27 Oktober 2013

Tentang Hutang


Pernahkah kita berhutang dengan seseorang yang pada akhirnya kita sendiri tak mampu untuk membayarnya? Si teman menagih tanpa henti tapi jawaban kita selalu belum dan belum lagi-lagi belum? Memiliki hutang sebenarnya sesuatu yang cukup menakutkan bagi saya sebab itu artinya ada sesuatu yang menyangkut kita yang harus dilunasi dengan orang lain. Apalagi kalau sampai kita sendiri ternyata kesulitan menyelesaikannya.

Ada cerita tentang seseorang yang memiliki hutang dengan saya dua tahun yang lalu, kurang lebihnya. Saya menagih karena memang itu kewajiban saya untuk mengingatkan bahwa dia lebih baik menyelesaikan semuanya di dunia. Saya tidak ingin ada sangkut paut dengannya di akhirat nanti. Alangkah menyebalkannya nanti jika kita harus membayar hutang di dunia dengan amalan kita yang tak seberapa di akhirat nanti. Itu yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri.

Seseorang ini juga saya ingatkan demikian. Lebih baik baginya untuk menyelesaiakannya di dunia saja dengan jumlah uang yang sama dengan hutangnya. Tak ada pembayaran menggunakan amalan dan menunggu hari akhir nantinya. Lalu kemarin sore seseorang ini ternyata meninggal dunia. Saya sebenarnya tidak begitu menyayangkan jumlah uang yang merupakan hutangnya tersebut. Sebab setiap hari Tuhan selalu menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak lagi. Sangat banyak malahan. Berkali-kali lipat jumlahnya.

Untungnya saya masih ada di dunia ini untuk merelakan kepergiannya dan menyelesaikan semuanya di dunia saja. Kalau memang ada yang ingin melunasi alangkah lebih baik. Kalau memang tidak ada mengikhlaskan tentunya jauh lebih baik lagi. Saya jadi ngeri mengingat pembicaraan kami sekitar setahun yang lalu saat saya mengingatkan dirinya untuk melunasi hutang tersebut. Saya tak akan menyebutkan namanya karena memang seseorang yang memiliki hutang piutang dengan saya ini sudah meninggal dunia dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan betapa pentingnya untuk menyelesaikan semua hutang yang ada di dunia ini dalam bentuk uang saja. Tak perlu menunggu terlalu banyak uang untuk membayarnya. Lebih baik menahan semua keinginan sebelum melunasi semua hutang tersebut. Karena memiliki hutang itu rasanya tak bisa tidur dengan tenang dan makan pun rasanya tak enak. Selalu ada yang mengejar di belakang.

Setiap orang yang meninggal dunia juga akan ditanya apakah si mati ini punya hutang yang belum dibayar? Sehingga dapat kita tangkap bahwa membayar hutang itu bukan perkara yang bisa dikesampingkan begitu saja. Ada sesuatu yang akan terjadi saat kita melupakannya. Jangan sampai urusannya dibawa ke akhirat. Ini akan menjadi masalah yang baru untuk pihak yang berhutang. Apalagi kalau yang menjadi pihak pemberi hutang tak merelakan jumlah uang yang sudah dipinjamkan.

Buat seseorang itu, tidurlah dengan tenang di sana. Kami di sini mendoakan semoga kuburmu dilapangkan dan terang selalu. Semoga malaikat menyambutmu dengan suka cita dan bumi bergembira menerima jasadmu. Pejamkan mata. Biarkan yang di dunia menyelesaikan perkara duniamu. Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu dan mencatat amalanmu. Selamat jalan kawan. Selamat beristirahat untuk selama-lamanya.


Apabila tiba saatnya nanti kami akan menyusulmu di sana dan kita akan bertemu kembali. Semoga kita semua dipertemukan di taman firdaus yang penuh dengan bidadari yang menggandeng kita ke istana yang paling megah di dalam sana. Semua kenangan tak akan pernah terlupakan dan bagaimana pun buruk dan baiknya pertemanan kita, kamu tetap menjadi seseorang yang pernah aku sebut sebagai kawan dan abang. Maaf tak sempat melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Tenanglah di sana.

@honeylizious

Followers