28 Oktober 2013

Rumah Adat Ketapang, Kalimantan Barat

Foto oleh Heni Su

Saat di Ketapang dulu sebenarnya kami tak banyak menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan. Banyak sekali kegiatan kampus yang menyita waktu termasuk kegiatan himpunan program studi bersama senior yang memang sangat banyak. Dapat dibayangkan, mahasiswa yang masih dalam masa ospek menjalani kehidupan sebagai mahasiswa PPM alias mahasiswa yang memberikan Pengabdian Pada Masyarakat.

Saya ingat sekali wkatu itu, tahun 2006 awal, kami sekelas, meskipun ada beberapa yang tidak ikut karena berbagai alasan. Satu di antaranya karena alasan tak punya biaya. Padahal ada satu orang yang sama sekali tak memiliki biaya tetap bisa ikutan dan pada akhirnya tidak perlu membayar karena pemerintah Kabupaten Ketapang memberikan uang saku untuk kami semua sampai akhirnya bisa pulang kembali ke Pontianak tanpa tambahan biaya dan tentu saja selama 9 hari bisa makan gratis dua kali sehari. Entah mengapa waktu di sana kami selalu merasa kelaparan sepanjang waktu. Ada saja yang membuat perut kami keroncongan dan makan siang dan malam menjadi masa-masa yang sangat ditunggu oleh semua orang.

Bukan kami semua tak punya uang sebenarnya untuk membeli makanan tambahan, tetapi kami jauh sekali dari pasar dan tak memiliki kendaraan. Kami juga tak diperbolehkan bepergian sembarangan apalagi sendirian. Maklumlah di rantau orang. Harus bisa menjaga sikap dan tata krama. Takutnya ada masyarakat yang terganggu dengan keberadaan kami. Sebab jangankan yang nyata, yang gaib saja lumayan terganggu dengan keberadaan kami.

Beberapa kali ada yang melihat penampakan bahkan sempat menjepret penampakan tersebut dengan kamera ponselnya. Kami semua waktu itu tentu saja sangat merinding. Apalagi kami sebenarnya diinapkan di gedung kosong yang serba guna. Bahkan menurut senior yang berbicara dengan penduduk sekitar, kasur yang kami gunakan sering digunakan pula untuk menampung mayat atau orang sakit. Untungnya kami semua tahu hal tersebut setelah pulang.

Namun sebenarnya dibalik kisah seramnya masih banyak sekali keindahan yang ditawarkan Kabupaten Ketapang. Sepanjang perjalanan menggunakan klotok, sekitar 14-15 jam perjalanan melalui sungai kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Airnya yang berwarna hitam tetapi tetap bersih seperti menyimpan misteri yang harus digali. Belum lagi banyak tanaman yang kami lihat di pinggiran sungai yang kami lintasi.

Saya sendiri lumayan terganggu dengan teman-teman yang mengaku pusing dan bahkan ada yang muntah-muntah sepanjang perjalanan. Padahal rasanya perjalanan tersebut sangat menyenangkan. Banyak yang bisa dilihat dan dilakukan. Apalagi inilah saatnya kami semua untuk mengenal lebih dekat satu sama lain dengan teman sekelas.

Rumah adat Melayu Ketapang yang ada di dalam gambar postingan ini menjadi daya tarik sendiri bagi saya untuk datang kembali ke sini suatu hari nanti. Menemukan hal-hal baru di sana dan mencicipi lebih banyak makanan khasnya, langsung di kabupatennya. Rumah adatnya mirip dengan keraton tetapi sangat kelihatan kalau rumah ini masih baru dan masih indah sekali. Berbeda dengan keraton yang usianya sudah ratusan tahun dan mau bagaimana merawatnya pun tetap akan kelihatan usianya yang sudah menua.


Rumah adat Melayu Ketapang ini adalah rumah adat Melayu yang kedua yang saya ketahui ada di Kalimantan Barat. Untuk daerah lain sendiri saya belum pernah melihatnya bahkan meskipun dalam bentuk gambar. Memang masyarakat Melayu di Kalimantan Barat merupakan satu di antara tiga suku terbesar yang ada di sini.tak heran apabila ada rumah yang menjadi rumah adat Melayu itu sendiri.

@honeylizious

Followers