18 Oktober 2013

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (4)


Masih tulisan berlanjut dari tiga tulisan sebelumnya. Silakan klik tautan ketiga tulisan tersebut di sini.

Sebuah nomor CDMA yang saya hubungi diangkat oleh seorang pria yang ternyata sama sekali tak tahu menahu soal permasalahan yang terjadi. Saat saya mempertanyakan hari ini akan ada penyembelihan atau tidak, jawabannya penyembelihan sudah selesai dan semuanya sudah diberikan pada yang membutuhkan. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana dengan janji 'bahwa-kami-akan-menghubungi-ibu-kalau-hewan-kurbannya-akan-disembelih'?

Mendengar hal tersebut jelas saya kecewa berat. Saya ingin sekali bisa melihat langsung proses penyembelihan tersebut. Selama ini saya memang tidak pernah berkurban sehingga saya tidak ada keinginan untuk menyaksikan proses tersebut. Lagipula saya juga tidak berniat untuk mendapatkan sedikit daging kurban untuk dibawa pulang. Toh saya tidak akan memasaknya di rumah. Sebab saya tak punya peralatan masak. Saya yang kecewa jadinya kesal karena mereka ternyata melupakan janji mereka sendiri. Janji yang katanya mereka akan menghubungi saya.

Padahal jujur saja, kalau kemarin mereka memberikan alamat dan waktu penyembelihan saya juga tak bisa datang ke sana untuk memantau. Tetapi yang paling penting adalah mereka memegang janji mereka sendiri. Sebab saya juga telah menjanjikan dua kantong daging untuk keluarga (calon) mertua saya. Satu untuk (calon) ibu mertua dan satu lagi buat (calon) kakak ipar. Saya tidak suka melanggar janji saya sendiri tanpa kabar yang jelas. Sebuah SMS yang bisa meredakan kekecewaan yang sebenarnya tak perlu terjadi tak pernah mampir ke ponsel saya.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan daging bagian saya. Nilainya memang tak seberapa. Tapi daging itulah yang telah saya janjikan untuk keluarga (calon) suami saya. Saya tak suka melanggar janji saya sendiri. Itu sesuatu yang sangat memalukan. Apalagi penyebabnya bukan dari saya sendiri. Pihak Al Mumtaz mengatakan mereka hanya bisa memberikan satu kantong daging sebagai bagian saya berbonus permintaan maaf. Untuk semua petugas Al Mumtaz yang membaca ini saya memang menerima maaf tersebut. Tapi bukan berarti saya tidak akan menuliskan perihal masalah ini ke ranah publik. Publik harus tahu sehingga tak akan ada kejadian seperti ini lagi.


Tulisan ini dimaksudkan supaya lembaga-lembaga seperti ini tidak mengobral janji kepada orang yang menyumbang yang pada akhirnya membuat penyumbang menjadi sangat kecewa pada kenyataan yang terjadi pada akhirnya. 

Tulisan ini masih akan berlanjut ke postingan berikutnya.

@honeylizious

Followers