Langsung ke konten utama

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (4)


Masih tulisan berlanjut dari tiga tulisan sebelumnya. Silakan klik tautan ketiga tulisan tersebut di sini.

Sebuah nomor CDMA yang saya hubungi diangkat oleh seorang pria yang ternyata sama sekali tak tahu menahu soal permasalahan yang terjadi. Saat saya mempertanyakan hari ini akan ada penyembelihan atau tidak, jawabannya penyembelihan sudah selesai dan semuanya sudah diberikan pada yang membutuhkan. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana dengan janji 'bahwa-kami-akan-menghubungi-ibu-kalau-hewan-kurbannya-akan-disembelih'?

Mendengar hal tersebut jelas saya kecewa berat. Saya ingin sekali bisa melihat langsung proses penyembelihan tersebut. Selama ini saya memang tidak pernah berkurban sehingga saya tidak ada keinginan untuk menyaksikan proses tersebut. Lagipula saya juga tidak berniat untuk mendapatkan sedikit daging kurban untuk dibawa pulang. Toh saya tidak akan memasaknya di rumah. Sebab saya tak punya peralatan masak. Saya yang kecewa jadinya kesal karena mereka ternyata melupakan janji mereka sendiri. Janji yang katanya mereka akan menghubungi saya.

Padahal jujur saja, kalau kemarin mereka memberikan alamat dan waktu penyembelihan saya juga tak bisa datang ke sana untuk memantau. Tetapi yang paling penting adalah mereka memegang janji mereka sendiri. Sebab saya juga telah menjanjikan dua kantong daging untuk keluarga (calon) mertua saya. Satu untuk (calon) ibu mertua dan satu lagi buat (calon) kakak ipar. Saya tidak suka melanggar janji saya sendiri tanpa kabar yang jelas. Sebuah SMS yang bisa meredakan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu terjadi tak pernah mampir ke ponsel saya.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan daging bagian saya. Nilainya memang tak seberapa. Tapi daging itulah yang telah saya janjikan untuk keluarga (calon) suami saya. Saya tak suka melanggar janji saya sendiri. Itu sesuatu yang sangat memalukan. Apalagi penyebabnya bukan dari saya sendiri. Pihak Al Mumtaz mengatakan mereka hanya bisa memberikan satu kantong daging sebagai bagian saya berbonus permintaan maaf. Untuk semua petugas Al Mumtaz yang membaca ini saya memang menerima maaf tersebut. Tapi bukan berarti saya tidak akan menuliskan perihal masalah ini ke ranah publik. Publik harus tahu sehingga tak akan ada kejadian seperti ini lagi.


Tulisan ini dimaksudkan supaya lembaga-lembaga seperti ini tidak mengobral janji kepada orang yang menyumbang yang pada akhirnya membuat penyumbang menjadi sangat kecewa pada kenyataan yang terjadi pada akhirnya. 

Tulisan ini masih akan berlanjut ke postingan berikutnya.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan