13 Oktober 2013

Zuppa Sup, Pontianak



Bingke Anggrek, Pontianak



Sarapan


Souvenir


Bunga Terompet

Foto oleh Ae'.

Kangen Bercasciscus dalam Bahasa Sambas

Jauh dari kampung halaman membuat saya sendiri jarang menggunakan bahasa Sambas dalam pergaulan sehari-hari. Padahal dulunya tak bisa lepas dari bahasa Sambas. Bahkan rasanya bahasa gaul seluruh Indonesia ya bahasa Sambas itu. Hahahaha...

Kadang kalau sedang kangen-kangennya sama penggunaan bahasa Sambas saya suka berbicara dengan orang di sekitar saya menggunakan bahasa Sambas. Tak peduli mereka memahaminya atau tidak. Memang bahasa Sambas dan bahasa Pontianak memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Dari aksen dan juga kata-katanya. Bahasa Sambas banyak menggunakan 'e' taling pada akhir kata yang biasanya berakhir dengan huruf 'a'. Misalnya 'apa' menjadi 'ape'. Mirip dengan bahasa Betawi. Sedangkan bahasa melayu Pontianak itu mirip dengan bahasa Malaysia yang menggunakan 'e' pepet.


Semoga bisa cepat punya keluarga kecil dan bisa berbicara dalam bahasa Sambas dengan anak saya nantinya. Hehehe...

Love Quote #7


Foto oleh Wulan.

Jatuh cinta itu tidak sakit, yang sakit itu jatuh dari motor. 

- Rohani Syawaliah, 27 tahun, sedang mengusap lutut kirinya yang lukanya hampir sembuh. -

Balon Gas Itu Mahal

Foto oleh Suparman.

Saya ingat sekali saat masih kecil dulu. Apabila ada acara keramaian di kampung biasanya saya akan menemukan dua hal. Penjual es dan penjual balon. Dulu belum ada tuh penjual sosis goreng. Belum banyak jenis jajajan yang ada di kampung. Mengingatkan kembali buat teman-teman yang tak tahu kampung saya di mana, saya lahir di Jawai, Kalimantan Barat. Sewaktu saya masih duduk di sekolah dasar listrik masih belum masuk ke kampung saya. Sehingga untuk belajar malam hari lebih baik jangan dilakukan. Kalau memang terpaksa, karena siangnya sibuk bermain guli, main engkek-engkek, atau main so, memang mau tak mau mengerjakan pe-er di malam hari.

Berbekalkan sebuah lampu minyak tanah, siap-siap besok paginya hidung akan penuh oleh salang. Salang itu asap pembuangan dari lampu minyak tanah. Belajar menggunakan lampu minyak tanah risikonya memang hidung akan salangan alias penuh dengan salang. Pagi-pagi harus segera dibersihkan kalau tidak bisa-bisa di sekolah akna ditertawakan oleh teman-teman sekelas. Tak ada cerita mengeluh tentang PLN yang suka mematikan listrik secara tiba-tiba seperti sekarang ini.

Sudah ada listrik pun waktu itu masih ada pemadaman bergilir karena PLN masih belum cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan listrik se-Kabupaten Sambas.

Singkirkan dulu soal listrik di kampung saya karena memang saya tak sedang ingin menceritakannya dengan panjang lebar mengenai hal tersebut. Saya ingin cerita soal balon gas. Dulu saya memang suka sekali membeli balon dan meniupnya di rumah. Sayangnya balon yang ditiup sendiri tak akan bisa terbang. Berbeda dengan balon yang diisi gas sehingga lebih ringan dibandingkan yang diisi dengan oksigen. Dulu saya selalu ingin membeli balon yang diisi dengan gas ini sayangnya harganya mahal sekali.


Bagi Aki dan Uwan lebih baik membeli beras dibandingkan membeli sebuah balon gas untuk cucunya. Jadinya dalam kepala saya selalu berpikir bahwa balon gas itu mahal. Memang mahal sih dulunya buat kantong Aki dan Uwan. Eh meskipun sekarang saya mampu membeli sendiri balon gas itu tak ada keinginan lagi buat membelinya. Sebab saya yakin di luar sana masih banyak orang membutuhkan uang tersebut buat makan mereka sehari-hari. Saat ingat itu saya lebih baik menyumbangkan uang yang ingin saya belikan balon gas itu untuk orang yang memerlukannya.

Adenium


Foto oleh  Erita.

Kisah Lelaki di Rumah Makan (11)



Pertama kalinya aku benar-benar tenggelam dalam bening mata seorang perempuan. Perempuan yang selalu tersenyum ketika bercerita. Siapa laki-laki yang bisa menolak perempuan seperti ini? Aku baru tiga kali bertemu dengannya tetapi rasa untuk memilikinya sudah menggebu-gebu. Tak ingin sehari pun aku lewati tanpa dirinya. Ingin selalu berada di dekatnya. Kalau bisa hingga tutup usia.

Enak?

Enak kok...”

Aku menjawab setenang mungkin padahal debaran jantungku seakan mau meloncat dari dada. Dia tersenyum dan melanjutnya makannya hingga habis. Sesekali garpunya mampir ke piringku untuk mengambil tempe dan tahu. Ternyata dia suka makanan dari kacang kedelai.

Setelah makan dia mulai bercerita lagi tentang hatinya yang pernah berkeping. Karena penolakan dari keluarga laki-laki yang dia cintai. Dia mengatakan dengan tenang tetapi aku melihat matanya sedikit berkaca-kaca, bagaimana dirinya merasa sangat dipandang rendah. Dia tak bisa berbuat banyak untuk mengubah kenyataan betapa hidupnya penuh oleh masalah di dalam keluarga. Masalah yang membuatnya memutuskan keluar dari rumahnya semenjak duduk di bangku SMA. Meksipun dia tetap berkomunikasi dengan orang tuanya tetapi dia selalu berusaha untuk berada jauh dari keluarganya di kampung.

Kakaknya yang membuat kehidupanya menjadi sedemikian berat. Di balik alis indahnya tersimpan banyak sekali cerita yang membuat aku merasa ingin melindunginya selamanya. Ingin menjadi pendamping yang akan setia mendengar cerita dan menghapus air matanya. Malam itu dia juga mengatakan bahwa pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan laki-laki yang dia cintai karena laki-laki itu tak kunjung memberi kepastian tentang hubungan mereka.

Apakah mereka akan menikah atau tidak sama sekali. Dia seorang perempuan aku mengerti. Perempuan tak bisa menunggu terlalu tua untuk mendapatkan lamaran. Dia pasti ingin memiliki keturunan dan memang sebaiknya itu terjadi pada usia muda. Sekarang usianya sendiri sudah seharusnya menikah. Walaupun tak ada standar wajib menikah bagi perempuan. Tapi kalau dia memang siap untuk membinanya semestinya dia disegerakan untuk dipinang. Aku mau menjadi orang yang mempersuntingnya jika memang itu memungkinkan untuk diterima.


Aku menelan air liurku sendiri. Ingin menyatakan perasaanku tapi aku sendiri takut dan ragu. Dia sepertinya akan menolakku seperti beberapa lelaki yang dia putuskan untuk ditolak karena tak memenuhi kriteria yang dia cari. Wajar sih perempuan memilih pendamping hidupnya. Karena suami nantinya adalah orang yang akan menjadi pemimpin di dalam keluarga. Aku terdiam.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design