18 Oktober 2013

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (2)



Jadi cerita ini berawal dari saya yang memang berniat untuk menyisihkan sedikit uang saya untuk berkurban. Karena memang saya di Pontianak hidup sendirian saya pikir menggunakan lembaga yang mau membantu pengurusan hewan kurban mulai dari pemilihan hewan yang sesuai dengan syariat Islam, pemotongan, dan pembagian, akan menjadi pilihan yang jauh lebih praktis. Cukup bayar dan kita terima bersih hewannya dan sudah langsung diurus tempat pemilihan pemotongan dan pembagiannya ke tiap orang yang seharusnya mendapatkan hewan kurban.

Tak ada pengalaman sama sekali sebelumnya. Jadi saya bertanya pada teman-teman yang sudah biasa berkurban. Mereka rata-rata menyarankan lembaga Al Mumtaz karena memang sudah banyak yang mempercayakan hewan kurban mereka untuk diurus oleh lembaga tersebut. Apalagi kita tidak akan diribetkan dengan masalah memilih hewan kurban yang layak. Kita juga tak akan tertipu oleh penjual hewan kurban dadakan yang nakal. Semuanya bisa langsung kita bayar dengan sejumlah uang yang sudah ditentukan oleh lembaga Al Mumtaz.

Terdengar manis bukan? Apalagi untuk orang yang malas melalui proses untuk mengurbankan hewan pilihannya. Tak semua orang bisa memilih hewan kurban yang sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Jadinya saya juga berpikir, ini jauh lebih praktis. Tinggal bayar, terima kuitansi. Selesai.

Masalah muncul karena penawaran dari petugasnya sendiri. Saya yang awalnya hanya berpikir bahwa selesai terima kuitansi saya bisa mempercayakan semuanya pada lembaga tersebut jadi tergiur dengan tawarannya.

Petugasnya menanyakan beberapa pertanyaan.

  1. Hewan kurbannya mau disumbangkan ke mana?
  2. Mau bagian berapa banyak?

Tadinya saya kira mereka sudah punya tempat-tempat yang memang akan disumbangkan dan saya tidak perlu berpikir di mana nantinya hewan tersebut dikurbankan dan diberikan. Buat saya yang paling penting saya sudah menyisihkan sedikit uang saya untuk membeli hewan kurban sebagai wujud rasa syukur saya pada semua rezeki yang Allah berikan. Bahwa saya ternyata tidak perlu menjadi kaya-raya untuk menjadi orang yang mau berbagi hewan kurban. Berkurban itu menyenangkan. Melegakan. Sebenarnya.

Saya bingung waktu ditanya demikian. Saya hanya menjawab di panti asuhan mana pun boleh-boleh saja. Selama memang mereka membutuhkan. Bagi saya anak yatim memang orang yang cukup pantas untuk mendapatkan limpahan rezeki di hari raya kurban ini. Masalah bagian sebenarnya saya juga awalnya tidak mau. Karena saya di rumah tak pernah masak. Untuk apa saya menerima bagian saya. Bukankah lebih baik apabila bagian tersebut saya berikan pada yang membutuhkan? Karena ditawarkan untuk mengambil bagian dan saya pikir bisa diberikan pada (calon) ibu mertua dan (calon) kakak ipar, saya mengajukan bagian dua kantong saja. Petugas mengatakan bahwa saya berhak atas 5 kantong daging.

Rasanya terlalu banyak bagi saya. Jadi saya memutuskan mengambil dua saja.

Petugas juga mengatakan akan menghubungi saya saat hewan kurbannya disembelih sehingga saya bisa melihat langsung bagaimana sapi tersebut dikurbankan. Bagian daging milik saya juga nantinya harus diambil sendiri pada saat pembagian daging kurban tersebut. Sampai di bagian ini masalah belum muncul karena memang saya langsung pulang setelah menerima kuitansi yang bahkan tak diberi tanggal oleh petugasnya. Niatnya kurban saja sih, jadi saya pikir tak masalah kuitansinya demikian.

Lalu saat tulisan ini diterbitkan, pihak Al Mumtaz sudah meminta maaf atas tidak menjaga kepercayaan saya. Saya memang memaafkan. Tapi saya tetap harus menyelesaikan tulisan ini hingga akhir. Bersambung ke bagian berikutnya.

@honeylizious

Followers