Langsung ke konten utama

LAZ TPU Al Mumtaz Pontianak, Uncare, Untrust, and Unprofessional (1)


Amanah adalah sesuatu yang mau tidak mau harus kita pegang dengan penuh pertanggungjawaban sehingga orang lain tak akan ragu untuk mengamanahkan sesuatu pada kita. Apalagi jika kita membuka sebuah lembaga yang berlandaskan unsur amanah tersebut. Ketika kita melanggar amanah yang kita buat sendiri tentunya ini akan membuat orang lain menjadi ragu dengan keamanahan yang kita tawarkan.

Di Indonesia sudah banyak orang yang membuktikan bagaimana mahalnya nilai sebuah kepercayaan. Ketika kita bisa dipercaya semua rezeki akan datang mengetuk pintu kita. Tak ada lagi pertimbangan harga yang kita tawarkan dan juga kualitas yang kita berikan. Saat kita bisa dipercaya, hal-hal lain bisa dikompromikan dengan kepala dingin. Bahkan tidak hanya dalam hubungan bisnis, dalam hubungan pernikahan menjaga kepercayaan adalah hal yang paling utama. Kita masih bisa menerima apabila ternyata pasangan kita orangnya (maaf) suka kentut sembarangan atau tidak bisa masak. Selama pasangan itu bisa kita memegang kepercayaan kita dengan amanah tentu saja semua hal yang sebenarnya menjadi kekurangan akan mudah sekali untuk kita negosiasikan bersama.

Tapi satu kali saja kepercayaan yang diberikan tidak dipegang dengan pertanggungjawaban rasanya banyak orang yang akan enggan untuk kembali mengambil risiko mengulang kesalahan yang sama. Bahwa mempercayai orang yang tidak amanah tersebut adalah kesalahan besar yang tak akan ingin ia lakukan lagi. Siapa yang mau jatuh ke lubang yang sama sampai dua tiga kali? Saya sendiri cukup sekali.

Tulisan ini hanya tulisan pembuka mengenai cerita panjang yang akan saya bagikan untuk teman-teman mengenai pengalaman saya pertama kali berkurban dan menyerahkan kepercayaan saya untuk mengurus hewan kurban tersebut ke sebuah Lembaga Amil Zakat, Tabungan Peduli Umat, Al Mumtaz. Lebih khususnya lagi ini menyangkut LAZ TPU Al Mumtaz yang ada di Jl. Pak Benceng no. 12A Pontianak, Kalimantan Barat.


Sebelum tulisan ini diterbitkan pihak Al Mumtaz sendiri memang sudah meminta maaf, tetapi maaf tidak akan membuat mereka tetap bisa menjadi lembaga yang sesuai dengan yang mereka gaungkan sebagai lembaga yang care, trust, professional. Sebab pada kenyataannya mereka jauh sekali dari sebuah lembaga yang menurut takaran saya sebagai lembaga yang peduli, lembaga yang bisa dipercaya, dan lembaga yang profesional. Semua tulisan ini merupakan anggapan pribadi saya sebagai seseorang yang rasanya telah dirugikan .

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan