21 November 2013

Galaxy Express (Bagian 8)

GalaxyExpress (Bagian 6)
GalaxyExpress (Bagian 7)



Aku tercenung di depan jendela kereta Galaxy Express. Memikirkan ucapan Renno tadi malam. Bingung bagaimana akan bersikap di depan Rita yang secara jelas mengatakan tentang perasaannya padaku. Aku sendiri? Secara diam-diam bingung dengan keadaan yang menjebakku. Kalau bisa aku ingin menghilang sejenak dari bumi dan memikirkan semuanya baik-baik. Tanpa ada tekanan dari siapa pun. Napas panjangku mungkin terdengar seisi kereta. Benar-benar panjang tarikannya.

Bukumu jatuh.”

Tangan yang penuh cat terulur ke arahku. Memberikan sebuah buku kepadaku. Ragu-ragu aku menerimanya. Buku itu masih baru. Sangat baru. Rasanya buku yang asing. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan wajah tukang cat yang selalu ingin kulihat di dalam Galaxy Express ini. Kami bertatapan beberapa detik hingga akhirnya dia tersenyum dan memamerkan gigi putihnya dan sebentuk lesung pipi di kiri wajahnya. Mempesona.

Bukan bukuku.”

Aku mendorong buku itu ke arahnya.

Bukumu.”

Hari ini aku tidak membawa buku apa pun kok. Lagi pula ini memang bukan bukuku. Tidak mungkin aku lupa dengan bukuku sendiri.”

Kamu bisa bicara sepanjang itu?”

Aku terdiam sejenak setelah menyadari mengeluarkan banyak sekali kata untuk orang yang tak kutahu namanya ini.

Biasanya kamu hanya bicara sepotong-sepotong.”

Jangan mengalihkan pembicaraan. Ini bukan bukuku.”

Untukmu.”

Untukku?” Aku mengerutkan dahiku bingung.

Hadiah dariku. Kamu suka sekali membaca buku kan?”

Tapi...”

Bacalah dan tersenyumlah.”

Lagi-lagi semua orang memintaku untuk tersenyum. Salahkah memiliki wajah yang murung?

Terima kasih.”

Hari ini ikutlah denganku, ada yang ingin kutunjukkan padamu.”

Maaf, tidak bisa. Aku harus kerja.”

Sebentar saja.”

Tapi...”

Ayolah, kamu tidak akan bisa bekerja dengan wajah seperti itu.”

Tapi hanya sebentar kan?”

Sebentar kok. Kamu boleh pulang setelah melihatnya.”

Galaxy Express itu berhenti di stasiun yang kami tuju. Aku mengikuti langkahnya yang besar-besar. Jalannya lumayan cepat. Aku setengah berlari mengikutinya. Dia masih saja tersenyum dengan manisnya. Bingung harus bagaimana. Dia memang bukan orang asing sebab aku melihatnya setiap hari mampir ke toko roti tempatku bekerja. Tapi dia juga bukan orang yang aku kenal sebab namanya sama sekali belum dia sebut.

Bersemangatlah!”


Kali ini dia harus menarik tanganku. Debaran jantungku tak menentu. Dia mengajakku ke mana?

@honeylizious

Followers