26 September 2013

Senja di Sungai Kakap, Kalimantan Barat

Foto oleh Ronee.

Ke Bali Gratis, Mau?


Sudah pernah ke Bali belum? Saya beberapa tahun yang lalu memang sempat datang ke Bali sebagai perwakilan dari Blogger Kalimantan Barat untuk acara Asean Blogger selama 3 hari. Bagian menyenangkannya memang saya bisa mengatakan pada orang lain bahwa saya sudah pernah ke Bali. Namun sayangnya waktu yang terlalu singkat membuat saya tak bisa keliling di Bali sepuas mungkin. Sayang sih memang.

Nah kali ini menemukan kesempatan untuk datang ke Bali secara gratis lagi. Bahkan selain tiket ke Bali gratis juga dapat penginapan gratis. Tidak tanggung-tanggung satu pemenang bisa mengajak tiga orang temannya untuk pergi bersama. Pendaftarannya juga gratis. Jadi jangan takut akan ada pungutan biaya saat terpilih sebagai pemenang. Buat yang suka traveling barangkali ini akan menjadi kesempatan yang besar untuk jalan-jalan gratis tanpa takut kehabisan uang selama perjalanan. Siapkan saja uang buat oleh-oleh. Sisanya sudah ditanggung oleh sponsor.


Walaupun rencananya bulan November 2013 ini akan ke Bali lagi untuk bulan madu rasanya datang berkali-kali ke Bali juga tak masalah. Karena banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di sini. Pengen dapat kesempatan buat memenangkan liburan ke Bali bersama 3 teman kamu? Klik di sini dan jangan lupa masuk dulu ke akun facebook kamu.

Mencari Ide di Sosial Media


Hari ini sebenarnya saya bingung sekali mau menulis apa. Lihat-lihat blog sendiri juga tak menemukan ide dengan cepat. Buka twitter apalagi. Banyak hal yang lewat tapi tak satu pun yang bisa dijadikan ide untuk menulis hari ini. Mana saya butuh 9 ide tulisan lagi. Dapat dibayangkan betapa paniknya dikejar deadline hari ini. Biasanya saya sendiri malam-malam sebelumnya sudah mengunggah foto ke instagram sebagai cadangan ide menulis. Namun sudah beberapa malam lewat tanpa sempat meninggalkan jejak di akun instagram.

Lalu apa yang saya lakukan?

Ternyata membuka facebook bisa membuat saya menemukan ide menulis berikutnya. Banyaknya foto yang lewat. Update status dari teman-teman yang akunnya saya ikuti. Belum lagi halaman-halaman yang diiklannya. Semuanya bisa menjadi ide untuk menulis. Sebenarnya sudah buka beberapa blog untuk mencuri ide orang lain dari sana. Ternyata juga tak menemukan yang cocok. Barangkali saya harus lebih banyak menemukan blog baru yang lebih segar dan belum pernah dibaca sebelumnya.


Kalau memang teman-teman sempat panik dan kehabisan ide seperti saya tak ada salahnya membaca status orang-orang yang ada di facebook untuk mendapat ide yang lebih segar dan berbeda.

Rumah Radakng


Di Jalan Sutoyo berdiri tegak sebuah rumah adat etnis Dayak yang disebut dengan Rumah Betang. Dulunya ini menjadi satu-satunya rumah adat Dayak di Kota Pontianak. Sekarang di simpang Kota Baru tak seberapa jauh dari Rumah Adat Melayu berdiri tegak sebuah rumah adat yang lebih besar dibandingkan yang di Jalan Sutoyo. Sama-sama rumah adat Dayak tetapi sebutannya bukan rumah betang lagi, melainkan dinamai Rumah Radakng. Memang terdengar lebih mencerminkan Dayak kalau dilihat dari bahasanya.

Saya sendiri sudah beberapa kali melintasi Rumah Radakng ini tetapi masih belum lewat saat matahari sedang bersinar dengan terangnya sehingga urung mengambil foto rumah adat tersebut. Halamannya juga masih belum rapi. Masih banyak bagian tanah kuning sehingga kalau hari hujan dapat dipastikan halamannya akan becek. Tetapi melihatnya dari luar saja sudah sangat menyenangkan. Apalagi sampai bisa masuk dan melihat bagian dalamnya secara langsung.

Tenang, buat teman-teman yang tertarik untuk melihatnya nanti akan segera saya ambil gambarnya. Kalau memungkinkan juga akan saya buat video pendeknya. Semoga segera bisa ke sana dan masuk ke dalamnya. Tak hanya melihat dari luar.


Di tempat teman-teman apakah ada juga rumah adat Dayak? Kalau boleh tahu apa namanya?

Sungai Kapuas dalam Lukisan Karya Suparman

Lukisan karya Suparman.

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa


Kalau beberapa hari ini sempat lewat Jalan A. Yani Pontianak pasti menyadari banyaknya banner yang terpasang di sepanjang jalan tersebut. Nah saya sendiri menyadarinya dua hari yang lalu. Ada Festival Budaya Bumi Khatulistiwa yang diadakan  di Museum Provinsi Kalimantan Barat yang terletak di Jalan A. Yani Pontianak. Kalau tahu Mega Mall A. Yani Pontianak pasti tahu di mana letak museum. Apalagi yang sering ke Jalan Sutoyo untuk meminjam buku di perpustakaan daerah akan selalu melewati jalan menuju museum ini.

Sekalipun belum pernah saya menghadiri Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Tentunya di dalam festival ini akan ditonjolkan kebudayaan yang ada di Kalimantan Barat. Semoga banyak tarian yang bisa disaksikan dan makanan khas yang bisa dicicipi. Jarang-jarang kan bisa menyaksikan festival seperti ini lengkap bisa cicip makanan khas Kalimantan Barat. Apalagi Kalimantan Barat sendiri sangat luas dan tak semua tempat pernah saya kunjungi untuk merasakan makanan khas yang ada di tempat tersebut.


Yuk datang ke museum!

Bepalam


Apabila teman-teman datang ke Sambas untuk menghadiri pesta perkawinan pasti akan menemukan sebuah istilah yang berlaku buat sepasang pengantin tersebut, istilahnya adalah ‘bepalam’. Bepalam itu sama juga dengan dipingit. Jadi pengantin tidak diizinkan keluar dari rumah. Selama berada di dalam rumah akan diberikan perawatan tubuh yang lengkap dan juga pemasangan inai pada tangan pengantin. Kalau dulunya ada spa tradisional yang dilakukan di dalam gulungan tikar dan pengantin harus menghadap panci yang berisi air mendidih yang diisi dengan bunga supaya wangi.


Fungsinya tentu untuk mengharumkan tubuh pengantin dan mengurangi keringat saat bersanding nanti. Lulur supaya pengantin lebih cerah kulitnya. Masih banyak lagi tradisi yang mengikuti bepalam ini. Nanti saya ceritakan kalau sudah mengalaminya secara langsung.

Berenang di Sungai Kapuas




Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia memang menjadi satu di antara banyak ciri khas Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. Bahkan sampai ada lagunya yang mengatakan sebuah mitos bahwa kalau kita sudah minum airnya kita pasti akan kembali lagi ke Bumi Khatulistiwa. Itu barangkali berlaku untuk orang datang puluhan tahun yang lalu. Saat airnya masih jernih dan masih memungkinkan untuk meminumnya.

Sekarang airnya sudah tercemar dan banyak sampah yang hanyut di Sungai Kapuas. Sayang sekali sebenarnya keadaan Sungai Kapuas sudah berubah menjadi seperti yang sekarang. Walaupun keadaannya sudah tercemar masih banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, dan bersih-bersih. Bahkan PDAM sendiri masih memanfaatkan air Sungai Kapuas untuk disalurkan ke rumah-rumah penduduk yang ada di Pontianak dan sekitarnya. Namun airnya yang tidak jernih itu akan mengalami proses penjernihan terlebih dahulu barulah disalurkan ke pipa-pipa yang akan mengantarkan air tersebut ke rumah warga.

Proses penjernihannya bisa menghasilkan air yang sangat jernih tapi tak jarang juga airnya tetap berkabut. Hanya tak sebutek air Sungai Kapuas yang masih berada di sungai sih. Tetapi kondisi airnya memang menyedihkan dan tentu saja bukan air yang bisa diminum apalagi digunakan untuk memasak karena mengandung zat kimia yang digunakan untuk membersihkan air tersebut.

Sejak pertama kali menjejakkan kaki ke Pontianak keadaan air Sungai Kapuas memang sudah seperti ini. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang sungai dengan gertak kayu yang beberapa bagiannya sudah diganti dengan beton menjadi saksi bisu bagaimana air Sungai Kapuas sudah tercemar. Tetapi banyak sekali orang yang dengan tenang menggunakannya untuk mencuci dan berenang di Sungai Kapuas.

 

Entah kapan air Sungai Kapuas akan kembali menjadi lebih layak untuk digunakan dan jernih.

Foto oleh Suparman.

Selamat Ulang Tahun Koko Chandra Iman


Hari ini dulunya adalah hari yang bersejarah buat sepasang suami istri yang sudah menantikan kelahiran buah harinya. Sudah puluhan tahun berlalu tentunya sekarang anak itu sudah berubah menjadi pria dewasa yang mandiri dan kuat. Dengan seorang istri dan seorang buah hati yang sedang lucu-lucunya.

Chandra Iman, seseorang yang saya temui beberapa bulan lalu di Asean Blogger Festival Indonesia 2013 di Solo. Banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Dari banyak blogger yang saya temui di sana, rasanya Chandra Iman ini satu-satunya orang yang mau berbaik hati mengajari saya tentang blog. Meskipun cumin sebentar pembelajaran waktu itu sudah cukup untuk membukakan mata saya tentang potensi lainnya yang ada pada sebuah blog.

Dari beliau saya belajar bahwa membagi ilmu itu sangat penting. Bukan untuk mengembangkan diri kita sendiri tetapi membantu perkembangan orang lain. Kita tak akan pernah tahu ke depannya ilmu yang kita berikan tersebut akan membawa dampak seperti apa terhadap orang tersebut. Bagaimana sebuah ilmu, tak peduli sedikit atau banyak, bisa membuat kehidupan seseorang berubah dan membuat jalan yang dia ambil berbeda dengan jalan yang ingin dia pilih tanpa ilmu yang kita berikan tersebut.


Selamat ulang tahun Koko Chandra, semoga diusia yang sekarang semakin banyak ilmu yang bisa dibagikan dan selalu mendapatkan berkah dari Tuhan.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design