7 November 2013

Sintang Trip (3)



 
Bukit Kelam adalah satu di antara banyak daya tarik yang ada di Sintang. Sebenarnya masih banyak lagi wisata yang ada di Sintang ini. Namun karena jalan yang sulit untuk mendatangi tempat ini, Sintang menjadi tertinggal dibandingkan Pontianak yang kekurangan tempat wisata. Bukit Kelam sudah pernah saya datangi sebelumnya. Beberapa tahun yang lalu. Tetapi mendatanginya sekali lagi tentu tetap akan menyenangkan.

Hari ini saya melihat bukit kelam dari kejauhan. Dari Sungai Kapuas yang membentang di sepanjang jalan yang kami lewati menuju rumah Nenek dan Datok. Masih banyak lagi rumah sanak family lain yang belum kami datangi dan tentu saja itu jauh lebih penting dibandingkan mendatangi Bukit Kelam. Sayangnya tadi saya tak sempat mengabadikan Bukit Kelam yang tampak puncaknya dari kejauhan untuk postingan ini.

Bukitnya disebut Bukit Kelam karena dari jauh memang terlihat kelam, gelap. Tapi kalau kita mendekat kita akan sadar bahwa bukit ini adalah bongkahan batu yang sangat besar. Bahkan bukan hanya bongkahan batu yang sangat besar. Melainkan bongkahan batu diklaim terbesar di dunia. Dulunya sih ada ceritanya. Nah kebetulan saya menemukan cerita lengkapnya di sini.

Berikut kutipannya.
Tersebutlah di Sintang, Kalimantan Barat, seorang pemimpin sakti bernama Sebeji atau disebut Bujang Beji. Yang sayangnya, memiliki berkarakter buruk. Bersama para pengikutnya, Bujang Beji tinggal di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Kapuas.

Berkebalikan dengan Bujang Beji, di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Melawi, tinggal seorang pemimpin bijak berkarakter baik bernama Temenggung Marubai. Semua tindak-tanduknya didasarkan pada kebaikan dan manfaat semua pihak.

Dan, di sinilah segalanya bermuara.

Karakter buruk yang melekat pada Bujang Beji membawa hatinya pada rasa iri. Begitu dengki Bujang Beji saat anak buahnya melaporkan bahwa ikan-ikan di Simpang Melawi jauh lebih berlimpah jumlahnya dibandingkan Simpang Kapuas. Tentu saja, ini lantaran cara menangkap ikan yang diterapkan kedua pemimpin ini berbanding terbalik. Bujang Beji dalam tiap tangkapan selalu berusaha mendapatkan ikan banyak tanpa peduli ikan besar dan ikan kecil. Sedangkan, Temenggung Marubai mempunyai trik yang berbeda. Ia selalu memisahkan ikan besar dan ikan kecil dalam tangkapannya. Ikan besar diambilnya, ikan kecil dikembalikannya ke sungai ditunggu sampai besar baru ditangkap kembali.

Dilaporkan begitu bukannya membuat Bujang Beji berpikir melakukan cara yang sama dengan Temenggung Marubai. Hal pertama yang dipikirkan Bujang Beji adalah bagaimana menyangi Temenggung Marubai.

Hal ini memberi ide kepada Bujang Beji untuk menangkap ikan dengan menabur menuba (sejenis racun ikan). Pada awalnya, hasil ikan tangkapan Bujang Beji jauh melimpah dibandingkan Temenggung Marubai. Bujang Beji pun boleh sombong diri. Hanya saja, akibat menuba yang ditabur setiap hari, lama kelamaan ikan-ikan di Simpang Kapuas semakin menipis. Kebanyakan sudah ditangkap, sisanya mati membusuk. Bujang Beji pun menghentikan aksinya sebelum semuanya terlambat.

Ia memikirkan langkah selanjutnya, yaitu menjatuhkan Temenggung Marubai. Setelah dipikir-pikir, ia harus mengurangi jumlah ikan yang ada di Simpang Melawi. Caranya, ia akan menutup aliran di hulu Simpang Melawi dengan batu besar. Saat aliran air terbendung secara otomatis ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.

Bujang Beji memilih puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Demi mengangkatnya, Bujang Beji mengeluarkan kesaktiannya hanya berbekal tujuh lembar daun ilalang.

Di tengah perjalanan, Bujang Beji ditertawai oleh bidadari yang melihat perbuatannya. Tentu Bujang Beji dongkol bukan kepalang. Ketika hendak sampai di persimpangan Kapuas - Melawi, Bujang Beji melihat ke atas. Ia ingin meludahi wajah cantik para bidadari yang tengah mengejeknya. Belum lagi ia melakukan itu, rupanya kaki Bujang Beji menginjak duri. Ia pun berjingkat-jingkat.

Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak Bukit Batu terputus. Alhasil, puncak Bukit Batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau, yang disebut Jetak. Geram betul tampaknya Bujang Beji ketika menatap wajah para bidadari yang masih menertawakannya.

”Awas, kalian! Tunggu pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada para bidadari kahyangan tersebut, sambil mencukil duri dari kakinya. ”Enyah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji, perasaannya marah.

Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.

Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu (sejenis pohon kayu raksasa yang menjulang tinggi ke langit) yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.

Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.

Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.

”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.
”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.
”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.
”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.

Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.

Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.
”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”
Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.
”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.

Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.

Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.

Sudah tahu kisahnya? Kita lanjut ke postingan berikutnya.

@honeylizious

Followers