9 September 2013

Butuh Kamera yang Lebih Bagus


Banyak tempat yang saya kunjungi dan makanan yang saya rasakan. Tapi tak semuanya bisa saya hadirkan lebih jelas di blog ini. Pasti teman-teman menyadari kualitas foto di blog ini dengan blog travel lainnya dan blog makanan lainnya sangat berbeda. Sayang sekali banyak hal yang saya hadirkan hanya dalam gambar seadanya.

Kemampuan memotret juga masih seadanya tambah dengan kamera yang kurang mumpuni di tempat yang cahayanya kurang. Postingan ini mungkin akan sedikit mengeluh dan juga bersyukur. Mengeluh karena keindahan tempat yang saya datangi rasanya belum benar-benar bisa diabadikan dalam foto.

Bagian bersyukurnya, untung sudah menggunakan kamera yang lebih baik dari yang sebelumnya. Selama ini memang belum pernah dapat hadiah kamera dari lomba. Kebanyakan ponsel harga 1jutaan yang akhirnya saya jual semua dan beli ponsel baru dengan kamera yang resolusinya lebih tinggi. Makanya saat menjepret sesuatu butuh waktu dan banyak mengulangnya. Supaya mendapatkan gambar yang benar-benar terang dan lumayan.


Siapa yang sudah ikutan lomba Nekad Traveler? Hadiahnya lumayan tuh, ada kamera galaxy dari Samsung. Dapat hadiah ketiga juga sudah lumayan banget buat mendukung kegiatan ngeblog soal traveling dan kulinernya. Hahaha… maunya…

Review Kuliner: Putu Kacang Hijau


Makanan yang satu ini sangat mudha ditemukan saat lebaran tiba. Biasanya banyak warga Kabupaten Sambas yang menyediakan kue putu kacang hijau ini di dalam toples dan diletakkan di atas meja untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi rumah mereka. Tetapi banyak pula yang memilih untuk tidak membuatnya karena untuk membuat putu kacang  hijau ini bukan perkara yang mudah. Apalagi buat saya sendiri. Hahahaha…

Putu kacang hijau ini dibuat dari kacang hijau yang dihaluskan hingga menjadi tepung lalu dicampur dengan tepung gula. Tak sampai disitu. Proses mencetaknya butuh kesabaran sebab harus ditekan-tekan sehingga tepung gula dan kacang hijau tersebut menyatu dan terbentu sempurna. Kalau tidak kuat menekannya bisa-bisa putunya akan kembali menjadi tepung. Bagian itu yang sulit. Setelah putu dicetak harus dibakar lagi dalam oven agar benar-benar mengeras.

Saya tidak tahu apakah sudah ada orang yang menemukan cara membuatnya menjadi lebih mudah meskipun tetap manual. Satu hal yang jelas saya ingat, di rumah tidak pernah tersedia kue lebaran ini. Nenek lebih suka membuat kue lapis dibandingkan membuat putu seperti ini. Memang membuat kue basah jauh lebih mudah buat nenek. Jadi kalau saya menemukan kue putu kacang hijau ini di rumah orang lain, tak terkira senangnya hati saya dan langsung mencomot satu persatu putu tersebut dari toplesnya.


Bagaimana dengan lebaran di tempatmu?

Review Kuliner: Lapis Belacan


Tahu belacan? Belacan adalah terasi dalam bahasa Sambas. Tetapi apakah kue lapis ini dibuat dengan campuran terasi tersebut yang terbuat dari udang rebon? Tentu saja tidak. Namanya lapis belacan (terasi) karena warna lapis ini yang gelap seperti belacan. Sehingga banyak yang menyebutnya sebagai lapis belacan. Padahal sebenarnya warna gelap tersebut dating dari campuran bubuk cokelat yang digunakan sebagai pewarna dan penambah rasa.

Rasanya manis dan enak. Lembut dan telur-telur yang digunakan didalam lapis ini rasanya sulit digambarkan dengna kata-kata kelezatannya. Lapis belacan banyak disediakan oleh warga Kabupaten Sambas saat lebaran tiba. Berbeda dengan di kabupaten lain yang barangkali menyediakan kue-kue lapis dalam bentuk potongan-potongan kecil di atas meja. Di Sambas sendiri masyarakat kebanyakan menyediakan satu loyang penuh berikut potongan kue lapisnya. Sehingga kita bisa melihat ukuran kue lapis tersebut yang sebenarnya.

Kalau diminta untuk memilih saya lebih suka kue lapis yang disediakan dalam bentuk potongan saja atau selengkap mungkin tentu saya akan lebih suka dengan penyajian yang ada di Sambas sebab kue utuh lebih menyelerakan dibandingkan potongan kecil saja.

Lapis Belacan merupakan lapis yang cukup istimewa di Sambas. Sehingga lebih sering ditemukan di hari besar seperti lebaran. Sudah pernah makan lapis ini?

Hampir Singgah ke Pantai Gosong


Sepanjang perjalanan pulang dari Singkawang menuju Pontianak sebenarnya saya lebih banyak tidur. Bahkan mengorok sepanjang jalan, memang sangat melelahkan perjalanan kemarin. Apalagi saya dan Cecilia (Cece) dua-duanya cewek dalam perjalanan liburan kemarin yang diisi lima orang, tidur di mobil saat di Pantai Pasir Panjang. Soalnya semua penginapan sudah penuh.

Banyaknya pengunjung hari itu karena selain akhir pecan, hari Sabtu dan Minggu ada balapan sepeda motor yang tidak saya tonton. Sebab saya tak tahan dengan kebisingan suara sepeda motor pembalap tersebut. Saya menghabiskan waktu di pondok pinggir pantai bersama dua teman saya. Sedangkan Cece dan Freddy menonton balapan.

Saya sendiri bertemu dengan Matt, travel blogger dari Canada yang sudah berkali-kali datang ke Indonesia. Saya tersanjung dia bilang bahasa Inggris saya sangat baik. Wih! Padahal masih broken English. Syukurlah saya bisa berkomunikaisi dengan baik dengannya.

Kami pulang pukul 2 siang. Masih awal sebenarnya. Jadi saya menyarankan untuk singgah di Pantai Gosong di Sungai Raya. Tetapi batal karena saya terlalu mengantuk dan cuaca terlampau panas. Teman-teman yang lain juga tidur sepanjang perjalanan kecuali yang sedang menyetir.


Hamper mampir sih ke Pantai Gosong. Pengen berbagi pemandangan pantai tersebut ke teman-teman yang suka dengan pantai tapi sepertinya harus ditunda sampai saya bisa benar-benar mampir ke sana.

Review Kuliner: Sate Kambing


Siapa yang suka dengan sate kambing? Atau setidaknya daging kambing? Banyak orang yang tidak suka dengan daging kambing karena alasannya baunya lebih menyengat dibandingkan daging lainnya. Saya sendiri dulunya juga sedikit keberatan jika nenek memilih untuk memasak daging kambing di rumah.

Tapi semakin banyak tempat yang saya datangi saya akhirnya sadar bahwa daging kambing itu sangat enak bila yang memasaknya bisa membuat baunya yang menyengat itu menghilang. Kemarin sebelum pulang ke Pontianak saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk singgah di rumah makan yang menyediakan aneka masakan dari daging kambing. Saya sendiri suka sate dan gulai kambing.

Khusus satenya saya tidak suka sate kambing yang menggunakan kuah kacang. Sate kambing yang paling enak menurut saya yang menggunakan kecap manis. Sehingga saya bisa menikmati rasa daging kambingnya. Saya lupa nama tempat makan yang kami singgahi kemarin. Saya hanya menyempatkan untuk mengambil gambar satenya yang sangat enak.

Sepuluh tusuk sate dihargai 35.000IDR. Berbeda dengan sate kambing yang biasa saya temui di Pontianak, di Singkawang ini dagingnya lebih besar dan lebih banyak dalam tiap tusuknya. Saya menghabiskan sepiring nasi dengan cepat dan merasa sangat puas dengan makan siang kemarin. Benar-benar enak, apalagi saya juga membasahi nasi saya dengan kuah gulai kambing yang saya ambil dari mangkuk seorang teman.


Hahaha.. kalau ke Singkawang cari saja rumah makan yang menyediakan daging kambing sebagai menu utamanya.

Review Kuliner: Paket Nasi Ikan Nila Goreng di Bakso Cecep


Wihi, mari ngomongin makanan. Siapa yang tidak suka mencicipi makanan yang belum pernah dicicipi sebelumnya dan enak pula. Kalau kita pergi ke tempat-tempat baru, selain melihat tempat wisatanya biasanya kita juga senang sekali mengelilingi tempat-tempat yang menyajikan beragam kuliner yang barangkali belum pernah kita nikmati sebelumnya.

Bakso Cecep, letaknya tak begitu jauh dari Radio Volare. Di Jalan M. Sohor atau lebih banyak yang menyebutnya Jalan Sumatera. Kurang dari 5 menit dengan sepeda motor kita sudah tiba di Bakso Cecep dari Radio Volare. Sekilas terlihat ini seperti warung bakso pada umumnya kecuali di sini juga tersedia beragam makanan yang sama sekali bukan bakso. Paket-paket hemat nasi yang lengkap dengan lauk, sayur, dan sambal bahkan sup disediakan juga.

Paket hematnya benar-benar hemat. Sebab di sini paket nasi ikan nila goreng yang sudah termasuk lalap, sambal, dan sup jagung yang kuah kaldunya sangat sedap. Kita cukup menambahkan segelas minuman sesuai selera supaya paket ini menjadi lebih lengkap. Kalau ingin lebih hemat lagi, pesan air putih dingin atau hangat karena biasanya gratis atau paling mahal dihargai 1.000IDR. Sedangkan nasi paket lengkapnya hanya 18.000IDR.

Menu sehat dan lengkap seperti ini termasuk murah kan? Ikannya seekor pula. Gurih dan segar. Crispy di luar dan lembut di dalam. Hati-hati saat menikmatinya karena ikannya benar-benar baru digoreng dan bisa membuat tangan kita kepanasan.


Selamat menikmati.

I Eat, Travel, and Love














Kegiatan yang paling menyenangkan memang traveling dan makan setelah itu menuliskannya di blog. Rasanya membagi sesuatu yang jarang dilihat oleh orang lain atau tak semua orang mau membaginya ke dunia yang lebih luas menimbulkan sensasi yang luar biasa. Sejak pertama rasanya sayang sekali tempat-tempat yang saya lihat di Kalimantan Barat tidak dibagikan ke dunia maya oleh orang yang berada di sana. Sebab tak semua orang tahu tentang Kalimantan Barat.

Bahkan banyak yang salah menganggap bahwa Kalimantan Barat itu ibukotanya Banjarmasin. Tak banyak pula yang tahu Kalimantan Barat itu sangat dekat dengan Kuching Malaysia sehingga untuk datang ke sana tak butuh ongkos yang besar. Makanan khas Kalimantan Barat juga banyak sekali yang unik-unik.


Seperti sotong pangkong, bubur paddas, dan masih banyak lagi yang sering saya bagikan di blog ini. Bisa dilihat di kuliner yang sering saya bagikan. Saya sangat menyukai makanan yang ada di sini termasuk mendatangi tempat-tempat wisatanya. Baik yang sudah dibangun dan diperhatikan pemerintah ataupun yang dibiarkan begitu saja. Apalagi pantai-pantai yang ada di Kecamatan Jawai yang ada di setiap desa. Buat yang suka dengan pantai tentunya akan sangat senang datang ke kecamatan kecil ini karena pantainya banyak sekali.

 


Saya jalan-jalan, makan, dan berbagi cinta untuk semua orang. Bagaimana denganmu?

Pulau Penibung


Kemarin ternyata perjalanan pulang dari Singkawang ke Pontianak terhenti di tempat Wisata Nusantara. Cuaca panas sekali kemarin, sebenarnya saya berniat untuk memilih duduk-duduk di bawah tempat yang redup. Tapi untungnya saya berjalan ke jembatan yang mengarahkan pemandangan ke Pulau Penibung yang terlihat jelas dari jembatan tersebut dan merasakan dinginnya angin yagn bertiup ke arah kami.

Padahal dulunya Pulau Penibung tidak terpisah dari daratan yang saya singgahi. Namun semenjak air laut naik dan menenggelamkan jalan yang menghubungkan tempat Wisata Nusantara tersebut ke Pulau Penibung. Sehingga untuk mendatangi Pulau Penibung harus menggunakan kendaraan air.

Saya belum pernah datang ke Pulau Penibung tersebut karena memang tak ada orang yang secara khusus membuka usaha wisata ke pulau tersebut. Padahal saya yakin pasti banyak yang tertarik untuk berjalan-jalan di Pulau Penibung dan ini bias jadi pilihan wisata lokal yang tidak membutuhkan biaya besar untuk mendatanginya.

Sayang sih. Tapi ya begitulah keadaannya. Bukan hanya Pulau Penibung yang bias menjadi tempat wisata di Kalimantan Barat. Ada lagi Pulau Randayan, Pulau Lemukutan, dan pulau lainnya yang belum saya ketahui yang akan menarik sekali untuk didatangi dan bisa menjadi lokasi diving yang tak kalah dengan banyak tempat wisata lainnya yang ada di Indonesia.


Semoga saja ke depannya pulau-pulau yang ada di Kalimantan Barat lebih mudah untuk didatangi oleh traveler yang tertarik untuk mengeksplore tempat tersebut dan menghabiskan waktu liburannya.

Tentang Sandal Hotel



Siapa yang tidak pernah membawa pulang sandal hotel? Barangkali banyak di antara kita yang senang membawanya pulang bukan karena kita tak punya uang untuk membeli sandal. Tapi karena sandal hotel kadang bias menjadi penunjuk bahwa kita pernah menginap di hotel tersebut atau sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu ada di antara kita yang hobi mengoleksi sandal hotel.

Sandal hotel tidak dibuat dari bahan yang berkualitas. Bahkan cenderung tipis dan selalu kebesaran untuk dikenakan banyak orang. Apalagi untuk saya yang terbiasa mengenakan sandal dengna ukuran 37-38. Jumbo size sandal hotel tentunya sangat kedodoran.

Sandal hotel yang saya bawa pulang sebenarnya bias dihitung denga jari. Saya suka mengambil sandal hotel tersebut karena sandal hotel sangat nyaman dikenakan saat mandi. Memang desainnya sesuai untuk dikenakan di kamar mandi sepertinya. Sayangnya banyak sandal hotel warnanya putih. Itu yang cukup mengganggu dan membuat saya tidak tertarik untuk membawanya pulang. Kalau putih gampang kotor dan tidak enak dilihat.




Untungnya saat saya ke Kota Sambas, Kalimantan Barat dua bulan yang lalu, saya menemukan sandal hotel yang warnanya hitam. Tentu saja saya bawa pulang buat sandal kamar mandi. :3
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design