29 September 2013

Air Mancur Bundaran Digulis Untan Pontianak


Beberapa hari ini masyarakat Pontianak pasti sudah menyadari kalau Bundaran Digulis yang berada di Komplek Universitas Tanjungpura (Untan) sudah menari airnya. Iya, bundaran yang sudah lama sekali direnovasi dan ditambah dengan air mancur itu akhirnya sekarang sudah dibuka dan bisa disaksikan setiap orang yang lewat. Saya sendiri menyempatkan diri untuk mengambil gambar dan juga videonya.

Bundaran ini terletak di depan pintu gerbang menuju beberapa kampus di Untan (Universitas Tanjungpura). Universitas negeri terbesar di Kalimantan Barat. Terbesar maksudnya memiliki fakultas terbanyak untuk sebuah universitas negeri dan terluas tanahnya.

Bundaran Untan sebenarnya bulan yang ini, karena ada satu lagi bundaran yang masih berada di komplek yang sama tetapi berada di pertengahan antara pintu gerbang utama yang ada di Jalan Imam Bonjol dan gerbang kedua di Jalan A. Yani. Bundaran Untan yang asli malah kurang terawat dan terlihat kusam dibandingkan Bundaran Digulis yang memang letaknya lebih strategis. Dulunya bundaran ini tak ada bambu kuning di tengahnya, namun kemudian dipugar dan ditambah dengan bambu kuning yang cantik.


Sekarang Bundaran Digulis memberikan pemandangan yang menarik untuk semua pengguna jalan yang melintas di sini. 

Keraton Pontianak di Malam Hari






Sungai Kapuas, sungai yang menjadi kebanggaan di Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai sumber kehidupan bagi banyak orang di Pontianak. Termasuk sebagai jalur transportasi yang sangat penting untuk kelangsungan Kalimantan Barat. Malam hari wisata di Sungai Kapuas menawarkan cafe terapung yang akan membawa pengunjung berkeliling dari Alun-Alun Sungai Kapuas hingga dekat Jembatan Tol 1 lalu kembali lagi ke Alun-Alun Sungai Kapuas. Bayarannya juga murah. Hanya 10.000IDR untuk setiap penumpang.


Tadi malam kebetulan jalan-jalan ke beberapa pelabuhan yang ada di Pontianak dan mengabadikan momen malam hari dari seberang keraton dan ada cafe terapung yang lewat. Gelapnya malam dan air sungai kontras dengan lampu yang ada di keraton dan juga cafe terapung. Cahayanya terpantul ke air dan membuat bayangan yang indah.


Berbekalkan kamera pas-pasan akhirnya berhasil juga mendapatkan gambar yang semoga bisa memperlihatkan sisi indahnya keraton yang bayangannya terpantul ke air Sungai Kapuas.


Indah kan?

Jangan Pulang Sebelum Hamil


Kalau soal 'mahar' ada tagline-nya. Menerima adalah mahar terbaik. Sekarang pindah ke bulan madu. Sebenarnya bulan madu tak pernah terpikirkan akan menjadi bagian di dalam pernikahan saya nantinya. Karena saya sendiri malah ingin menikah secara sederhana di KUA dan membuat acara makan-makan di Panti Asuhan saja bersama anak-anak yatim piatu. Tetapi kemudian semuanya sekarang menjadi berbeda.

Ketika yang melamar adalah laki-laki yang memiliki keluarga teramat besar dan tak ada cerita pernikahan sederhana dan sekadarnya. Bahkan mencari baju pengantin masuk dalam daftar kegiatan yang harus dilakukan berikutnya. Hari ini mengepaskan ukuran pakaian pengantin. Tak terbayangkan ini akan menjadi kegiatan menjelang pernikahan.

Bulan madu sudah dipersiapkan dan tempat yang dipilih adalah Bali, sebenarnya bukan saya yang memilih. Saya sendiri sudah pernah ke Bali dan rasanya Bali tempat yang terlalu mainstream untuk tujuan bulan madu. Saya malah inginnya bulan madu di 5 pulau kecil yang ada di Kalimantan Barat. Berenang di air yang cetek sambil melihat-lihat dasar lautan. Di tempat yang sepi dan jauh dari banyak orang. Tetapi karena malas bertengkar saya mengalah dan mengiyakan pilihan Bali itu.


Sekarang tagline bulan madunya: 'jangan pulang sebelum hamil'. Hahaha.. 

Kurang Produktif Menulis


Tadi malam ada kopdar bersama banyak penulis Kalbar. Akhirnya bisa berkenalan dengan lebih banyak penulis lokal dan melihat karya mereka. Wih tak tanggung-tanggung ada yang bisa menyelesaikan 6 buku dalam waktu satu tahun. Kalau tidak salah sih ya! CMIIW

Ada ibu-ibu, bapak-bapak, dan tentu saja ada saya juga di sana. Saat melihat mereka rasanya saya sadar betapa kurang produktifnya saya menulis buku. Memang menulis di blog membuat saya lebih suka menunda menulis buku berikutnya. Sebab menulis di blog tak butuh waktu lama dan konsentrasi tinggi. 10-15 menit disisihkan 1-2 artikel sudah jadi dan bisa langsung diterbitkan di blog. Tak panjang perjalanannya. Tetapi tentu saja banyaknya karya mereka, baik yang terbit indie maupun ke penerbit mayor membuat saya iri. Seharusnya saya bisa menulis lebih banyak.

Selama ini saya terlalu banyak main-main dan lupa dengan kesukaan saya menulis fiksi. Sekarang banyak tulisan di blog tulisan non-fiksi. Memang ada manfaatnya untuk Pontianak, Kalimantan Barat. Saya mencatat banyak hal yang tak tertulis oleh orang lain.


Baiklah saya akan lebih semangat lagi supaya lebih produktif menghasilkan lebih banyak buku. :)

Kursus Membatik di Pontianak







Di seberang Radio Volare ada sebuah rumah batik. Selama empat tahun berkeliaran di Jalan M. Sohor, tempat Gedung Volare Network berdiri tak membuat saya tahu tentang tempat ini. Selama ini saya hanya menemukan tempat ini sudah tertutup. Ada banyak batik di dalamnya. Pernah saya pikir ini warung nasi karena memang sekilas mirip dengan warung tempat makan. Tetapi ternyata ini sebuah rumah batik Kalimantan Barat. Tidak hanya menjual kain dengan motif batik khas Kalimantan Barat tetapi juga bisa kursus membatik di sini.



Kemarin pagi, saya memang kebetulan lewat depan tempat ini saat menyeberang untuk membeli amplop di toko ATK yang berjarak beberapa ruko dari tempat ini. Ada dua orang perempuan yang sedang sibuk membatik. Saya tertarik dan mendekati mereka. Mereka sangat ramah dan membuat saya menghabiskan belasan menit di sini. Sambil mengambil foto, mengamati gambar batik, dan mengobrol dengan satu perempuan yang membatik dengan tinta hitam.


Ternyata mereka sedang kursus membatik di sini. Awalnya saya pikir mereka bekerja di sini. Sambil duduk di teras dan melihat gambar yang terus mereka warnai saya melihat bagian dalamnya tanpa melangkah masuk. Saya sendiri memang buru-buru ceritanya. Tapi membatik adalah sesuatu yang menarik buat saya apalagi ini batik Kalimantan Barat. Batik lokal yang belum dikenal banyak orang.


Kalau ada kesempatan saya pikir saya juga bisa belajar membatik di sini. Nantilah ya kalau sudah selesai semua hal yang membuat saya sangat sibuk akhir-akhir ini.

Menerima adalah Mahar Terbaik


Membuat tulisan buat undangan membuat saya sendiri harus memikirkan satu kalimat yang indah buat menghiasi sang undangan. Tentunya kalimat yang dibuat sendiri dan tidak mainstream. Saat orang membacanya orang akan menyadari maksud dari kalimat tersebut dan bisa jadi membuat penilaian tersendiri mengenai kalimatnya.

Kalau bicara soal pernikahan rasanya saya punya jutaan kalimat untuk menggambarkannya. Bagaimana tidak? Saya sudah merencanakannya jauh-jauh hari dengan seseorang tetapi pada akhirnya hari yang membahagiakan dua keluarga itu akan berakhir dengan orang lain. Bukan berarti saya kecewa berat. Sebab hidup adalah perjalanan dan semua orang yang datang dan pergi adalah bagian dari pengalaman yang akan mematangkan diri kita. Anggap saja bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi satu hal yang sangat saya sadari. Bahwa untuk menikah itu mahar terbaik buat seorang perempuan adalah 'keikhlasan untuk menerima'. Iya, menerima. Karena ditolak itu rasanya sangat tidak menyenangkan. Ditolak cinta itu memang menyakitkan. Tapi hanya untuk sebelah hati saja yang dimiliki oleh seseorang. Beda cerita kalau sudah menuju ke arah pernikahan. Penolakan terhadap calon mempelai adalah penolakan untuk keseluruhan keluarga mempelai tersebut.

Saat itu saya sadar bukan emas permata, bukan harta berlimpah, bukan lelaki yang tampan, dan punya semua yang saya inginkan yang bisa menjadi calon suami terbaik bagi saya dan akan menjadi menantu terbaik buat keluarga kami. Melainkan seorang lelaki yang bisa memberikan 'rasa ikhlas menerima' calon istri beserta keluarganya untuk menjadi bagian dari keluarganya juga dalam ikatan pernikahan.

Tak ada lagi rasanya mahar yang lebih baik dari rasa bahagia diterima oleh orang yang kita cintai beserta keluarganya. Pernikahan adalah proses penerimaan yang panjang. Sejak awal harus membuka hati untuk menerima, bukan hanya kekurangan dan kelebihan, melainkan juga menerima apa yang ada dan tak ada di sana, di dalam diri sang calon mempelai.


Jadi mintalah mahar 'ikhlas menerima' dari calon suamimu selain yang biasanya disiapkan oleh orang lain untuk menikahi seorang perempuan. Karena menerima adalah mahar terbaik.

Bakso Telur Asin Pontianak






Di Indonesia pedagang bakso sepertinya tak kehabisan akal untuk membuat bakso yang mereka jual menjadi sesuatu yang menarik. Memiliki nilai lebih dan berbeda dari bakso pada umumnya. Karena bulatan daging biasa sudah terlalu mainstream. Ada yang mengisi baksonya dengan telur puyuh dan jadilah namanya Bakso Telur Puyuh. Kurang besar? Ada yang mengisinya dengan telur ayam rebus yang sangat besar. Lalu ada yang baru saja saya coba. Bakso telur asin.


Bakso ini sebenarnya bukan bakso telur asin namanya melainkan Bakso 31. Letaknya di Jalan Purnama. Buat yang belum pernah datang ke Pontianak atau baru saja menetap di Pontianak tentunya menemukan Jalan Purnama bukanlah hal yang mudah. Tapi siapa sih yang tidak tahu Jalan A. Yani? Dekat museum ada Jalan Sutoyo, nah masuk saja dari jalan tersebut hingga tiba di persimpangan di ujung kanan Jalan Sutoyo. Di sana tertulis Jalan M. Sohor kalau lurus, di persimpangan itu belok kiri saja. Jalan itu yang disebut Jalan Purnama dan lebih banyak menyebutnya sebagai Purnama saja. Sebelum menemukan Bakso 31, kita akan menemukan Warung Seulanga, tempat langganan saya makan Mie Aceh yang ternama itu.


Sudah sampai? Kita bisa memesan varian bakso yang tersedia dengan tambahan bakso telur asin yang dijual 5.000/butirnya. Jadi bakso telur asinnya tidak disediakan dalam satu porsi utuh melainkan hanya menu tambahan untuk pilihan bakso dari menu yang disediakan. Karena penasaran saya mencoba satu buah bakso telur asin. Telur asin dan bakso adalah dua jenis makanan terfavorit saya dari banyak makanan favorit saya di dunia ini. Dapat dibayangkan bagaimana ceritanya dua makanan yang paling saya suka digabung menjadi satu. Enak pula rasanya.

Saya memesan semangkok bakso sapi biasa 11.000IDR dan sebutir bakso telur asin 5.000IDR. Jadi semangkok bakso yang saya makan adalah 16.000IDR sudah termasuk tambahan bakso telur asinnya. Takut baksonya keasinan? Jangan takut karena yang dimasukkan di dalam bakso adalah bagian kuning dari telur asin bebek. Bagian putihnya yang sangat asin itu sudah dipisahkan. Sehingga rasa baksonya menjadi semakin gurih dengan kuning telur asin di dalamnya.


Bakso 31 juga tidak membuat bulatan bakso yang biasa saja. Bulatannya terasa dagingnya. Jadi tidak dominan tepung. Bahkan saat dikunyah maih terasa serat daging yang sudah agak halus karena mesin penggiling. Ini bakso kesekian yang harus saya akui enak, sangat enak. Ada rencana untuk kembali ke sini kalau ingin makan bakso lagi. Selain dekat dari Radio Volare, harga terjangkau, rasa baksonya memang mantap.


Vihara di Pelabuhan Pontianak



Ini bukan pelabuhan Seng Hi yang ternama itu. Saya lupa nama pelabuhannya. Maafkan. Tetapi letaknya memang berdekatan dengan pelabuhan Seng Hi. Tadi malam saya jalan ke sini dan baru tahu ada sebuah vihara besar yang berdiri dengan megahnya di depan pelabuhan ini. Menghadap ke arah Sungai Kapuas. Sayangnya pada siang hari tempat ini akan sangat padat dan bukan hal mudah untuk mengambil gambarnya.



Malam hari barulah bebas menjepret pemandangan di sekitar sini tetapi ya itu, kalau menggunakan kamera ponsel akan terkendala di pencahayaan. Beda cerita kalau saya bawanya kamera profesional yang sudah ada flashnya. Tapi tak mengapa. Sementara bersabar dulu menggunakan kamera dari ponsel. Semoga nantinya bisa datang ke sini siang hari dan bebas memotretnya secara utuh.

Mie Ayam Pancasila Pontianak





Makanan yang satu ini rasanya bisa ditemukan di kota mana pun di Indonesia. Siapa sih yang tidak tahu dengan mie ayam? Potongan ayam yang dimasak dengan kecap, mienya yang dibuat sendiri, dan sayuran yang dicampurkan di dalamnya. Jangan lupakan pula pangsitnya yang renyah. Supaya lebih sedap bisa tambahkan kecap, cabai, dan saos. Penyuka asam bisa menambahkan perasan jeruk sambal di dalam kuahnya.


Kemarin singgah di warung mie ayam yang terletak di Jalan Pancasila atau Jalan Gusti Hamzah. Saat melihat porsi mie ayamnya rasanya saya tak akan bisa menghabiskan mie ayam ini. Setumpuk mie ayam dengan potongan ayam kecapnya sudah menggoda. Tetapi porsinya sangat berbeda dengan porsi mie ayam yang saya makan biasanya di Jalan Teuku Umar. Dalam kepala saya sudah terpikir setengah mangkok mie ini tidak akan habis.

Tetapi saya salah saudara-saudara. Saya bahkan lebih cepat menghabiskan mie ayam dalam mangkok saya dibandingkan teman yang membawa saya ke sini. Padahal dia kelihatan lebih lapar dibandingkan saya. Saya menghabiskannya tanpa sisa. Bahkan kuahnya saya sedap sekali untuk dihirup. Kebetulan saya tak sempat membuat video makan mie ayam yang ini. Karena kami berdua lapar sekali. Hahahaha..

Soal harga jangan khawatir, sangat miring untuk semangkok raksasa mie ayam. Memang sih potongan ayamnya tak banyak dan tanpa jamur tapi buat yang ingin makan mie ayam dengan biaya irit di sini tempatnya. Selain rasanya yang enak, harga teh es-nya juga 2.000IDR saja. Padahal kebanyakan warung makan sudah menjual teh es-nya 3.000IDR satu gelas. Harga mie ayamnya hanya 10.000IDR. Jadi bawa 12.000IDR sudah bisa makan dan minum hingga kenyang.


Letak warungnya di depan sebuah toko fotokopi. Parkirannya lumayan luas sehingga sepeda motor kita tidak akan mengganggu pengguna jalan lainnya. Soalnya letak warungnya dekat dengan simpang empat Podomoro, Pancasila, dan Alianyang.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design