18 Oktober 2013

LAZ TPU Al-Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (3)




Setiap hari saya menunggu petugas lembaga menghubungi saya untuk memberi tahu lokasi dan waktu penyembelihan hewan kurban yang sudah disepakati bersama. Memang sejak awal petugas mengatakan kemungkinan besar tidak akan disembelih pada hari pertama. Kemungkinan hari kedua atau ketiga. Sebab banyak hewan kurban yang harus disembelih dan dibagikan. Saya bukan orang yang cerewet mengenai hal ini. Bahkan sudah mendapatkan kuitansi saya saja sudah senang. Menyenangkan sekali bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan walaupun tak banyak.

Hari kedua saya menunggu harap-harap cemas karena memang hari Kamis, hari ketiga Idul Adha saya sendiri punya seabrek kegiatan yang harus dilakukan. Tapi nihil juga. Saya mulai bertanya-tanya. Jadi saya menghubungi nomor telpon yang tertera di kuitansi milik saya. Nomor telpon tersebut memang aktif tapi puluhan kali saya menghubunginya sama sekali tak ada yang menjawab. Saya masih tenang karena itu hari kedua. Masih ada hari ketiga dan keempat. Karena memang kata orang-orang terdekat saya menyembelih hewan kurban itu batas akhirnya pada hari keempat Idul Adha.

Hari ketiga saya menunggu lagi sejak pagi. Tak ada tanda-tanda nomor saya menerima pesan dari petugas yang sudah menjanjikan. Lalu saya mencoba menghubungi nomor yang tertera di banner besar Al Mumtaz yang terpajang di pinggir jalan. Masih tak ada jawaban. Saya masih saja berprasangka baik dan menganggap bahwa mereka akan menghubungi saya besoknya. Pada hari keempat.

Mengapa saya masih berprasangka baik? Karena saya menganggap lembaga tersebut adalah lembaga yang bisa dipercaya, lembaga yang amanah, lembaga yang profesional. Sesuai dengan tagline mereka yang ada dikuitansi. Lalu semuanya berubah hari ini. Saat saya akhirnya menghubungi nomor yang lain yang bisa tersambung dan diangkat. Berbeda dengan nomor sebelumnya yang selama dua hari tak ada jawaban sama sekali. Katakanlah memang sempat ada gangguan jaringan. Sampai berhari-harikah?

Saya yang tadinya percaya penuh mulai ragu dengna kredibilitas yang mereka tawarkan sebelumnya. Apakah mereka benar-benar bisa memegang amanah? Apakah karena saya dianggap bukan siapa-siapa lantas dianggap bisa dilupakan begitu saja? Lalu sebuah maaf sudah cukup untuk menghapus semua yang sudah terjadi?

Meminta dan memberi maaf adalah dua perkara yang sangat mudah. Tapi pada akhirnya, maaf tak akan serta-merta menghapus kesalahan yang sudah dilakukan. Apalagi sejak awal bukan saya yang meminta mereka untuk menghubungi saya supaya saya bisa datang langsung ke tempat penyembelihan hewan kurban tersebut dan melihat pembagiannya. Saya percaya penuh kok mereka akan benar-benar menyembelihnya dan membagikannya pada orang yang membutuhkan. Saya percaya mereka tidak akan mengorupsi uang yang dibayarkan oleh orang untuk membeli hewan kurban pada mereka.


Ternyata tulisan ini harus berlanjut ke bagian berikutnya. Terlalu panjang untuk diselesaikan di sini. 

@honeylizious

Followers