6 Oktober 2013

Pontianak, Anyone?


Bulan depan ke Pontianak ya. Akan aku tunjukkan kebudayaan masyarakat lokal saat mengadakan sebuah pernikahan. Bagaimana prosesi awal hingga akhirnya. Tentu saja yang mainstream dan ‘yang biasanya’. Memang tak akan menemukan ‘tarup’ yang biasanya ada pada pesat pernikahan adat Sambas. Sambas memang lebih lokal lagi bagi saya. Sebab saya besar dan lahir di sana. Hingga akhirnya 8 tahun yang lalu memutuskan untuk menjadi warga Pontianak, meskipun sampai sekarang tak memegang KTP Pontianak.

Di Pontianak telinga orang yang baru pertama kali ke sini barangkali akan sedikit keseleo karena mendengar bahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Malaysia. Bahkan banyak makanan yang serupa antara Pontianak dan Malaysia. Bisa jadi karena wilayah Pontianak yang dekat dengan perbatasan negara Malaysia. Tak butuh ongkos besar untuk datang ke sana. Berbekalkan beberapa ratus ribu sudah bisa pulang pergi ke Kuching. Itu sebabnya banyak orang Kalimantan Barat yang sakit parah akan memilih untuk berobat ke Kuching dibandingkan ke Jakarta atau negara lainnya.

Banyak yang mengeluhkan makanan di Pontianak yang mahal belum lagi penginapannya. Sehingga tak jarang orang enggan datang ke sini. Belum lagi cuacanya yang ‘bedengkang’. Tenang di sini hanya perlu pandai-pandai memilih rumah makan dan penginapan. Banyak kok rumah makan yang menawarkan makanan yang murah-murah dan penginapan yang terjangkau. Sebuah wisma di Jalan Imam Bonjol menawarkan penginapan yang bisa diisi dua tiga orang hanya dengan biaya 50.000IDR per malamnya. Murah bukan?

Masih banyak hal yang menarik tentang Pontianak. Silakan baca tulisan terkait.

@honeylizious

Followers