11 Desember 2013

Janji (3)


Kemudian penantian itu seperti tiada ujungnya. Kamu berkicau di twitter. Mengupdate status di facebook tapi tak sekalipun mencoba untuk mengatakan sesuatu yang istimewa padaku. Apakah lelaki sepertimu memang sedemikian sulit untuk menunjukkan perasaannya atau memang rasa itu tak pernah ada.

Cinta itu perlahan aku remas. Tapi kadang aku rapikan kembali. Berharap memang ada balasannya. Aku membacanya malam itu dan aku tahu. Di setiap aliran darahmu itu menderu karena keberadaanku. Aku yang sama sekali tak memahami jalanan di kota yang mempertemukan kita saja memberanikan diri untuk menunggumu.

Malam itu kita bercerita panjang lebar sebelum akhirnya kita pulang membawa kenangan yang tak akan pernah kita lupakan. Termasuk janji untuk bertemu kembali. Kamu mengantarku sampai atas malam itu. Memelukku untuk yang terakhir kalinya. Bahkan itu pelukan pertama kita.

Jangan buat muka macam tu, kite pasti berjumpe lagi.”


Aku tak akan pernah lupa kata-katamu malam itu. Hari ini pahit rasanya hanya bisa menunggu. Aku malu harus menghubungi terus lebih dulu. Aku takut seperti mengubermu. Sementara kamu punya kesibukan sendiri yang harus dikerjakan. Kamu seorang reporter dan itu bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan sambil menjawab chat perempuan yang berharap kamu membalas pesannya dengan jawaban penuh cinta.

@honeylizious

Followers