27 Oktober 2013

Membudayakan Menulis


Menulis itu sesuatu yang menyenangkan. Itu yang selalu ada di dalam kepala saya. Sama seperti anak-anak yang bermain dengan air sabun dan meniupnya untuk membentuk gelembung sabun sebesar mungkin. Menyenangkan. Atau untuk orang yang suka memancing, berjam-jam bisa habis di pinggiran sungai hanya untuk menunggu umpannya dimakan oleh ikan. Tak peduli ikannya besar atau tidak. Bahkan ada kemungkinan waktunya akan terbuang sia-sia tanpa mendapatkan satu ekor ikan pun. Menikmati prosesnya itu yang menyenangkan.

Begitu juga dengan menulis. Tidak pernah memikirkan hasil akhirnya akan seperti apa. Menulisnya sudah sangat menyenangkan. Sejak memutuskan untuk menjadi penulis suatu hari nanti. Mimpi seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tak pernah terpikirkan mengenai apakah dengan menjadi penulis saya bisa menghidupi diri saya. Apakah saya akan mampu menanggung kehidupan orang tua saya saat mereka menua. Tak ada pikiran apa pun karena memang waktu itu masih terlalu kecil buat memikirkan tentang hal tersebut. Tak ada sama sekali pikiran lain kecuali saya ingin menjadi penulis suatu hari nanti.

Setiap hari. Saya menulis. Dengan kertas bekas pun jadi. Menggunakan pensil pun tak masalah karena sering saya kehabisan tinta pulpen karena kebanyakan menulis. Belum lagi semua omelan yang harus saya terima karena tak ada kegiatan lain yang saya lakukan saat ada waktu luang. Saya menulis saja. Di rumah. Di sekolah. Semuanya saya lakukan untuk mencapai apa yang saya inginkan. Padahal waktu itu mustahil sekali bagi saya untuk menjadi penulis. Mengirimkan tulisan ke mana saja saya tak tahu. Bahkan tulisan saya masih kacau balau.

Namun semua latihan yang saya lakukan berbuah sangat manis. Saat ada tugas menulis dari pembina pramuka untuk menceritakan kembali bagaimana perjalanan kami di tempat latihan pramuka, saya mendapatkan nilai tertinggi. Belum lagi pujian secara khusus yang saya dapatkan dari kakak pembina yang mengatakan bahwa tulisan saya bagus sekali. Lalu harapan untuk menjadi penulis semakin besar. Ingin saya capai semua yang saya inginkan itu.

Sekarang saya sudah mencapainya. Saya benar-benar menjadi seorang penulis. Penulis blog. Penulis buku. Padahal rasanya semua itu sedemikian jauh untuk dicapai. Listrik saja belum ada waktu itu di kampung saya. Bagaimana ceritanya saya akan menjadi penulis. Untuk membeli kertas yang lebih bagus untuk karya saya saja berat rasanya. Tapi semua usaha saya sejak kecil dulu tak pernah sia-sia. Bahkan sekarang saya sadar betapa pentingnya kemampuan menulis untuk kehidupan kita kedepannya. Banyak sekali orang yang membutuhkan seseorang yang bisa menulis. Setidaknya dengan baik untuk membuat tulisan yang sesuai dengan yang mereka inginkan.

Membudayakan menulis itu juga sama pentingnya dengan membudayakan mandi atau menyikat gigi. Saat kita melakukannya terus-menerus setiap hari akan ada yang kurang dalam kehidupan kita jika kita meninggalkannya. Apalagi sampai hiatus sedemikian lamanya. Harus saya katakan kalau tidak karena menulis saya tidak akan pernah menjadi diri saya yang sekarang. Tidak akan pernah bisa menuliskan banyak sekali cerita tentang Kalimantan Barat. Saya juga tak akan pernah bisa membuat kedua orang tua saya sebangga sekarang. Bagaimana mereka menyebut semua pencapaian saya dengan bangga.

Rasanya sayang jika kita tak menyisihkan sedikit waktu dari kehidupan kita untuk menuliskan banyak sekali kenangan yang pada akhirnya akan menjadi sejarah untuk diri kita sendiri. Banyak anak cucu kita yang tentunya akan merasa sangat terbantu dengan kehadiran tulisan-tulisan kita di masa depan. Saat kita sudah tak ada nanti. Hanya tulisan kita yang akan tersisa untuk mereka baca.


Masih ragu untuk menulis?

@honeylizious

Followers