14 November 2013

Mereka Tak Protes Premium Rp12.000/liter


Kadang lucu melihat banyaknya orang di perkotaan yang protes tentang naiknya harga BBM. Subsidi mau dicabut saja sudah kalang-kabut. Padahal bertahun-tahun wilayah timur Kalimantan Barat harus menikmati harga BBM yang sangat tinggi. Di judul tulisan ini saya memang menuliskan harga Rp12.000/liter tetapi sebenarnya banyak masyarakat yang pernah merasakan harga yang lebih tinggi lagi. Tetapi harga Rp12.000/liter adalah harga premium yang normal bagi mereka. Harga yang umum mereka temukan di kios-kios pinggir jalan.

Sementara ini harga Rp8.000 masih bisa ditemukan di Sintang sewaktu kami liburan kemarin. Namun saat premium sulit ditemukan di SPBU dapat dipastikan harga Rp8.000 akan berubah menjadi harga yang lebih tinggi. Tapi pernahkah kita melihat di televisi masyarakat wilayah timur Kalimantan Barat mendemo pemerintah karena harga BBM yang naik?

Paling sering saya mendengar teman-teman yang tinggal di Putussibau mengeluhkan susahnya mendapatkan BBM. Harga yang sudah melambung tinggi saat tiba di tempat mereka bukan menjadi masalah besar selama mereka masih bisa menemukan BBM yang mereka butuhkan untuk mengisi kendaraan mereka. Kadang sering SPBU di wilayah timur Kalimantan Barat ingin menambah pasokan BBM di tempat mereka dengan BBM tanpa subsidi. Hanya untuk mempermudah warganya mendapatkan BBM. Sayangnya jangankan untuk mendapatkan BBM bersubsidi, yang bersubsidi saja jarang dikirim ke wilayah mereka.


Ah kalau masih ada yang suka mendemo harga BBM yang naik harus pindah ke wilayah timur Kalimantan Barat dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat di sana hanya melihat isu BBM. Jalannya yang hancur lebur lain cerita lagi. Mereka tak mengeluh dengan harga BBM yang naik tak tentu rudu. Mereka lebih mengeluh saat kesulitan menemukan BBM meskipun harganya sudah Rp12.000/liternya untuk jenis premium.

@honeylizious

Followers