4 September 2013

Menemukan Seribu Kelenteng di Singkawang


Siapa yang tak tahu Singkawang? Selain Pontianak, banyak orang yang tahu ada tempat yang disebut Singkawang di Kalimantan Barat. Memang saya harus mengacungi jempol untuk pemerintah Kota Singkawang yang berhasil memajukan wisata di Singkawang. Banyak turis yang datang dan menikmati keindahan yang ditawarkan oleh Singkawang.


Satu di antaranya, kelenteng. Jarak beberapa meter kamu akan menemukan kelenteng dan kelenteng lagi di Singkawang. Saya sendiri sangat suka melihat kelenteng-kelenteng yang ada di Singkawang ini. Beragam seni mereka perlihatkan melalui kelenteng. Tiap kelenteng punya keindahannya masing-masing. Karena banyaknya jumlah kelenteng yang ada di Singkawang, jangan-jangan dulu ada lomba membangun kelenteng di sini, banyak orang yang menyebut Singkawang sebagai Kota Seribu Kelenteng.

Kelenteng sebenarnya tidak disebut kelenteng melainkan Thai Pe Kong. Berasal dari 'Thai Phak Koong' (bahasa Tionghoa dialek Hakka). Didominasi dengan warna merah dan dua penjaga seperti singa yang ada di depan pintu masuk. Ada kelenteng yang besar ada pula yang kecil. Bahkan ada yang dibangun di atas bukit.


Jadi buat yang ke Singkawang jangan berharap bertemu Amoy (cewek Tionghoa) melulu. Temukan dong seribu kelentengnya!

Kacang Mia alias Kacang Bendi



Perbedaan bahasa kadang menjadi kendala bagi saya untuk menjelaskan makanan atau sayuran bahkan buah-buahan yang ada di Jawai, Kalimantan Barat. Kalau sudah seperti itu hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu apa padanan nama benda yang ingin saya jelaskan tersebut. Setidaknya mencari gambar barangnya jika memang saya tak menemukan padanan bahasa yang tepat.






Seperti Kacang Mia ini, tadinya saya tak tahu nama sebenarnya adalah Kacang Bendi. Setidaknya itu yang diketahui oleh mesin pencari. Saya mengetik di google dengan kata kunci 'kacang mia' tak banyak gambar yang benar yang keluar tapi ada gambar yang memang sesuai dengan yang saya cari. Saat saya buka di website tempat gambar tersebut diunggah akhirnya saya tahu bahwa di sana kacang mia disebut kacang bendi.



Mau tidak mau saya harus mengganti kata kuncinya dengan kacang bendi. Tralalala... semua gambar kacang mia terhampar di depan monitor saya. Betapa menyenangkan saat menemukan apa yang saya cari tanpa menemukan kesulitan yang berarti. Gambar kacang mia ini ditemukan dengan kata kunci 'kacang bendi'.

Dulu, nenek saya sering memasak kacang mia untuk santapan kami sekeluarga. Dimasak dengan bumbu cabai dan kuah. Rasanya memang sedikit berlendir tapi saya sendiri sangat suka dengan sayuran yang satu ini. Karena ada bagian dalamnya yang berisi kacang-kacang kecil. Setiap kali saya makan kacang mia di Pontianak, ini selalu mengingatkan saya dengan kampung dan juga dapur nenek. Beberapa hal yang sangat saya rindukan.



Di tempatmu, kacang mia disebut apa?

Extra Keringnya, Ekstra Semangatnya!



Perempuan mana yang tak membutuhkan pembalut? Saya yakin semua perempuan dewasa sudah mengenal benda ajaib yang satu ini. Pembalut yang ada sekarang ini memang sangat memudahkan perempuan untuk beraktivitas. Termasuk perempuan yang traveling. Khusus untuk teman-teman perempuan yang hobi traveling tentunya memerlukan pembalut yang punya nilai ekstra. Terutama saat penggunaan malam hari.

Traveling biasanya kita tak membawa banyak pakaian, baik bawahan atau atasan. Kalau kita tak bisa memilih pembalut dengan baik, bisa-bisa kita akan direpotkan mencari tempat untuk mencuci bawahan yang kita kenakan, termasuk dalaman karena darah menstruasi tidak tertampung pada pembalut. Belum lagi untuk membersihkan pembalut yang sudah digunakan. Kadang-kadang kita kesulitan membersihkan darah yang ada di pembalut hingga tuntas.




Tapi tenang, sekarang sudah ada Charm Extra Dry. Ada dua varian pembalut siang dan pembalut malam. Jadi buat teman-teman yang saat tidur suka bergerak ke mana-mana jangan takut pembalutnya tidak cukup panjang untuk menampung darah haid kita. Selain panjangnya 29cm yang akan mengamankan hingga belakang, Charm Extra Dry untuk malam hari juga bebas lembab, jadi kita tidak akan terbangun karena merasa 'basah' pada bagian kewanitaan kita. Sudah ada sayapnya pula.

Biasanya saya suka menggunakan Charm Extra Dry untuk malam hari pada dua hari pertama yang memang merupakan hari-hari darah menstruasi kita sedang banyak-banyaknya. Tak ada lagi deh rasa cemas akan bocor atau lembab kalau sudah menggunakan Charm Extra Dry. Saat traveling kita juga tak perlu sibuk mencari tempat untuk mengganti pembalut dengan yang baru dan tempat untuk membersihkan termasuk membuang pembalut yang sudah digunakan, karena Charm Extra Dry memberikan perlindungan extra untuk kita yang selalu beraktivitas di luar. Traveling jadi lebih aman deh. Walaupun sedang datang bulan.


Mau tahu manfaat utama lapisan Extra Dry?

Kalau selama ini kita harus merasakan lembabnya hari-hari datang bulan pada bagian kewanitaan kita, sekarang tak perlu lagi deh. Sebab lapisan Extra Dry mencegah darah menempel di permukaan kulit kita. Cairan yang keluar langsung diserap dengan cepat dan tidak tertinggal di permukaan pembalut. Hebat kan? Kalau pembalutnya kering, otomatis bisa mencegah terjadinya iritasi yang kadang suka muncul disebabkan oleh bagian permukaan pembalut yang bergesekan dengan kulit. Permukaan pembalutnya juga bergelombang, jadi area yang menempel pada kulit lebih sedikit. Selain itu permukaannya yang bergelombang memberikan ruang untuk sirkulasi udara sehingga menjadikannya bebas lembab.

Tak ada lagi deh hari-hari yang repot dan tak nyaman sejak pakai Charm Extra Dry. Mau traveling juga tak perlu hitung-hitungan kapan datang bulan dan mengurungkan niat jalan-jalan gara-gara tanggal datang bulan tabrakan dengan rencana traveling. Mau traveling cukup bawa saja Charm Extra Dry, bingung mau bawa yang malam atau siang? Bawa aja keduanya. Kita tak mau nantinya travelingnya jadi tak menyenangkan hanya gara-gara datang bulan kan?

Tetap beraktivitas dengan semangat meskipun sedang banyak-banyaknya dengan Charm Extra Dry. Ekstra keringnya, ekstra semangatnya!




Ikan Lumek


Ikan yang satu ini termasuk ikan yang sangat murah. Saya ingat betul waktu harga beras masih berkisar 5.000IDR, ikan lumek hanya dihargai 2.000IDR/kg. Sangat murah bukan? Memang ikan ini tak banyak peminatnya. Apalagi dengan kondisi ikan yang lembek dan sulit untuk dimasak seperti ikan lain.





Sulitnya itu ikannya sangat lembek dan apabila digoreng tanpa tepung akan membuat ikan ini mudah hancur dan menempel di penggorengan. Belum lagi bau amis yang menyengat dari ikan ini. Tak banyak orang yang tahan menciumnya. Tapi kalau sudah suka dengan ikan ini dapat dipastikan akan mencarinya untuk dimasak. Saya sendiri termasuk penggemar ikan lumek ini.

Selama beberapa tahun di Pontianak saya hanya pernah menemukan ikan lumek satu kali di pasar ikan. Berbeda dengan di Jawai. Hampir setiap hari ada saja orang yang menjajakan ikan ini langsung ke rumah orang-orang yang sering membeli ikan ini. Bagi saya sendiri ikan ini sangat enak. Apalagi tulangnya yang lembut membuat ikannya mudah sekali untuk dimakan.


Saya paling suka ikan lumek yang dimasak sup. Memasaknya juga sangat mudah dan tak butuh waktu lama. Sebab ikan lumek akan menjadi hancur apabila dibiarkan terlalu lama di dalam air mendidih. Saat air sup sudah mendidih dan bumbu semuanya sudah dimasukkan, barulah ikan lumek yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong dan dimasukkan.

Ketika airnya mendidih tak perlu dibiarkan lama, cukup 2-3 menit. Ikannya sudah matang dan langsung siap untuk dinikmati. Ikan lumek ini ada pula yang menyebutnya ikan lomek. Di Jawai sendiri dieja dengan 'lummek'. Lumek artinya lembut atau lembek, seperti tak bertenaga. Karena memang ikannya yang lembut dan tulangnya yang lembek membuat namanya paling cocok disebut seperti itu.

Sayangnya ikan murah ini tak dimanfaatkan warga Jawai untuk membuat cemilan yang bisa dipasarkan hingga ke seluruh Indonesia. Padahal keberadaannya yang mudah ditemukan di Jawai dan harganya yang murah membuat ikan ini gampang sekali untuk diolah menjadi makanan khas. Entah itu dalam bentuk keripik atau peyek. Setidaknya butuh tangan-tangan kreatif untuk membuat ikan lumek ini menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Sekarang perkiraan saya ikan lumek harganya 5.000/kg.



Memang sih kadar air di ikan ini lumayan tinggi sehingga beberapa kilogram ikan ini tak begitu banyak sebenarnya ketika selesai dimasak. Kamu tahu ikan ini?

8 Hal yang Akan Kamu Temukan di Jawai

Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sebuah kecamatan yang harus didatangi dengan kendaraan air. Motor air yang akan membelah lautan dari Pemangkat dan menyusuri sungai yang akhirnya mengantarkan kita pada sebuah pelabuhan dan kita pun akan tiba di Jawai. Sekarang saya merangkum 5 hal yang akan kamu temukan di Jawai. Kalau kamu sendiri pernah datang ke sini, jangan takut untuk meninggalkan komentar dan menyebutkan hal-hal yang belum saya sebutkan yang bisa kamu temukan di Jawai.
  1. Desa dan pantai
    Setiap desa yang ada di Jawai punya pantainya masing-masing. Meskipun tak semua pantai itu terkenal dan banyak pengunjungnya seperti Pantai Jawai. Tapi di sini kita dengan mudahnya menemukan pantai di desa yang kita datangi.
  2. Bahasa mirip bahasa Betawi
    Bahasa melayu Sambas itu ada beberapa bagian yang mirip dengan bahasa Betawi. Seperti penggunaan 'e' taling pada bagian akhir beberapa kata seperti 'ape' (apa) 'ke mane' (ke mana) dan masih banyak lagi yang lainnya.
  3. Makanan laut
    Karena daerah Jawai adalah daerah pantai utara, makanan laut adalah hal yang lumrah ditemukan di sini. Udang, kepiting, dan cumi-cumi akan banyak sekali di pasar ikan dengan harga yang relatif terjangkau bahkan pada beberapa jenis ikan, sangat murah.
  4. Mengenakan helm = aneh
    Saya sendiri saat berkendara sudah terbiasa menggunakan helm. Tapi penduduk di Jawai sudah terbiasa tidak mengenakannya sehingga saat saya memakai helm itu menjadi hal yang sangat aneh. Mereka akan komentar bahwa tak ada razia kok hari itu. Padahal mengenakan helm bukanlah untuk menghindari razia melainkan menjaga keselamatan kita sendiri.
  5. Ben (music band)
    Hiburan di kampung, Kecamatan Jawai adalah 'ben'. Ben sendiri mirip dengan band musik yang memiliki peralatan musik dan penyanyi. Tapi memang penyanyinya adalah penyanyi dangdut. Kebanyakan perempuan yang mengenakan pakaian seksi. Penyanyinya tidak hanya satu orang tapi beberapa. Semua lagu dinyanyikan secara live, bukan lipsync.
  6. Tanjidor
    Pesta pernikahan di Jawai, biasanya ada hiburan berupa tanjidor. Lengkap peralatan musiknya yang akan memainkan lagu-lagu yang sedang ngetrend dan tentu saja dangdut.
  7. Pesta pernikahan di Jawai biasanya juga ada acara makan besaprah. Makan dalam satu lingkaran terdiri dari beberapa orang. Biasanya 6.
  8. Tarup
    Bangunan sementara yang dibuat orang pada saat pesta pernikahan adalah tarup. Ini untuk menampung tamu undangan pada pesta pernikahan yang akan makan bersama.


Itu dia 8 hal yang akan kamu temukan di Jawai versi Honeylizious.

Mengapa Tak Banyak yang Menulis Tentang Jawai?


Itu pertanyaan yang muncul dari bibir teman saya yang lahir di Jawai, sebagai anak pantai utara dia memang sering merasa kangen dengan tanah kelahirannya. Apalagi sejak keluarganya memutuskan untuk menetap di Jakarta. Gemerlap ibukota ternyata tak membuatnya lupa dengan tempat ia mengenyam sekolah dasar pertama kalinya.

Sebentar memang. Tak begitu lama dia merasakan sekolah dasar di Jawai, dia sudah terbang ke Jakarta dan menetap di sana. Bahkan kami tak sempat saling mengenal sebelumnya. Hingga setelah sekian tahun dia selalu merayakan lebaran di Jakarta dia rindu dengan Jawai. Dia pulang bersama keluarganya dan mampir beberapa hari di Jawai. Kembali ke tanah kelahirannya.

Saya sendiri juga sering merasa rindu dengan Jawai, meskipun jarak dari Pontianak ke Jawai sekitar 200an kilometer, bukan berarti saya selalu pulang ke sana. Memang menyenangkan berada di kota besar, usaha lancar, apa pun yang kita butuhkan sebagai masyarakat modern ada di sini. Namun ada beberapa hal yang hanya akan kita temukan di desa. Di tanah kelahiran kita sendiri.

Itu pula yang selalu membuat saya rindu dengan yang namanya pulang kampung saat lebaran.

Ketika lebaran tahun kemarin saya bertemu dengan teman saya ini, kami berkenalan pada saat lebaran dan saling bercerita tentang kesibukan masing-masing. Dia mengatakan pada saya betapa inginnya dia membaca tentang Jawai selama berada di Jakarta. Memang dia hanya mengenal Jawai saat kecil tapi tetap saja dia ingin tahu dan menghilangkan rindunya lewat tulisan-tulisan yang ada di media online.

Sayangnya tak banyak orang yang mau menulis tentang Jawai. Karena di Jawai sendiri internet, selain di warnet sepertinya cukup lelet dan membuat orang merasa bahwa dunia online bukanlah sesuatu yang bisa dijangkau dengan mudah. Paling orang lebih suka beraktivitas di facebook dan twitter. Apalagi saya ingat betul ucapan seorang teman sekolah dasar saya yang mengatakan apa gunakanya ngeblog, tidak menghasilkan uang. Demikian katanya.

Padahal tak setiap hal di dunia ini dilakukan hanya untuk mengejar uang. Banyak hal yang dilakukan tanpa dapat uang pun sudah cukup menyenangkan. Jika semua orang yang pernah ke Jawai dan lahir ke Jawai berpikir tentang uang dulu baru menuliskan tentang Jawai, saya rasa Jawai akan selamanya menjadi tempat yang tak akan terpublikasikan ke media.


Sehingga hari ini, saya akan menulis lebih banyak lagi tentang Jawai. Bagaimana denganmu? Apakah kamu tahu Jawai, sebuah kecamatan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat ini?

Video: Mie Aceh Warung Seulanga, Jl. Purnama Pontianak

Video: Mie Ayam Pinky Ubi Bit, Jl. Teuku Umar Pontianak


Bioskop dan Kopdar Mozillians


Sedikit melenceng dari topik yang seharusnya saya tulis. Tapi anggap saja ini tulisan tentang traveling ke bioskop. Beberapa hari yang lalu, tepatnya malam Sabtu saya mendapatkan tiket gratis dari Telkomsel untuk menonton R.I.P.D. Sebenarnya tiket tersebut milik adik sepupu saya yang batal datang ke bioskop. Entah apa alasannya.

Hari itu hujan melanda Kota Pontianak dan saya harus menunggu hujan agak reda untuk ke menghadiri pertemuan dengan teman-teman dari Mozillians. Namun perjalanan saya terhenti di pintu masuk sebab penjaga pintu tidak mengizinkan saya lewat. Saya lupa, sepeda motor saya tidak ada platnya dan saya tidak pernah masuk mall dengan Scoopy-Doo tersebut.

Biasanya saya datang dengan sepeda polygon hadiah dari Liga Blogger Indonesia beberapa bulan lalu. Sebab jarak dari Radio Volare ke A. Yani Mega Mall sangat dekat. Rasanya saya hanya butuh 5 menit dengan sepeda motor dan sekitar 10-12 menit apabila menggunakan sepeda biasa. Mengapa hari itu saya memutuskan untuk menggunakan sepeda motor? Hari itu hujan dan saya tidak berani menggunakan sepeda di bawah rintik hujan. Bisa-bisa saya basah kuyup saat tiba di J.co yang menjadi tempat pertemuan kami para Mozillians.

Gagal masuk bukan berarti saya harus pulang sebab di luar mall ada tempat parkir untuk pelanggan Vigor. Jadilah saya menitipkan sepeda motor saya di sana dan berjalan kaki masuk ke lapangan parkir menuju J.Co. Jangan tanya jaraknya karena saya berjalan lumayan jauh di bawah hujan rintik. Cara saya ini berhasil membuat saya tidak perlu pulang dan menyimpan sepeda motor di rumah lalu datang lagi dengan sepeda.

Saat pulang beberapa jam kemudian saya meminta Bang Yudi mengantar saya ke tempat saya menyimpan sepeda motor. Tapi sebenarnya saya tak langsung pulang, karena saya ingin singgah ke Food Court Vigor. Tempat teman saya bekerja sebagai koki. Untungnya saya tidak langsung pulang karena adik sepupu saya meminta saya menikmati tiket gratis nonton tersebut yang dia beri tahu 15 menit sebelum film dimulai. Untungnya filmnya cukup bagus dan membuat saya sangat terpana dengan detail gambar yang dihadirkan. Kalau tidak saya harus menjewer sepupu saya yang membuat saya kalang-kabut mencari teman nonton 15 sebelum film diputar. Pergi dalam keadaan belum mandi pula. Bahkan teman yang saya ajak tersebut juga belum mandi. Untungnya dia belum pulang dari tempat kerjanya yang memang juga dekat dengan mall sehingga kami berdua sempat mengejar jam tayang film tersebut dan bisa duduk sebelum film dimulai.


Walaupun pada akhirnya kami berdua tak sempat membeli minuman atau makanan.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design