21 November 2013

Bunuh! (1)


Aku mematikan semua lampu yang ada di dalam kamarku. Membeku di sudut kamar tidur. Tersenyum dalam gelap. Menikmati semua kepekatan itu dalam diam. Tak ada yang memahami bagaimana aku menyukai kegelapan ini. Membuatku buta. Membuatku tak bisa menggunakan pancaindraku dengan sempurna. Sebuah langkah terdengar cepat mendekati pintu kamar yang kutempati. Bukan hanya kamarku. Ini kamar yang aku tempati bersama saudara sepupuku.

“Claudia!” dia berteriak nyaring.

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Sudah letih dengan semua teriakan yang dia keluarkan setiap hari. Langkahnya berhenti di dalam kamar. Pintu terbuka membuat angin dingin masuk dan menyergapku. Pasti di ruang tengah sedang menyalakan pendingin ruangan. Suhu di kamar ini terasa lebih hangat sebelumnya. Sekarang dingin.

“Nyalakan lampunya!”

Aku diam. Tak menjawab dan tak bergerak. Aku tak ingin menyerah dengan teriakannya.

“Apalagi sih kalian ini!” terdengar suara kakak sepupuku yang usianya dua tahun di atas kami terganggu.

Aku yakin dia sedang menonton sinetron favoritnya di ruang tengah. Sendirian. Sebab orang tuanya belum pulang kerja. Terdengar bunyi 'klik' kecil di dinding. Lampu yang tadinya aku matikan sekarang sudah menyala kembali.

“Tinggal nyalakan saja, tak usah teriak-teriak! Ganggu!” kakak sepupuku itu memperingatkan adiknya dengan teriakan yang lebih nyaring.

Aku tersenyum sambil menutup wajahku dengan selimut. Berusaha mencari kegelapan yang lain. Kakak sepupuku, Marsella, keluar dari kamar dan membanting pintu kamar kami. Sepupu yang seumuran denganku itu terlihat dari balik selimut tipis yang kugunakan untuk menutup wajahku. Dia bergerak menyalakan lampu di meja belajarnya. Sekarang semuanya menjadi terang kembali. Padahal aku berharap bisa menikmati suasana dalam kegelapan ini dengan lebih tenang. Tanpa teriakan.

“Rhea...” aku memanggilnya dengan suara bergetar.

“Apa?” dia menyahut dengan kasar.

Aku masih memperhatikannya dari balik selimut. Tersenyum. Tepatnya aku menyeringai.

“Kamu benci denganku?”

“Aku benci kegelapan Claudia...” suaranya entah bagaimana menjadi melunak dalam hitungan detik.

“Kegelapan itu tenang, dengan berada di dalam gelap kita akan belajar untuk menghargai cahaya. Dengan kegelapan pula kita tidak akan menilai orang dari rupanya.”

“Tapi aku tak bisa belajar dalam gelap Claudia.”

“Kamu takut dengan kegelapan.”

“Aku benci gelap...”

“Gelaplah yang menyelamatkan kita hari itu Rhea.”

Sepupu yang usianya sama denganku itu terduduk lemas di kursi. Suara-suara itu. Dia pasti masih mendengarnya.

“Bunuh!”

“Bunuh!”

“Bunuh!”

Aku pun masih mendengarnya. Tapi Rhea menyimpannya sebagai kenangan yang sangat buruk. Dia sering mengigau dalam kegelapan. Aku sendiri mengingatnya sebagai titik balik terbesar dalam kehidupanku. Saat itu aku mendengarnya dengan jelas. Suara-suara orang yang menuju kematian. Suara orang tuaku. Suara saudaraku. Suara pembantuku. Suara pembunuh itu juga masih terdengar sangat jelas. Anehnya aku tak meneteskan air mata sama sekali. Berbeda dengan Rhea yang menangis meraung-raung melihat mayat yang bergelimpangan di ruang tamu dan kamar tidur rumah kami.

@honeylizious

Followers