4 Oktober 2013

Nyugi

Nyugi adalah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan oleh nenek-nenek di kampung saya. Tak semua nenek-nenek terbiasa nyugi. Barangkali nyugi itu berasal dari kata 'nyuci gigi'. Karena memang kegiatan ini tujuannya untuk membersihkan gigi. Nyugi ini adalah kegiatan menggumpalkan tembakau sehingga membulat lalu menggosokkannya ke seluruh gigi yang ada di dalam mulut. Ada perempuan yang tak mau merokok tapi sudah ketagihan dengan tembakau akan memilih untuk menyugi saja. Manfaatnya? Jangan tanyakan pada saya karena nenek saya sendiri tidak nyugi.

Kalau sudah nyugi dapat dipastikan juga perempuan ini nyirih. Alias makan sirih. Makan sirih ini supaya lebih nikmat, ini hanya tebakan saya, tidak tahu apakah benar-benar nikmat atau hanya kebiasaan yang sulit ditinggalkan, ditambahkan pula kapur, pinang, dan gambir. Kalau sudah tak punya gigi, nenek-nenek yang suka nyirih akan membawa sebuah bambu yang bisa dimasukkan dalam dompet sirihnya. Bambu ini dipasangkan dengan besi yang ujungnya tajam dan pipih. Mirip dengan alat untuk membuat lubang pada kayu. Alat pahat.

Bambu ini digunakan sebagai tempat untuk memotong-motong sirih yang sudah disatukan dengan 'bumbu'-nya. Gambir, kapur, dan biji pinang. Kemudian pahat sirih ini akan keluar masuk batang bambu kecil yang sudah terisi oleh daun sirih. Setelah halus bagian bawah bambu bisa didorong ke atas untuk mengeluarkan sirih yang sudah halus tadi. Siap untuk dinikmati. Tapi saya sendiri tidak pernah makan sirih selengkap itu. Kalau hanya mengunyah daun sirih segar dan membuangnya karena pedas itu sering saya lakukan waktu sekolah dasar.


Di dinding samping kiri rumah nenek yang tidak menempel dengan rumah orang lain memang banyak ditumbuhi daun sirih. Sehingga saya dengan mudah mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Hahahaha...

@honeylizious

Followers