30 September 2013

Motor Bandong di Sungai Kapuas

Foto oleh Suparman

Sungai Kapuas yang masih menjadi pilihan banyak orang untuk bepergian tentunya menawarkan kendaraan yang bisa melewati Sungai Kapuas. Satu di antaranya yang masih populer adalah motor bandong. Motor bandong itu di kampung saya disebut sebagai motor air. Jadi perahu yang dibuat lebih besar dari perahu pencari ikan sungai pada umumnya. Ada rumah-rumahannya dan sudah dipasangi mesin.

Di Ketapang, Kalimantan Barat sebutannya Kelotok. Bentuknya ya kurang lebih sama. Paling berbeda ukuran saja. Di Jawai ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan motor bandong yang ada di Pontianak. Kelotok seingat saya lebih besar dari motor bandong sebab menempuh perjalanan air belasan jam. Ah kalau ingat kegiatan kampus dulunya yang harus mendatangi Kabupaten Ketapang yang harus berada di sungai selama belasan jam untuk tiba di sana jadinya merinding.

Sungai dan lautan memang punya bagian yang menakutkan sendiri-sendiri. Mengapa saya bilang begitu? Buat saya yang tak bisa berenang, lautan memang akan menakutkan kalau kapalnya karam. Tak terbayangkan apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan diri dari kejamnya air yang membuat saya tenggelam itu.


Nah sungai lain lagi seremnya. Takut ada buaya di dalamnya. Bukan cerita baru kalau banyak warga yang masuk mulut hewan yang satu itu. Balik lagi ke cerita motor bandong, sekarang kita masih bisa menemukan kendaraan air ini dengan mudah di Kalimantan Barat. Tak tahu kapan akan benar-benar ditinggalkan.

Sebentuk Senja di Kalimantan Barat


Rasanya senja itu selalu menarik untuk dijepret. Apalagi saat langit benar-benar memerah dibuatnya. Pemandangan senja yang indah sekali bukan? Setiap sudut di dunia ini tentunya ada bagian langitnya dan senja akan kita temukan di mana saja. Namun senja itu tak akan sama bentuknya di beberapa tempat yang cuacanya berbeda.

Di Kalimantan Barat sendiri banyak tempat yang bisa menjadi lokasi pengambilan momen senja yang indah. Seperti di depan rumah Heni yang sempat mengambil gambarnya dengan ponsel. Langit yang jingga kemerahan di langit. Pohon-pohon yang berada di bawahnya. Pemandangan yang cukup menyejukkan hati yang seharian kelelahan dengan tekanan pekerjaan.

Senja mengingatkan saya pada banyak hal yang ada di dunia ini. Dulunya senja itu, ketika langit mulai memerah, adalah penanda untuk saya segera meninggalkan halaman tempat saya bermain pasir atau berlarian dengan teman-teman. Saatnya untuk mandi dan keadaan akan mulai menggelap sebentar lagi. Tak ada lagi terang. Malam hanya dihiasi dengan lampu minyak tanah yang membuat lubang hidung menghitam keesokan harinya.

Kampung saya memang lama sekali baru dimasukin listrik. Sehingga dulunya saya hanya belajar menggunakan lampu minyak kalau siang dan sorenya sibuk bermain. Untuk menonton televisi juga harus menggunakan aki mobil yang selalu diisi ulang kalau akinya sudah habis dayanya.

Senja mengingatkan saya pada sebentuk wajah yang sangat saya rindukan dan tak ada lagi di dunia ini. Karena di senja hari dia akan pulang dari sawah lalu menggendong saya. Aki. Senjaku.

Gelombang Sungai Kapuas


Sungai Kapuas memang bukan laut. Tapi gelombang juga ada di Sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia ini. Di Pontianak sendiri Sungai Kapuas memang menjadi ciri khas sendiri. Bahkan sampai ada lagunya. Kendaraan air juga masih menjadi hal yang sangat penting di sini untuk memotong jarak yang harus ditempuh sebuah kendaraan. Terutama yang ada di Siantan.

Minyak-minyak yang harus didatangkan ke Kalimantan Barat juga masih menggunakan jalur transportasi air. Sehingga memang Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi masyarakat Kalimantan Barat. Lupakan sejenak masalah pencemaran yang terjadi di dalamnya.


Gelombang Sungai Kapuas ini bidikan seorang teman (Denny) di grup Borneo Kamera Ponsel Klab. Selamat menikmati.

Pontianak dalam Hitam dan Putih


Kalau kamu hanya jalan-jalan keliling kota yang sama setiap hari bukan berarti kamu akan menemukan hal yang sama dengan hari yang sebelumnya. Yakinlah bahwa setiap hari akan selalu ada perbedaan dengan hari kemarin. Waktu itu seperti potongan mozaik. Jika potongannya berbeda tentu saja gambar yang akan ditunjukkan berbeda pula. Setiap hari potongan-potongan mozaik yang menggambarkan hari kita pasti berbeda. Bahkan nomor seri sebuah hari akan selalu berbeda. Sama seperti hari ini yang bernomor 30-9-2013.

Tak akan ada lagi sebuah hari Senin dengan nomor seri yang sama. Tak ada hari yang berulang. Itu sebabnya setiap hari saya selalu suka mengabadikan beberapa momen yang saya dapatkan di kota yang sama. Di Pontianak, Kalimantan Barat. Sore itu saya melewati Jalan A. Yani dan melihat pemandangan yang sangat indah.

Seingat saya hari itu habis hujan dan langit agak mendung. Tetapi cahaya matahari masih ada. Bersembunyi di balik sebuah bangunan. Saya berhenti. Mengeluarkan kamera dan menemukan sebuah pemandangan yang barangkali tak akan saya temukan lagi.


Ini dia Pontianak dalam warna hitam dan putih. Tanpa editing dan tak ada filter apa-apa. Benar-benar asli seperti ini apa adanya.

Hujan Ungu di Pontianak


Di Pontianak, tak hanya ditemukan matahari yang akan bersinar dengan cerahnya. Tetapi ada juga hujan yang akan membasahi alam semesta. Sama saja dengan tempat lain yang ada di Indonesia cuacanya. Paling perbedaan tingkat polusi saja. Bahkan di Pontianak suhunya tidak sepanas di beberapa tempat yang ada di Indonesia. Terutama tempat-tempat yang ada pantainya. Kebetulan di Pontianak memang tak ada pantai apalagi laut. Di Pontianak hanya ada Sungai Kapuas.

Pantai adanya ratusan kilo meter dari Pontianak. Paling terkenal memang pantai yang ada di Singkawang. Nanti saya ceritakan tentang pantai yang satu itu. Pantai apalagi kalau bukan Pantai Pasir Panjang.


Beberapa bulan yang lalu saya sedang jalan-jalan naik mobil dan menjepret keadaan di luar mobil yang memang sedang dilanda hujan. Dengan modal sebuah kamera ponsel terciptalah gambar hujan yang berwarna ungu. Padahal ini tidak ada editing atau filter. Benar-benar seperti ini aslinya. Hujan ungu yang indah dan cukup mendinginkan Pontianak untuk beberapa saat.

Gulai Batang Pisang


Setelah dua postingan mengeluh mendingan sekarang beralih ke postingan soal makanan biar imbang. Sebab mengeluh biasanya memang bikin lapar. Kuliner yang satu ini sering saya jumpai di rumah. Bisa dikatakan ini masakan rumahan. Tetapi masakan rumah yang akan saya temukan di kampung saya. Bukan rumah yang sekarang saya tempati. Sejak kecil gulai santan sayur yang satu ini memang selalu menggoda selera.

Potongan batang pisang yang bagian dalam dan muda memang enak sekali dimasak dengan santan dan berbagai bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, ketumbar, adas manis, jintan putih, kayu manis, kapu laga, kemiri, cabai kering, dan tambahan bumbu lainnya serta penyedap. Ada juga yang menyediakan gulai batang pisang ini dengan pisang muda yang kulit luarnya dikupas dengan cara diiris.

Pisang muda memang sulit dibuang kulitnya. Supaya tidak terlalu bergetah biasanya akan diiris bagian kulit luarnya. Setelah itu dipotong-potong seperti koin. Membulat namun agak tebal sehingga pisang muda tidak hancur saat dimasak. Ada juga yang memasaknya tanpa batang pisang yang masih muda itu. Mana suka, sesuai dengan selera.

Penggunaan santan yang dibuat sendiri di rumah juga membuat masakan ini menjadi istimewa. Kalau sudah terbiasa makan makanan yang dibuat dengan santan segar pasti kurang suka dengan santan kemasan instan meskipun lebih kental. Rasanya itu jauh sekali bedanya. Santan kemasan apa pun mereknya akan sulit mengalahkan kelezatan yang akan diberikan santan segar yang dibuat dari kelapa yang diparut dan diperas.

Nanti saya bagi resep Gulai Batang Pisang di sini ya!
Antrian Kendaraan Pemburu Solar di Pontianak, Ganggu Lalin!

Antrian Kendaraan Pemburu Solar di Pontianak, Ganggu Lalin!


Siapa warga Pontianak, Kalimantan Barat yang tak tahu dengan kondisi kemacetan yang sekarang selalu terjadi di Jalan Imam Bonjol. Lebarnya masih segitu-gitu aja tapi macetnya mengalahkan semua jalan yang ada di Pontianak. Penyebabnya sih sudah beberapa bulan ini banyak kendaraan yang mengantri untuk mendapatkan minyak solar. Maklum beli di kios harganya bisa 9.000/liter.

Ini salah siapa? Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?

Selain hanya bisa menikmati harus salip sana-sini, termasuk menyelip di antara beberapa kendaraan, saya hanya bisa menarik napas panjang melihat kemacetan yang terjadi. Sebenarnya saya sendiri akan sangat menghindari Jalan Imam Bonjol ini untuk pulang ke rumah. Tapi beda cerita memang kalau rumah yang harus saya datangi lokasinya memang di Jalan Imam Bonjol.

Lebar jalannya masih kalah jauh dari Jalan A. Yani Pontianak. Tetapi di sinilah banyak kendaraan yang akan membeli solar mengantri. Panjang sekali. Sampai-sampai saya kira terjadi kecelakaan di depan sehingga banyak kendaraan yang terpaksa berhenti. Tetapi ternyata semua kendaraan yang berjalan lambat kiloan meter itu karena sedang mengantri untuk mendapatkan solar dengan harga normal dari harga kios.


Sampai kapan lalu-lintas akan macet di Jalan Imam Bonjol? Butuh perubahan besar-besaran mengenai antrian solar ini. Apalagi tak jarang sudah mengantri sangat panjang dan menunggu berjam-jam lalu solarnya habis karena dibeli kendaraan yang ada di depan. Kalau sudah seperti ini kasihan kendaraan berikutnya yang tak mendapatkan solar. Hah pusing!
Solar 9.000 Saja di Pontianak

Solar 9.000 Saja di Pontianak


Helooo gaiiisssss... telat banget postingan hari ini ya? Maklum hari ini dari pagi sibuk menyiapkan masa depan dengan seseorang. Nanti saya curhat masalah itu ya! Sekarang mau cerita soal solar. Ah jenis minyak yang satu ini rasanya sudah seperti konspirasi saja. Harganya memang 5.500IDR di SPBU. Sama kok dengan SPBU yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Tapi kalau sudah berkaitan dengan kios tentu akan lain cerita.

Saya iseng bertanya dengan teman-teman yang kebetulan kerjanya melibatkan solar. Ternyata mereka tidak mau membeli di kios karena harganya yang terlampau tinggi. Bukan rahasia lagi sih sebenarnya solar yang dijual di kios bisa selangit harganya karena ada oknum-oknum yang memanfaatkan jabatannya untuk mendapatkan solar dalam jumlah besar lalu menjualnya ke pengecer di kios-kios.

Abah saya sendiri punya usaha menjual BBM. Pernah ditawari untuk memotong antrian dengan bayaran sekian dan mendapatkan BBM di tempat penimbunan. Satu liter oknum ini mencaplok 1.000IDR. Nah bayangkan kalau solar itu juga mendapat tambahan harga 1.000-2.000 dari oknum. Modal pengecer menjadi 6.500-7.500/liternya. Sehingga wajar solar tersebut dijual lagi dengan harga 9.000/liternya.

Apakah solar dengan selisih harga 3.500/liternya itu akan tetap ada pembelinya?

Orang yang kepepet biasanya tak punya pilihan selain singgah ke kios dan membeli solar-solar dengan harga tinggi tersebut. Mau tidak mau. Apalagi kalau mereka mengejar waktu. Belum lagi kemungkinan di tengah antrian di SPBU mereka ternyata tak kebagian solar. Sudah sering terjadi solar di SPBU tiba-tiba habis karena sudah dibeli oleh kendaraan yang berada di depan.


Beli di kios pengecer Pontianak, 9.000IDR/liter saja.

29 September 2013

Air Mancur Bundaran Digulis Untan Pontianak


Beberapa hari ini masyarakat Pontianak pasti sudah menyadari kalau Bundaran Digulis yang berada di Komplek Universitas Tanjungpura (Untan) sudah menari airnya. Iya, bundaran yang sudah lama sekali direnovasi dan ditambah dengan air mancur itu akhirnya sekarang sudah dibuka dan bisa disaksikan setiap orang yang lewat. Saya sendiri menyempatkan diri untuk mengambil gambar dan juga videonya.

Bundaran ini terletak di depan pintu gerbang menuju beberapa kampus di Untan (Universitas Tanjungpura). Universitas negeri terbesar di Kalimantan Barat. Terbesar maksudnya memiliki fakultas terbanyak untuk sebuah universitas negeri dan terluas tanahnya.

Bundaran Untan sebenarnya bulan yang ini, karena ada satu lagi bundaran yang masih berada di komplek yang sama tetapi berada di pertengahan antara pintu gerbang utama yang ada di Jalan Imam Bonjol dan gerbang kedua di Jalan A. Yani. Bundaran Untan yang asli malah kurang terawat dan terlihat kusam dibandingkan Bundaran Digulis yang memang letaknya lebih strategis. Dulunya bundaran ini tak ada bambu kuning di tengahnya, namun kemudian dipugar dan ditambah dengan bambu kuning yang cantik.


Sekarang Bundaran Digulis memberikan pemandangan yang menarik untuk semua pengguna jalan yang melintas di sini. 

Keraton Pontianak di Malam Hari






Sungai Kapuas, sungai yang menjadi kebanggaan di Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai sumber kehidupan bagi banyak orang di Pontianak. Termasuk sebagai jalur transportasi yang sangat penting untuk kelangsungan Kalimantan Barat. Malam hari wisata di Sungai Kapuas menawarkan cafe terapung yang akan membawa pengunjung berkeliling dari Alun-Alun Sungai Kapuas hingga dekat Jembatan Tol 1 lalu kembali lagi ke Alun-Alun Sungai Kapuas. Bayarannya juga murah. Hanya 10.000IDR untuk setiap penumpang.


Tadi malam kebetulan jalan-jalan ke beberapa pelabuhan yang ada di Pontianak dan mengabadikan momen malam hari dari seberang keraton dan ada cafe terapung yang lewat. Gelapnya malam dan air sungai kontras dengan lampu yang ada di keraton dan juga cafe terapung. Cahayanya terpantul ke air dan membuat bayangan yang indah.


Berbekalkan kamera pas-pasan akhirnya berhasil juga mendapatkan gambar yang semoga bisa memperlihatkan sisi indahnya keraton yang bayangannya terpantul ke air Sungai Kapuas.


Indah kan?
Jangan Pulang Sebelum Hamil

Jangan Pulang Sebelum Hamil


Kalau soal 'mahar' ada tagline-nya. Menerima adalah mahar terbaik. Sekarang pindah ke bulan madu. Sebenarnya bulan madu tak pernah terpikirkan akan menjadi bagian di dalam pernikahan saya nantinya. Karena saya sendiri malah ingin menikah secara sederhana di KUA dan membuat acara makan-makan di Panti Asuhan saja bersama anak-anak yatim piatu. Tetapi kemudian semuanya sekarang menjadi berbeda.

Ketika yang melamar adalah laki-laki yang memiliki keluarga teramat besar dan tak ada cerita pernikahan sederhana dan sekadarnya. Bahkan mencari baju pengantin masuk dalam daftar kegiatan yang harus dilakukan berikutnya. Hari ini mengepaskan ukuran pakaian pengantin. Tak terbayangkan ini akan menjadi kegiatan menjelang pernikahan.

Bulan madu sudah dipersiapkan dan tempat yang dipilih adalah Bali, sebenarnya bukan saya yang memilih. Saya sendiri sudah pernah ke Bali dan rasanya Bali tempat yang terlalu mainstream untuk tujuan bulan madu. Saya malah inginnya bulan madu di 5 pulau kecil yang ada di Kalimantan Barat. Berenang di air yang cetek sambil melihat-lihat dasar lautan. Di tempat yang sepi dan jauh dari banyak orang. Tetapi karena malas bertengkar saya mengalah dan mengiyakan pilihan Bali itu.


Sekarang tagline bulan madunya: 'jangan pulang sebelum hamil'. Hahaha.. 
Kurang Produktif Menulis

Kurang Produktif Menulis


Tadi malam ada kopdar bersama banyak penulis Kalbar. Akhirnya bisa berkenalan dengan lebih banyak penulis lokal dan melihat karya mereka. Wih tak tanggung-tanggung ada yang bisa menyelesaikan 6 buku dalam waktu satu tahun. Kalau tidak salah sih ya! CMIIW

Ada ibu-ibu, bapak-bapak, dan tentu saja ada saya juga di sana. Saat melihat mereka rasanya saya sadar betapa kurang produktifnya saya menulis buku. Memang menulis di blog membuat saya lebih suka menunda menulis buku berikutnya. Sebab menulis di blog tak butuh waktu lama dan konsentrasi tinggi. 10-15 menit disisihkan 1-2 artikel sudah jadi dan bisa langsung diterbitkan di blog. Tak panjang perjalanannya. Tetapi tentu saja banyaknya karya mereka, baik yang terbit indie maupun ke penerbit mayor membuat saya iri. Seharusnya saya bisa menulis lebih banyak.

Selama ini saya terlalu banyak main-main dan lupa dengan kesukaan saya menulis fiksi. Sekarang banyak tulisan di blog tulisan non-fiksi. Memang ada manfaatnya untuk Pontianak, Kalimantan Barat. Saya mencatat banyak hal yang tak tertulis oleh orang lain.


Baiklah saya akan lebih semangat lagi supaya lebih produktif menghasilkan lebih banyak buku. :)

Kursus Membatik di Pontianak







Di seberang Radio Volare ada sebuah rumah batik. Selama empat tahun berkeliaran di Jalan M. Sohor, tempat Gedung Volare Network berdiri tak membuat saya tahu tentang tempat ini. Selama ini saya hanya menemukan tempat ini sudah tertutup. Ada banyak batik di dalamnya. Pernah saya pikir ini warung nasi karena memang sekilas mirip dengan warung tempat makan. Tetapi ternyata ini sebuah rumah batik Kalimantan Barat. Tidak hanya menjual kain dengan motif batik khas Kalimantan Barat tetapi juga bisa kursus membatik di sini.



Kemarin pagi, saya memang kebetulan lewat depan tempat ini saat menyeberang untuk membeli amplop di toko ATK yang berjarak beberapa ruko dari tempat ini. Ada dua orang perempuan yang sedang sibuk membatik. Saya tertarik dan mendekati mereka. Mereka sangat ramah dan membuat saya menghabiskan belasan menit di sini. Sambil mengambil foto, mengamati gambar batik, dan mengobrol dengan satu perempuan yang membatik dengan tinta hitam.


Ternyata mereka sedang kursus membatik di sini. Awalnya saya pikir mereka bekerja di sini. Sambil duduk di teras dan melihat gambar yang terus mereka warnai saya melihat bagian dalamnya tanpa melangkah masuk. Saya sendiri memang buru-buru ceritanya. Tapi membatik adalah sesuatu yang menarik buat saya apalagi ini batik Kalimantan Barat. Batik lokal yang belum dikenal banyak orang.


Kalau ada kesempatan saya pikir saya juga bisa belajar membatik di sini. Nantilah ya kalau sudah selesai semua hal yang membuat saya sangat sibuk akhir-akhir ini.
Menerima adalah Mahar Terbaik

Menerima adalah Mahar Terbaik


Membuat tulisan buat undangan membuat saya sendiri harus memikirkan satu kalimat yang indah buat menghiasi sang undangan. Tentunya kalimat yang dibuat sendiri dan tidak mainstream. Saat orang membacanya orang akan menyadari maksud dari kalimat tersebut dan bisa jadi membuat penilaian tersendiri mengenai kalimatnya.

Kalau bicara soal pernikahan rasanya saya punya jutaan kalimat untuk menggambarkannya. Bagaimana tidak? Saya sudah merencanakannya jauh-jauh hari dengan seseorang tetapi pada akhirnya hari yang membahagiakan dua keluarga itu akan berakhir dengan orang lain. Bukan berarti saya kecewa berat. Sebab hidup adalah perjalanan dan semua orang yang datang dan pergi adalah bagian dari pengalaman yang akan mematangkan diri kita. Anggap saja bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan.

Tetapi satu hal yang sangat saya sadari. Bahwa untuk menikah itu mahar terbaik buat seorang perempuan adalah 'keikhlasan untuk menerima'. Iya, menerima. Karena ditolak itu rasanya sangat tidak menyenangkan. Ditolak cinta itu memang menyakitkan. Tapi hanya untuk sebelah hati saja yang dimiliki oleh seseorang. Beda cerita kalau sudah menuju ke arah pernikahan. Penolakan terhadap calon mempelai adalah penolakan untuk keseluruhan keluarga mempelai tersebut.

Saat itu saya sadar bukan emas permata, bukan harta berlimpah, bukan lelaki yang tampan, dan punya semua yang saya inginkan yang bisa menjadi calon suami terbaik bagi saya dan akan menjadi menantu terbaik buat keluarga kami. Melainkan seorang lelaki yang bisa memberikan 'rasa ikhlas menerima' calon istri beserta keluarganya untuk menjadi bagian dari keluarganya juga dalam ikatan pernikahan.

Tak ada lagi rasanya mahar yang lebih baik dari rasa bahagia diterima oleh orang yang kita cintai beserta keluarganya. Pernikahan adalah proses penerimaan yang panjang. Sejak awal harus membuka hati untuk menerima, bukan hanya kekurangan dan kelebihan, melainkan juga menerima apa yang ada dan tak ada di sana, di dalam diri sang calon mempelai.


Jadi mintalah mahar 'ikhlas menerima' dari calon suamimu selain yang biasanya disiapkan oleh orang lain untuk menikahi seorang perempuan. Karena menerima adalah mahar terbaik.

Bakso Telur Asin Pontianak






Di Indonesia pedagang bakso sepertinya tak kehabisan akal untuk membuat bakso yang mereka jual menjadi sesuatu yang menarik. Memiliki nilai lebih dan berbeda dari bakso pada umumnya. Karena bulatan daging biasa sudah terlalu mainstream. Ada yang mengisi baksonya dengan telur puyuh dan jadilah namanya Bakso Telur Puyuh. Kurang besar? Ada yang mengisinya dengan telur ayam rebus yang sangat besar. Lalu ada yang baru saja saya coba. Bakso telur asin.


Bakso ini sebenarnya bukan bakso telur asin namanya melainkan Bakso 31. Letaknya di Jalan Purnama. Buat yang belum pernah datang ke Pontianak atau baru saja menetap di Pontianak tentunya menemukan Jalan Purnama bukanlah hal yang mudah. Tapi siapa sih yang tidak tahu Jalan A. Yani? Dekat museum ada Jalan Sutoyo, nah masuk saja dari jalan tersebut hingga tiba di persimpangan di ujung kanan Jalan Sutoyo. Di sana tertulis Jalan M. Sohor kalau lurus, di persimpangan itu belok kiri saja. Jalan itu yang disebut Jalan Purnama dan lebih banyak menyebutnya sebagai Purnama saja. Sebelum menemukan Bakso 31, kita akan menemukan Warung Seulanga, tempat langganan saya makan Mie Aceh yang ternama itu.


Sudah sampai? Kita bisa memesan varian bakso yang tersedia dengan tambahan bakso telur asin yang dijual 5.000/butirnya. Jadi bakso telur asinnya tidak disediakan dalam satu porsi utuh melainkan hanya menu tambahan untuk pilihan bakso dari menu yang disediakan. Karena penasaran saya mencoba satu buah bakso telur asin. Telur asin dan bakso adalah dua jenis makanan terfavorit saya dari banyak makanan favorit saya di dunia ini. Dapat dibayangkan bagaimana ceritanya dua makanan yang paling saya suka digabung menjadi satu. Enak pula rasanya.

Saya memesan semangkok bakso sapi biasa 11.000IDR dan sebutir bakso telur asin 5.000IDR. Jadi semangkok bakso yang saya makan adalah 16.000IDR sudah termasuk tambahan bakso telur asinnya. Takut baksonya keasinan? Jangan takut karena yang dimasukkan di dalam bakso adalah bagian kuning dari telur asin bebek. Bagian putihnya yang sangat asin itu sudah dipisahkan. Sehingga rasa baksonya menjadi semakin gurih dengan kuning telur asin di dalamnya.


Bakso 31 juga tidak membuat bulatan bakso yang biasa saja. Bulatannya terasa dagingnya. Jadi tidak dominan tepung. Bahkan saat dikunyah maih terasa serat daging yang sudah agak halus karena mesin penggiling. Ini bakso kesekian yang harus saya akui enak, sangat enak. Ada rencana untuk kembali ke sini kalau ingin makan bakso lagi. Selain dekat dari Radio Volare, harga terjangkau, rasa baksonya memang mantap.


Vihara di Pelabuhan Pontianak



Ini bukan pelabuhan Seng Hi yang ternama itu. Saya lupa nama pelabuhannya. Maafkan. Tetapi letaknya memang berdekatan dengan pelabuhan Seng Hi. Tadi malam saya jalan ke sini dan baru tahu ada sebuah vihara besar yang berdiri dengan megahnya di depan pelabuhan ini. Menghadap ke arah Sungai Kapuas. Sayangnya pada siang hari tempat ini akan sangat padat dan bukan hal mudah untuk mengambil gambarnya.



Malam hari barulah bebas menjepret pemandangan di sekitar sini tetapi ya itu, kalau menggunakan kamera ponsel akan terkendala di pencahayaan. Beda cerita kalau saya bawanya kamera profesional yang sudah ada flashnya. Tapi tak mengapa. Sementara bersabar dulu menggunakan kamera dari ponsel. Semoga nantinya bisa datang ke sini siang hari dan bebas memotretnya secara utuh.

Mie Ayam Pancasila Pontianak





Makanan yang satu ini rasanya bisa ditemukan di kota mana pun di Indonesia. Siapa sih yang tidak tahu dengan mie ayam? Potongan ayam yang dimasak dengan kecap, mienya yang dibuat sendiri, dan sayuran yang dicampurkan di dalamnya. Jangan lupakan pula pangsitnya yang renyah. Supaya lebih sedap bisa tambahkan kecap, cabai, dan saos. Penyuka asam bisa menambahkan perasan jeruk sambal di dalam kuahnya.


Kemarin singgah di warung mie ayam yang terletak di Jalan Pancasila atau Jalan Gusti Hamzah. Saat melihat porsi mie ayamnya rasanya saya tak akan bisa menghabiskan mie ayam ini. Setumpuk mie ayam dengan potongan ayam kecapnya sudah menggoda. Tetapi porsinya sangat berbeda dengan porsi mie ayam yang saya makan biasanya di Jalan Teuku Umar. Dalam kepala saya sudah terpikir setengah mangkok mie ini tidak akan habis.

Tetapi saya salah saudara-saudara. Saya bahkan lebih cepat menghabiskan mie ayam dalam mangkok saya dibandingkan teman yang membawa saya ke sini. Padahal dia kelihatan lebih lapar dibandingkan saya. Saya menghabiskannya tanpa sisa. Bahkan kuahnya saya sedap sekali untuk dihirup. Kebetulan saya tak sempat membuat video makan mie ayam yang ini. Karena kami berdua lapar sekali. Hahahaha..

Soal harga jangan khawatir, sangat miring untuk semangkok raksasa mie ayam. Memang sih potongan ayamnya tak banyak dan tanpa jamur tapi buat yang ingin makan mie ayam dengan biaya irit di sini tempatnya. Selain rasanya yang enak, harga teh es-nya juga 2.000IDR saja. Padahal kebanyakan warung makan sudah menjual teh es-nya 3.000IDR satu gelas. Harga mie ayamnya hanya 10.000IDR. Jadi bawa 12.000IDR sudah bisa makan dan minum hingga kenyang.


Letak warungnya di depan sebuah toko fotokopi. Parkirannya lumayan luas sehingga sepeda motor kita tidak akan mengganggu pengguna jalan lainnya. Soalnya letak warungnya dekat dengan simpang empat Podomoro, Pancasila, dan Alianyang.

28 September 2013

Liburan Gratis di Pantai Gosong

foto oleh Elfera

Sesuai dengan yang pernah saya janjikan untuk menunjukkan Pantai Gosong pada teman-teman yang suka dengan pemandangan pantai. Maklum di Kalimantan Barat memang banyak sekali pantai. Bahkan di Jawai selatan hampir setiap desa yang mengarah ke laut punya pantainya tersendiri. Meskipun tetap pantai Jawai yang paling terkenal di sana, ada beberapa pantai yang masih banyak dikunjungi orang. Seperti Pantai Sentebang dan Pantai Dungun.

Pantai Gosong sendiri bukanlah pantai yang ada di Jawai Selatan. Pantai Gosong terletak di Sungai Raya. Sebuah daerah yang terletak di antara Singkawang dan Mempawah. Masih lumayan jauh dari Pontianak. Bahasa penduduk sini pun masih banyak yang menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Sambas dan Singkawang.


Pantai Gosong namanya, tapi pantainya tidak gosong kok. Serupa dengan pantai pada umumnya. Ada bibir pantai yang bisa menjadi tempat pengunjung berjalan sambil menikmati ciuman ombak dan juga matahari yang akan bersinar dengan cerahnya membuat gerah. Pohon-pohon yang berdiri tak jauh dari pantai bisa menjadi tempat berteduh yang nyaman. Buat yang ingin piknik di tepi pantai tapi rasanya Pantai Pasir Panjang terlalu jauh bisa datang ke Pantai Gosong saja. Tak perlu beli tiket untuk masuk. Jadi lebih irit biaya bukan?

Pawai Festival Budaya Bumi Khatulistiwa

foto oleh Arif

Kalau ditanya ada berapa jumlah kabupaten yang ada di Kalimantan Barat dapat dipastikan saya akan tergagap menjawabnya. Tapi kalau diminta menyebutkan beberapa di antaranya tentu bukan hal yang sulit. Ada Kabupaten Sintang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupetan Kubu Raya, dan masih banyak lagi. Satu di antaranya yang mengikuti Festival Budaya Bumi Khatulistiwa adalah dari Kabupaten Kapuas Hulu. Butuh belasan jam dari Pontianak dengan naik bus untuk mendatangi kabupaten ini.

Kabupaten Kapuas Hulu termasuk Sintang, Putussibau, dan Sekadau terkenal dengan kerupuk basahnya. Makanan khas kerupuk basah memang menjadi sesuatu yang sangat istimewa dari sana. Terbuat dari daging ikan dan campuran bumbu dan tepung, belum lagi cocolan sambal kacangnya yang membuat air liur menetes. Ah sudah lama sekali tak menikmati kerupuk basah yang asli dari sana.


Dulu waktu masih kuliah, teman sekelas saya yang dari Putussibau sering membawa oleh-oleh kerupuk basah untuk dimakan bersama-sama di kos.

Denah Tempat Acara Walimahan


Ketika membuat undangan untuk pernikahan dan acara resepsi tentunya dibutuhkan denah tempat acara untuk memudahkan tamu undangan menemukan tempatnya. Beda cerita kalau memang walimahan diadakan di sebuah gedung yang sudah dikenal banyak orang. Dibutuhkan tempat acuan yang lebih sering disebut sebagai landmark. Landmark yang bisa digunakan adalah tempat-tempat publik atau sebuah tempat yang sudah dikenal banyak orang.

Landmark bisa berupa masjid, SPBU, sekolah, atau pintu gerbang universitas yang terletak di jalan yang banyak dilewati orang. Bisa juga hotel atau gedung lainnya yang sudah pasti bisa dicari orang. Bahkan orang yang ditanya pun akan dengan mudah menunjukkan tempat yang dijadikan landmark tersebut. Dengan landmark tempat acara dilangsungkan akan mudah ditemukan.

Nah masalahnya tak semua orang bisa menggambarkan dengan tempat landmark dan jalan menuju tempat acara. Untungnya sekarang ada Google Maps yang akan sangat membantu untuk menggambarkan denah tempat acara berserta landmarknya. Tinggal jepret tampilan Google Maps pada bagian yang dibutuhkan. Usahakan tampilan yang diambil adalah tampilan 'map' sehingga mudah untuk melihat tempat yang bisa kita jadikan landmarknya.


Akan melangsungkan acara pernikahan? Jangan lupa tampilkan denahnya di undangan yang diberikan untuk tamu yang akan dimintai kehadirannya ya!

Tukang Sol Keliling

foto oleh Suparman

Setiap selesai membeli sepatu atau sandal sebelum mengenakannya ada satu orang yang harus saya temui. Tujuannya supaya sepatu atau sandal tersebut lebih tahan lama dan tidak putus di tengah jalan. Menyebalkan sih memang ketika kita sudah 'all out' ternyata tidak didukung oleh alas kaki yang kuat. Untuk menambah 'ketahanan' sebuah alas kaki dibutuhkanlah keterampilan seorang tukang sol.

Dulu kalau mau beli sepatu suka liat dulu sepatunya dijahit atau dilem. Kalau dilem biasanya akan menjadi pilihan kedua atau terakhir. Beda dengan sepatu atau sandal yang melalui proses penjahitan saat pembuatannya. Cuma sekarang sudah banyak sepatu dan sandal yang hanya dibuat semanis mungkin dan untuk menghemat masa produksi cukup dilem saja. Kalau kebetulan menggunakan lem yang cukup kuat makan sandal dan sepatu tersebut akan bertahan lebih lama. Tetapi ada juga memang produsen sepatu yang sepertinya sengaja membuat sepatu dan sandal dengan lem yang kurang tinggi kualitasnya. Selain menghemat biaya produksi tentunya membuat orang akan membeli sepatu dan sandal lagi bukan?

Di Pontianak sendiri masih banyak bertebaran tukang sol sepatu di beberapa titik yang strategis. Dua titik yang sering saya lewati adalah di simpang Kota Baru dan Jalan Parit H. Husin 2. Namun banyak juga tukang sol sepatu yang memberikan jasanya sambil berkeliling melewati rumah demi rumah untuk menemukan pelanggan. Biasanya sih saya lebih suka menjahit sepatu dengan tukang sol keliling. Soalnya mereka akan langsung menyelesaikannya di waktu yang sama dan kita tidak perlu keluar dari rumah sama sekali.

Kadang-kadang saya suka lupa setelah beli sepatu atau sandal tapi tak kunjung dibawa ke tukang sol. Belum setahun sandal atau sepatu tersebut pun segera rusak dan talinya lepas dari solnya. Biasanya karena terkena hujan dan terlalu sering digunakan pula. Menemukan tukang sol sepatu keliling yang lewat depan rumah seperti menemukan malaikat penyelamat. Sebab kita bisa mengeluarkan semua sepatu dan sandal yang belum disol. Beda kalau kita yang keluar rumah untuk mencari tukang sol. Sebab saya suka merasa ribet sendiri membawa terlalu banyak sepatu yang akan dijahit.


Ada tukang sol yang berjalan kaki. Ada pula yang bersepeda. Tak jarang pula tukang sol mengendarai sepeda motor. Di tempatmu ada tukang sol keliling?

Dua Generasi


Kalimantan Barat identik dengan penduduk aslinya yang memang tidak hanya ada di Kalimantan Barat. Sejak dulu memang etnis Dayak menjadi etnis yang ada di tanah Kalimantan. Bahkan sudah hal yang biasa apabila saya keluar dari Kalimantan Barat dan mampir di berbagai kota-kota yang di luar Kalimantan mendapat pertanyaan aneh-aneh. Semacam, apakah masih ada orang yang makan orang di Kalimantan Barat? Atau ada pula yang mengatakan bahwa kami tinggal di rumah-rumah pohon. Padahal peradaban masyarakat Kalimantan Barat sudah maju kok.

Semua orang sudah mengenakan pakaian pada umumnya untuk menutupi tubuh mereka. Tinggal di rumah-rumah normal dan didirikan di atas tanah. Sudah mengenal komp[or gas bahkan mall dan gramedia. Menonton film di bioskop juga bukan hal yang baru buat kami penduduk Kalimantan Barat.

Karena Kalimantan identik dengan suku aslinya, suku Dayak, maka tentu saja Festival Budaya Bumi Khatulistiwa yang diadakan sejak tanggal 26 September kemarin di museum menampilkan kebudayaan masyarakat Dayak pula. Sosok pengisi acaranya mengenakan pakaian adat khas suku mereka. Tapi ini pakaian yang hanya dikenakan pada acara tertentu. Pada hari biasa orang-orang ini juga mengenakan pakaian biasa kok.


Ini dia dua generasi dari suku Dayak yang sekarang sudah modern. Ini pakaian adat mereka. Menarik bukan?

Foto oleh Heni.

Kontibutor Foto


Seperti yang saya ceritakan sebelumnya beberapa foto yang menampilkan Pontianak di blog ini adalah hasil karya teman-teman dari KPK (Kamera Ponsel Klab) yang berhasil mengabadikan sisi lain Kota Pontianak dan menunjukkan keindahannya. Saya sendiri memang tak bisa keliling Pontianak dan mengumpulkan semua foto itu dalam waktu singkat. Tidak hanya foto dari teman-teman KPK yang bisa saya tampilkan di blog ini.

Kalau memang ada teman-teman yang ingin menjadi kontributor foto untuk blog ini silakan hubungi saya via twitter @honeylizious. Tidak ada yang dibayar dan membayar untuk menjadi kontributor foto di blog ini sebab postingan yang ditulis juga bukan postingan yang berbayar.

Setidaknya dengan menjadi kontributor foto di blog ini buat teman-teman yang kurang suka menulis dan tak suka ngeblog tetap bisa memperlihatkan karyanya pada banyak orang. Selain itu juga untuk menunjukkan Kalimantan Barat di mata dunia. Alangkah sayang jika banyak hal yang bisa kita abadikan dengan kamera ponsel hilang begitu saja tanpa sempat kita perlihatkan pada orang lain.


Biar orang lain juga bisa melihat apa yang kita lihat.

Filosofi Cincin Kawin


Setiap kali membicarakan mengenai cincin rata-rata orang yang sudah menikah akan memberikan saran untuk membeli cincin kawin yang ukurannya lebih besar dari jari yang mempelai wanita. Setidaknya satu nomor di atas ukuran jari sang perempuan yang sebenarnya. Tentunya saran ini bukan tanpa alasan. Semuanya punya alasan yang sama.

Perempuan yang sudah menikah jarinya akan membesar setidaknya satu nomor di atas jarinya sebelum menikah. Jadi jangan sampai nanti saat menikah cincin tersebut pas tapi seiring berjalannya waktu mau tidak mau cincin tersebut harus dimuseumkan karena jari sang istri tak bisa lagi dilingkari cincin perkawinan tersebut. Alangkah sayangkan kenangan pernikahan harus disimpan di dalam lemari dan tak dikenakan oleh sang perempuan.

Memang banyak sekali perempuan yang akhirnya harus melepas cincin kawinnya karena saat sudah menikah dan melahirkan ukuran jarinya membesar. Tentunya ini disebabkan oleh berat badan yang naik sehingga ukuran jari pun menjadi berubah. Sayangnya lagi, ukuran jari jarang berubah menjadi kecil. Malah menjadi semakin besar. Meskipun dalam beberapa kasus, ada perempuan yang tak mengalami banyak perubahan pada tubuhnya setelah menikah sehingga ukuran jarinya pun masih relatif sama.

Melihat filosofi ini sebenarnya cukup menggambarkan bagaimana sebenarnya sebuah pernikahan harus dibangun. Tak ada masalah jika kecocokan antara sepasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan ini tidak banyak. Akan ada kelonggaran di sana-sini yang memang harus dihadapi. Bukankah pernikahan memang seperti itu? Mencocokkan sesuatu yang awalnya tidak benar-benar cocok?

Semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu. Jika kita terus terjebak dalam pemikiran bahwa harus menikah dengan orang yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita, yakinkah kita akan menemukan seorang lelaki yang sudah dilahirkan sesuai dengan yang kita inginkan? Bagaimana seandainya kita menemukan dirinya dalam keadaan belum menjadi laki-laki yang kita inginkan atau impikan tetapi 10 tahun kemudian dia akan menjadi Mr. Right yang pernah kita bayangkan?

Beruntunglah orang yang menemukan pasangan hidupnya sudah sangat sesuai dengan bayangan di dalam kepalanya. Tetapi sebenarnya kecocokan yang kita inginkan akan tercapai di dalam pernikahan seiring berjalannya waktu. Jari itu lama-lama akan pas dengan cincin yang awalnya dibeli dalam ukuran yang lebih besar. Dan tanyalah banyak perempuan yang membeli cincin kawin lebih besar dari jemarinya saat hari akad nikah. Apakah cincin itu bisa ia kenakan selamanya atau ternyata tiba-tiba menjadi longgar kembali? Pada kebanyakan cerita, perempuan yang awalnya mengenakan cincin yang kebesaran ini akan mendapati cincin yang pas setelah setahun dua tahun menikah. Begitu juga orang yang kita nikahi. Akan ada sisi-sisi yang awalnya tidak 'pas' dengan diri kita. Tapi lama-lama kita akan saling menyesuaikan di dalam pernikahan.


Selamat menempuh hidup baru buat siapa pun di luar sana yang akan melangsungkan pernikahan.
LINE Error

LINE Error


Saat beberapa orang sibuk bercerita soal game dari LINE saya sendiri malah sibuk memperbaiki error yang terjadi pada akun LINE saya. Ingin menghapus akun lama dan menggantinya dengan yang baru tetapi bingung bagaimana cara menghapusnya? Sebab sudah terlanjur tak bisa dibuka. Dari banyak game LINE yang seru-seru ada beberapa yang belum sempat saya coba.

Sedangkan untuk masuk ke dalam game harus menggunakan akun LINE. Nah kalau akun LINE-nya sedang error dan tak bisa log in tentunya ini akan menjadi kendala terbesar yang membuat game tak bisa dimainkan. Saya kepengen mencoba game LINE yang POKOPANG. Sepertinya seru. Banyak yang main dan membuat saya iri sekali.

Mengapa akun saya bisa error? Penyebabnya tentu saja sudah dapat ditebak. Akun saya terlalu banyak bergabung digrup atau kebanyakan teman. Banyak grup sudah saya hapus dan sepertinya akan menghapus lebih banyak teman yang tak dikenal. Salah saya sih. Tetapi alasannya sangat masuk akal kok. Ingin memenangkan hadiah utama dari LINE yang nilainya sangat besar. Sebuah mobil dari Honda Brio. Ternyata tak saya menangkan. Yang menang orang lain yang tentunya temannya jauh lebih banyak.

Sekarang masih terus mencoba masuk ke akun dan menyelesaikan proses registrasinya sih. Sebenarnya kalau hanya untuk masuk ke aplikasi chatnya, LINE Messenger, tidak menyelesaikan proses registrasi hingga 100% juga tak masalah. Sebab saya sendiri bisa masuk dengan cara masuk ke galeri. Share foto di halaman profil atau share foto ke teman bisa juga ke grup. Dari situ akun Line Messenger sudah bisa terbuka. Tetapi beda dengan game. Semua game LINE harus menyelesaikan registrasi dulu supaya bisa dibuka.


Hingga tulisan ini diterbitkan, akun LINE saya masih error. Bagaimana dengan teman-teman yang lain?

Ala Chef: Pilih Farah atau Priscilya?


Beberapa tahun belakangan memang acara masak menjadi satu di antara acara yang menjadi andalan di televisi yang ada di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia sebenarnya sih, masih banyak televisi luar negeri yang menayangkan acara memasak. Mulai dari acara memasak pada umumnya, pemilihan chef, lomba masak, sampai-sampai ada beberapa saluran televisi yang isinya memang hanya soal masakan.

Dari banyak acara memasak yang sukses di televisi, program Ala Chef yang ada di Trans TV memang menjadi satu di antaranya. Banyak yang memilih menonton acara ini karena ada Farah Quinn. Pertama kali melihat Farah Quinn memang yang paling menonjol adalah betapa sempurnanya dia sebagai seorang perempuan, cantik, pintar masak, dan gaya berbicaranya yang khas. Cara dia menyantap makanan saja membuat makanan tersebut menjadi berkali-kali lipat menyelerakannya. Belum lagi tampilan lengkapnya Farah yang memang seksi. Jangankan laki-laki, perempuan saja bisa terpesona melihat sosoknya.

Lima tahun di Ala Chef, posisi Farah digantikan Priscil. Tentu saja perbedaan keduanya sangat mencolok. Bagaimana tidak? Farah yang awalnya membuat makanan yang tak banyak dibayangkan orang digantikan oleh Priscil yang banyak sekali menampilkan resep makanan yang sederhana. Tetapi apakah lantas Pricil bisa dikatakan tidak pantas menjadi pengisi acara Ala Chef di Trans TV?

Saya bukan fan fanatik Farah dan bukan pula hater Priscil. Menurut saya keduanya tetap saja pantas membawakan Ala Chef. Bukankah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan? Pasti setiap orang memiliki hal tersebut di dalam dirinya. Kalau hanya masalah selera terhadap pembawa acara saya pikir itu kembali lagi ke individu masing-masing. Tetapi hingga sekarang saya sendiri masih senang menonton Ala Chef siapa pun pengisinya. Karena dari Farah saya banyak belajar bagaimana mengolah makanan yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa lalu dari Priscilya saya belajar bagaimana menjadi seseorang yang berani untuk menunjukkan kemampuan memasak makanan yang biasa saja tetapi tetap menjadi sesuatu yang enak. Priscilya membuat saya sadar bahwa untuk menjadi chef bukan berarti kita harus bisa memasak sesuatu yang tak bisa orang lain masak. Bahkan untuk menjadi seorang chef, meskipun pengetahuan kita sama seperti orang lain dalam hal memasak tapi bagaimana kita membuat pengetahuan itu bermanfaat buat orang lain.


Kedua chef ini menginspirasi. Dulunya saya hanya bisa ternganga saat melihat masakan Farah yang memang luar biasa. Sekarang dari Priscilya saya mulai berani mencoba untuk memasak resep-resep yang biasa dan menyajikannya dengan rasa yang luar biasa. Bukankah makanan itu hanya masalah rasa? 

27 September 2013

Pelangi di Sungai Kapuas

Foto oleh Suparman

Suka dengan pelangi? Sudah banyak orang yang memotret pelangi dan mengabadikannya dalam bentuk gambar. Tetapi tetap saja pelangi akan menjadi objek yang sangat menarik untuk dijepret. Begitu juga dengan pelangi yang ada di Kota Pontianak.

Pelangi memang bentuk indah dari sisi lain matahari. Warnanya yang cantik juga membuat banyak orang senang menatapnya lebih lama. Apalagi pelangi tidak akan menyilaukan mata kita seperti matahari yang sebenarnya. Di Pontianak lokasi untuk menjepret pelangi yang paling mudah pastinya di dekat Sungai Kapuas. Tidak banyak yang menghalangi pandangan kita.


Inilah dia pelangi di Bumi Khatulistiwa.

Mendung di Bumi Khatulistiwa

Foto oleh Suparman

Sebutan Pontianak Kota Bersinar memang selalu benar adanya. Namun bukan berarti di sini akan selalu panas dan terang benderang. Sesekali Tuhan akan menurunkan awan-awan yang membentuk gumpalan mendung di langit yang tadinya terang. Langit terlihat akan segera runtuh.

Berenang di Bawah Guyuran Hujan

Foto oleh Suparman

Anak-anak, masa-masa yang sangat menyenangkan buat banyak orang. Belum ada ambisi dalam kepala. Belum terlalu banyak berpikir tentang masa depan. Meskipun punya impian tapi jarang sekali anak-anak yang stress menghadapi masa depannya. Saya juga sangat senang dengan masa anak-anak saya. Di beberapa sisi memang ada bagian diri saya yang ingin cepat besar. Tetapi menjadi anak kecil adalah pengalaman yang tak terlupakan yang rasanya ingin saya ulang kembali tanpa beberapa orang di dalamnya.

Inilah potret anak-anak yang sangat menikmati hidupnya. Tak peduli dengan pencemaran Sungai Kapuas. Bahkan mereka sangat menikmati bisa berenang di sungai di bawah guyuran hujan yang menggila. Ya, hari ini memang hujan turun sedemikian derasnya. Bahkan saat menuliskan ini pun saya masih mengenakan baju yang sedikit basah terkena hujan. Padahal tadinya sudah mengenakan jas hujan.

Beberapa jam sebelumnya matahari bersinar dengan sangat terang. Tetapi tak disangka hujan turun dengan derasnya membasahi Bumi Khatulistiwa. Pontianak memang tak dapat ditebak cuacanya.


Kalau saya dikembalikan lagi ke masa-masa kecil dulu ingin rasanya belajar berenang dan menikmati air yang tergenang di bumi ini. Menari di dalamnya bersama ikan-ikan dan batu karang. Rasanya iri melihat anak-anak ini terjun dengan bebasnya dan penuh suka cita. 
Vihara Siantan

Vihara Siantan


Kebetulan saya tidak tahu namanya. Namun vihara ini tak begitu jauh letaknya dari Masjid Jami At-Taqwa Siantan yang saya tuliskan sebelumnya. Vihara ini luasnya minta ampun. Banyak sekali orang yang senang berkunjung ke sini. Saya sendiri hanya menjepretnya dari luar dan mendapatkan sudut pandang seperti ini.
Masjid Jami At-Taqwa Siantan

Masjid Jami At-Taqwa Siantan

Kalau pernah melewati Siantan satu hal yang paling mengusik selain kemacetannya di daerah pasar tentunya adalah aroma yang memenuhi udara sekitar. Bau karet dari pabrik yang membuat banyak orang akan menutup hidung. Bau kopi yang harum. Bau minyak dan kelapa yang menggoda. Kadang saya suka berpikir bagaimana masyarakat Siantan bertahan dengan bau karet yang menusuk hidung itu.

Selama ini saya melewati Siantan hanya untuk pulang kampung. Jarang sekali saya melewati daerah ini karena daerah jajahan saya biasanya daerah pusat Kota Pontianak saja. Daerah yang terpisah oleh Sungai Kapuas dengan Siantan. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Saya melewati Siantan karena saya ingin menyaksikan sendiri bagaimana fenomena kulminasi berlangsung.

Saat akan melewati sebuah masjid kami berhenti dan saya segera menyiapkan kamera. Sayang apabila masjid ini tidak diabadikan dan dijadikan bahan tulisan bukan? Tak semua orang bisa lewat Siantan, membaui aromanya yang harum makjesss dan melihat masjid ini dari dekat.


Inilah dia Masjid Jami At-Taqwa Siantan.
Bepalam

Bepalam


Istilah bepalam sangat dekat dengan yang namanya pernikahan dan ini merupakan istilah yang ada di daerah Pantai Utara Kalimantan Barat. Di daerah Kabupaten Sambas dan sekitarnya masih menggunakan istilah ini untuk calon pengantin yang tidak boleh keluar rumah selama beberapa hari menjelang hari akad nikah dan resepsi. Bepalam dapat diartikan dipingit.

Selama bepalam, mempelai pria dan wanita akan mendapat perawatan tubuh dari ujung kaki hingga ujung rambut. Termasuk lulur dan spa. Selama dipalam, kedua mempelai juga akan berada di rumah terus. Sebenarnya istilah 'palam' atau 'pelam' alias 'peram' itu berasal dari istilah untuk menyimpan buah yang belum begitu matang. Disimpan di sebuah tempat dan tak boleh diganggu sampai masa pemeraman selesai. Itu untuk memastikan buah yang akan dimakan nantinya benar-benar matang dan manis.

Barangkali demikian juga dengan mempelai yang dipalam. Bertujuan untuk menyiapkan kedua pasangan pengantin supaya benar-benar siapa untuk mengharungi bahtera rumah tangga yang sebenarnya sebagai dua orang dewasa yang akan memimpin dan dipimpin. Tetapi secara logika sebenarnya bepalam juga sangat bermanfaat untuk menghilangkan stress kedua mempelai yang tentunya sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Belum lagi tubuh yang lelah. Selain itu juga berfungsi untuk menjaga aroma tubuh sang mempelai sehingga tidak membuat baju pengantin bau keringat dan selama bersanding tetap terjaga aroma tubuhnya.

Hal ini mengingat baju pengantin biasanya menyewa. Sehingga untuk menjaga hubungan baik dengan pemilik baju pengantin tentunya dengan menjaga apa yang disewa.

Bepalam juga sebenarnya untuk menghindari malapetaka yang bisa saja menimpa kedua mempelai apabila terlalu banyak keluar rumah. Apalagi sudah dekat hari pernikahan. Tentunya dua orang ini adalah orang yang paling penting sejagat raya keselamatannya sebelum benar-benar dinikahkan. Walaupun sebenarnya malapetaka bisa menimpa di mana saja tetapi setidaknya kedua belah pihak keluarga sudah cukup waspada dengan memeram dua mempelai di rumah saja.


Sudah siap bepalam?