28 Oktober 2013

Manis Itu dari Malaysia


Krisis gula di Kalimantan Barat masih tak berkesudahan. Entah mengapa harus terjadi. Masalahnya sederhana saja. Gula lokal harganya terlalu tinggi dan gula impor ilegal harganya lebih terjangkau. Tidak semua orang bisa membeli gula lokal yang harganya tinggi itu untuk dikonsumsi. Belum lagi para pedagang kue yang pastinya ingin menghemat atau menekan serendah mungkin modal yang dikeluarkan untuk kuenya. Berapa harga yang harus dia patok untuk sepotong kue yang dia jual?

Harga karet yang murah membuat banyak petani karet kesulitan membeli gula. Bayangkan, para petani karet tak akan mampu membayar harga satu kilo gula pasir lokal dengan harga yang didapat dari satu kilo gram karet. Semuanya tak sebanding. Itu yang membuat banyak masyarakat mendukung adanya gula impor ilegal ini. Saya tahu hal ini memang keliru. Tetapi semestinya pemerintah punya solusi untuk masyarakat menengah ke bawah yang tetap ingin menikmati minuman yang mengandung gula. Apalagi masyarakat menengah ke bawah yang dekat dengan perbatasan Indonesia – Malaysia.

Mudahnya mendapatkan gula impor ilegal juga menjadi hal yang paling mendasar membuat warga tetap bisa menikmati gula tersebut. Sebab mendapatkan gula dari petani lokal sangat sulit. Kecuali untuk gula yang dibuat dipabrik besar dan dibanderol dengan harga yang sangat tinggi. Kalau dipikir-pikir sebenarnya alasan masyarakat memilih gula impor ilegal dibandingkan dengan gula lokal sangat sederhana.

Coba bandingkan, harga gula lokal 18-20ribu/kg sedangkan gula impor ilegal 10-11ribu/kg bahkan bisa lebih murah apabila kita mengambil sendiri ke tempat penampungan gula tersebut dalam jumlah besar. Kira-kira, gula mana yang akan lebih dipilih oleh masyarakat? Manisnya sama harganya sangat jauh berbeda. Hampir dua kali lipat bedanya. Gula sendiri adalah kebutuhan pokok bagi semua orang. Kecuali orang yang menderita diabetes.

Apabila pemerintah tak bisa membendung impor ilegal bagaimana kalau impornya lebih ditertibkan dan buatlah harga gula tersebut menjadi masuk akal dan tetap legal. Sehingga pemerintah tidak kehilangan penghasilan dari pajak barang impor yang masuk ke negara Indonesia dan masyarakat tetap bisa menikmati gula yang manis dari negara tetangga. Bukankah lebih baik kita mencari solusi, bagaimana baiknya dibandingkan harus ada penyitaan dan membuat terjadinya krisis gula di Kalimantan Barat.

Ini sangat tidak lucu mengingat Pontianak sendiri merupakan Kota Seribu Warung Kopi. Lama-lama teh es satu gelas bisa 5.000 dan kopi pancung juga akan naik harganya. Padahal selama ini harga teh es hanya 2.000-3.000. kenaikan harga gula akan berimbas pula pada banyak usaha yang melibatkan butiran manis tersebut.

Manis itu dari Malaysia karena selain harganya lebih murah, masyarakat bisa mendapatkannya dengan sangat mudah. Jadi, sampai kapan di Kalimantan Barat akan krisis gula. Bulan haji banyak yang melangsungkan pernikahan dan tentu saja butuh banyak gula.

Tak terbayangkan krisis ini tak kunjung selesai. Masyarakat juga yang akan menderita. Memangnya gula yang disita itu mau diapakan? Dibuang? Dibakar? Kan sayang. Barang yang bisa dimaasukkan dalam minuman seperti itu malah terbuang sia-sia. Cari jalan tengah yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Pemerintah dan pengusaha yang menjual gula impor ilegal ini. Sehingga masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan karena kesulitan mencari gula. Bahkan dengan harga yang tinggi sekalipun mencari gula bukan perkara yang mudah. Masihkah krisis gula in dibiarkan?


Saya bingung sebenarnya. Tetapi untungnya, meskipun krisis gula, pernikahan saya tetap akan dilangsungkan dengan modal 20 kilogram gula simpanan ibu saya dari kampung.

@honeylizious

Followers