Langsung ke konten utama

Ternyata Butuh Netbook, atau Laptop atau Macbook?






Setelah menjalani beberapa minggu yang teramat sibuk. Rasanya tak pernah saya lebih sibuk lagi dari ini. Dari banyak hal yang membuat saya sibuk yang paling menguras tenaga dan energi memang yang ini. Apalagi kadang suka gampang tersulut emosinya gara-gara hal sepele. Kali ini yang membuat saya sedikit risau adalah keberadaan alat yang selama ini menjadi soulmate saya tetapi tak bisa saya bawa ke mana-mana.

Beberapa bulan ini memang saya akrab sekali dengan PC dengan ukuran monitor yang memang sangat besar. Padahal saya hanya menggunakannya untuk ngeblog dan sesekali blogwalking. Tetapi menggunakan PC dengan monitor yang memang lebar sangat menyenangkan dan nyaman. Apalagi saya suka menonton film dari DVD sehingga kamar saya benar-benar menjadi tempat terbaik yang pernah ada di dunia ini. Semenjak WIGO 4G terpasang sebagai jaringan internet semakin menambah menyenangkannya berada di kamar ini.

Sekarang saya merasa kerepotan untuk mengupdate blog. Apalagi kalau sudah menyangkut lomba yang tentunya membutuhkan lebih dari sekadar smartphone untuk mengikutinya. Smartphone yang saya miliki pun hanya lebih ramah terhadap sosial media. Bukan ramah terhadap blog. Setiap mengupdate blog menggunakan smartphone pasti ada hal-hal yang kurang menyenangkan yang terasa. Misalnya tak bebas mengatur letak gambar dan jumlahnya. Aplikasi untuk mengupdate blog juga kurang membantu kalau sudah menyangkut lomba atau sesuatu yang ribet kalau diupdate menggunakan smartphone. Sayangnya PC yang saya miliki bukan PC dari intel yang seukuran dua kepalan tangan saya yang bisa dimasukkan begitu saja ke dalam tas.

Baru sekarang saya merasa saya membutuhkan laptop atau netbook. Barangkali macbook? Ihiyyy...


Saya orangnya bisa dengan mudah galau gara-gara tak bisa mengikuti lomba ngeblog atau memosting tulisan dengan cara mengetiknya di writernya. Merapikannya sebentar dan memasukkan gambar di bagian yang saya inginkan. Katakanlah saya cerewet. Tapi inilah cara saya ngeblog dan saya memang butuh portable PC yang bisa membantu saya menulis di mana pun dan kapan pun.





Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan