21 November 2013

Bersiap Terima Penolakan


Dari dulu mengirimkan naskah langsung ke penerbit mayor sebenarnya adalah hal yang rasanya sangat menakutkan. Belum lagi waktu yang harus dihabiskan untuk menunggu. Sia-sia. Kadang merasa lebih baik naskahnya diterbitkan ke blog saja dan mendapatkan pembacanya secara online, tetapi sekarang saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah yang sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu buat lomba dan ternyata hanya selesai 30 halaman dihari terakhir.

Saya rasa Tuhan punya janji yang lain buat saya. Bukan janji untuk mengikuti lomba. Tapi mengirimkan naskahnya langsung ke penerbit mayor. Kalau ditolak satu penerbit saya rasa bukan hal yang buruk. Sebab masih banyak penerbit lainnya yang mencari naskah untuk diterbitkan. Bisa jadi naskah tersebut cocok di penerbit yang lain jika memang ditolak oleh penerbit pertama yang menerima naskah saya.

Kalau ditanya apakah saya cukup percaya diri? Jujur saya sama sekali tidak percaya diri dengan tulisan saya akhir-akhir ini. Rasanya masih banyak yang kurang yang harus saya perbaiki. Menulis nonfiksi memang jauh lebih mudah. Tetapi impian saya selama ini adalah menerbitkan novel di penerbit mayor. Bukan hanya menerbitkan kumpulan cerita pendek di Transmedia.

Mengingat kembali buku kumpulan cerpen Cinta yang akhirnya terbit di penerbit mayor, Transmedia adalah hal yang tak pernah diduga. Sebab saya sudah melupakan karya yang saya kirimkan waktu itu. Senang pada akhirnya buku tersebut terpajang di Gramedia.


Sekarang memberanikan diri lagi untuk mengirim karya yang lebih panjang dan lebih kompleks. Novel. Sudah saatnya untuk menerima penolakan dari berbagai penerbit hingga akhirnya akan benar-benar tembus dan terpajang di toko buku besar. Mohon doanya ya. :)

@honeylizious

Followers