30 Oktober 2013

The Great Divide: The Great Life Soundtrack


Setelah mencari sekian lama soundtrack yang paling sesuai untuk menulis novel berikutnya yang akan diikutkan pada lomba akhirnya saya menemukannya. Sebenarnya ini bukan lagu baru. Sebab sudah lama ada di smartphone dan komputer saya. Ini sebuah soundtrack film animasi Tinkerbell. Dinyanyikan oleh Mclain Sisters, berjudul The Great Divide.

Lagu ini sangat menggambarkan hubungan yang terjalin antara saya dan Putra. Selama ini saya tak menyadari kehadirannya yang sangat dekat. Lalu saya juga tak menyadari betapa indahnya jalan yang dipersiapkan Tuhan untuk kami berdua. Pertemuan yang pada akhirnya membuat kami berdua hingga hari ini tak terpisahkan sehari pun. Dia yang menunggu di sana. Telah saya temukan.

Saya selalu percaya bahwa terkadang kita terlalu sibuk mengejar cinta yang ada di depan kita padahal cinta yang sebenarnya sedang menunggu kita untuk berhenti sejenak. Mengistirahatkan hati dan jiwa yang lelah karena terluka oleh cinta. Cinta itu bersabar menunggu di sana. Ada kalanya kita harus berhenti. Berhenti mengejar apa yang kita inginkan. Sebab Tuhan telah menyiapkan apa yang kita butuhkan. Ketika kita berhenti sejenak, cinta itu pun datang menemukan kita.

Apakah kamu lebih suka ditemukan atau menemukan cinta yang telah disiapkan Tuhan untukmu?

Lagu ini memang sangat indah. Membuat saya menjadi sangat bersemangat untuk menulis dan tak banyak typo yang terjadi sepanjang pengetikan tulisan-tulisan untuk blog dan semoga demikian juga buat novel nantinya. Memang saya akan menuliskan kisah cinta. Kisah seorang perempuan. Sebenarnya saya lebih suka menulis dari sudut pandang laki-laki walaupun banyak sekali kisah yang saya tulis selalu tokoh perempuan yang menjadi tokoh utamanya. Memang sih akan lebih mudah menyelami sudut pandang kita sendiri dibandingkan sudut pandang lawan jenis kita. Tetapi menuliskan sudut pandang lelaki dari sisi perempuan sebagai penulisnya kadang menghadirkan warna yang berbeda. Bahasa yang terasa lebih pekat.

Saya sedang mempersiapkan dua judul yang paling cocok. Kemungkinan besar adalah Kulminasi. Sebab settingnya nantinya adalah Kota Pontianak. Akan sangat menyenangkan menuliskan tentang kisah cinta yang terjadi di Pontianak beserta semua kebudayaannya. Kebudayaan yang saya lihat setiap hari. Bahasa Melayu yang kental. Warung kopi yang berdiri sepanjang jalan Jalan Gajah Mada.

Menang atau tidak novel itu nantinya, menurut saya yang paling penting adalah bagaimana Pontianak bisa dikenal banyak orang termasuk kebudayaan di dalamnya. Setidaknya mengenalkan Kalimantan Barat ke seluruh Indonesia adalah pekerjaan rumah yang selalu ingin saya rampungkan. Saya tak bisa menunggu orang lain yang mulai untuk menuliskannya sebab sampai sekarang tak banyak orang yang tertarik untuk menulis lebih banyak tentang kotanya sendiri.

Hanya beberapa teman yang saya kenal yang masih menuliskannya hingga hari ini. Pelan-pelan memang langkah yang kami lakukan. Sangat kecil pekerjaan yang kami rampungkan. Namun setidaknya sudah ada yang membuat jalan di tengah hutan belantara ini untuk diteruskan oleh anak cucu nantinya yang juga akan menyelesaikan semuanya.


Kamu menggunakan soundtrack apa untuk novelmu yang sekarang?

@honeylizious

Followers