20 Oktober 2013

Sementara Menulis dengan Pulpen dan Kertas




Ada lomba menulis novel yang deadlinenya kurang dari satu bulan. Sementara kesibukan sudah meraja-lela dan saya sendiri masih tak bisa duduk diam berjam-jam hingga berhari-hari berada di dalam kamar terbaik saya yang selama ini saya tempati sudah lebih dari setahun di Radio Volare. Saya tidur dan hidup di sebuah ruangan kecil yang penuh sesak dengan banyak barang yang berantakan di dalamnya. Saya sangat senang menghabiskan banyak waktu di sini. Cuma sekarang saat masih masa peralihan menuju kehidupan baru PC dan kamar ini selalu saya tinggalkan. Padahal dua kombinasi ini adalah hal yang sangat saya butuhkan untuk menulis novel dan postingan di blog.


Ada rasa kesal yang mendalam saat membiarkan PC ini terdiam membeku di dalam kamar sendirian tanpa menemukan sosok saya yang meringkuk di tilam sendirian. Semua waktu saya sebagian besar habis di luar kamar ini dan jauh dari PC yang selama ini memanjakan saya dengan tampilannya yang meraksasa, beda jauh dengan netbook 10 inchi yang selama ini saya gunakan.


Deadline novel sudah menunggu. Tapi PC jauh dari jangkauan dan saya tak bisa lagi mempertanyakan mengapa ada sebagian orang yang tak memilikinya di rumahnya. Barangkali memang komputer menjadi barang yang sama sekali belum berguna buat mereka. Ini sangat mengganggu saya yang bisa menemukan PC begitu saja di dalam kamar. Sekarang saya harus meluangkan waktu untuk singgah ke kamar saya sebentar, seperti seseorang yang mendatangi warnet untuk mengupdate blognya atau mengikuti perlombaan. Jujur saya sebal dengan keadaan ini. Kalau saja PC ini bisa saya tempelkan di tubuh saya tentu akan sangat menyenangkan. Saya tinggal mengetik kapan pun saya mau.


Mau tak mau, saya sementara jauh dari PC menulis dengan kertas dulu. Padahal jiwa bersaing saya sedang ON banget. Tetapi keadaan benar-benar tak memungkinkan bagi saya melakukannya di kamar di depan PC saya.

@honeylizious

Followers