27 Oktober 2013

Sindrom Pra Nikah


Ada yang menanyakan apakah saya mengalami yang namanya sindrom pra nikah atau tidak? Ternyata saya tidak mengalaminya saudara-saudara. Sebab saya terlalu senang menghadapi semua yang akan saya sebut sebagai 'awal kehidupan'. Ada orang yang barangkali akan mengalami yang namanya 'pudar keyakinan' pada pasangan. Tiba-tiba merasa: 'jangan-jangan dia bukan yang terbaik untukku?' atau istilah kerennya 'maybe he is not the one?'. Masih banyak lagi hal-hal yang membuat seseorang dikategorikan sebagai penderita sindrom pra nikah.

Biasanya sindrom ini akan hilang seiring selesainya acara pernikahan tersebut nantinya. Kalau saya sendiri orangnya bukanlah orang yang terobsesi dengan kesempurnaan. Bagi saya sendiri semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah proses. Tak ada jodoh yang benar-benar cocok dengan kita sejak di awal pernikahan. Di dalam pernikahan nantinya kita akan saling mencocokkan satu sama lain. Namanya juga memulai hidup baru, akan ada sandungan kecil sebagai pelengkap cerita pernikahan tersebut.

Bukankah sebuah kapal tak akan pernah bisa bergerak jika tak ada angin dan gelombang. Semua masalah yang dihadapi kedua pengantin nantinya adalah gelombang dan angin yang menggerakkan kapal menuju pelabuhan. Nikmati semua perjalanan itu. Badai dan hujan bukan rintangan. Sebab kapal yang kuat tetap akan melewatinya hingga kita mengatakan bahwa kita sudah sampai.

Jangan tanya soal pakaian pengantin dengan saya. Saya orangnya tak begitu rewel. Saya tak butuh waktu berjam-jam hanya untuk memilih pakaian pengantin yang akan saya kenakan di hari kami bersanding sebagai raja dan ratu sehari. Saya sudah menemukannya dalam waktu 10 menit saat berada di rumah pakaian pengantin. Mencobanya sebentar dan selesailah pemilihan pakaian untuk bersanding tersebut. Sedangkan untuk akad nikah sudah dipilihkan oleh calon suami. Dia mengatakan suka, ya sudah saya terima saja. Saya tak akan menolak atau rewel soal pakaian pilihannya.

Lalu makanan? Semua sudah diserahkan pada calon kakak ipar dan calon ibu mertua. Kami hanya menitipkan sejumlah uang. Mau apa yang mereka sediakan saya tak begitu ambil pusing. Selama mereka bisa mengatakan mereka akan memasak makanan yang lezat untuk semua tamu undangan, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Saya hanya tahu mereka merencanakan akan menyediakan tiga masakan. Satu nasi lengkap, dua bakso, dan tiga bubor paddas. Tentu saja makanan yang ketiga, bubor paddas harus ada di sana. Sebab keluarga ibu saya berasal dari Kabupaten Sambas dan makanan khasnya adalah bubor paddas.

Bahkan souvenir juga sudah dipersiapkan oleh semua kakak ipar yang dengan baiknya membuatkannya. Saya terharu melihat bagaimana persiapan yang mereka lakukan untuk mempersunting saya sebagai menantu, istri, dan adik ipar. Ini semua lebih dari yang selama ini saya harapkan. Belum lagi saat melihat bagaimana sibuknya mereka semua. Bahkan sejak sebulan yang lalu mereka sudah sedemikian sibuknya. Lewat semua perhatian mereka saya merasakan bagaimana cara mereka menunjukkan cinta mereka sebagai sebuah keluarga.

Saya menemukan sesuatu yang selama ini saya cari. Kehangatan keluarga tanpa ada rasa takut terhadap seseorang yang selama ini membuat kehidupan saya terancam. Di sinilah saya akan memulai kehidupan baru yang sebenarnya. Menjadi seorang istri, menantu, dan adik ipar diwaktu yang sama.

Bagaimana mungkin saya akan mengalami yang namanya sindrom pra nikah. Inilah keluarga yang paling baik yang pernah saya dapatkan untuk menjadi keluarga saya berikutnya. Calon suami saya adalah laki-laki terbaik yang akan membimbing saya menjadi seorang istri. Dari ibu mertua saya juga melihat banyak sekali kasih sayang yang dia persiapkan untuk menyambut satu-satunya menantu perempuannya. Apakah ada yang lebih menyenangkan dari hal tersebut?


Jangan tanya lagi soal sindrom pra nikah karena saya sama sekali tak mengalaminya.

@honeylizious

Followers