12 Oktober 2013

Kisah Semangkuk Bubur


Dulunya saya masih ingat sekali saat saya masih berusia belasan tahun, adik saya yang bernama Syafaat lahir. Tubuhnya bulat dan wajahnya lucu sekali. Waktu itu saya sering sekali membawanya ke Pasar Matang Suri untuk menikmati semangkuk bubur. Tak terkira senangnya saya melihat dia menelan habis semangkuk bubur setiap paginya. Setiap pagi memang saya berkewajiban untuk menjaganya hingga siangnya saya berangkat kerja.

Bubur yang saya kenal sejak kecil jauh sekali berbeda dengan bubur yang sekarang selalu saya temukan di warung-warung yang ada di Pontianak. Semua bubur di sini ada kuahnya. Entah itu kuah kaldu ayam atau daging sapi. Pokoknya ada kuahnya. Kalau di Jawai, bubur tidak ada kuahnya. Bubur putih polos ditaburi pusok kacang dan bawang goreng. Kalau beruntung bisa kebagian daun sop dan daun bawang.


Saya suka sekali bubur tanpa kuah seperti itu. Karena memang di Jawai kebanyakan orang membuat bubur dengan cara demikian. Berbeda sekali dengan yang ada di Pontianak. Semua bubur ada kuahnya. Bagaimana dengan di tempatmu?

@honeylizious

Followers