9 Oktober 2013

Sungai Kapuas

Foto by me. Honeylizious.

Kuliner Jedagjedugder

Ada di Jl. Veteran. Tapi tentu saja tidak halal. Saya hanya lewat nggak mampir apalagi makan.

Ini Dia Cincin Keramat Itu

Cincin yang membuat jari ponakan bengkak dan harus dikikir agar bisa dilepaskan dari jarinya. Akhirnya bisa dipotong.

Memotong Cincin

Ini satu dari sekian banyak keponakan baru dari keluarga Putra, membuat saya takjub. Saya memang tak tahu namanya. Lupa tepatnya. Seminggu yang lalu berusaha memaksa cincin stainless masuk ke jari manisnya. Padahal jelas-jelas cincin tersebut tak bisa masuk dengan mudah. Harus dengan dipaksa.

Akibatnya jarinya bengkak karena cincin tersebut terlalu sempit. Dikeluarkan tak bisa. Sudah bengkak parah jarinya. Tapi mengamputasi jari juga bukan pilihan yang menyenangkan.

Akhirnya semua berinisiatif untuk memotong jari ponakan ini dengan kikir baja. Kikir yang biasa digunakan untuk mengasah gergaji. Alhamdulillah berhasil memotongnya setelah satu jam dikikir.

Camilan Sore

Siapkan stik talas parut yang sudah siap makan. Bisa rasa apa aja. Lalu sambal dan mayonaise. Sajikan dalam wadah sesuai keinginan. Siap disajikan.

Kisah Lelaki dan Perempuan Bertemu (5)




Sebuah sepeda motor berwarna hitam merah berhenti di halaman kantorku. Seorang perempuan berbaju biru duduk di atasnya. Tas kecil berwarna hijau tersampir di bahu kirinya. Dia masih mengenakan helm saat kuhampiri. Aku ragu kami akan berbicara banyak.

"Hani."

Perempuan beralis indah itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Senyumannya terbentuk dengan indahnya. Tak ad  wajah dingin seperti yang aku kenal di WeChat. Selama ini aku pikir aku tak akan benar-benar melihat senyumannya. Tetapi kemudian aku sadar dia berbeda. Dirinya yang nyata sangat berbeda dengan yang ada di WeChat.

"Putra."

Tangan kami terlepas. Dia tetap tersenyum. Alisnya terangkat melihat wajahku yang bingung. Dia seperti perempuan yang lain. Bukan perempuan yang membalas komentarku di momen WeChatnya.

"Mana korannya?"

"Ini..."

Aku memberikan koran yang sejak tadi aku simpan untuknya. Dia menerimanya sambil tersenyum. Kemudian aku memperhatikan wajahnya yang mengamati koran yang kuberikan. Di sudut twitnya dipajang.

"Kok bisa ya twitku dikutip, nggak pake izin lagi."

"Kurang tahu juga."

"Makasih udah disimpenin."

"Kalau nggak langsung diambil takutnya besok udah dibuang."

"Kok kamu tahu twitterku?"

"Nggak sengaja liat momen kamu, kamu upload foto akun twitter kamu yang discreenshootkan?"

"Kamu liat momen aku?"

Aku mengangguk. Malu. Dia masih saja tersenyum.

Kisah Lelaki dan Koran (4)



Perempuan itu. Perempuan dengan sepasang alis indahnya. Kata-kata yang keluar darinya sedingin wajahnya tapi kali ini aku menemukan momen yang membuat aku merasa punya sesuatu untuk dibicarakan. Barangkali dia tipikal perempuan yang tak suka basa-basi. Tak suka ditanya apabila tak ada maksud apa-apa.

Setiap orang memang punya caranya masing-masing untuk berhadapan dengan orang lain. Itu caranya. Dingin. Beku. Tanpa senyuman. Tak ada basa-basi sama sekali. Aku yang berbeda dan terbiasa basa-basi tentu saja akan terkejut mendengarkan bicaranya.

Momen yang dia unggah fotonya ke WeChat rasanya sangat familiar. Dia memasukkan screen shoot akun twitternya. Aku tadi pagi sempat membaca twit beberapa akun yang dikutip di koran. Koran yang dilanggani kantorku. Kutemukan koran itu tergeletak di meja kantor. Benar saja. Akun twitter perempuan ini masuk koran.

Buru-buru aku menyapa perempuan itu.

"Twit kamu masuk koran tu."

"Maksud kamu?"

Aku tak begitu terkejut mendapat pertanyaan yang lumayan ketus darinya.

"Bentar ya aku foto."

Koran pagi itu aku foto dan kukirim padanya. Berharap dia segera memahami maksudku. Kutunggu beberapa saat.

"Wah kok bisa?"

"Nggak tahu juga."

"Duh penasaran..."

Kejutekannya yang sebelumnya menjadi sesuatu yang ada pada dirinya lenyap. Dia berubah menjadi seseorang yang lain. Hatiku berdesir merasakan ada harapan lain yang akan muncul.

"Kalau mau minta korannya ke sini saja. Besok keburu dibuang orang kantor."

"Memangnya kantormu di mana?"

"Simpang empat dekat GOR depan Purnama."

"Owh deket kok, aku ke sana ya..."

"Iya, aku tunggu."

"Ini nomor ponselku 0856xxxx, biar gampang menghubungi kalau sudah di sana. Nomor hape kamu?"

"0852xxxxx."

Aku menggenggam koran yang menjadi satu-satunya harapan untuk bertemu pemilik alis indah yang menawan hatiku itu.

Kisah Lelaki dalam Diamnya (3)




Beberapa hari aku hanya bisa menatap wajah pemilik alis indah itu. Wajahnya yang dingin menyatakan dengan jelas bahwa dia bukan perempuan yang mudah untuk didekati. Ah... seandainya aku bisa menyentuh kedua alisnya dengan jemariku. Menyentuhnya secara langsung. Rasanya itu sudah cukup bagiku.

Keberanianku menurun drastis mengingat cara dia menjawab pertanyaanku beberapa hari sebelumnya. Dia tak hanya sulit didekati, dia juga sulit diajak bicara.

Momen yang dia update berikutnya tak berani aku komentari. Hanya aku baca dan lihat-lihat saja. 

Menginginkan perempuan ini tentunya mustahil bagiku. Lagi-lagi aku memikirkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Aku terpesona sedemikian kuatnya tetapi sedemikian besar pula penolakan yang aku dapatkan.
Bagai pungguk merindukan bulan. Hingga sebuah momen menjadi penyelamat segalanya.

Kisah Perempuan Jutek Itu (2)


Aku pikir perempuan ini pasti menemukan akun WeChatku dari look around. Tak ada yang membuatku terpesona selain sepasang alisnya yang rapi dan indah itu. Kuusap layar smartphoneku yang menampilkan wajah manisnya. Seandainya wajah manis ini dihiasi senyuman. Aku yakin dia akan jauh lebih cantik.

Ingin aku menyapanya. Mengenalnya lebih dekat tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Bibirnya yang terkatup rapat dan berwarna merah jambu seakan menyimpan sejuta kata yang ingin dia tumpahkan.
Takdir memang datang dengan caranya yang penuh rahasia. Sebuah gambar rumah sakit yang diambil tengah malam lewat di lini masa momen WeChatku. Dari momen perempuan yang alisnya menari-nari dalam ingatanku. Tatapan matanya yang dingin membuat dadaku berdebar.

Siapa yang berhasil mengabadiaan wajah dinginnya ini? Seperti apa kehidupan yang dia jalani di luar sana?

"Siapa yang sakit?"

Aku meninggalkan komentar di bawah foto rumah sakit Kharitas Bhakti yang diunggahnya ke momen WeChatnya.

"Hani."

Jawabannya sedingin yang kubayangkan. Sangat sesuai dengan wajah yang ada di sana.

"Memangnya sakit apa?"

"Memang kalau kamu tahu aku sakit apa kamu bakalan bisa kasih obatnya?"

Jawabannya menusuk. Jemariku kaku. Tak mampu membalas pertanyaannya.

Kisah Pandangan Pertama (1)

Aku hanya memperhatikan deretan nama yang ada di kontak WeChatku. Beberapa bulan terakhir ini aku memang aktif menggunakan aplikasi WeChat untuk berkomunikasi dengan teman-teman lama yang ada di Pontianak dan juga luar negeri. Internet membuat segalanya menjadi terjangkau dan tak lagi terbatas ruang dan waktu. Komunikasi dan informasi menjadi sedemikian mudahnya.

Tetapi beberapa kali aku memandangi daftar nama yang memenuhi kontak di sana semuanya nama orang-orang yang sama. Tak ada yang ingin kuhubungi. Kehidupan entah mengapa sekarang terasa sedemikian hampa.

Perempuan-perempuan yang pernah menambatkan cintanya di pelabuhan hatiku pun semuanya sudah pergi. Tak tersisa satu pun untuk menghilangkan laraku. Sedemikian menyebalkannyakah diriku sebagai seorang lelaki.

Sejenak aku merasa duniaku lebih baik runtuh saja.

Hingga sebuah nama muncul di WeChat. Aku membesarkan gambar profilnya. Wajah seorang perempuan yang sangat cantik. Tanpa senyum. Tatapannya sangat dingin. Bibirnya berwarna merah jambu. Mata cokelatnya menghipnotisku. Lalu aku terpesona pada alis yang tersusun rapi di atas kelopak matanya.
Aku menggumamkan namanya pelan.

"Hani."

Pemilik alis rapi dan indah itu. Mengirimkan permintaan teman di WeChatku. Tanpa pikir panjang aku terima permintaan pertemanan yang dia kirimkan. Tak pernah aku tahu bahwa nantinya perempuan ini adalah pengubah takdirku.

 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design