18 Oktober 2013

Kehabisan Ide, Coba Cara Ini


Untuk Semua Penulis yang Mengalami Writer's Block


TGIF


Lempeng Terigu


Pressure Gauge - Sensor Cerdas Flow Meter, Secerdas Apa?



Sebenarnya apa itu flow meter? Mengapa benda tersebut samapi dikategorikan sebagai sensor cerdas? Agaknya alat sensor yang satu ini memang berbeda dari jenis sensor temperature gauge ataupun pressure gauge. Dalam salah satu ulasan yang mengupas mengenai pressure gauge, dijelaskan bahwa flow meter adalah sensor yang dipergunakan untuk mengetahui flow suatu material, baik liquid ataupun solid. Dalam dunia industry, hadir berbagai macam jenis sensor flow meter. Untuk jenis liquid, pada umumnya mempergunakan jenis electromagnetic, turbin, venturimeter, dan sebagainya. Sementara itu untuk material jenis solid digunakan dari kombinasi beberapa alat instrumentasi.

Dikatakan sebagai smart sensor atau sensor cerdas adalah karena flow meter dapat difungsikan untuk mengetahui material balance proses, sehingga dapat melakukan penghitungan pada gain atau losses yang muncul. Bahkan dikatakan bahwa alat ukur paling penting dalam dunia industry adalah flow meter. Mengapa demikian? Menurut penuturan orang - orang yang bergiat dalam dunia instrumentasi ukur menyatakan bahwa alat sensor flow meter baerkait dengan perhitungan untung dan rugi suatu perusahaan, yang mana termasuk di dalamnya royalty dan perhitungan pajak.

Salah satu alat sensor flow meter yang disediakan oleh PT. Momentous Instrumindo adalah flow meter Smart Sensor AR 856. Flow meter Smart Sensor AR 856 ini dilengkapi dengan keunggulan: Mengukur Rentang: 0 º C ~ 45 º C; Kecepatan angin Mengukur Range: 0,3 ~ 45m / s; Volume Angin Rentang: 0 ~ 9999m3 / s; Akurasi kecepatan angin: ± 3% ± 1dgts; Angin Kecepatan Satuan Seleksi: M / s, Ft / min, Knots, Km / jam, Mph; Resolusi: 0,1 M / s 0,2 º C.

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (5)




Jangan pernah berani berjanji jika tak akan menepati. Lembaga yang tak bisa menepati janjinya sendiri tentu saja uncare dengan orang yang memberikan kepercayaan penuh terhadap lembaga tersebut. Ini juga menunjukkan saya sendiri tak bisa mempercayai (untrust) lembaga tersebut untuk kedepannya. Lembaga yang seperti ini menurut saya jadinya ya kurang profesional (unprofessional)dalam bekerja.

Seandainya sejak awal petugas tak memberikan janji apa-apa dan mengatakan bahwa mereka akan mengurus semuanya dan masalah bagian akan disesuaikan seberapa dapatnya saja. Tentu saya tidak akan kecewa. Bahkan tak mendapatkan bagian pun bukan soal lagi buat saya. Sebab saya sudah merelakan semua daging sapi itu untuk orang yang jauh lebih membutuhkan saja. Tak setiap hari banyak orang di dunia ini bisa makan daging yang sama pada saat yang bersamaan pula. Itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya buat saya yang dulunya juga pernah hidup susah. Pernah mengalami bagaimana rasanya lapar dan dahaga.

Melihat orang-orang di sekitar bisa makan apa saja yang mereka suka. Saya pernah berada pada posisi mereka. Apalagi yang lebih menyenangkan jika bisa membuat daging yang saya beli dengan keringat saya sendiri untuk berada di dalam mulut mereka? Idul Adha adalah lebaran yang sangat indah ketika kita bisa memberikan apa yang kita punya buat banyak orang.

Uang yang sebelumnya saya persiapkan untuk mengganti smartphone saya saya berikan pada lembaga yang saya percaya. Harta yang sangat berharga. Semuanya menjadi hal yang tak menyenangkan saat mengingat bagaimana perlakukan mereka terhadap seorang perempuan yang baru saja berkurban untuk pertama kali di dalam hidupnya. Saya tak melihat darah hewan kurban saya mengucur deras membasahi bumi. Saya juga tak melihat wajah-wajah bahagia orang yang menerima hewan kurban itu. Saya kecewa. Sangat kecewa karena sebelumnya dijanjikan untuk ikut berada di sana.

Mengapa tak sejak awal katakan saja bahwa saya mungkin tak bisa menghadiri proses penyembelihan dan pembagian hewan kurban tersebut? Ah janji yang diingkari memang tak akan ada habisnya untuk dibahas. Tapi tentu saja saya tak akan ragu untuk berkurban lagi demi agama dan Tuhan saya. Tetapi saya tentu meragukan lembaga-lembaga yang tidak peduli, tidak bisa dipercaya, dan tidak profesional dalam bekerja.


Sekian tulisan panjang ini yang akhirnya menjadi 5 bagian. Padahal sebelumnya saya pikir hanya akan menjadi tiga tulisan saja.

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (4)


Masih tulisan berlanjut dari tiga tulisan sebelumnya. Silakan klik tautan ketiga tulisan tersebut di sini.

Sebuah nomor CDMA yang saya hubungi diangkat oleh seorang pria yang ternyata sama sekali tak tahu menahu soal permasalahan yang terjadi. Saat saya mempertanyakan hari ini akan ada penyembelihan atau tidak, jawabannya penyembelihan sudah selesai dan semuanya sudah diberikan pada yang membutuhkan. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana dengan janji 'bahwa-kami-akan-menghubungi-ibu-kalau-hewan-kurbannya-akan-disembelih'?

Mendengar hal tersebut jelas saya kecewa berat. Saya ingin sekali bisa melihat langsung proses penyembelihan tersebut. Selama ini saya memang tidak pernah berkurban sehingga saya tidak ada keinginan untuk menyaksikan proses tersebut. Lagipula saya juga tidak berniat untuk mendapatkan sedikit daging kurban untuk dibawa pulang. Toh saya tidak akan memasaknya di rumah. Sebab saya tak punya peralatan masak. Saya yang kecewa jadinya kesal karena mereka ternyata melupakan janji mereka sendiri. Janji yang katanya mereka akan menghubungi saya.

Padahal jujur saja, kalau kemarin mereka memberikan alamat dan waktu penyembelihan saya juga tak bisa datang ke sana untuk memantau. Tetapi yang paling penting adalah mereka memegang janji mereka sendiri. Sebab saya juga telah menjanjikan dua kantong daging untuk keluarga (calon) mertua saya. Satu untuk (calon) ibu mertua dan satu lagi buat (calon) kakak ipar. Saya tidak suka melanggar janji saya sendiri tanpa kabar yang jelas. Sebuah SMS yang bisa meredakan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu terjadi tak pernah mampir ke ponsel saya.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan daging bagian saya. Nilainya memang tak seberapa. Tapi daging itulah yang telah saya janjikan untuk keluarga (calon) suami saya. Saya tak suka melanggar janji saya sendiri. Itu sesuatu yang sangat memalukan. Apalagi penyebabnya bukan dari saya sendiri. Pihak Al Mumtaz mengatakan mereka hanya bisa memberikan satu kantong daging sebagai bagian saya berbonus permintaan maaf. Untuk semua petugas Al Mumtaz yang membaca ini saya memang menerima maaf tersebut. Tapi bukan berarti saya tidak akan menuliskan perihal masalah ini ke ranah publik. Publik harus tahu sehingga tak akan ada kejadian seperti ini lagi.


Tulisan ini dimaksudkan supaya lembaga-lembaga seperti ini tidak mengobral janji kepada orang yang menyumbang yang pada akhirnya membuat penyumbang menjadi sangat kecewa pada kenyataan yang terjadi pada akhirnya. 

Tulisan ini masih akan berlanjut ke postingan berikutnya.

LAZ TPU Al-Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (3)




Setiap hari saya menunggu petugas lembaga menghubungi saya untuk memberi tahu lokasi dan waktu penyembelihan hewan kurban yang sudah disepakati bersama. Memang sejak awal petugas mengatakan kemungkinan besar tidak akan disembelih pada hari pertama. Kemungkinan hari kedua atau ketiga. Sebab banyak hewan kurban yang harus disembelih dan dibagikan. Saya bukan orang yang cerewet mengenai hal ini. Bahkan sudah mendapatkan kuitansi saya saja sudah senang. Menyenangkan sekali bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan walaupun tak banyak.

Hari kedua saya menunggu harap-harap cemas karena memang hari Kamis, hari ketiga Idul Adha saya sendiri punya seabrek kegiatan yang harus dilakukan. Tapi nihil juga. Saya mulai bertanya-tanya. Jadi saya menghubungi nomor telpon yang tertera di kuitansi milik saya. Nomor telpon tersebut memang aktif tapi puluhan kali saya menghubunginya sama sekali tak ada yang menjawab. Saya masih tenang karena itu hari kedua. Masih ada hari ketiga dan keempat. Karena memang kata orang-orang terdekat saya menyembelih hewan kurban itu batas akhirnya pada hari keempat Idul Adha.

Hari ketiga saya menunggu lagi sejak pagi. Tak ada tanda-tanda nomor saya menerima pesan dari petugas yang sudah menjanjikan. Lalu saya mencoba menghubungi nomor yang tertera di banner besar Al Mumtaz yang terpajang di pinggir jalan. Masih tak ada jawaban. Saya masih saja berprasangka baik dan menganggap bahwa mereka akan menghubungi saya besoknya. Pada hari keempat.

Mengapa saya masih berprasangka baik? Karena saya menganggap lembaga tersebut adalah lembaga yang bisa dipercaya, lembaga yang amanah, lembaga yang profesional. Sesuai dengan tagline mereka yang ada dikuitansi. Lalu semuanya berubah hari ini. Saat saya akhirnya menghubungi nomor yang lain yang bisa tersambung dan diangkat. Berbeda dengan nomor sebelumnya yang selama dua hari tak ada jawaban sama sekali. Katakanlah memang sempat ada gangguan jaringan. Sampai berhari-harikah?

Saya yang tadinya percaya penuh mulai ragu dengna kredibilitas yang mereka tawarkan sebelumnya. Apakah mereka benar-benar bisa memegang amanah? Apakah karena saya dianggap bukan siapa-siapa lantas dianggap bisa dilupakan begitu saja? Lalu sebuah maaf sudah cukup untuk menghapus semua yang sudah terjadi?

Meminta dan memberi maaf adalah dua perkara yang sangat mudah. Tapi pada akhirnya, maaf tak akan serta-merta menghapus kesalahan yang sudah dilakukan. Apalagi sejak awal bukan saya yang meminta mereka untuk menghubungi saya supaya saya bisa datang langsung ke tempat penyembelihan hewan kurban tersebut dan melihat pembagiannya. Saya percaya penuh kok mereka akan benar-benar menyembelihnya dan membagikannya pada orang yang membutuhkan. Saya percaya mereka tidak akan mengorupsi uang yang dibayarkan oleh orang untuk membeli hewan kurban pada mereka.


Ternyata tulisan ini harus berlanjut ke bagian berikutnya. Terlalu panjang untuk diselesaikan di sini. 

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (2)



Jadi cerita ini berawal dari saya yang memang berniat untuk menyisihkan sedikit uang saya untuk berkurban. Karena memang saya di Pontianak hidup sendirian saya pikir menggunakan lembaga yang mau membantu pengurusan hewan kurban mulai dari pemilihan hewan yang sesuai dengan syariat Islam, pemotongan, dan pembagian, akan menjadi pilihan yang jauh lebih praktis. Cukup bayar dan kita terima bersih hewannya dan sudah langsung diurus tempat pemilihan pemotongan dan pembagiannya ke tiap orang yang seharusnya mendapatkan hewan kurban.

Tak ada pengalaman sama sekali sebelumnya. Jadi saya bertanya pada teman-teman yang sudah biasa berkurban. Mereka rata-rata menyarankan lembaga Al Mumtaz karena memang sudah banyak yang mempercayakan hewan kurban mereka untuk diurus oleh lembaga tersebut. Apalagi kita tidak akan diribetkan dengan masalah memilih hewan kurban yang layak. Kita juga tak akan tertipu oleh penjual hewan kurban dadakan yang nakal. Semuanya bisa langsung kita bayar dengan sejumlah uang yang sudah ditentukan oleh lembaga Al Mumtaz.

Terdengar manis bukan? Apalagi untuk orang yang malas melalui proses untuk mengurbankan hewan pilihannya. Tak semua orang bisa memilih hewan kurban yang sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Jadinya saya juga berpikir, ini jauh lebih praktis. Tinggal bayar, terima kuitansi. Selesai.

Masalah muncul karena penawaran dari petugasnya sendiri. Saya yang awalnya hanya berpikir bahwa selesai terima kuitansi saya bisa mempercayakan semuanya pada lembaga tersebut jadi tergiur dengan tawarannya.

Petugasnya menanyakan beberapa pertanyaan.

  1. Hewan kurbannya mau disumbangkan ke mana?
  2. Mau bagian berapa banyak?

Tadinya saya kira mereka sudah punya tempat-tempat yang memang akan disumbangkan dan saya tidak perlu berpikir di mana nantinya hewan tersebut dikurbankan dan diberikan. Buat saya yang paling penting saya sudah menyisihkan sedikit uang saya untuk membeli hewan kurban sebagai wujud rasa syukur saya pada semua rezeki yang Allah berikan. Bahwa saya ternyata tidak perlu menjadi kaya-raya untuk menjadi orang yang mau berbagi hewan kurban. Berkurban itu menyenangkan. Melegakan. Sebenarnya.

Saya bingung waktu ditanya demikian. Saya hanya menjawab di panti asuhan mana pun boleh-boleh saja. Selama memang mereka membutuhkan. Bagi saya anak yatim memang orang yang cukup pantas untuk mendapatkan limpahan rezeki di hari raya kurban ini. Masalah bagian sebenarnya saya juga awalnya tidak mau. Karena saya di rumah tak pernah masak. Untuk apa saya menerima bagian saya. Bukankah lebih baik apabila bagian tersebut saya berikan pada yang membutuhkan? Karena ditawarkan untuk mengambil bagian dan saya pikir bisa diberikan pada (calon) ibu mertua dan (calon) kakak ipar, saya mengajukan bagian dua kantong saja. Petugas mengatakan bahwa saya berhak atas 5 kantong daging.

Rasanya terlalu banyak bagi saya. Jadi saya memutuskan mengambil dua saja.

Petugas juga mengatakan akan menghubungi saya saat hewan kurbannya disembelih sehingga saya bisa melihat langsung bagaimana sapi tersebut dikurbankan. Bagian daging milik saya juga nantinya harus diambil sendiri pada saat pembagian daging kurban tersebut. Sampai di bagian ini masalah belum muncul karena memang saya langsung pulang setelah menerima kuitansi yang bahkan tak diberi tanggal oleh petugasnya. Niatnya kurban saja sih, jadi saya pikir tak masalah kuitansinya demikian.

Lalu saat tulisan ini diterbitkan, pihak Al Mumtaz sudah meminta maaf atas tidak menjaga kepercayaan saya. Saya memang memaafkan. Tapi saya tetap harus menyelesaikan tulisan ini hingga akhir. Bersambung ke bagian berikutnya.

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (1)


Amanah adalah sesuatu yang mau tidak mau harus kita pegang dengan penuh pertanggungjawaban sehingga orang lain tak akan ragu untuk mengamanahkan sesuatu pada kita. Apalagi jika kita membuka sebuah lembaga yang berlandaskan unsur amanah tersebut. Ketika kita melanggar amanah yang kita buat sendiri tentunya ini akan membuat orang lain menjadi ragu dengan keamanahan yang kita tawarkan.

Di Indonesia sudah banyak orang yang membuktikan bagaimana mahalnya nilai sebuah kepercayaan. Ketika kita bisa dipercaya semua rezeki akan datang mengetuk pintu kita. Tak ada lagi pertimbangan harga yang kita tawarkan dan juga kualitas yang kita berikan. Saat kita bisa dipercaya, hal-hal lain bisa dikompromikan dengan kepala dingin. Bahkan tidak hanya dalam hubungan bisnis, dalam hubungan pernikahan menjaga kepercayaan adalah hal yang paling utama. Kita masih bisa menerima apabila ternyata pasangan kita orangnya (maaf) suka kentut sembarangan atau tidak bisa masak. Selama pasangan itu bisa kita memegang kepercayaan kita dengan amanah tentu saja semua hal yang sebenarnya menjadi kekurangan akan mudah sekali untuk kita negosiasikan bersama.

Tapi satu kali saja kepercayaan yang diberikan tidak dipegang dengan pertanggungjawaban rasanya banyak orang yang akan enggan untuk kembali mengambil risiko mengulang kesalahan yang sama. Bahwa mempercayai orang yang tidak amanah tersebut adalah kesalahan besar yang tak akan ingin ia lakukan lagi. Siapa yang mau jatuh ke lubang yang sama sampai dua tiga kali? Saya sendiri cukup sekali.

Tulisan ini hanya tulisan pembuka mengenai cerita panjang yang akan saya bagikan untuk teman-teman mengenai pengalaman saya pertama kali berkurban dan menyerahkan kepercayaan saya untuk mengurus hewan kurban tersebut ke sebuah Lembaga Amil Zakat, Tabungan Peduli Umat, Al Mumtaz. Lebih khususnya lagi ini menyangkut LAZ TPU Al Mumtaz yang ada di Jl. Pak Benceng no. 12A Pontianak, Kalimantan Barat.


Sebelum tulisan ini diterbitkan pihak Al Mumtaz sendiri memang sudah meminta maaf, tetapi maaf tidak akan membuat mereka tetap bisa menjadi lembaga yang sesuai dengan yang mereka gaungkan sebagai lembaga yang care, trust, professional. Sebab pada kenyataannya mereka jauh sekali dari sebuah lembaga yang menurut takaran saya sebagai lembaga yang peduli, lembaga yang bisa dipercaya, dan lembaga yang profesional. Semua tulisan ini merupakan anggapan pribadi saya sebagai seseorang yang rasanya telah dirugikan .
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design