20 September 2013

Ada Kejutan


Sebenarnya ingin sekali membeberkan semuanya di sini. Tetapi ada hal-hal yang membuat saya harus sedikit menahan sebuah rahasia besar ini. Anggaplah ini kejutan besar yang saya siapkan untuk semua orang yang mengenal saya baik di dunia online mau offline.

Saya senang sekali. Hanya itu perasaan yang bisa saya sampaikan di sini. Rasanya dari banyak kebahagiaan yang pernah saya dapatkan. Ini akan menjadi kebahagiaan yang masuk 5 besar dalam hidup saya. Sepertinya saya akan membuat daftar 5 kebahagiaan yang pernah saya rasakan dalam kehidupan saya saat semuanya selesai.

Marah dan kesal pada takdir memang kadang pernah saya lakukan. Tetapi semakin ke sini, semakin lama, semakin dewasa, saya akhirnya mengerti bahwa makna hidup yang sebenarnya adalah proses menerima. Menerima bagaimana jalan Tuhan yang harus kita lewati selama di dunia. Apalagi sering saya berpikir bahwa kehidupan hanya sebentar. Apa yang harus kita kesalkan di dalamnya? Mengapa tak kita jalani dengan bahagia sebelum kita benar-benar menghadap-Nya?

Menulis Tanpa Rasa Khawatir


Ketika menemukan sebuah blog yang bisa rutin diupdate tulisannya. Baik harian maupun mingguan. Jangan buru-buru berdecak kagum. Tidak ada proses instant untuk mencapai hal tersebut. Semuanya butuh proses yang panjang dan tentunya usaha keras sang pemilik blog. Coba lihat ke tulisan-tulisan lamanya. Periksa apa saja yang dia tulis sebelum akhirnya rutin menulis. Lihat seberapa banyak dia menulis dulunya. Apakah setiap hari? Setiap minggu?

Apa saja yang dia sampaikan? Bagaimana gaya menulisnya?

Kalau saya sendiri, memeriksa postingan lama dan menemukan sebuah ciri yang sangat mencolok dari banyak tulisan tersebut. Saya menulis tanpa rasa khawatir. Saya tak pernah memikirkan bagaimana pendapat orang lain dengan semua tulisan frontal yang pernah saya buat. Bahkan saya terkesan sangat pemarah dan galak di tulisan-tulisan lama. Saya tak peduli dengan penilaian orang pada akhirnya saat membaca tulisan itu.

Apa pun yang kita tulis. Baik atau buruk. Kita tak bisa menghentikan penilaian orang lain. Itu kunci saat akan menulis. Tanpa rasa khawatir. Jangan mikirin pendapat orang dululah sebelum menulis. Tulis saja. Tulis. Tulis. Tulis. Selama hal tersebut bukan tindakan yang melanggar hukum negara, tulis saja.

Menulislah tanpa ada rasa khawatir di dalam hati. Karena kalau kita terlalu khawatir dengan banyak hal di luar proses menulis itu dapat dipastikan ide-ide yang akan kita keluarkan menjadi mentah dan gagal untuk dijadikan tulisan. Kita takut dengan pendapat orang. Kita tak ingin mendapat penilain yang buruk. Tidak siap dengan konsekuensi dari tulisan kita sendiri.

Menulislah dengan berani.

Siapa Bilang Saya Online Seharian?


Banyak yang bertanya berapa lama yang saya butuhkan untuk menulis di blog ini. Jujur saya sendiri bukanlah orang yang betah berjam-jam di depan komputer hanya untuk menulis. Apalagi sampai seharian penuh hanya menulis. Beda cerita kalau saya sedang penasaran dengan sesuatu. Misalnya sedang belajar membuat template. Memang akan butuh waktu yang lama dan bisa lupa waktu dan makan saat belajar hal yang menarik seperti itu.

Orang bertanya demikian karena setiap beberapa jam sekali tiba-tiba ada postingan yang terbit di blog ini. Sebenarnya saya hanya menghabiskan 1-2 jam sehari di depan PC untuk ngeblog dan menyiapkan semua tulisan yang kemudian terbit dengan jeda waktu yang sudah saya tentukan.

Semua postingan yang terbit di blog ini beberapa bulan terakhir ini adalah postingan yang saya atur untuk terbit pada jam-jam tertentu. Bahkan pada malam hari. Dini hari. Pagi-pagi buta. Waktu yang bisa saya sisipkan tulisan, akan saya jadwalkan sebagai jam terbit tulisan saya.

Jangan anggap saya tak punya kerjaan lain selain ngeblog untuk dilakukan. Meskipun memang kalau ditanya soal kerjaan, saya kerjanya lebih banyak ngeblog dibandingkan siaran. Tetapi saya sendiri juga punya kehidupan nyata yang harus diurus dan membangun kehidupan nyata dengan seseorang.

Saya tidak online seharian kok. Asal tahu aja sih.

Semua Orang Terdengar Seperti Vicky


Siapa yang tak kenal Vicky Prasetyo. Memang nama ini dua minggu terakhir ini santer sekali pemberitaannya. Bahkan saya yakin semua orang tak perlu penjelasan lebih lanjut mengenai asal mulanya. Cukup ketikkan kata kunci ‘Vicky Prasetyo’ di mesin pencari, akan muncul banyak sekali video dan web yang memuat tentang beliau ini. Vicky si pemilik bahasa intelek.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menambah deretan tulisan yang menyudutkan beliau. Tetapi saya harus angkat topi dengan fenomena yang dibuat oleh Vicky Prasetyo alias Hendrianto ini. Sedemikian banyak orang yang langsung mengenalnya gara-gara bahasanya yang muncul di sebuah infotainment. Tak banyak yang disampaikan tetapi sudah cukup membuat Indonesia gempar. Walaupun pada akhirnya akan surut kembali seperti hal-hal menggemparkan lainnya.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin bercerita tentang beberapa orang yang terdengar seperti Vicky Prasetyo. Selintas saya mendengar cuplikan-cuplikan pembicaraan bintang tamu di Metro TV dan akhirnya sadar bahwa bukan hanya Vicky kok yang menggunakan bahasa intelek. Masih banyak lagi orang di luar sana yang berbicara dengan bahasa ‘intelek’. Campur aduk dengan bahasa Indonesia yang maknanya menjadi kabur. Kita yang mendengar pada akhirnya akan berpikir, orang ini ngomong apa sih sebenarnya?

Coba dengarkan baik-baik setiap pembicaraan orang di televisi. Kita akan menemukan banyak sekali orang yang seperti Vicky Prasetyo ini. Cuma kebetulan saja Si Vicky Prasetyo menggunakan pilihan kata yang lebih ajaib dibandingkan orang lain. Sekarang saya sendiri bahkan suka berpikir dulu sebelum menggunakan sebuah kata yang saya pikir akan ada padanan bahasa Indonesianya. Kadang terceplos bahasa yang sedikit ‘intelek’ langsung saja terbayang wajah Vicky Prasetyo yang mirip Sandy Sondoro.


Duh, semua orang terdengar seperti Vicky!

Belum PNS, Belum Bekerja (2)?


Siapa yang di dunia ini memiliki orang tua yang tujuan membesarkan anaknya hanya untuk menjadi PNS? Dibidang apa pun itu. Kemudian beranggapan bahwa ketika anaknya belum menjadi PNS sama saja belum bekerja?

Akhir-akhir ini memang sedang ada pembukaan penerimaan PNS di Kalimantan Barat. Informasi lengkap tes CPNS-nya saya sendiri kurang tahu karena memang tidak pernah terpikir untuk menjadi PNS atau menjadi guru. Selama ini saya hanya berpikir untuk menjadi seorang istri yang tetap bisa menghasilkan uang dari rumah. Berapa pun itu. Bukankah kodrat perempuan adalah menjadi seorang istri yang selalu ada di rumah? Siap menyambut suaminya pulang bekerja dan merawat anak-anaknya?

Banyak orang tua yang anak-anaknya saya kenal sangat memprioritasnya kehidupan mereka untuk mengejar jabatan menjadi PNS. Tak ada yang salah dengan itu. Semua orang punya hidupnya masing-masing. Namun yang saya kasihan adalah anak-anak mereka yang kemudian harus melupakan impian mereka sebelumnya dan mengabdikan kehidupannya pada negara. Menjadi abdi negara dan pelayan masyarakat. Itu tanggung jawab yang sangat besar.

Saya sendiri tak sanggup untuk memikulnya. Pertanggungjawabannya pada Tuhan lain lagi ceritanya. Beruntungnya saya, meskipun ibu saya seorang guru dan tentu saja PNS, tidak pernah saya dituntut untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Hingga hari ini mereka membebaskan saya untuk menjadi apa yang saya mau. Menjalani kehidupan seperti yang saya inginkan.


Selama saya bisa bertanggung jawab dan tak menyusahkan mereka, saya pikir itu sudah cukup buat mereka.

Ada Rupa Ada Harga


Dibutuhkan usaha yang besar untuk mendapatkan hasil yang besar pula. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Selalu saya percaya dengan kalimat itu karena semakin besar sebuah risiko di dalam bisnis itu pastinya mengindikasikan keuntungan yang besar pula. Karena risiko berbanding lurus dengan keuntungan yang ditawarkan.

Kalau memang ada sesuatu hal yang besar yang ingin kamu dapatkan dalam kehidupan ini. Berusahalah lebih keras dari orang lain. Jadilah yang terbaik dari dirimu sendiri. Orang bisa saja bagus, tapi kamu harus menjadi yang terbaik. Karena tak ada orang yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya dengan tidur dan terus terlelap ke alam mimpi. Sebuah mimpi yang besar hanya bisa diwujudkan dengan usaha yang besar pula. Bangun dari tempat tidur dan keluarkan usaha terbaikmu.

Selalu ada harga yang dibayar untuk mendapatkan sesuatu. Barangkali kita beranggapan ada orang yang tak perlu berusaha terlalu keras untuk menggapai impiannya. Tapi bagaimana pengalaman yang harus kita lewati untuk mendapatkan impian kita sendiri akan selalu menjadi hal yang tak ternilai harganya.

Anggaplah impian itu harus kita raih di atas ujung anak tangga terakhir. Ada orang yang cukup berjalan 10 anak tangga dan impiannya tercapai. Lalu kita sendiri ternyata harus menjalani 100 anak tangga. Apakah kita lantas mengatakan bahwa Tuhan tidak adil? Bahwa Tuhan pilih kasih? Coba lihat ke belakang. Lihat orang yang hanya melewati 10 anak tangga untuk menggapai sang impian yang dia inginkan. Apakah dia akan mendapatkan pengalaman yang sama dengan kita? Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi selama berjalan 100 anak tangga nantinya. Pengalaman apa yang akan menjadi pengalaman dalam hidup kita.

Jangan disesali. Jangan kesal pula dengan kehidupan yang sudah Tuhan pilihkan untuk kita. Karena semua yang Tuhan berikan sudah pasti terbaik untuk kita. Kita yang menanamnya. Karma menumbuhkannya dan kita harus memanennya.


Seberapa keras usaha yang sudah kamu berikan untuk mencapai impianmu sekarang? Kamu rasa sudah terlalu keras? Masih tidak tercapai? Barangkali kurang keras.

Cara Jitu Menjadi Blogger Gila

penulis gila

Sudah bukan rahasia lagi banyak blog yang akhirnya menjadi kuburan maya. Mengutip istilah dari Diptara yang menyebut blog-blog yang ditinggalkan pemiliknya dan tidak pernah diisi dengan tulisan baru lagi hingga akhirnya dilupakan. Kuburan maya. Apakah sekarang kita sedang menggali kuburan maya milik kita sendiri? Pernahkah kita berpikir bahwa blog yang sekarang kita isi, kita permak di sana-sini akan menjadi kuburan berikutnya?

Setiap orang punya pilihan. Ada yang memilih untuk tetap ngeblog ada pula yang memilih untuk berhenti. Setiap orang juga punya alasannya masing-masing. Apa pun alasannya.

Sudah banyak, saya yakin sudah banyak sekali, yang menuliskan kiat ngeblog, tips menulis, cara mendapatkan ide, dan masih banyak lagi cara orang lain untuk memotivasi banyak orang di sekitarnya untuk tetap menulis.

Saya pernah menuliskan kiat untuk blogger yang ingin menjadi penulis gila di postingan 5 Cara: Menjadi Penulis Gila. Membaca postingan tersebut membuat saya ingin tertawa. Ternyata tulisan saya buruk sekali dulunya. Sekarang? Tak tahulah apakah ada perkembangan yang signifikan mengenai itu. Banyak cara sebenarnya bisa kita lakukan untuk bisa mempertahankan kehidupan blog kita. satu di antaranya ya dengan menerapkan 5 Cara: Menjadi Penulis Gila.


Kalau masih kurang, bisa baca juga tulisan mengenai 5 Tips: Bisa Menulis Di Blog. Semoga tulisan-tulisan tersebut bisa membantu teman-teman yang bingung bagaimana caranya bisa update blog setiap hari atau sesuai dengan jadwal yang kita buat sendiri. Tentunya ini bukan rumus yang pasti untuk diberikan pada Si Blogger Pemalas. Masih banyak cara lainnya. Temukan sendiri dan jangan lupa berbagi.

Hukuman Buat Koruptor


Menonton televisi yang isinya berita tentang hukuman yang dijatuhkan pada koruptor rasanya kesal bukan kepalang. Bagaimana tidak? Mereka hanya diganjar hukuman di bawah 5 tahun penjara dengan nilai korupsi milyaran bahkan triliyun. Uang rakyat yang dikebiri masuk kantong dan mereka hanya mendapatkan hukuman yang ringan.

Kalau saja saya bisa memberikan hukuman buat mereka. Saya tak perlu menghukum mereka dengan memenjarakan beberapa tahun lantas mereka bebas begitu saja. Penjara bukan solusi buat koruptor. Saya yakin memberikan apa yang mereka takutkan jauh lebih efektif dibandingkan memenjarakan mereka. Dibandingkan penjara yang pada akhirnya menjadi ‘hotel’ berlabel negara yang mengamankan mereka dari kejamnya dunia. Sementara uang yang sudah dikorupsi menjadi modal buat mereka mendapatkan berbagai fasilitas di sana.

Koruptor itu hanya takut satu hal. Kemiskinan. Berikan itu pada mereka. Jangan penjarakan mereka dengan kerangkeng besi. Kemiskinan jauh lebih bisa memenjarakan mereka. Ambil semua apa yang mereka punya. Jangan izinkan mereka bertransaksi. Ini sudah pernah saya ungkapkan sebenarnya pada tulisan Saya Ketua KPK RI: PemberantasanKorupsi Dimulai dari Sini! Di tulisan itu lengkap sekali yang ingin saya lakukan jika saya diberikan hak untuk menghukum para koruptor di Indonesia ini.

Setuju saya jadi ketua KPK? Hahahaha... ngimpi!

Ini Dia Sang Blogger Pemula


Sebenarnya ini adalah postingan kehabisan ide lainnya. Saya hanya ingin berbagi cerita dengan teman-teman sesama blogger. Pernah tidak disebut sebagai ‘blogger pemula’, ‘blogger baru’, atau ‘newbie’?

Saya jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat segerombolan orang dari sebuah Cafe dengan inisial A yang berada di Tanjung Raya 2, Pontianak yang menjebak saya untuk datang ke sebuah warung kopi. Alasan mereka adalah ingin memasang iklan di blog ini. Mengatasnamakan sebuah penyedia layanan internet berinisial W yang sekarang saya gunakan. Tentu banyak yang sudah tahu saya menggunakan jaringan internet yang mana. Ternyata sampai di sana saya dimarah-marahi. Alasannya karena saya menuliskan bahwa makanan mereka tidak sesuai dengan selera saya.

Bagian terakhir yang hingga hari ini masih saya ingat adalah ‘blogger baru kok sudah sok’. Padahal apa ada yang salah dengan mengeluarkan opini mengenai sesuatu hal yang tolak ukurnya berada dalam kawasan ‘relatif’ atau ‘bergantung selera masing-masing’?

Mereke menyebut saya blogger baru. Berarti blogger pemula. Menurut teman-teman sendiri banyak yang tak setuju saat saya mengatakan saya masih newbie. Saya jadi bingung dengan tolak ukur blogger pemula dan level selanjutnya hingga master itu seperti apa.


Tapi dengan disebut sebagai blogger baru, blogger pemula, saya rasa masih banyak hal lagi yang harus saya tingkatkan di blog ini. Namanya juga blogger pemula. J
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design