1 November 2013

Kisah Sepasang High Heels


Selama ini memang saya berpikir bahwa high heels itu milik perempuan yang anggun dan cantik. Sedangkan saya sendiri tak merasa menjadi satu di antara bagian tersebut. Saya hanya perempuan biasa. Wajah biasa saja. Sehingga sejak dulu hingga sekarang saya tak berusaha untuk memiliki high heels. Apalagi berusaha mengenakannya untuk berjalan dengan anggunnya di atas dunia ini.

High heels itu rasanya bukan sahabat saya. Malah bisa dikatakan musuh. Saya selalu takut bahwa suatu hari nanti saya mengenakannya dan saya jatuh terjengkang. Kaki keseleo. Paling buruk lagi sepatu tersebut menusuk wajah saya. High heels terlihat begitu menakutkan. Dengan tumitnya yang runcing dan panjang.

Tetapi sekarang di dalam kotak seserahan ada sepasang high heels yang sebenarnya tak begitu tinggi ukurannya. Cukup mengancam saya yang lebih sering mengenakan sepatu flat. Memang menyenangkan mengenakan sepatu yang tebal dan datar. Rasanya kaki menjadi lebih aman. Berbeda dengan high heels. Tak bisa saya bayangkan saya mengenakan high heels saat mengendarai kendaraan bermotor. Lalu saya kepelecok. Bukankah itu akan sangat berbahaya bagi diri saya. Berbahaya buat orang lain juga.

Waktu jatuh dari motor beberapa minggu yang lalu pun sebenarnya saya sangat beruntung mengenakan sepatu lukis yang tebal. Sehingga kaki saya tidak terluka dan terlindungi dengan aman. Hanya bagian sepatu tersebut yang sedikit cacat. Dibandingkan kaki saya yang sobek. Akan jauh lebih baik sepatunya yang sobek. Hanya lutut yang kemudian binasa.

Tak terbayangkan bagaimana jika saat itu saya mengenakan high heels. Kaki saya tak terlindungi dengan sempurna. Lagi pula high heels menambah bahaya lain. Keseimbangan tubuh menjadi berkurang. Bisa-bisa membahayakan sekali saat dikenakan sambil berkendara.
  

Kamu punya kisah apa dengan high heels yang rasanya lebih cocok dikenakan orang yang mengendarai mobil dibandingkan sepeda motor seperti saya.

@honeylizious

Followers