Langsung ke konten utama

Menunggu


Menunggu adalah sesuatu yang akan diakui sedemikian banyak orang sebagai hal yang paling membosankan. Apalagi jika menunggu tanpa adanya kepastian. Bicara soal menunggu saya rasanya adalah satu di antara banyak perempuan yang menunggu 'seseorang' yang disebut sebagai 'takdir' menghampiri kehidupannya. Beberapa orang muncul dan ternyata tak pernah memberikan kepastian tentang penantiannya yang sudah sedemikian lama berlangsung.

Lalu menunggu juga terjadi seharian kemarin, beberapa hari yang lalu. Saat duduk di pelaminan dan menunggu para tamu berdatangan. Satu demi satu datang dan memberikan ucapan selamat. Rasanya itu adalah hari terpanjang yang harus saya hadapi dengan segudang senyuman yang tak boleh habis. Demikian pula dengan suara yang hanya punya satu kata: 'makasih, makasih, makasih'. Pola seperti itu berulang tanpa henti sampai akhirnya menunggu itu berakhir sekitar pukul 7 malam.

Menunggu waktu berputar dan kami bisa melepas pakaian pengantin yang tidak begitu nyaman dikenakan sedemikian lama. Terutama bagi saya sendiri yang harus mengenakan sanggul, mahkota, dan beberapa perhiasan yang membuat kepala saya sedemikian beratnya. Pernah sekali saya membaca mengenai menahan beban yang bisa jadi buat sebagian orang tak begitu berat, namun sebenarnya berat tidaknya sesuatu hal itu bukan diukur hanya dari berat awalnya sendiri.

Menggunakan timbangan dan mengukur berat hiasan kepala yang harus saya kenakan sebenarnya akan disebut banyak orang sebagai benda yang ringan. Tetapi masalahnya saya harus mengenakannya sedemikian lama sampai malam dari pagi. Sangat berat jadinya dan kepala saya rasanya sakit. Padahal saya sudah meminta perias pengantin untuk memberikan mahkota yang tak begitu berat sehingga saya tak perlu menahan beban yang menyakitkan. Sayangnya lamanya waktu untuk menahan beban itu semua membuat saya letih. Sangat letih.

Beberapa puluh menit sekali kami harus melihat waktu dan akhirnya menemukan jarum jam yang menunjukkan pukul 7 malam. Saatnya melepaskan semua pakaian dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman. Paling tidak nyaman memang bagian sanggul. Sebab rambut panjang saya diikat dengan karet gelang. Seketat mungkin. Lalu dicepol. Kemudian ditambahan jepit rambut yang hitam dan juga tak lupa segumpal rambut tambahan yang berbentuk sanggul lebih besar. Baru kemudian mengenakan kerudung. Setelah itu mahkota baru bisa dipasang karena sudah ada pondasinya.


Migrain saya menghilang dengan segera setelah rambut tersebut dilepaskan dari kepala. Termasuk ikatannya yang sangat ketat. Lega. Penantian kami berdua berakhir.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma