27 Oktober 2013

Perahu Lancang Kuning


Cerita tentang tragedi sebuah perahu yang membuat seseorang meninggal dunia dalam keadaan hamil karena ulah orang tak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa perahu tersebut hanya akan berlayar setelah melewati tubuh seorang perempuan yang sedang hamil. Tragedi ini sangat terkenal begitu juga perahunya. Entah anak jaman sekarang mengetahui ceritanya atau tidak saya kurang tahu. Tapi yang pasti saya bahkan masih mengingat dengan baik wajah perempuan yang memerankan perempuan hamil tersebut dalam film Lancang Kuning.

Sampai-sampai ada lagunya yang mengisahkan tentang perahu tersebut. Potongan lirik lagu Lancang Kuning yang masih saya ingat adalah Lancang kuning berlayar malam.... Saat masih kecil dulu saya sering menyenandungkan lagu ini. Filmnya sendiri waktu itu diproduksi oleh negara tetangga dan berbahasa Malaysia. Tetapi postingan kali ini bukan akan menceritakan tentang sejarah kelam Perahu Lancang Kuning melainkan tentang perahu lancang kuning kecil yang ada di rumah camer saya. Berada di ruang tamu dan akan digunakan untuk menampung Pokok Telok alias bunga yang terdapat telur rebusnya.

Telur ini beserta bunganya akan dibagikan pada tamu-tamu yang memang membawa anak kecil dan kenal dekat dengan keluarga mempelai. Perahunya lumayan besar dan biasanya di bawah perahu tersebut akan dimasukkan nasi ketan sebagai pondasi batang bunga-bunga tersebut supaya bisa berdiri dengan tegak. Melihat perahu tersebut saya ingat tadi malam kami mengambilnya dan membawanya menggunakan sebuah mobil. Di dalam mobil tersebut ada banyak sekali calon keponakan yang dengan semangat sekali membantu persiapan pesta pernikahan kami.

Sejak awal saya tak akan pernah membayangkan pesta yang meriah dan besar seperti ini, membayangkannya saja saya tak akan berani sebab bagi saya sendiri menikah itu yang paling penting adalah perjalanan kehidupan rumah tangga selanjutnya. Bukan soal sehari dua hari resepsi tersebut. Tetapi keluarga pihak laki-laki memang tidak ingin anaknya melepas masa lajangnya dengan cara 'cukup-ke-KUA-saja'. Sebab saya sendiri juga setuju dengan teori hanya ke KUA tersebut. Tak ingin terlibat acara pernikahan yang akan sangat melelahkan. Apalagi harus duduk bersanding berjam-jam hanya untuk difoto dan tersenyum sepanjang waktu.

Sayangnya saya masih terjebak dalam pesat pernikahan pada umumnya. Meskipun awalnya kurang setuju, sekarang saya sangat menikmati proses yang harus dilewati untuk mempersiapkan pernikahan ini. Bagaimana tidak? Melihat semua keluarga besar pihak laki-laki yang saling membantu untuk menyambut saya sebagai keluarga mereka yang baru, rasanya sangat mengharukan. Mendapatkan anugerah sebesar ini rasanya saya benar-benar menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia ini.

Perahu Lancang Kuning itu satu di antara banyak saksi yang akan menjadi bagian dari pernikahan kami. Dia yang akan berada di tengah-tengah ruang tamu nantinya menunggu untuk dicabut satu demi satu. Dan saya akan duduk berjam-jam hanya untuk menerima kata selamat dari banyak orang. Termasuk orang-orang di masa lalu yang pernah saya sebut sebagai kenangan. Saya tak melupakan mereka sebab dengan mengenal mereka saya jadi lebih mensyukuri seseorang yang pada akhirnya saya nikahi. Bukan membandingkan tetapi saya hanya merasa saya sangat beruntung bisa menjadi istrinya yang tentu saja semoga untuk selamanya.


Perahu Lancang Kuning itu akan menjadi bagian kecil di hari besar kami. Menjadi penunjuk betapa saya sangat dihargai sebagai seorang menantu, istri, dan adik ipar bagi keluarga ini. Kalau bukan beruntung apalagi saya menamakan semua anugerah yang datang bertubi-tubi ini. Hari ini saya merasa bahwa penantian sedemikian lama kemarin bukanlah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan. Lelaki ini memang pantas dinanti sedemikian lama.

@honeylizious

Followers