng bapak atau sekadar salaman untuk membuang sampah pada tempatnya. Siapa tahu kalau bapak yang bilang mereka lebih patuh dan mau melakukan hal yang benar pada hari itu dan selanjutnya.

Puaskan Pembaca Anda


Saya pikir selain menulis untuk diri sendiri, sebenarnya di luar sana ada orang-orang yang dengan setia terus mengunjungi blog ini. Tak banyak memang pengunjungnya sekarang. Setelah saya berhenti membagikannya di beberapa kanal tempat berbagi blog. Paling yang masih terus berlangsung adalah pembagian tautan blog melalui facebook dan twitter. Itupun karena saya menggunakan aplikasi untuk membagikannya secara otomatis. Cukup melelahkan apabila dibagikan satu demi satu. Biarlah orang yang memang benar-benar ingin ke blog ini yang akan mendatanginya.

Pembaca inilah yang harus saya pikirkan juga tingkat kepuasannya. Saya berusaha mendengarkan beberapa masukan yang datang untuk perbaikan blog ini. Sehingga bukan saya saja yang menikmati proses menulis ini. Ada orang di luar sana yang juga ikut menikmati setiap tulisan yang hadir dan nyaman di dalamnya. Itu sebabnya saya selalu berusaha membuat tampilan blog yang lebih ramah pengunjung. Bukan hanya tampilan yang enak di mata saya sendiri.

Memuaskan pembaca tentu menjadi poin yang cukup penting. Sebab dengan memberikan kepuasan pada pembaca blog kita, kita sedang membangun sebuah pondasi untuk pembaca setia blog yang akan selalu hadir tanpa melibatkan mesin pencari. Dia dengan mudahnya mengetikkan alamat blog kita di browsernya. Bahkan bersyukurlah kalau sudah banyak orang yang membuat bookmark di browsernya khusus untuk blog kita. Sehingga dia tak perlu kesulitan saat akan berkunjung ke blog kita. Sebab terkadang orang ada yang keliru mengetikkan alamat blog ini.

Bukan satu dua orang yang beranggapan blog ini tulisannya 'honeylicious' padahal jelas-jelas akun twitter saya tidak menggunakan 'c' melainkan 'z' yang membuatnya menjadi 'honeylizious'.

Saat ada pembaca yang mengatakan bahwa tampilan blog ini yang sebelumnya pinky winky kurang nyaman dipandang membuat saya memutar otak untuk menemukan template yang lebih nyaman. Tidak hanya nyaman untuk pengunjung tetapi juga nyaman bagi saya sendiri. Template yang ringan dan tak banyak pernak-perniknya tentu lebih ramah pembaca, sebab orang datang ke blog ini tentu saja untuk menemukan tulisan baru dan ingin membacanya dengan nyaman. Kalau sejak awal saja templatenya sudah tidak nyaman, sudah dapat dipastikan pembaca tidak akan puas dengan blog tersebut. Nah, bisa-bisa pengunjung tetap pun menjadi kabur dibuatnya.

Walaupun tanpa pembaca blog ini tetap akan diisi dengan tulisan baru setiap harinya. Namun lebih bermanfaat lagi kalau ada yang membacanya dan mendapatkan sesuatu yang baik dari sana. Syukur-syukur bisa memberikan inspirasi buat banyak orang.

Setelah mengganti templatenya akhirnya ada yang senang berkunjung kembali dan mengatakan bahwa template ini sekarang jauh lebih nyaman dibandingkan dengan template sebelumnya yang terlalu banyak pernak-perniknya dan warnanya sendiri tidak begitu nyaman untuk dipandang. Setiap orang memang punya seleranya masing-masing tapi kalau beberapa orang sudah mengatakan hal yang sama tentu saja saya kembali berkutat untuk menemukan template yang lebih nyaman untuk dipandang.

Sekian lama mencari akhirnya menemukan template yang ini. Semoga tidak akan diganti kembali. Seandainya diganti pun barangkali tampilannya tak akan jauh berbeda dengan template yang sekarang. Memang lebih enak seperti ini posisinya. Berbeda dengan selera saya setahun yang lalu. Setahun yang lalu saya suka sekali dengan sidebar di bagian kiri dan kotak postingan di bagian kanan.


Sekarang sebaliknya. Bagaimana menurut anda? Apakah template seperti ini sudah nyaman atau belum?

Perahu Lancang Kuning


Cerita tentang tragedi sebuah perahu yang membuat seseorang meninggal dunia dalam keadaan hamil karena ulah orang tak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa perahu tersebut hanya akan berlayar setelah melewati tubuh seorang perempuan yang sedang hamil. Tragedi ini sangat terkenal begitu juga perahunya. Entah anak jaman sekarang mengetahui ceritanya atau tidak saya kurang tahu. Tapi yang pasti saya bahkan masih mengingat dengan baik wajah perempuan yang memerankan perempuan hamil tersebut dalam film Lancang Kuning.

Sampai-sampai ada lagunya yang mengisahkan tentang perahu tersebut. Potongan lirik lagu Lancang Kuning yang masih saya ingat adalah Lancang kuning berlayar malam.... Saat masih kecil dulu saya sering menyenandungkan lagu ini. Filmnya sendiri waktu itu diproduksi oleh negara tetangga dan berbahasa Malaysia. Tetapi postingan kali ini bukan akan menceritakan tentang sejarah kelam Perahu Lancang Kuning melainkan tentang perahu lancang kuning kecil yang ada di rumah camer saya. Berada di ruang tamu dan akan digunakan untuk menampung Pokok Telok alias bunga yang terdapat telur rebusnya.

Telur ini beserta bunganya akan dibagikan pada tamu-tamu yang memang membawa anak kecil dan kenal dekat dengan keluarga mempelai. Perahunya lumayan besar dan biasanya di bawah perahu tersebut akan dimasukkan nasi ketan sebagai pondasi batang bunga-bunga tersebut supaya bisa berdiri dengan tegak. Melihat perahu tersebut saya ingat tadi malam kami mengambilnya dan membawanya menggunakan sebuah mobil. Di dalam mobil tersebut ada banyak sekali calon keponakan yang dengan semangat sekali membantu persiapan pesta pernikahan kami.

Sejak awal saya tak akan pernah membayangkan pesta yang meriah dan besar seperti ini, membayangkannya saja saya tak akan berani sebab bagi saya sendiri menikah itu yang paling penting adalah perjalanan kehidupan rumah tangga selanjutnya. Bukan soal sehari dua hari resepsi tersebut. Tetapi keluarga pihak laki-laki memang tidak ingin anaknya melepas masa lajangnya dengan cara 'cukup-ke-KUA-saja'. Sebab saya sendiri juga setuju dengan teori hanya ke KUA tersebut. Tak ingin terlibat acara pernikahan yang akan sangat melelahkan. Apalagi harus duduk bersanding berjam-jam hanya untuk difoto dan tersenyum sepanjang waktu.

Sayangnya saya masih terjebak dalam pesat pernikahan pada umumnya. Meskipun awalnya kurang setuju, sekarang saya sangat menikmati proses yang harus dilewati untuk mempersiapkan pernikahan ini. Bagaimana tidak? Melihat semua keluarga besar pihak laki-laki yang saling membantu untuk menyambut saya sebagai keluarga mereka yang baru, rasanya sangat mengharukan. Mendapatkan anugerah sebesar ini rasanya saya benar-benar menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia ini.

Perahu Lancang Kuning itu satu di antara banyak saksi yang akan menjadi bagian dari pernikahan kami. Dia yang akan berada di tengah-tengah ruang tamu nantinya menunggu untuk dicabut satu demi satu. Dan saya akan duduk berjam-jam hanya untuk menerima kata selamat dari banyak orang. Termasuk orang-orang di masa lalu yang pernah saya sebut sebagai kenangan. Saya tak melupakan mereka sebab dengan mengenal mereka saya jadi lebih mensyukuri seseorang yang pada akhirnya saya nikahi. Bukan membandingkan tetapi saya hanya merasa saya sangat beruntung bisa menjadi istrinya yang tentu saja semoga untuk selamanya.


Perahu Lancang Kuning itu akan menjadi bagian kecil di hari besar kami. Menjadi penunjuk betapa saya sangat dihargai sebagai seorang menantu, istri, dan adik ipar bagi keluarga ini. Kalau bukan beruntung apalagi saya menamakan semua anugerah yang datang bertubi-tubi ini. Hari ini saya merasa bahwa penantian sedemikian lama kemarin bukanlah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan. Lelaki ini memang pantas dinanti sedemikian lama.

Sindrom Pra Nikah


Ada yang menanyakan apakah saya mengalami yang namanya sindrom pra nikah atau tidak? Ternyata saya tidak mengalaminya saudara-saudara. Sebab saya terlalu senang menghadapi semua yang akan saya sebut sebagai 'awal kehidupan'. Ada orang yang barangkali akan mengalami yang namanya 'pudar keyakinan' pada pasangan. Tiba-tiba merasa: 'jangan-jangan dia bukan yang terbaik untukku?' atau istilah kerennya 'maybe he is not the one?'. Masih banyak lagi hal-hal yang membuat seseorang dikategorikan sebagai penderita sindrom pra nikah.

Biasanya sindrom ini akan hilang seiring selesainya acara pernikahan tersebut nantinya. Kalau saya sendiri orangnya bukanlah orang yang terobsesi dengan kesempurnaan. Bagi saya sendiri semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah proses. Tak ada jodoh yang benar-benar cocok dengan kita sejak di awal pernikahan. Di dalam pernikahan nantinya kita akan saling mencocokkan satu sama lain. Namanya juga memulai hidup baru, akan ada sandungan kecil sebagai pelengkap cerita pernikahan tersebut.

Bukankah sebuah kapal tak akan pernah bisa bergerak jika tak ada angin dan gelombang. Semua masalah yang dihadapi kedua pengantin nantinya adalah gelombang dan angin yang menggerakkan kapal menuju pelabuhan. Nikmati semua perjalanan itu. Badai dan hujan bukan rintangan. Sebab kapal yang kuat tetap akan melewatinya hingga kita mengatakan bahwa kita sudah sampai.

Jangan tanya soal pakaian pengantin dengan saya. Saya orangnya tak begitu rewel. Saya tak butuh waktu berjam-jam hanya untuk memilih pakaian pengantin yang akan saya kenakan di hari kami bersanding sebagai raja dan ratu sehari. Saya sudah menemukannya dalam waktu 10 menit saat berada di rumah pakaian pengantin. Mencobanya sebentar dan selesailah pemilihan pakaian untuk bersanding tersebut. Sedangkan untuk akad nikah sudah dipilihkan oleh calon suami. Dia mengatakan suka, ya sudah saya terima saja. Saya tak akan menolak atau rewel soal pakaian pilihannya.

Lalu makanan? Semua sudah diserahkan pada calon kakak ipar dan calon ibu mertua. Kami hanya menitipkan sejumlah uang. Mau apa yang mereka sediakan saya tak begitu ambil pusing. Selama mereka bisa mengatakan mereka akan memasak makanan yang lezat untuk semua tamu undangan, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Saya hanya tahu mereka merencanakan akan menyediakan tiga masakan. Satu nasi lengkap, dua bakso, dan tiga bubor paddas. Tentu saja makanan yang ketiga, bubor paddas harus ada di sana. Sebab keluarga ibu saya berasal dari Kabupaten Sambas dan makanan khasnya adalah bubor paddas.

Bahkan souvenir juga sudah dipersiapkan oleh semua kakak ipar yang dengan baiknya membuatkannya. Saya terharu melihat bagaimana persiapan yang mereka lakukan untuk mempersunting saya sebagai menantu, istri, dan adik ipar. Ini semua lebih dari yang selama ini saya harapkan. Belum lagi saat melihat bagaimana sibuknya mereka semua. Bahkan sejak sebulan yang lalu mereka sudah sedemikian sibuknya. Lewat semua perhatian mereka saya merasakan bagaimana cara mereka menunjukkan cinta mereka sebagai sebuah keluarga.

Saya menemukan sesuatu yang selama ini saya cari. Kehangatan keluarga tanpa ada rasa takut terhadap seseorang yang selama ini membuat kehidupan saya terancam. Di sinilah saya akan memulai kehidupan baru yang sebenarnya. Menjadi seorang istri, menantu, dan adik ipar diwaktu yang sama.

Bagaimana mungkin saya akan mengalami yang namanya sindrom pra nikah. Inilah keluarga yang paling baik yang pernah saya dapatkan untuk menjadi keluarga saya berikutnya. Calon suami saya adalah laki-laki terbaik yang akan membimbing saya menjadi seorang istri. Dari ibu mertua saya juga melihat banyak sekali kasih sayang yang dia persiapkan untuk menyambut satu-satunya menantu perempuannya. Apakah ada yang lebih menyenangkan dari hal tersebut?


Jangan tanya lagi soal sindrom pra nikah karena saya sama sekali tak mengalaminya.

Tentang Hutang


Pernahkah kita berhutang dengan seseorang yang pada akhirnya kita sendiri tak mampu untuk membayarnya? Si teman menagih tanpa henti tapi jawaban kita selalu belum dan belum lagi-lagi belum? Memiliki hutang sebenarnya sesuatu yang cukup menakutkan bagi saya sebab itu artinya ada sesuatu yang menyangkut kita yang harus dilunasi dengan orang lain. Apalagi kalau sampai kita sendiri ternyata kesulitan menyelesaikannya.

Ada cerita tentang seseorang yang memiliki hutang dengan saya dua tahun yang lalu, kurang lebihnya. Saya menagih karena memang itu kewajiban saya untuk mengingatkan bahwa dia lebih baik menyelesaikan semuanya di dunia. Saya tidak ingin ada sangkut paut dengannya di akhirat nanti. Alangkah menyebalkannya nanti jika kita harus membayar hutang di dunia dengan amalan kita yang tak seberapa di akhirat nanti. Itu yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri.

Seseorang ini juga saya ingatkan demikian. Lebih baik baginya untuk menyelesaiakannya di dunia saja dengan jumlah uang yang sama dengan hutangnya. Tak ada pembayaran menggunakan amalan dan menunggu hari akhir nantinya. Lalu kemarin sore seseorang ini ternyata meninggal dunia. Saya sebenarnya tidak begitu menyayangkan jumlah uang yang merupakan hutangnya tersebut. Sebab setiap hari Tuhan selalu menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak lagi. Sangat banyak malahan. Berkali-kali lipat jumlahnya.

Untungnya saya masih ada di dunia ini untuk merelakan kepergiannya dan menyelesaikan semuanya di dunia saja. Kalau memang ada yang ingin melunasi alangkah lebih baik. Kalau memang tidak ada mengikhlaskan tentunya jauh lebih baik lagi. Saya jadi ngeri mengingat pembicaraan kami sekitar setahun yang lalu saat saya mengingatkan dirinya untuk melunasi hutang tersebut. Saya tak akan menyebutkan namanya karena memang seseorang yang memiliki hutang piutang dengan saya ini sudah meninggal dunia dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan betapa pentingnya untuk menyelesaikan semua hutang yang ada di dunia ini dalam bentuk uang saja. Tak perlu menunggu terlalu banyak uang untuk membayarnya. Lebih baik menahan semua keinginan sebelum melunasi semua hutang tersebut. Karena memiliki hutang itu rasanya tak bisa tidur dengan tenang dan makan pun rasanya tak enak. Selalu ada yang mengejar di belakang.

Setiap orang yang meninggal dunia juga akan ditanya apakah si mati ini punya hutang yang belum dibayar? Sehingga dapat kita tangkap bahwa membayar hutang itu bukan perkara yang bisa dikesampingkan begitu saja. Ada sesuatu yang akan terjadi saat kita melupakannya. Jangan sampai urusannya dibawa ke akhirat. Ini akan menjadi masalah yang baru untuk pihak yang berhutang. Apalagi kalau yang menjadi pihak pemberi hutang tak merelakan jumlah uang yang sudah dipinjamkan.

Buat seseorang itu, tidurlah dengan tenang di sana. Kami di sini mendoakan semoga kuburmu dilapangkan dan terang selalu. Semoga malaikat menyambutmu dengan suka cita dan bumi bergembira menerima jasadmu. Pejamkan mata. Biarkan yang di dunia menyelesaikan perkara duniamu. Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu dan mencatat amalanmu. Selamat jalan kawan. Selamat beristirahat untuk selama-lamanya.


Apabila tiba saatnya nanti kami akan menyusulmu di sana dan kita akan bertemu kembali. Semoga kita semua dipertemukan di taman firdaus yang penuh dengan bidadari yang menggandeng kita ke istana yang paling megah di dalam sana. Semua kenangan tak akan pernah terlupakan dan bagaimana pun buruk dan baiknya pertemanan kita, kamu tetap menjadi seseorang yang pernah aku sebut sebagai kawan dan abang. Maaf tak sempat melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Tenanglah di sana.

Membudayakan Menulis


Menulis itu sesuatu yang menyenangkan. Itu yang selalu ada di dalam kepala saya. Sama seperti anak-anak yang bermain dengan air sabun dan meniupnya untuk membentuk gelembung sabun sebesar mungkin. Menyenangkan. Atau untuk orang yang suka memancing, berjam-jam bisa habis di pinggiran sungai hanya untuk menunggu umpannya dimakan oleh ikan. Tak peduli ikannya besar atau tidak. Bahkan ada kemungkinan waktunya akan terbuang sia-sia tanpa mendapatkan satu ekor ikan pun. Menikmati prosesnya itu yang menyenangkan.

Begitu juga dengan menulis. Tidak pernah memikirkan hasil akhirnya akan seperti apa. Menulisnya sudah sangat menyenangkan. Sejak memutuskan untuk menjadi penulis suatu hari nanti. Mimpi seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tak pernah terpikirkan mengenai apakah dengan menjadi penulis saya bisa menghidupi diri saya. Apakah saya akan mampu menanggung kehidupan orang tua saya saat mereka menua. Tak ada pikiran apa pun karena memang waktu itu masih terlalu kecil buat memikirkan tentang hal tersebut. Tak ada sama sekali pikiran lain kecuali saya ingin menjadi penulis suatu hari nanti.

Setiap hari. Saya menulis. Dengan kertas bekas pun jadi. Menggunakan pensil pun tak masalah karena sering saya kehabisan tinta pulpen karena kebanyakan menulis. Belum lagi semua omelan yang harus saya terima karena tak ada kegiatan lain yang saya lakukan saat ada waktu luang. Saya menulis saja. Di rumah. Di sekolah. Semuanya saya lakukan untuk mencapai apa yang saya inginkan. Padahal waktu itu mustahil sekali bagi saya untuk menjadi penulis. Mengirimkan tulisan ke mana saja saya tak tahu. Bahkan tulisan saya masih kacau balau.

Namun semua latihan yang saya lakukan berbuah sangat manis. Saat ada tugas menulis dari pembina pramuka untuk menceritakan kembali bagaimana perjalanan kami di tempat latihan pramuka, saya mendapatkan nilai tertinggi. Belum lagi pujian secara khusus yang saya dapatkan dari kakak pembina yang mengatakan bahwa tulisan saya bagus sekali. Lalu harapan untuk menjadi penulis semakin besar. Ingin saya capai semua yang saya inginkan itu.

Sekarang saya sudah mencapainya. Saya benar-benar menjadi seorang penulis. Penulis blog. Penulis buku. Padahal rasanya semua itu sedemikian jauh untuk dicapai. Listrik saja belum ada waktu itu di kampung saya. Bagaimana ceritanya saya akan menjadi penulis. Untuk membeli kertas yang lebih bagus untuk karya saya saja berat rasanya. Tapi semua usaha saya sejak kecil dulu tak pernah sia-sia. Bahkan sekarang saya sadar betapa pentingnya kemampuan menulis untuk kehidupan kita kedepannya. Banyak sekali orang yang membutuhkan seseorang yang bisa menulis. Setidaknya dengan baik untuk membuat tulisan yang sesuai dengan yang mereka inginkan.

Membudayakan menulis itu juga sama pentingnya dengan membudayakan mandi atau menyikat gigi. Saat kita melakukannya terus-menerus setiap hari akan ada yang kurang dalam kehidupan kita jika kita meninggalkannya. Apalagi sampai hiatus sedemikian lamanya. Harus saya katakan kalau tidak karena menulis saya tidak akan pernah menjadi diri saya yang sekarang. Tidak akan pernah bisa menuliskan banyak sekali cerita tentang Kalimantan Barat. Saya juga tak akan pernah bisa membuat kedua orang tua saya sebangga sekarang. Bagaimana mereka menyebut semua pencapaian saya dengan bangga.

Rasanya sayang jika kita tak menyisihkan sedikit waktu dari kehidupan kita untuk menuliskan banyak sekali kenangan yang pada akhirnya akan menjadi sejarah untuk diri kita sendiri. Banyak anak cucu kita yang tentunya akan merasa sangat terbantu dengan kehadiran tulisan-tulisan kita di masa depan. Saat kita sudah tak ada nanti. Hanya tulisan kita yang akan tersisa untuk mereka baca.


Masih ragu untuk menulis?

Bakso Goyang Lidah Pak De


Bakso yang satu ini memang pantas untuk diberi nama Bakso Goyang Lidah. Sebab rasanya yang lezat mampu membuat lidah bergoyang. Ini pertama kalinya saya makan di warung yang satu ini. Ternyata sudah menjadi langganan keluarga Putra. Semuanya suka dengan bakso yang ini dan saya juga menjadi satu di antaranya. Warungnya memang tidak luas. Kecil saja dengan beberapa meja. Tapi pelayanan dan rasa baksonya memang patut diacungi jempol. Istri Pak De saja menyempatkan diri untuk menemani kami makan sambil mengobrol dengan calon kakak ipar saya.

Lokasinya di Jalan Adisucipto. Tak begitu jauh dengan SPBU Parit H. Husin 1. Tepat di samping Gang Fitrah.

Home Sweet Home


 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design