30 November 2013

INSPIRATOR, MEREKA YANG PERNAH DEKAT DI HATI




Inspirasi bisa datang dari mana dan siapa saja.  Orang tua tentu bisa menjadi salah satu inspirator utama, namun bagi saya hal itu lumrah saja.  Lalu bagaimana halnya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita, meskipun sekarang mungkin statusnya sudah bukan 'orang dekat' lagi?

Sekarang mari simak apa saja kira-kira yang bisa menjadi inspirasi bagi seorang Badai dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.  Catatan: 'dekat' bagi saya tidak melulu artinya pacaran lho ya ;)

Sebut saja inisialnya A.
A adalah orang yang sangat royal sekaligus tegas dalam masalah keuangan.  Dalam artian, seberapapun dekat suatu hubungan, sebaiknya memisahkan diri dari masalah hutang piutang. No, bukan berarti tak boleh tak ada urusan keuangan di antara dua karib/sejoli, namun intinya, pisahkan hal ini dalam dunia yang berbeda.
A memberi saya contoh nyata karena sewaktu hubungan kami dekat, di antara kami saat itu memang sedang ada keperluan masing-masing.  A pernah meminjami saya sejumlah uang, demikian juga sebaliknya.  Semua tertera hitam di atas putih.
Keuntungan dari 'pemisahan masalah' ini adalah ketika terjadi pertengkaran di antara kami karena masalah umum, tak ada satupun di antara kami yang mengungkit-ungkit soal hutang piutang.  Karena memang sudah beda dunianya.  Kalau kau bertengkar karena ia gemar memakai rok mini bukan berarti kau harus mengungkit hutangnya yang tidak mini.

Andai saja tidak ada 'pemisahan masalah' seperti trik dari A tentu di antara kami akan lebih mudah terpicu emosi olehnya daripada menikmati rezeki bersama.  Rezeki berupa hubungan baik.  Money is a sensitive case, dan jangan sampai urusan keuangan malah merusak rezeki.

Dan terbukti setelah hitungan tahun kami tak lagi 'bersama' namun hubungan kami masih terjalin baik sampai sekarang.

A, inspirator saya untuk tetap menjaga hubungan baik di luar masalah keuangan.  Salam super! ^^

Sebut saja inisialnya B.
B adalah pemuja cinta.  Ia begitu mengagungkan saya (atau mungkin juga ia lakukan kepada semua orang yang pernah mengisi hatinya).  Saya adalah mataharinya, saya adalah mimpi indahnya, saya adalah segalanya.  Saya adalah patung David yang begitu sempurna pahatannya sehingga harus dijaga dengan segenap jiwa raga.

Semula saya hanya menyangka ia begitu mensyukuri hubungan kami sehingga saya pun akhirnya tak berusaha menyangkal perlakuannya yang istimewa (meskipun terkadang ada rasa sungkan).  Terkadang ia malah terlalu jauh 'menyanjung' saya sehingga timbul kesan bahwa saya adalah raja yang tak bisa disentuh sementara ia cuma hamba sahaya.
Pada akhirnya B terperangkap oleh sikapnya sendiri.

Ada satu masa kala ia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.  Beberapa hari tanpa kontak dan tak bisa dihubungi.  Orang tua B hingga menelepon saya menanyakan kemana gerangan si anak karena sudah beberapa hari tak berkabar.  Saya sampai bingung dan tak enak hati.

Pada akhirnya muncul pesan pendek dari B.  Cuma bilang kalau ia baik-baik saja. Ketika saya tanya kemana saja dirinya selama beberapa hari menghilang, tiba-tiba ia meradang:
Aku memang bukan malaikat yang suci dan tak pernah berbuat salah!

Disusul kalimat penuh emosi lainnya.  Saya terkejut mendapat jawaban di luar kebiasaan.  Kami berdebat untuk satu hal yang bagi saya masih samar, kenapa dan kemana ia menghilang.  Tapi saya tak pernah mendapat jawaban, bahkan hingga kini. Namun saya tahu pasti bahwa ia terjebak dalam mindset-nya sendiri, bahwa saya malaikat suci dan ia manusia berdosa.  Bahwa saya baginda raja dan ia cuma budak belian.  Sejak itu hubungan kami pun retak. 

B, memang punya banyak sifat baik yang lain.  Tapi uniknya satu sikap buruknya malah menjadi pelajaran utama bagi saya.  B, inspirator saya untuk tidak berlebih-lebihan.

Sebut saja inisialnya C.
C adalah seorang yang resik dan higienis, dalam arti sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan.  Ia tidak anti bermain kotor-kotoran seperti turun ke sawah atau main di sungai, asalkan mandi sehat sesudahnya.  Dan hal ini sama sekali berbeda dengan artikel ringan yang pernah kami baca tentang pasangan remaja yang hobi 'pick up the nose' dari pasangan masing-masing.  Bagi kami, apalagi bagi C, hal itu tidak melambangkan kemesraan, tapi justru menjijikkan.

Suatu ketika sepulang dari trip ke Sukabumi, saya terkena gejala flu parah, dimana tiba-tiba hidung tersumbat hingga saya harus bernafas lewat mulut.  Saya sudah kepayahan, tubuh demam dan tergolek tanpa daya dengan mata terpejam.

Tanpa diduga, C memberi saya pertolongan pertama.  Pucuk hidung saya terasa hangat oleh sentuhan lembut bibirnya.  Ya, ia menghisap keluar lendir yang menyumbat hidung saya dengan mulutnya.

Saya langsung terperanjat.
Sama sekali di luar dugaan.  Nafas saya kembali lancar, namun tanpa bisa ditahan, air mata saya tiba-tiba mengalir begitu saja.  Deras.  Tanpa isak.

Tahukah sayang, kamu telah menyentuh bagian hatiku yang paling dalam?
Segera saya palingkan muka, dan mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar.  Ia tak berkata apa-apa, tapi ia tahu.

Kami tak pernah membicarakan lagi tentang kejadian ini.  Tapi masing-masing kami tahu.

C, inspirator saya tentang cinta yang sederhana, that you would do anything for your beloved one.

Catatan:
Penulis #SwapBlog kali ini adalah Badai, yang sehari-hari bisa ditemui di dua blognya:

Terima kasih Hani sudah menjadi swap partner saya bulan ini!

^^

@honeylizious

Followers