18 Agustus 2013

Rambutan

I love 'Rambutan', I bought these yesterday. Only 2.000IDR.

Penibung Island

Never been therw before. Today also. Just took a picture from Sei Duri, West Borneo. But I want to go there, I must. Wanna join me?

Kerupuk Jengkol (Jengkol Chips)

This is Kerupuk Jengkol.

Semangat Jualan


Berdagang Oleh-Oleh Pontianak yang isinya makanan khas dari Pontianak Kalimantan Barat memang tak ada matinya. Tak salah memang saya akhirnya menekuni bisnis ini. Semakin banyak pelanggan yang memesan dagangannya langsung pada saya. Tetapi saat selesai liburan saya flu berat dan sakit kepala yang benar-benar membuat saya menderita.




Untungnya saya bisa menghubungi penjaga toko Oleh-Oleh Pontianak dan Makanan Khas Kalimantan Barat tersebut dan meminta mereka menyiapkan orderan yang harus saya kirim. Jadi saya tinggal mengantarnya ke ekpedisi langganan. Masalah ekspedisi langganan nanti saya ceritakan lebih lanjut sebab saya sekarang lebih banyak menggunakan jasa mereka untuk mengirim barang.


Saat saya sampai di ekspedisi tersebut pegawainya langsung menyambut saya dan ingin melepaskan kotak yang saya bonceng dengan Scoopy-Doo. Tetapi saya malah memintanya untuk menjepret saya yang masih berada di atas sepeda motor. Hanya ingin menunjukkan, demam-demam pun saya masih semangat jualan. Penyemangat saya tentu saja kedua orang tua yang akan saya tanggung hidupnya saat mereka semakin menua nanti. Sekarang saatnya saya menabung dan menyiapkan masa depan mereka.

Tragedi Bujang Nadi dan Dare Nandong


Bujang Nadi seorang pangeran dari Kerajaan Sambas sudah lama meninggal dunia. Demikian pula sang puteri, Dare Nandong. Mereka berdua bersaudara. Bujang Nadi abangnya dan Dare Nandong adiknya. Ayah mereka Raja Tanunggal. Akhirnya saya berkesempatan untuk mengambil gambar gerbang makam mereka. Sedangkan makamnya yang berada di atas bukit tak berani saya datangi karena saya sendirian. Makamnya sepi dan sedikit menyeramkan.

Dulu waktu kami mendatanginya beramai-ramai kami disambut oleh suara kokok ayam jantan sepanjang kami menatapi tangga menuju makam tersebut yang lebih mirip dengan sumur. Memang awalnya mereka itu dimasukkan ke sumur hingga akhirnya meregang nyawa. Saat sampai di atas kokok ayam jantan itu berhenti tiba-tiba. Percaya atau tidak, kami berempat memang mendengar kokok ayam tersebut dan sama sekali tak berani menyinggung bunyi yang kami dengar.






Sebab ayam jantan melambangkan Bujang Nadi yang dimasukkan ke dalam sumur bersama sebutir telur. Kabar dari mulut ke mulut mengatakan bahwa jika kita mendengar bunyi kokok ayam jantan, itu menandakan Bujang Nadi masih hidup. Sedangkan sang puteri, Dare Nandong dimasukkan ke dalam sumur yang sama dengan sebuah alat tenun. Sehingga saat kita mendengar bunyi alat tenun yang sedang digunakan itu menandakan bahwa sang puteri masih lagi bernyawa.

Tak ada yang tahu kapan tepatnya mereka meninggal dunia setelah dimasukkan ke dalam sumur yang dalam tersebut oleh sang ayah, Raja Tanunggal. Semua tragedi ini terjadi hanya karena salah paham sang ayah yang percaya pada omongan perdana menteri yang mengatakan bahwa kedua anaknya saling mencintai dan cinta yang mereka bangun adalah cinta yang terlarang karena mereka berdua saudara sekandung. Padahal perdana menteri itu hanya ingin menghancurkan Raja Tanunggal termasuk keturunannya.

Raja Tanunggal memang dikenal sebagai raja yang lalim dan kejam. Hingga fitnah terhadap kedua anaknya pun dibuat oleh perdana menteri. Awalnya perdana menteri hanya tak sengaja mendengar obrolan dua bersaudara yang tak dibolehkan keluar dari istana. Mereka dilarang bergaul dengan orang lain, sehingga Bujang Nadi hanya berteman dengan adik perempuannya, Dare Nandong. Waktu itu Dare Nandong menanyakan kepada saudara laki-lakinya.

“Bang, pun abang kalak nak bebini, bini macam apelah yang abang maokkan?” (Bang, jika nanti abang beristri, istri seperti apa yang abang inginkan?)

“Tantunye macam adek abanglah canteknya.” (Tentunya yang seperti adiklah yang abang inginkan cantiknya)

Lalu Bujang Nadi membalikkan pertanyaan adiknya.

“Pun adek, kalak belaki, laki macam ape yang adek maokkan?” (Kalau adik, nanti bersuami, suami seperti apa yang adik inginkan?)

“Yang macam abanglah bang.” (Yang seperti abang dong bang)

Kira-kira demikianlah maksud dari percakapan mereka. Maklum cerita ini dilisankan dari orang tua ke anak-anaknya. Saya mendengarnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Perdana menteri yang mendengarkan obrolan dua bersaudara tersebut lantas menuduh mereka berpacaran dan ingin menikah. Disampaikannya pada Raja Tanunggal. Raja yang malu langsung murka. Tanpa usul periksa, dia meminta rakyatnya menyiapkan sumur di sebuah bukit untuk menguburkan kedua anaknya. Hidup-hidup.

Anaknya memohon agar ayahnya mendengarkan penjelasan mereka. Tapi amarah Tanunggal sudah di ubun-ubun. Dia tak peduli. Dia mengambil keputusan tersebut dan tak mau menarik kembali. Dua anaknya yang tak bersalah tersebut pun dimasukkan ke dalam sumur dengan perbekalannya masing-masing, dua bersaudara dalam sumur yang sama. Mati di lubang yang sama.



Awalnya dulu sumurnya belum ditimbun, masih menganga dan benar-benar seperti sumur. Sekarang sudah tertutup tanah. Hanya tersisa tali yang mengarah ke atas yang mengikat lantai yang digunakan untuk menurunkan dua anak tak berdosa tersebut ke bawah sumur. Tali tersebut terikat ke kayu yang melintang di atas tiang sumur. Hingga sekarang, sumur itu masih ada dan disebut sebagai “Keramat Bujang Nadi Dare Nandong”. Tragedi dua saudara yang mati karena kemurkaan ayahnya dan fitnah keji sang perdana menteri.

Selly: Desa Tangga Emas, Kabupaten Sambas


Usianya 10 tahun. Pertama kali saya mengenalnya itu 5 tahun lalu, saat dia bahkan belum sekolah. Sejak dulu dia memang sudah dilahirkan sebagai anak yang sangat manis. Pintar berenang dan mengayuh sampan. Tinggal di Desa Tangga Emas memang mengharuskan dirinya untuk menjadi seorang pengayuh yang handal. Sebab dia harus menyeberangi sungai untuk tiba di sekolah. Sedangkan untuk menggunakan jembatan jarak yang harus ditempuh terlalu jauh. Sedangkan dengan menyeberangi sungai Selly hanya membutuhkan 10-15 menit untuk sampai di sekolahnya.


Dari tempat dia menambatkan perahu dia hanya membutuhkan 5 menit jalan kaki untuk tiba di sekolahnya. Jarak yang tidak begitu jauh bukan? Tapi tentu saja menyeberangi sungai bukan tanpa risiko. Kadang, Selly harus mengayuh saat sungai dalam keadaan air pasang dan arus yang deras. Hal tersebut membuat dirinya harus bisa berenang seperti anak-anak lain sehingga dia tidak perlu takut tenggelam apabila perahu kecilnya karam.

Perahu yang Selly gunakan memang kecil untuk memudahkan ia mengayuhnya. Apabila perahu yang digunakan terlalu besar itu akan menyulitkan tangan kecilnya menggerakkan perahu atau sampan. Tangga Emas, sebuah desa yang masih termasuk kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Semua penduduk punya perahu pribadi masing-masing di desa ini. Karena jalan raya ada di seberang, di Desa Perigi Maram.

Perigi Maram, 5 tahun lalu adalah desa yang saya datangi dengan 5 teman kuliah saya di FKIP Universitas Tanjungpura untuk menjalankan amanat dari kampus dan memberantas buta aksara. Padahal desa ini tak jauh dari Kota Sambas. Tapi masih banyak orang yang putus sekolah, tak hanya putus saat SMA atau SMP, banyak yang tak selesai sekolah dasar. Sehingga mereka tidak bisa membaca.

Perempuannya banyak yang menikah di usia muda. Beberapa perempuan kecil yang saya kenal dulunya juga sekarang sudah beberapa yang memiliki anak. Dalam waktu 5 tahun begitu banyak hal yang terjadi. Selly, saya harap setidaknya bisa menyelesaikan sekolahnya di SMA. Sekarang dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Anak semanis itu. Akankah dia mengenal lelaki secepat anak-anak lain yang masih SMP? Lalu memutuskan tak melanjutkan sekolahnya ke SMA? Lalu menikah di usia yang masih sangat muda?


Pesan saya hanya 1 sebelum saya pulang. Selesaikan sekolahnya sampai SMA. Jika memang ingin kuliah di Pontianak dan bingung cara mendaftarnya, saya pikir saya siap membantunya. Tapi jangan kandaskan sekolah di usia yang terlalu belia. Masih banyak hal yang ingin saya perlihatkan padanya di dunia. Dunia ini masih luas. Jangan hanya berhenti di Desa Tangga Emas, Selly.

Demam Parah: Ke Pantai Pasir Panjang dan Batu Payung


Dari banyak demam yang pernah saya alami sebelumnya, sepertinya ini demam terparah yang pernah saya rasakan. Bagaimana tidak, sudah hampir seminggu saya belum sembuh juga. Apalagi saat dihari kedua demam saya malah mendatangi Singkawang dan bermain di Pantai Pasir Panjang dan Pantai Batu Payung.

Walaupun saya harus tetap mengatakan bahwa itu liburan yang menyenangkan tapi saya tidak akan mengulangi untuk liburan dalam keadaan tidak fit seperti ini.





















Selain kepala saya pusing berat saat tiba di Pontianak. Saya juga flu dan bersin-bersin. Bagaimana tidak, teman yang menyetir mobil merokok sepanjang jalan. Padahal saya sangat alergi dengan asap rokok. Tapi tidak enak untuk menegur teman yang nyetir ini. Soalnya dia sejak awal mengatakan harus merokok supaya tidak mengantuk selama menyetir. Maklumlah dia membawa kami malam hari dan menginap di Singkawang. Paginya baru bermain di pinggiran pantai. Banyak sih orang yang menginap bahkan membawa tenda bersama keluarganya. Tapi memang butuh tubuh yang sehat untuk liburan yang seperti ini.

Seumur hidup saya juga belum pernah masuk ke Batu Payung sehingga rasanya sayang melewatkan kesempatan untuk mampir. Kami belum mandi pagi itu dan segera masuk ke lokasi Batu Payung. Pertama kalinya dalam kehidupan saya melihat tumpukan batu yang menyerupai pulau dengan beberapa pohon yang mirip dengan payung di sana. Pantas saja disebut sebagai Batu Payung. Sayangnya untuk menjejakkan kaki di Batu Payungnya butuh kendaraan air. Sehingga saya hanya bisa memperhatikan Batu Payungnya dari jauh.


Sebenarnya saya juga ingin masuk ke Teluk Mak Jantu untuk mengambil gambar pulau terkecil di dunia. Pulau Simping. Letaknya memang di Singkawang. Dibandingkan Pasir Panjang, pemandangan di Pulau Simping jauh lebih indah. Karena kami sudah kelelahan, mau tak mau harus segera pulang. Apalagi kami semua tak ada yang mandi. Semoga ada kesempatan untuk traveling dengan Scoopy-Doo dan mendatangi Pulau Simping itu sendiri. Mau ikut dengan saya?

Rindu Bahasa Indonesia


Sudah ratusan postingan saya tulis dalam bahasa Inggris yang masih banyak kacaunya. Tapi itu tak menghentikan saya untuk menulis. Karena saya memang sangat menyukai kegiatan yang satu ini. Rasanya selalu ada yang kurang jika saya tak menulis satu postingan saja. Meskipun pendek. Kecuali sedang sakit parah. Mau tidak mau saya lebih memilih bantal daripada ponsel.

Menulis dalam bahasa Inggris setiap hari membuat saya kangen menulis dalam bahasa Indonesia. Soalnya memang satu-satunya blog yang saya isi hanya blog ini. Jadinya tak ada hari menulis dalam bahasa Indonesia kecuali di twitter atau facebook. Karena kangen dengan bahasa Indonesia saya memilih hari ini untuk menulis sebanyak mungkin postingan dalam bahasa Indonesia.

Maklum banyak postingan yang belum lunas. Sudah janji akan menghadirkan 8 postingan setiap hari selama bulan Agustus. Malah tertunda karena sibuk liburan di tempat yang jaringan internetnya hanya GPRS. Mau menulis panjang-panjang susah mengunggahnya. Apalagi jika menghadirkan tulisan yang ada gambarnya. Ada sih beberapa yang berhasil. Tapi banyak juga gambar yang tidak masuk ke blog.


Tentu saja ini tidak membuat saya depresi karena kehidupan di dunia offline sangat mengagumkan. Saya memang mencintai dunia blogging. Namun ini hanya catatan kecil yang ingin saya tinggalkan untuk orang-orang tersayang dalam kehidupan saya.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design