23 Oktober 2013

Menulislah dengan Buruk


Banyak di antara kita yang suka mentok menulis karena kita pikir tulisan kita buruk atau rasanya tak akan ada satu orang pun yang akan membaca tulisan tersebut. Tulisan kita kalah jauhlah dari banyak orang. Ada saja pikiran buruk yang membuat kita merasa bahwa kita belum layak untuk terus menulis. Ada saja alasan untuk tidak melanjutkan sebuah tulisan. Apalagi kalau sudah menyangkut karya fiksi. Kebanyakan penulis saya rasa akan menghentikan tulisannya itu saat novelnya sudah setengah selesai. Beda dengan puisi atau cerita pendek yang memang lebih gampang diselesaikan.

Novel yang ratusan bahkan siapa tahu ada yang bisa menuliskan sampai ribuan halaman barangkali akan menuntut banyak waktu dan konsentrasi yang tinggi. Tapi tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita bisa konsentrasi dan lebih fokus untuk menuliskannya. Jangan takut tulisan kita buruk. Katakanlah kita memang penulis yang buruk tapi siapa yang mau menghakimi tulisan kita? Siapa yang berhak mengatakan bahwa tulisan itu jelek? Bisakah mereka menulis yang sama? Menyelesaikan tulisan sebanyak yang kita bisa?

Jangan takut dengan ketakutanmu sendiri. Kendalikan perasaan mengenai tulisan saya buruk, tulisan saya tidak akan pernah diterbitkan. Coba intip lemari-lemari buku yang ada di Gramedia, saya yakin saat kamu menghabiskan beberapa halaman pertama dari beberapa judul buku yang ada di sana kamu akan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menulis jauh lebih baik dari orang yang karyanya dipajang di sana. Menulislah dengan buruk kalau memang itu membuatmu tetap menulis. Jangan menulis dengan baik. Karena menulis itu soal latihan. Latihan untuk terus menulis tanpa henti.

Menulis adalah langkah menuju keabadian. Maukah kamu menjadi orang yang menjadi abadi di dunia ini melalui tulisan-tulisanmu? Maukah kamu dikenang dengan banyak sisi oleh banyak orang di dunia ini. Kalau memang tulisanmu nantinya tak akan ada yang menerbitkannya buat blog. Sekarang banyak orang yang bisa menulis satu demi satu postingan untuk diterbitkan sendiri. Tanpa takut ada yang mengatakan: 'maaf tulisan anda belum bisa kami terbitkan'. Jika tujuanmu untuk berbagi dengan orang lain untuk apa mencoba menembus penerbit besar? Terbitkan sendiri dalam bentuk buku elektronik atau blog, ingin lebih besar perjuangannya? Terbitkan secara indie dan tembus pasarmu sendiri.

Kebanyakan penulis hanya takut mendapatkan kecaman betapa buruknya tulisan mereka dan membuat mereka merasa harus berhenti menulis atau selalu menekan tombol 'backspace'. Berhentilah mencoba menjadi penulis yang sempurna. Karena kita hanya manusia biasa. Paling penting adalah tulisan tersebut bisa membuat perubahan di dunia ini. Mau kecil atau besar. Kembalikan lagi pada diri kita. Berikan semangat pada diri yang selalu ingin menulis yang terbaik tetapi berhenti melakukan latihan menulis buruknya.

Semuanya dimulai dengan langkah pertama. Malu pada anak kecil yang bisa berlari padahal sejak awal dia melangkahkan kakinya, berapa kali dia pada akhirnya jatuh dan dia tak pernah berhenti untuk mencoba melangkah kembali. Jangan harap seorang bayi akan menjadi pelari ulung. Begitu juga dengan diri kita. Tak bisa berharap pada tulisan pertama yang akan menjadi tulisan yang bagus, tulisan yang baik, tulisan yang membuat orang lain kagum. Selalu ada tulisan-tulisan yang 'jatuh' dan membuat kita kuat untuk bangkit kembali.


Sekarang mulailah menulis dengan buruk.

Related Posts

Menulislah dengan Buruk
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.