5 November 2013

Menunggu


Menunggu adalah sesuatu yang akan diakui sedemikian banyak orang sebagai hal yang paling membosankan. Apalagi jika menunggu tanpa adanya kepastian. Bicara soal menunggu saya rasanya adalah satu di antara banyak perempuan yang menunggu 'seseorang' yang disebut sebagai 'takdir' menghampiri kehidupannya. Beberapa orang muncul dan ternyata tak pernah memberikan kepastian tentang penantiannya yang sudah sedemikian lama berlangsung.

Lalu menunggu juga terjadi seharian kemarin, beberapa hari yang lalu. Saat duduk di pelaminan dan menunggu para tamu berdatangan. Satu demi satu datang dan memberikan ucapan selamat. Rasanya itu adalah hari terpanjang yang harus saya hadapi dengan segudang senyuman yang tak boleh habis. Demikian pula dengan suara yang hanya punya satu kata: 'makasih, makasih, makasih'. Pola seperti itu berulang tanpa henti sampai akhirnya menunggu itu berakhir sekitar pukul 7 malam.

Menunggu waktu berputar dan kami bisa melepas pakaian pengantin yang tidak begitu nyaman dikenakan sedemikian lama. Terutama bagi saya sendiri yang harus mengenakan sanggul, mahkota, dan beberapa perhiasan yang membuat kepala saya sedemikian beratnya. Pernah sekali saya membaca mengenai menahan beban yang bisa jadi buat sebagian orang tak begitu berat, namun sebenarnya berat tidaknya sesuatu hal itu bukan diukur hanya dari berat awalnya sendiri.

Menggunakan timbangan dan mengukur berat hiasan kepala yang harus saya kenakan sebenarnya akan disebut banyak orang sebagai benda yang ringan. Tetapi masalahnya saya harus mengenakannya sedemikian lama sampai malam dari pagi. Sangat berat jadinya dan kepala saya rasanya sakit. Padahal saya sudah meminta perias pengantin untuk memberikan mahkota yang tak begitu berat sehingga saya tak perlu menahan beban yang menyakitkan. Sayangnya lamanya waktu untuk menahan beban itu semua membuat saya letih. Sangat letih.

Beberapa puluh menit sekali kami harus melihat waktu dan akhirnya menemukan jarum jam yang menunjukkan pukul 7 malam. Saatnya melepaskan semua pakaian dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman. Paling tidak nyaman memang bagian sanggul. Sebab rambut panjang saya diikat dengan karet gelang. Seketat mungkin. Lalu dicepol. Kemudian ditambahan jepit rambut yang hitam dan juga tak lupa segumpal rambut tambahan yang berbentuk sanggul lebih besar. Baru kemudian mengenakan kerudung. Setelah itu mahkota baru bisa dipasang karena sudah ada pondasinya.


Migrain saya menghilang dengan segera setelah rambut tersebut dilepaskan dari kepala. Termasuk ikatannya yang sangat ketat. Lega. Penantian kami berdua berakhir.

@honeylizious

Followers