10 September 2013

Mengurangi Jatah Ngeblog


Ngeblog 45 menit sehari dari 1 jam target saya berikutnya. Selama ini masih butuh 1-2 jam sehari untuk ngeblog dan blogwalking. Saya pikir sudah saatnya untuk mengurangi jatah ngeblog dan membiarkan waktu di dunia nyata lebih banyak. Harus diakui bahwa kegiatan ngeblog awalnya memang sangat membuat kecanduan. Selalu ada yang ingin dilakukan dengan blog tersebut. Entah itu blogwalking. Ikut kontes. Membaca komentar orang di blog orang lain.

Kalau satu tulisan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit tentu saja 45 menit untuk 9 tulisan bisa tercapai, sudah termasuk posting dan memberi gambar. Dulu saat saya benar-benar kesepian memang blog ini berhasil membuat saya merasa memiliki tempat untuk bercerita lebih banyak. Setelah itu sekarang saya pikir saya harus mengambil kembali kehidupan nyata saya yang sempat terabaikan. Bahkan banyak bagian yang terlupakan.

Blog ini hanya sebagian kecil dari cerita yang harus saya tuliskan. Ada kisah nyata yang harus saya jalani dan akan saya tuliskan di masa depan. Saya hanya bisa bersyukur betapa banyaknya karunia Tuhan yang tak terhingga dalam kehidupan saya. Ketika impian, satu demi satu diwujudkan. Saya merasa sangat diberkahi oleh semua ini. Walaupun pada akhirnya saya sadar bahwa dunia dan segala isinya hanya fana. Tetapi dengan dunia yang fana inilah Tuhan memperlihatkan betapa Dia sangat pemurah dan pengasih.

Dulu berjam-jam di depan PC membuat saya senang. Sekarang saya harus menguranginya lebih banyak lagi. Diet ngeblog saya rasa namanya akan sangat cocok. Meskipun saya terlihat mengupdate blog dalam interval 2-3 jam sekali, sebenarnya itu semua hanyalah tulisan yang sudah saya siapkan setiap hari di 1 jam hidup saya.

Semuanya saya atur sedemikian rupa untuk terbit secara berkala dan membuat blog ini terlihat update terus bahkan sudah diatur pula untuk terbit di twitter dan facebook. Kadang-kadang teman saya yang sedang bersama saya akan heran melihat blog saya terus update padahal saya sendiri sedang makan bersamanya. Kadang malahan sedang tidur siang karena habis minum obat demam.


Tapi begitulah cara saya menyelesaikan semua tantangan yang saya buat sendiri di blog ini. Doakan saya benar-benar bisa mengurangi jatah waktu ngeblog saya setiap hari ya? 45 menit saja untuk 9 tulisan.

Inilah Rahasia Terbesar Cara Saya Ngeblog


Banyak yang bertanya bagaimana caranya sebuah blog personal seperti honeylizious.com tidak kehabisan bahan untuk dituliskan. Bahkan bukan satu postingan dalam satu hari. Melainkan sembilan postingan sehari dalam bulan September. Apa yang saya lakukan untuk membuat blog ini bisa genap menghasilkan tulisan sebanyak itu dalam satu hari.

Sebenarnya itu bukan rahasia yang hebat, itu hanyalah rahasia yang menurut saya bisa dilakukan banyak orang. Ngeblog adalah sebuah proses panjang yang harus dijalani setiap hari. Hingga berjalan tahun berganti tahun. Lalu bagaimana tentang rahasia terbesar cara saya ngeblog? Sebelum saya menulis setiap hari biasanya saya sudah mengunggah foto ke instagram sebagai bahan untuk jaga-jaga jika saya kehabisan bahan untuk menulis.


Iya instagram. Saya akan mengunggah makanan dan tempat yang saya kunjungi setiap harinya. Bahkan makan siang kecil berdua yang saya lakukan juga tak luput dari jepretan kamera ponsel saya. Malam sebelum tidur saya akan mengunggah banyak sekali gambar di akun instagram saya untuk bahan tulisan besok. Sehingga ketika besoknya saya butuh bahan untuk postingan saya sudah memilikinya di akun instagram tersebut.

Jadi jangan heran jika tengah malam saya sering mengunggah beberapa gambar ke akun instagram honeylizious. Semuanya hanya persiapan untuk ngeblog esok harinya. Kalau saya punya inspirasi yang berbeda saya akan menyimpan gambar tersebut untuk cadangan tulisan berikutnya.


Ini rahasia terbesar cara saya ngeblog, bagaimana denganmu? Apa rahasiamu?

Perlukah Mengubah Template Blog


Dua hari ini jendela gonla yang tiba-tiba eror dan terus muncul di halaman depan membuat saya frustasi. Saya ingin menghapus widget tersebut tetapi entah mengapa kotak widgetnya tidak bisa dibuka sama sekali. Setiap klik ‘edit’ tetap saya tak muncul jendela baru untuk menghapus widget tersebut sehingga mau tidak mau saya berkali-kali mengganti template hingga akhirnya template bawaan blogger berhasil membuat saya menemukan widget yang bermasalah tersebut dan menghapusnya. Sekarang sudah tidak muncul lagi jendela gonla yang mengganggu tersebut.

Sekitar 30 menit berkutat dengan template saya mulai berpikir perlukah saya mengubah template blog ini. Dominan pink dan sudah ada gambar perempuan di sudut headernya untuk menunjukkan bahwa pemilik blog ini perempuan. Bukan laki-laki dan berharap tak ada lagi seorang pun yang meninggalkan komentar dan menyapa saya ‘bapak’ atau ‘mas’.
Beberapa template sudah saya unduh dan instal sebentar. Tapi kemudian ukuran kotak postingannya terlalu sempit bagi saya. Gambarnya jadi terpotong saat dibuka postingannya. Jadinya saya masih bertahan dengan template yang ini. Menurut teman-teman sendiri bagaimana? Apakah template ini sudah tidak sesuai untuk digunakan atau lebih baik menggunakan template ini untuk seterusnya?


Silakan tinggalkan komentar dan berikan contoh template yang lebih cocok untuk blog ini. Terima kasih.

Review Kuliner: Gulai Terong


Buah terong ada yang putih dan ada yang ungu. Cara memasaknya juga bermacam-macam. Ada yang menggulainya, ada yang menggorengnya, ada yang membakarnya. Bergantung pada selera masing-masing. Namun jika kita ke rumah makan melayu yang ada di Pontianak kita akan menemukan terong yang dibuat menjadi gulai. Gulai terong yang berbumbu dan bersantan.

Terong termasuk satu di antara banyak sayur favorit saya. Selalu suka dengan terong, baik putih maupun ungu. Mau dibakar, digoreng, atau digulai saya selalu suka. Saya sendiri dulu sering memasak terong dengan digoreng. Menggorengnya dengan balutan telur yang sudah dikocok dan dibumbui. Terongnya di potong-potong dan dimasukkan dalam telur kocok baru digoreng.

Resep gulai terong belum bisa saya hadirkan di blog ini karena saya memang belum pernah memasak terong dengan cara digulai. Selain digoreng saya juga suka memasak terong dengan membakarnya. Sebab bagi saya yang penting terongnya menjadi lembek saja sudah enak. Untuk terong yanng dibakar biasanya saya akan membuat sambal terasi untuk menambah selera makan.

Gulai terong ini saya beli di sebuah rumah makan melayu di Jalan Dr. Wahidin Pontianak dengan harga yang sangat terjangkau yaitu 1.000IDR perpotong. Kuahnya gratis. Biasanya saya akan membeli 3 potong terong dengan semangkuk kuah untuk makan siang. Saya bisa makan terong setiap hari dan tidak pernah bosan memakannya.


Bagaimana denganmu? Suka terong juga?

Review Kuliner: Donat Mini


Selama ini saya selalu berusaha untuk tidak terlalu banyak makan makanan yang mengandung gula. Apalagi kalau judulnya donat. Ada sebuah tempat yang menjual donat yang rasanya adalah tempat yang menyediakan donat termanis yang pernah saya makan. Sehingga saya jarang sekali makan donat di sana. Kadang saya lebih memilih donat yang tak terlalu banyak topingnya.

Beberapa hari yang lalu saya singgah ke sana bersama seorang teman dan menemukan varian donat mini. Satu kotaknya 45.000IDR apa 46.000IDR gitu deh saya tak seberapa ingat. CMIIW. Ada 20 potong donat mini dengan toping yang menggoda. Kalau tidak mengingat saya harus menjaga kadar gula darah saya yang dulunya sempat tinggi saya rasa saya sudah melahap banyak sekali donat mini tersebut.

Namun pada akhirnya saya hanya membeli sekotak donat asin yang bisa dikatakan mirip dengan burger. Ada yang isinya sosis, daging, ayam, telur, dan keju. Satu kotak isi 6. Lima donat asin berbonus 1 donat manis.


Setelah memotret makanan yang tak bisa saya makan tersebut kami pulang dengan sekotak donat yang bisa saya lahap. Coba tebak ini toko donat yang mana?

Review Kuliner: Gulai Keladi


Tahu keladi? Keladi bahasa Indonesianya talas. Nah ini adalah talas yang dibikin gulai. Di Pontianak banyak rumah makan melayu yang menyediakan gulai keladi. Apalagi di Pontianak memang keladi adalah tanaman yang sangat mudah ditemukan. Serupa dengan aloevera yang banyak sekali tumbuh dengan subur di perkebunan. Kalau keladi merah banyak digunakan untuk membuat stik keladi dan menjadi makanan khas Pontianak maka keladi yang lain banyak digunakan untuk menjadi sayur di rumah makan.

Kalau ditanya apakah saya suka dengan sayur keladi? Sebenarnya saya tak ada masalah dengan sayur yang satu ini kecuali bumbunya yang kurang saya suka. Daun kunyit. Kadang ada orang yang suka memasukkan daun kunyit dalam jumlah banyak dan membuat saya yang tidak suka dengan daun kunyit menjadi enggan memakan gulai keladi tersebut. Daun kunyit hanya bisa saya makan di dalam bubur paddas. Itu pun bubur paddasnya tidak hanya terdiri dari daun kunyit melainkan banyak lagi jenis sayuran lainnya yang membuat rasa daun kunyitnya tidak terlalu tajam.

Gulai keladi terenak buat saya hanya ada di rumah Uwan. Uwan setiap memasak gulai keladi tak pernah menggunakan daun kunyit yang terlalu banyak sehingga rasa gulainya lebih dominan keladi dibandingkan rasa daun kunyitnya. Kalau resep gulai keladi sendiri saya belum bisa memaparkannya di blog ini sebab saya belum pernah memasaknya.


Nanti kalau saya benar-benar memasaknya saya akan menuliskan resepnya di sini. Tunggu saya ya!

Ini Makan Siang


Beberapa hari yang lalu seperti biasa saya makan di rumah teman dan sebelumnya kami singgah ke sebuah rumah makan melayu yang menyediakan berbagai lauk-pauk dan sayur-mayur. Saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa makan seadanya. Satu macam lauk dan satu macam sayur sudah lebih dari cukup. Kalau pun ada tambahan yang saya inginkan biasanya sambal terasi. Namun karena teman saya bukanlah penyuka makanan pedas jadinya sambal tidak masuk dalam daftar makan siang kami.

Makan siang adalah jadwal makan yang tak ingin saya lewatkan. Dari banyaknya jadwal makan rasanya jadwal makan siang adalah saat di mana perut saya sedang lapar-laparnya dan tak bisa menunggu untuk tidak diisi. Beda dengna sarapan atau makan malam yang bisa saya lewatkan begitu saja. Bahkan kadang saya hanya makan siang sedikit terlambat sekitar pukul 3 sore, maka makan malam jarang saya lakukan.

Tapi sekarang yang rutin saya tinggalkan adalah sarapan. Sebab saya sedang mengikuti OCD (Obsesive Corbuzier Diet). Walaupun sebenarnya saya tak merasa sedang diet. Sebab saya sendiri kalau pun sarapan itu jamnya sudah jauh dari pagi. Karena saya sendiri lebih suka menyelesaikan tulisan lebih dulu dan mandi baru sarapan. Sarapannya di luar rumah soalnya.


Kembali lagi ke topik makan siang. Menu makan siang seperti ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya mensyukuri semua anugerah yang saya dapatkan pada hari itu.

One Blog A Day


Blogwalking sebenarnya kegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi jika kita punya banyak waktu luang untuk melakukannya. Selain menambah teman dengan blogwalking kita juga bisa mendapatkan informasi baru. Banyak sekali blog yang ada di dunia maya ini. Tak bisa dihitung satu persatu. Tentunya butuh waktu yang sangat panjang untuk mampir ke tiap blog. Apalagi jika kita sudah mengikuti banyak blog. Di dashboard akan muncul banyak pembaharuan dari blog yang sudah kita ikuti.

Tapi sekarang saya absen dari blogwalking. Banyak blog yang dulu saya ikuti mau tak mau sekarang harus saya lupakan sejenak karena saya juga butuh waktu untuk menyelesaikan tantangan di blog sendiri. Sekarang saya pikir saya butuh blogwalking untuk penyegaran. Tetapi tak bisa banyak blog lagi seperti dulu. Karena saya lebih banyak diet online dibandingkan saat pertama ngeblog dulu.


Saya punya target untuk mampir ke satu blog setiap harinya. Satu blog saja dalam satu hari. Membaca tulisannya pelan-pelan. Cukup satu postingan saja. Saya sudah mampirkah ke blog kamu? Kalau belum dan menurut kamu saya harus mampir ke sana silakan tinggalkan alamatnya di kotak komentar di bawah ini.

Melihat Matahari Terbit dari Atas Kelenteng di Gunung Gajah Pemangkat


Inilah gambar kelenteng yang dulunya sering saya singgahi saat masih duduk di bangku SMA. Di Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat. Kelenteng ini tidak begitu besar, tapi tidak pula terlalu kecil. Saya sering lari pagi saat liburan bersama teman saya yang rumahnya dekat dengan rumah kos saya dulu.

Jarak rumah kos ke tempat ini tak begitu jauh dan kami bisa berlari di jalanan yang bukan jalan utama.

Kelenteng yang saya maksud saya lingkari dengan tanda merah di sekelilingnya. Tempat yang akan membuat kita terpesona dengan matahari terbit. Saying dulu saya belum punya kamera untuk mengabadikan matahari terbit dari kelenteng ini. Bentuknya sangat bulat dan mirip dengan kuning telur asin yang sudah direbus.


Kapan-kapan saya harus menyempatkan untuk singgah ke sini dan menjepret matahari terbitnya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design