9 Desember 2013

Bunuh (2)


TIDAKKKK!”

Tubuh Rhea terguncang hebat. Keringatnya membasahi pakaian yang dia kenakan. Aku bisa melihat keringat itu keluar dari pori-pori di keningnya yang putih. Bulu-bulu halus di wajahnya juga banjir oleh keringat. Aku mendekap kepalanya di dadaku. Perlahan dia membuka matanya. Mata kami saling menatap dalam terang.

Aku bermimpi buruk lagi.”

Dia terisak. Aku menyeringai. Aku sudah menebak itu. Dia selalu mengalami mimpi buruk. Sedang aku menikmati ketakutan yang dia keluarkan setiap kali mimpi-mimpi itu muncul di dalam tidurnya. Aku sendiri tak pernah memimpikan hari naas itu. Aku mencoba mengingatnya dan memasukkannya ke dalam mimpi. Walaupun aku mengingatnya dengan sangat jelas. Tetap saja tak ada yang bisa aku mimpikan.

Gelap akan melindungimu.”

Aku takut.”

Tenang.”

Aku bergerak mendekati dinding lalu mematikan semua lampu di dalam kamar. Dalam kegelapan aku tetap tak kesulitan menemukan Rhea yang terbungkus selimut dengan tubuh bergetar. Getarannya masih sama seperti saat teriakan-teriakan bunuh itu terdengar. Gelap seperti ini menyenangkan.

Aku takut.”

Tenanglah. Ada aku di sini.”

Mereka akan datang membunuh kita Claudia.”

Tidak akan, mereka tak berani Rhea.”

Kegelapan menakutkan.”

Nikmatilah Rhea.”

Percayalah, kegelapan ini yang melindungi kita.”

Aku tidur dengan sangat nyenyak di dalam kegelapan ini hingga matahari yang terang membangunkanku. Dia menjamahku dengan cahaya yang menelusup lewat tirai jendela yang tertiup angin. Ah seharusnya jendela jangan ke arah timur. Selesai sudah bercintaku dengan semua kegelapan tadi malam. Aku tak menemukan Rhe di sampingku. Perlahan aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

Kakiku yang baru saja menginjak lantai di luar kamar terasa dingin. Basah dan lengket. Aku menunduk dan memperhatikan telapak kakiku yang tergenang cairan berwarna merah. Seringaianku muncul tanpa aku minta. Mereka sudah datang. Mereka datang lagi menjemput nyawa-nyawa yang tak berlindung dalam kegelapan.

Rhea?”

Aku menemukannya terisak di lantai. Memegangi tangan kakak perempuannya yang sudah tak bernyawa.

Dia mati Claudia! Dia mati!”

Setiap yang hidup sudah pasti mati Rhea.”

Mereka membunuhnya.”


Aku tersenyum. Menyeringai. Mereka mendengar ketakutan di dalam kamar yang terang. Mereka membiarkanku yang berada di dalam kegelapan bersama Rhea.

@honeylizious

Followers