Langsung ke konten utama

Serabi Notosuman


Sudah lama sekali saya makan serabi yang ini, tapi baru ingat sekarang untuk menuliskannya. Beberapa kali sudah berjanji untuk menuliskannya di blog ini tetapi kemudian lupa dan menuliskan hal lain pula. Sekarang saya benar-benar akan menuliskannya. Hahaha...

Di Solo, sebenarnya saya tak berharap banyak mengenai kuliner. Menemukan banyak makanan yang tak sesuai dengan lidah saya membuat saya urung untuk berburu kuliner terlalu banyak. Intinya saya lebih banyak membeli pernak-pernik dan pakaian buat dibawa pulang dibandingkan mencoba makanan yang ada di Solo. Sebab pertama kali makan makanan di Solo, perut saya mulas besoknya dan saya harus beberapa kali bolak-balik kamar mandi. Inilah susahnya kalau lidah Melayu yang lebih suka cencalok dan ikan asam pedas.

Tetapi karena banyak yang menyarankan untuk mencoba serabi yang satu ini, saya rasa tak ada salahnya untuk mencoba dan memang saya harus mengatakan orang-orang yang memberi saran itu benar. Serabi ini tak sulit saya habiskan. Saya membeli berbagai rasa dan serabinya memang enak sekali. Di Pontianak sulit menemukan orang yang khusus menjual serabi seperti ini. Serabi Notosuman ini bahkan punya banyak sekali loyang yang digunakan untuk mencetak dan memasak serabi-serabi yang mereka jual.


Lembutnya bagian serabi dan manis gurihnya membuat lidah bergoyang dan saya harus menahan diri kekenyangan saat berusaha menghabiskan sekotak serabi ini. Semua orang yang datang ke Solo wajib coba serabi ini. Semua orang tahu lokasinya. Naik taksi di Solo juga tidak terlalu mahal kok.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan